Twenty Something Life So Far…

Jangan pernah main-main dengan doamu.

Hal itu terlintas begitu saja, ketika hari Sabtu kemarin setelah pulang tengah malam dari acara farewell party seorang teman di Fat Shogun dengan kepala masih pening dan mengantuk, gue datang ke acara tasyakuran aqiqah anak sahabat gue di Bekasi.

Yes, gue harus menempuh dua jam perjalanan motor untuk sampai ke sana. Semua karena asas kepalang janji dan dia sudah kode-kode jauh-jauh hari untuk gue mendokumentasikan acara mereka.

Gue pun datang dengan berlinang keringat dan bau knalpot sesampainya di lokasi. Dengan terburu-buru gue menuju kamar teman gue untuk mendapatkan sedikit kesegaran tiupan dingin angin AC.

Saat gue membuka pintu kamar, gue melihat satu sosok bayi yang dikelilingi oleh anak-anak kecil. Mereka begitu gembira dengan acara ini, dan bayi tersebut seolah tak terusik dengan sekelilingnya.

Bayi itu anak teman gue yang akan segera menjalani prosesi potong rambut yang akan disaksikan oleh puluhan orang. Untuk menandakan bahwa orang tuanya bersyukur telah memiliki dirinya di dunia ini.

Acara yang mahal dan ribet, hemat gue.

Karena ini membuat banyak saudara jauh dan beberapa kenalan yang tidak enak hati datang untuk sesuatu yang bahkan person who become life at the party pun tidak sadar akan hal tersebut. Sepanjang acara tersebut sang bayi hanya tertidur pulas. Cuz he didn’t even ask for this kind of party. Trust me, keesokan harinya atau untuk seumur hidupnya mungkin peluang untuk mengingat ini semua sangatlah kecil.

Bahwa di masa lalu hidupnya di Sabtu sore di tahun 2017 saat Hollywood tengah diterpa skandal seksual para A-Listnya dengan Harvey Weinstein dan akhirnya tiga puluh ribu dokumen rahasia Amerika Serikat akan kejadian berdarah 65 di Indonesia dibuka untuk umum, di hari yang sama orang tuanya memotong dua kambing tak berdosa demi ritual adat yang diadopsi dari negara nun jauh di sana atas nama iman dan kelebihan uang.

Oh iya, jika dia perempuan hanya akan ada satu kambing yang akan disembelih untuknya.

Tapi apalah opini gue, gue cuma seorang tamu di kota asing yang datang untuk satu piring prasmanan dan beberapa sate kambing.

Acara berjalan khidmat, sahabat gue dan suaminya handle it nicely, meskipun ada beberapa momen yang bikin kagok karena mertuanya yang over dominated dan tanpa brief acara yang jelas.

Lagipula ini acara aqiqah pertama mereka. Jadi menurut gue wajar. Dan ketika ada ibu-ibu pengajian gengges yang sok ngatur, dengan judes gue jawab, “Relax, they know what they do. Just keep praying.”.

Gue hadir di sana, menyaksikan ritual tersebut hingga selesai. Mendokumentasikan segalanya. Faktanya bahkan dari mereka mulai berpacaran di tahun dua ribu sebelas. Enam tahun sudah gue mendokumentsikan hidup mereka. Kini mereka sudah menjadi orang tua.

Sahabat gue meminta untuk menggendong anaknya sebentar, I look at him, he still asleep. Hangat badannya menular di tangan, dan gue dapat melihat lubang kecil mulutnya saat menguap.

Processed with VSCO with 2 preset

Jujur, baby is not my thing. Dan menurut gue semua bayi sama aja, enggak ada yang lebih lucu dan enggak. Mungkin ada beberapa yang super lucu karena gen orang tuanya yang memang spesial. Namun semua bayi tetaplah sama. Mereka tak berdosa, seperti kanvas yang bersiap-siap untuk membuat gambar dan warna mereka sendiri di hidup mereka nanti.

Dan orang tua, dua orang yang akan begitu asing saat bayi itu menginjak remaja, dan akan ia rindukan saat mereka dewasa.

Hidup begitu lucu. Dan gue tanpa sadar ikut tersenyum saat tangan bayi tersebut menyentuh pipi gue. Matanya masih tertutup, namun ia dapat merasakan ada satu hati dingin yang menggendongnya.

Kita semua pernah berada di posisi bayi tersebut, menjadi tidak berdosa, tidak tahu apa-apa, dan melihat dunia dari mata kecil kita dan naifnya menelan bulat-bulat definisi orang tua kita.

Acara ini diisi begitu banyak doa dan panjatan puja puji akan harapan orang tua atas anak tersebut. Namun, apakah mereka akan mendengar harapan anak tersebut ketika nanti mereka bersebrangan?

Lamunan gue pun buyar saat orang tua sahabat gue datang menghampiri gue, gue memberikan kembali gendongan bayi itu.

Sebelum gue sempat permisi untuk keluar, Tante baik itu pun menanyakan suatu pertanyaan yang sekarang-sekarang ini gue malas untuk dengar. Bukan karena benci, namun ingin sekali bilang bahwa itu bukan urusan mereka.

“Kapan menyusul?”

Namun kali ini pertanyaannya bukan dalam bentuk kejahilan dan sindiran. Ada rasa tulus dari suaranya dan kekhawatiran yang murni ingin melihat gue berada di stage yang sama seperti sahabat gue.

Sayangnya, sebaik apa pun niat pertanyaan tersebut terlontar, gue masih tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukan karena tidak ingin, namun rasa-rasanya gue tidak terlalu suka menjadikan semua adat, ritual agama, dan paradigma bias sosial mengikat gue.

Gue masih orang yang seperti itu. Dan tentu saja karena belum ada yang mau juga sama gue.

Biarlah, jawaban itu gue simpan sendiri. Gue berjalan menjauh dan memberikan senyuman sebagai tanda akan jawaban tersebut. Mereka yang mengenal gue pasti paham akan konsep gue tentang komitmen dan tetek bengeknya, mahal dan ribet.

Dan di umur gue yang sekarang, gue menyukai kesederhaan hidup gue. Gue cukup berbahagia dengan itu untungnya.

Gue masih teringat di tahun 2011 kala itu, sahabat gue sudah merencanakan detail masa depannya akan bagaimana ia menikah nanti, seperti apa acara ulang tahun anaknya. Dan satu persatu semua detail tersebut menjadi nyata.

Gue pun ikut berdoa juga, dalam doa di tahun 2011 itu, gue meminta atas apa yang gue punya di usia dua puluhan gue sekarang. Alhamdulilah semuanya pun sesuai dengan doa gue.

Gue tengah berada di kondisi saat gue bisa mencintai seseorang dengan begitu tulus dan tanpa syarat. Dan gue menemukannya, dalam diri gue sendiri.

Advertisements