When you just a same person that you used to hate

Nothing is changed.

I’m still as stupid as I was before. I’m still being a selfish bitch that always wanna winning arguments over everyone else. Got envy frequently for stupid things. And the worst is I do same mistakes all over again.

I don’t even know what is going on right now, my head is full with some crappy thought about quitting and just let go everything.

I lose my focus and forgot about my aim. I hate when I say things that I really don’t mean.

I hate when I must surrounded by people who said were my friends but in fact it only makes me even lonelier.

I feel like is no one cares more than before. I feel like my attitude will gonna destroy the good things that I have right now.

Because what I know;

I hate being outcast. I hate being an outsider. I hate when I lose control over something. I hate when people told me they don’t need to update lil thing about everything to me especially when it comes from someone that I really care. I hate when I don’t make a small talk. I hate when I realized I need something/someone more than it should. 

I hate when I need to swallow my pride.

And I hate when I must let go my feelings because of in the end of the day I will know that person will never know about what I felt and only consider me as no one. Like the way it used to be.

Because above all makes me realize that I still am a loser. And will always be.

But, good news about it, no one cares.

Advertisements

Lauh Mahfuz: Ketika Perasaan Sedekat Nafas Namun Terpisah Rasa

Seorang teman pernah berkata, tidak apa mencinta sesuatu yang tidak dapat dimiliki, karena setidaknya ia pernah berada dalam Lauh Mahfuz seseorang tersebut.

Kami tengah makan siang di suatu akhir pekan, suasana restoran yang santai membuat otak saya bekerja lebih lambat dari biasanya. Yang saya dengar keluar dari mulut teman saya adalah: LO MAMPUS. Marah dong saya. Lalu untuk memastikan, saya bertaya kembali pada teman saya tentang apa yang tadi ia katakan sebelumnya.

Secara perlahan teman saya menyebutkan Lauh Mahfuz dengan begitu khidmat. Seperti ada kerinduan dalam ucapannya. Namanya begitu cantik dan misterius. Ternyata Lauh Mahfuz memiliki arti yang begitu dalam.

Pic from: https://unsplash.com/photos/67rnodKzsRQ

Secara bebas Lauh Mahfuz adalah sebuah kitab kehidupan yang sudah ditulis Tuhan bahkan sebelum manusia itu sendiri lahir.

Dalam kitab tersebut berisi kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh siapa saja yang akan hadir sepanjang manusia itu hidup.

Teman saya meyakini bahwa kehadiran dirinya di dalam hidup seseorang yang ia cintai selama enam tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Ia ada karena sesuatu dan memiliki maknanya sendiri. Meskipun kecil. Dan baginya itu semua sudah cukup. Ia berbahagia karenanya.

Dengan mengetahui fakta tersebut membuat teman saya sedikitnya merasa lebih ikhlas ketika tidak dapat memilikinya.

Karena mungkin cinta memiliki banyak bentuknya. Mungkin cinta dengan versi yang teman saya punya adalah yang terbaik yang bisa ia dapat. Keikhlasan untuk tidak menguasai dan memiliki, namun berbahagia karenanya. Keegoisan lebur dalam kekagumannya. Sesederhana itu. 

Setelah kami menghabiskan menu terakhir kami, ada dorongan yang menyesakkan dalam diri saya untuk menghapus nomor R di handphone saya.

Karena dalam versi saya, entah bentuk cinta apa yang saya punya, pada akhirnya dalam cerita yang saya miliki yang tersisa hanya rasa sakit berkepanjangan yang membosankan.

Dan saya tidak butuh kitab apa pun untuk mengingatkan saya bahwa tidak ada siapa pun yang menginginkan saya berada dalam hidup mereka.

Mungkin ada satu bentuk cinta yang saya butuhkan untuk sekarang. Kedamaian akan rasa sendiri yang tak lagi merongrong mengejek, namun membebaskan.

Karena pada akhirnya tidak semua orang memiliki keberuntungan untuk bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Hidup tidak semudah dan seadil itu. Dan tak akan pernah.

Jika tidak dapat memiliki seseorang yang saya inginkan, setidaknya saya bisa merasa diinginkan meskipun itu hanya dengan diri saya sendiri.

Rahasia Kecil Bersama R

Kalau sedang menonton film-film high school romance Hollywood pasti ada beberapa adegan acara-acara party kelulusan SMA di mana orang-orang menari dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Memori terakhir tentang kehidupan SMA yang akan segera tergerus dengan memori baru saat kuliah nanti.

Foto-foto bersama teman-teman sekelas, kenangan-kenangan manis saat bermalam bersama, atau momen mabuk colong-colongan mungkin adalah secuil cerita tentang acara perpisahan saat SMA bagi sebagian orang.

Tapi, sejujurnya saya tidak pernah mengalami itu semua.

Semua terjadi karena waktu SMA saya dulu mengadakan acara perpisahan dengan menginap di pantai dengan diiringi acara-acara keakraban khas anak SMA lainnya, sayangnya saya melewatkannya. Begitu pun dengan R.

Saya melewatkannya karena saya tahu R tidak akan datang. Kala itu saya merelakan melepaskan memori bersama teman-teman sekelas saya demi R. Sesuatu yang ketika itu seolah menjadi keputusan yang tepat dan benar untuk dilakukan.

R baru kembali dari Bandung. Saya dan dia tidak berhenti menukar pesan lewat SMS dan sesekali menelfon. Saat itu kami baru saja menuntaskan perang dingin kerena saling diam selama beberapa bulan.

Saya merindukannya, tentu saja.

Sepanjang dua malam sepulangnya dia dari Bandung kami tidak berhenti mengobrol dan mengobrol. Saya mengirimkannya list beberapa lagu yang ingin saya minta dia untuk burning dalam satu CD dan memberikannya pada saya ketika kami bertemu lagi.

Ketika topik obrolan tidak penting beralih tentang rencana kuliah kami yang akan terpisahkan jarak. Ia terus mengalihkannya. Dia akan berkuliah di Depok sedang saya di Jakarta. Kampus dia keren, kampus saya biasa-biasa saja.

Waktu itu tidak pernah terpikirkan bahwa kami akan berpisah atau berakhir seperti ini, menjadi orang asing yang enggan untuk bertemu satu sama lain, apabila melihat betapa dekatnya kami.

Saat itu kami begitu terikat satu sama lain, setidaknya itu yang saya rasakan. Dan saya selalu ingat bahwa kami membahasakan begitu banyak rasa dalam dua malam itu.

Lalu di suatu pagi, ketika pesta perpisahan sekolah kami selesai dan kami perlu masuk untuk mengurus ijazah , saya dan R bertemu kembali. Ada perasaan yang begitu sesak saat melihatnya begitu dekat, ketika mendengar suaranya yang sudah kelewat akrab di telinga, dan dengan malu-malu menyentuh kulit yang begitu hangat sekaligus menggetarkan di waktu bersamaan.

Saya tidak pernah merasa terkoneksi begitu dalam dan dekat dengan orang lain selain bersamanya saat itu.

Namun, saya yang naif ini melupakan satu hal, bahwa tidak ada hal baik yang akan bertahan lama di hidup saya.

Ketika R tersenyum bahagia di Sekolah saat itu adalah hari ketika ia tersenyum menyambut pacarnya yang baru kembali dari liburan. Bukan untuk seseorang yang merelakan kenangan terakhir masa SMAnya pupus demi dirinya.

Setelah ia puas bertemu dengan pacarnya, ia mendekati saya dan menyerahkan satu CD pesanan yang saya minta semalam. Saya tersenyum tipis mengucapkan terima kasih dan dengan berat hati pergi dengan kikuknya.

Namun, dia menahan saya, meminta untuk berhenti sebentar.

Saya melihat dua mata coklat teduhnya yang kini sedang menatap saya lekat-lekat. Dia hanya diam saja, namun dari matanya tersebut saya dapat merasakan ucapan selamat tinggal, sesuatu yang tak sempat terucap dari mulutnya.

Dan di umur saya yang delapan belas tahun kala itu, saya merasakan itu semua sudah cukup. Entah kenapa saya paham bahwa hari itu adalah hari terakhir saya akan melihat R yang saya kenal. R versi saya yang selama dua malam kemarin menjadi dirinya sendiri dan menunjukkannya pada saya. Atau ya karena dia toh hanya diam dan akhirnya pergi meninggalkan saya juga.

Bersama R, dari dulu hal sekecil apa pun adalah sesuatu yang cukup untuk saya. Meskipun itu berarti melukai dan menyiksa diri saya sendiri pada akhirnya. Selamanya akan selalu seperti itu.

Screen Shot 2018-11-03 at 17.24.07
Photo from https://unsplash.com/photos/DoNywkrERqo

When I don’t believe in anything anymore

Entah karena rasa lelah atau rutinitas yang terlalu menyesakkan. Terkadang ada momen di mana apa yang gue lakuin beberapa tahun belakangan ini hanyalah fase di mana gue hanya hidup tanpa benar-benar tahu apa yang gue kejar dan lakuin. Gue cuma bangun di usia dua puluh enam tahun dan dua tahun kemudian tiba-tiba gue sudah dua puluh delapan dan lupa dengan apa yang gue jalani dua tahun belakangan kemarin.

Apakah gue hanya menunda-nunda kematian atau sedang berusaha mendekatinya? Atau hanya bosan saja?

Entahlah. Gue bukannya lagi ada suicidal thought atau apa, tapi terkadang hidup yang flat dan begini-begini saja yang tanpa pesan motivasional menggugah hati adalah keseharian yang gue jalani tiap harinya.

Bahkan satu-satunya hal yang bisa membuat gue merasa excited, yaitu makan, malah terkesan seperti emotional eating dibanding petualangan lidah yang dulu gue niatkan untuk menjadi aktivitas memperkaya palet rasa dan mengumpulkan cerita-cerita seru di dalamnya. Sekarang semua terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang membut gue begitu menginginkan sesuatu sehebat itu. Selain menunggu gajian.

Usaha untuk menguruskan berat badan pun hanya wacana belaka, kondisi sekarang seperti sudah menerima (atau putus asa) dengan diri sendiri. Kadang ingin terus ada di kantor, atau enggak pengen ngantor sama sekali.

Apakah ini yang dinamakan kebosanan di umur dua puluhan akhir yang selalu saja orang kaitkan dengan segera mencari pasangan hidup sebagai jawaban final?

Jika pun itu memang benar adanya, alangkah menyedihkannya hidup gue yang harus mencari kebahagian di dalam diri orang lain.

Kini bahkan untuk menuliskan satu tulisan ini saja gue harus memaksakan menyeret diri gue ke coffee shop yang lumayan jauh dari kosan, kemudian meminum kopi susu yang tidak begitu manis dan harus bengong selama dua jam tanpa berbuat apa pun.

Semalas dan sekering itu kah mental gue sekarang?

Sesekali gue merindukan semangat dan energi yang membuat gue bisa berbagi cerita ke orang lain tanpa perlu julid atau gosipin orang. Ya cuma berbagi mimpi dan rahasia-rahasia kecil yang menyenangkan. Namun, sayangnya kali ini tidak ada orang lain yang particular ingin gue bagi rahasia atau cerita-cerita. Seolah kesendirian ini adalah lifestyle yang tepat untuk gue sekarang. Yang terlalu enggan untuk berkomitmen dan memulai hubungan romansa dengan apa pun.

Tapi sepertinya memang hidup di dua puluhan akhir itu kalau bukan ngejar karir atau ngurus keluarga baru memang enggak seru kali ya. Kayak hidup gue.

Karena sekarang setiap kali ingin memulai sesuatu dan percaya pada seseorang tiba-tiba saja perasaan pantas dan layak untuk berada pada frekuensi kebahagian yang sama dengan orang tersebut seperti barang mahal yang jauh dari rengkuhan gue. Gue jadi parno sendiri kalau-kalau semuanya akan berakhir gagal. Bahwa gue akan menjadi si yang terluka dan akan selalu ditinggalkan. Sepengecut itu.

Semua orang terlihat berjalan cepat dengan mimpinya masing-masing sedang gue di sini, duduk dengan sedikit cemas, dan dari kejauhan memandangi mereka yang terus melaju dan semakin jauh.

Mungkin memang beberapa orang di muka bumi ini ditakdirkan untuk menjalani sesuatu yang biasa-biasa saja, dengan luka dan kebahagian yang biasa-biasa saja juga.

Screen Shot 2018-11-03 at 16.31.17
Photo from https://unsplash.com/photos/vWfKaO0k9pc

Hal Yang Paling Berbahaya Dari Film Aruna dan Lidahnya, Dalam Sebuah Review Film

Menurut saya ada dua hal yang tidak dapat manusia tolak dalam hidupnya. Yaitu cinta dan makanan.

Screen Shot 2018-09-22 at 02.55.38

Di film Aruna dan Lidahnya, dua hal tersebut menjadi magnet paling besar yang memberikan perasaan hangat, lucu, dan menyenangkan setelah selesai menyaksikan filmnya di bioskop.

Dan sialnya menjadi lapar juga. Saya tiga kali menonton dan tiga kali pula harus berkeliaran mencari mie ayam atau nasi goreng yang masih buka di malam hari.

Aruna dan lidahnya jika diibaratkan makanan adalah sebuah sajian yang akan melengkapi segenap palet lidah bagi siapa pun yang mencicipinya. Ada rasa manis, asam, pahit, asin yang berpadu sempurna di dalam cerita, akting, musik, dan gambarnya.

Sebelumnya, saya menahan untuk tidak langsung menulis review ini sehabis menonton filmnya karena beberapa alasan.

Pertama, saya ingin melihat respon lain dari para penontonnya. Tidak hanya yang menyukainya, tapi juga yang sebaliknya.

Kedua, saya berusaha untuk menonton kedua kalinya untuk memastikan penilaian saya secara objektif.

Dan ternyata hasilnya tetap sama. Saya masih menyukainya dan tidak dapat berhenti untuk membicarakannya setelah keluar dari gedung bioskop.

Bukankah itu salah satu tanda-tanda dari film yang bagus? Ketika kita tidak bisa berhenti membicarakannya sampai seminggu ke depan dengan emosi dan semangat yang sama. Dan Aruna memiliki charm tersebut.

Tapi, seperti pepatah yang menyebutkan tak ada gading yang retak, memang harus diakui ada beberapa detail dan poin-poin yang akhirnya membuat saya sadar film Aruna dan lidahnya juga memiliki kelemahannya sendiri.

Namun, barangkali pertama-tama kita perlu membahas sebenarnya tentang apa sih film Aruna dan Lidahnya ini dan hal-hal apa saja yang bisa membuat saya jatuh cinta dengan film ini dan rela menontonnya sampai tiga kali.

Kisah Aruna dan Pencariannya

Secara garis besar cerita film Aruna dan Lidahnya terbagi atas beberapa pilar tema. Yaitu; konspirasi flu burung, petualangan makanan nusantara, persahabatan di umur 30an, dan percintaan.

Keempat cerita tersebut dibalut oleh sang sutradara, Edwin, dalam sebuah perjalanan tugas kantor Aruna yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan kemudian diikuti supervisornya Farish, dimainkan oleh Oka Antara, yang dikirim dari kantor yang berbeda untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia dengan misi pencocokan data akan isu kasus flu burung yang menjangkit beberapa tubuh manusia. Kota-kotanya antara lain adalah Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang.

Di sela-sela perjalanan Aruna, dua temannya, Bono seorang chef yang diperankan dengan fresh dan komikal oleh Nicholas Saputra-kenapa fresh? Karena karakter Bono jelas sangat berbeda dari peran-peran Nicholas sebelumnya-dan tentu saja idola baru saya Nad, si manusia bebas dengan segala kekerenannya yang dengan apik dimainkan oleh Hannah Al Rashid, mereka ikut dalam perjalanan Aruna dengan menyisipkan agenda kuliner mereka yang akhirnya kejadian juga.

Dari awal investigasi ini sebenarnya Aruna sudah mencium kejanggalan dalam data isu flu burung yang ada. Dimulai dari keanehan lokasi-lokasi dari data tersebut yang menurutnya terlalu berjauhan dan tidak membentuk pola wabah itu sendiri.

Dan yang makin meyakinkan Aruna adalah ketika di setiap kota para korban yang diduga menderita flu burung tersebut tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Karena memang pada dasarnya virus flu burung hanya hinggap pada unggas dan bukan entitas manusia. Lalu apa yang sebenarnya Aruna dan Farish sedang pecahkan dan hadapi dalam investigasi mereka kali ini?

Konspirasi tersebut akhirnya membuat perjalanan Aruna dan Farish menjadi penuh tanda tanya dan pelik. Tidak sampai sana, yang membuat keseluruhan cerita ini makin menarik adalah balutan komedi romantis keempat pemainnya lah yang membuat jalinan film Aruna dan Lidahnya menjadi hidup, mesra, dan menggemaskan.

Kekuatan Film Aruna

  1. Akting solid dari para pemainnya

Kekompakan akting empat pemeran utamanya adalah suguhan paling seru sepanjang film. Terutama Dian Sastro. Dian bermain dengan sangat komikal. Kesan quirky terasa begitu natural dan membuat dirinya tampil dengan begitu adorable. Bahkan imagenya lebih kuat dari karakter Cinta yang terlalu melekat dalam dirinya. Saya dibuat jatuh cinta lagi dengan akting Dian Sastro.

Sejujurnya selain film Ada Apa Dengan Cinta, Pasir Berbisik, juga Drupadi saya tidak melihat Dian memberikan hal baru dalam aktingnya dan ia hanya menjadi dirinya saja. Tanpa value yang menginspirasi saya sebagai penontonnya.

Namun, dalam film ini Dian kembali membawa jutaan alasan untuk orang-orang kembali menyembahnya sebagai seorang bintang. Tanpa banyak bicara, lewat raut wajah, gerak tubuh dan ekspresinya, ia dapat dengan sukses menghidupkan karakter Aruna yang saya yakin dapat membuat orang-orang jatuh cinta.

Apalagi dibeberapa adegan seperti saat Dian Sastro breaking the 4th wall dan saat Pak Musa, salah satu pasien yang diduga terkena isu flu burung meninggal. Dian menghadirkan situasi komedi yang begitu lucu dengan pelan-pelan memanfaat keadaan duka lewat curi-curi kesempatan menyender pada tubuh Oka Antara.

Seisi bioskop benar-benar dibuat tertawa dan gemas. Scene tersebut juga merupakan alasan saya menonton film Aruna untuk ketiga kalinya. Karena kesemuanya terasa real dan relatable buat orang-orang yang sudah lama naksir dan akhirnya bisa dekat dengan gebetannya.

Dan Hannah Al Rashid, ya Tuhan, tampil dengan begitu kuat bagai magnet. Kebebasan perempuan yang menentukan nasib hidupnya sendiri digambarkan dengan sangat apik oleh Hannah lewat keluwesan dirinya sepanjang film. Kesan cool, pintar, dan seksi diembodikan oleh Hannah dengan tepat tanpa terkesan murahan dan menyebalkan. Ia dapat membuat penonton bersimpati pada dirinya.

Dan Nicholas Saputra juga Oka Antara seperti biasa bermain dengan kapasitas yang diharapkan. Tidak hanya sebagai tempelan tampan pemeran laki-laki belaka. Namun, menyeimbangi dua kutub yang ada.

2. Dialog yang cerkas

Salut untuk Titien Wattimena, sang penulis naskah, yang dengan sempurna menghidupkan percakapan tiga sahabat yang begitu dekat dengan penontonnya. Titien berhasil memotret dialog-dialog kental khas kaum urban tanpa harus terjebak dalam tuntutan untuk memperlihatkan mereka menjadi manusia super sempurna. Semua terasa nyata dan cerkas. Celetukan-celetukan para pemain Aruna siap menyindir siapa pun yang sedang berada di posisi yang sama dengan mereka.

Cinta dan makanan memang akan selalu beririsan. Namun romantisasi di dalamnya adalah sesuatu yang berlebihan. Seperti yang Aruna katakan di awal film, kurang lebihnya adalah, romantisasi makanan dan cinta adalah sesuatu yang memaksakan.

“Masa harus menunggu seseorang yang tepat dulu untuk bisa menikmati semangkuk sop iga yang enak?” Punch line tersebut begitu menggugah dan sangat tepat ditaruh di awal film.

Salah satu dialog yang saya suka dan membekas adalah ketika Aruna dan Nad saling sindir terhadap situasi salah satu pasien yang ditinggal oleh suaminya karena selingkuh dan akhirnya si pasien tersebut memanfaatkan fasilitas rumah sakit untuk bisa tinggal lama di sana tanpa harus bertemu lagi suaminya yang serong.

Nad secara subtil mengkritik sikap Aruna yang dilihatnya terlalu menghakimi perempuan ketiga dalam hubungan rumah tangga si pasien tersebut. Namun dengan cepat kritik tersebut di counter oleh Aruna dengan menyatakan bahwa Nad juga belum tentu pernah merasakan berada di posisi si pasien yang ditinggal dan dikhianati oleh suaminya.

Suasana tersebut benar-benar terbangun dengan dramatisasi yang pas seperti perang dingin yang mungkin terjadi dalam sebuah pertemanan. Tidak berlebihan namun akan menghantui mereka yang mendengarnya.

3. FOOD PORN FOOD PORN EVERYWHERE

Waduh, Edwin paham betul bagaimana menyiksa seseorang secara visual. Gambar-gambar makanan yang dihadirkan begitu memikat dan benar-benar terasa begitu detail. Mulai dari uap makanan, suara kuah yang berdenting dengan sendok dan mangkuk, juga hantaman sendok yang kemudian masuk ke tenggorokan tiap-tiap pemain benar-benar mengoyak-ngoyak perut yang menontonnya.

Yang kerennya lagi, suasana ketika tiap-tiap pemainnya makan dilengkapi dengan perbincangan-perbincangan kasual yang tidak seperti sedang akting. Tapi benar-benar layaknya orang yang sedang menikmati makanan bersama teman-temannya dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing.

Berikut daftar makanan yang saya incar dari film Aruna dan Lindahnya.

a. Choi pan

Screen Shot 2018-10-03 at 10.55.13
gambar dari https://cookpad.com/id/resep/176142-chai-kwe-choi-pan

Nyebelin banget deh pas adegan munculin Choi Pan. Bayangin deh, ketika sudah tersiksa oleh deretan visual makanan yang menggoda dari awal film, di tengah-tengah film Edwin kembali menambah cobaan hidup dengan menghadirkan Choi Pan yang begitu seksi lengkap dengan sausnya yang dijilat dengan begitu semangat oleh Aruna dan Farish. Waduh warna putih kulit Choi Pan yang menempel indah di sumpit bercampur dengan saus kecoklatannya benar-benar tampak nikmat.

Sejujurnya seumur hidup saya belum pernah makan Choi Pan, saya pikir ini seperti another dim sum. Tapi dengar dari teman isinya lobak. Jadi penasaran untuk mencicipinya. Katanya di Ambasador ada yang jual. Pulang kerja jajan ah ke sana.

b. Rawon

Screen Shot 2018-10-03 at 11.06.26
Gambar diambil dari sini > https://www.resep-masakan-enak.com/2017/10/resep-cara-membuat-rawon.html

Wah parah sih ini, yang ini pelanggaran banget. Potongan dagingnya gendut-gendut banget. Saya baru lihat rawon dengan kuah yang begitu kental dan terlihat gurih sekali lengkap dengan kepalan uap lewat daging yang begitu tumpah ruah. Perut saya otomatis langsung menggelinjang kelaparan melihat momen tersebut. BAHAYA!

c. Mie Kepiting Pontianak

Screen Shot 2018-10-03 at 11.14.08
gambar dari sini > https://www.sumber.com/jalan-jalan-kuliner/kalimantan-barat/kuliner-kalimantan-barat/sumber/mie-kepiting.html

Mie Kepiting Pontianak menurut saya adalah primadona dari semua makanan yang disajikan di film Aruna dan Lidahnya. Bagaimana tidak, penggambaran deksriptif menu ini paling banyak dibanding menu-menu lainnya.

Mengutip dari ucapan Bono, teksur mie ini begitu empuk dan menelan mie kepiting ini ia bisa melihat SURGA. Duh kebayang kan enaknya? Dan ditambah lagi argumen Nad yang menyatakan bahwa harta karun dari mie kepiting ini adalah telur kepiting yang tersembunyi dan siap mengejutkan lidah mereka mereka yang memakannya.

Duh, mana potongan kepitingnya gede banget lagi pas di film. PUSING! Di Jakarta ada ga ya? 😦

d. Lorjuk

Screen Shot 2018-10-03 at 11.23.09
gambar dari > http://www.tribunnews.com/travel/2015/06/09/menu-lorjuk-kesukaan-ani-yudhoyono-dan-ibas-di-resto-ria-galeria-langganan-anang-ashanty

Lorjuk adalah sebuah makanan khas Madura dengan menu utamanya adalah kerang bambu yang hanya ada di Madura. Presentasinya yang memang challenging ini berdasarkan ungkapan Bono yang seorang chef, menyimpan kesegaran yang dapat membuat orang patah hati jadi semangat lagi. Penasaran kan….

e. Pengkang

Screen Shot 2018-10-03 at 11.26.03
Gambar dari > http://pontianak.tribunnews.com/2016/02/19/singgah-di-pondok-pengkang-makan-lempar-khas-kalbar

Kayaknya Pengkang itu lemper yang diisi daging-daging udang ya dan dibakar dengan daun pisang. Belum pernah coba juga sih, tapi dari tampilannya bikin penasaran.

f. Nasi Goreng

Screen Shot 2018-10-03 at 11.32.13
Gambar dari > https://www.kawalingpinoy.com/nasi-goreng-indonesian-fried-rice/

Nah, ini makanan basic yang bikin cerita Aruna jadi panjang banget! Aruna sampai harus ke Pontianak loh drama kabur-kaburan gitu buat nyari resep nasi goreng Mbak rumahnya tempo dulu.

Di akhir film para empat aktris itu berkumpul bersama merayakan malam yang penuh cinta dengan memasak nasi goreng bersama-sama di gerobak abang-abang pinggir jalan. Enggak kebayang sih kalau jadi si abang nasgor itu. Mimpi apa doi didatengin bintang film cakep-cakep gitu.

4. Landscape visual cantik yang siap membawa siapa pun untuk bergegas jalan-jalan

Bukan Edwin namanya jika tidak memberikan orgasme visual yang menggetarkan. Rentetan visual ibu kota lewat gedung-gedung tinggi dan kaca-kaca yang membungkus manusia-manusia di dalamnya benar-benar menghadirkan suasana malam khas Jakarta. Kemudian kontras di tiap-tiap kota yang didatangi pun dihadirkan dengan begitu berwarna dan indah.

Adegan Barongsai, penyebrangan di kapal, jalan di pasar-pasar, sampai inspeksi ke kandang-kandang terasa sangat poetic dan Instagram-able banget. Keren lah pokoknya.

Dan Edwin tetaplah Edwin, yang menampilkan simbol-simbol yang membingungkan di visualnya. Seperti dramatisasi Aruna yang berusaha mengembalikan indra pengecapannya.

Edwin menghadirkannya dengan begitu absurd namun menarik. Bagaimana seorang Dian Sastro memeras banyak buah limon dan menyesap di lidahnya dan ketika Dian menyedot air pantai dengan sedotan panjang adalah ke-absurd-an yang begitu janggal namun begitu simbolik secara bersamaan.

5. Placement brand yang enggak maksa

Edwin dengan jitu menaruh beberapa brand dalam film dengan begitu subtil dan sesuai konteks. Seperti saat Aruna lupa untuk print tiket pesawat, kemudia Bono memberikan solusi untuk tidak perlu repot lagi karena sudah bisa lewat aplikasi.

Seisi bioskop bertepuk tangan dan mengacungkan jempol karena punch line yang diucapkan Bono.

Kecap Bango yang selalu hadir terus menerus pun semua sesuai konteks dan tidak memaksakan. Jago deh Edwin.

6. Musik yang asik

Jualan kenangan masa lalu memang paling ampuh untuk menarik simpati. Apalagi dikemas dengan asik dan bikin nagih. Pemilihan lagu-lagu di film Aruna dan Lidahnya ciamik banget. Mulai dari lagu-lagu 80an sampai 90an yang bikin orang nyanyi-nyanyi di bioskop pas lagunya diputar. Arasemen baru dari lagu-lagu seperti Antara Kita-nya RSD dan Tentang Aku- Jingga terasa begitu manis seperti memori hangatnya matahari di sore hari.

Kritik Terhadap Film Aruna dan Lidahnya

Jika film Aruna dan Lidahnya sebatas untuk hiburan dan bikin senyum-senyum manja, sebenarnya film Aruna sudah menuntaskan tugasnya. Namun, setelah saya membaca beberapa kritik akan film ini, sebenarnya masukan-masukan tersebut memberikan perspektif yang lebih kaya untuk pengembangan cerita Aruna dalam pemetaan topik yang lebih kerucut dan terfokus sebagai penggerak substansi film secara keseluruhan.

Sekali lagi, menonton film dan menerjemahkan apa yang dirasakan hasilnya akan berbeda di tiap masing-masing orang. Ada yang akan menilai suatu film dari teknisnya, ada yang mengukurnya dari segi ceritanya, dan ada yang sesederhana ketika nanti filmnya selesai ia bisa langsung ke kamar mandi dan menuntaskan kebelet yang ia tahan sepanjang film.

Karena tafsiran dan pengalaman yang berbeda-beda, maka sebuah karya seni akan bersifat personal dan intim bagi tiap-tiap orang.

Tapi secara general kita dapat menangkap bahwa film Aruna dimaksudkan untuk kalangan masif, sesuatu yang seharusnya bisa ditonton oleh banyak orang. Sehingga dari segi penceritaan mungkin akan terasa lebih light dan terselip humor dan drama cinta di sana sini lengkap dengan deretan pemain yang rupawan.

Semua formula terasa sudah lengkap, namun apa yang sebenarnya membuat film Aruna dan Lidahnya seperti terjebak dalam genre yang ia usung. Film ini terasa galau akan identitasnya.

Apakah ini genre film komedi romantis kah? Atau cerita detektif dalam memecahkan sebuah konspirasi? Atau film makanana semata?

Karena pertama, jika film ini ingin dikategorikan sebagai genre komedi romantis, porsi kisah percintaan dan jalinan dramatisasi tiga babaknya hanya terjadi di tengah-tengah saja dan back story alasan masing-masing karakter untuk jatuh cinta satu sama lain tidak tergambarkan dengan kuat. Dalam arti, apa sih yang membuat Aruna bisa sebegitunya menyukai Farish selama itu dan masih menyimpan perasaannya?

Lalu, kesubtilan perasaan platonik Bono ke Nad benar-benar terlalu tipis. Saya tidak dibuat percaya bahwa Bono benar-benar suka dengan Nad. I mean, c’mon! get real, mereka sudah berusia 30an, mabuk, berada di kamar yang sama. Dan yang terjadi hanyalan ucapan, “stay”? Really?

Kedua, cerita konspirasi isu flu burung pun yang niatnya menjadi adrenalin dalam film ini terasa malu-malu dan terkesan nanggung untuk ditunjukkan. Jika memang skalanya adalah kepemerintahan dengan budget milyaran atau triliyiunan rupiah, gambaran akan ketegangan dan perencanaan strateginya masih begitu lemah dan tertebak. Mungkinkah investigasi yang dari awal sudah dapat mengendus kebusukan sistem di dalamnya dapat dibongkar oleh oleh dua orang saja dengan data-data yang sebenarnya bisa sekali dipalsukan dari pusat.

Ketiga, kontroversi makanan yang hadir sebagai tempelan dalam film ini sebenarnya saya agak setuju sih. Karena, dari awal film kesan petualangan lidah Aruna hanya sekadar tentang Aruna yang pelan-pelan kehilangan sensitivitas dalam indra pengecapnya. Karena apa? Sejak kapan? Kok enggak dijelaskan? Lalu, apakah keseluruhan perjalanan sepanjang hampir dua jam ini tentang mencari menu rahasia dari si Mbak rumahnya masa dulu, tapi kok sampai akhir film enggak dikasih tahu apa yang membuat nasi goreng itu berbeda. Apa sih bedanya Mba Aruna aku penasaran tahu….. Sehingga substansi lidah yang berasosiasi dengan makanan tidak kuat bertautan sebagai penggerak cerita film. Beda dengan film Tabula Rasa yang memang makanan padang penjadi substansi dan filosofi akan film tersebut. Cerita bergerak progresif karena premis yang dihadirkan adalah seorang warga Papua yang belajar memasak di rumah makan Padang dan konflik hadir di sana. Nah, kalau di film Aruna dan Lidahnya, scene makanan hanya seperti turis-turis yang lagi makan saja. Tanpa value lebih di dalamnya.

Terus nih ya, yang paling nyebelin sebenarnya adalah ketika semua orang dapat menemukan Aruna di sebuah warung nasi goreng gerobak pinggiran yang antah berantah banget. KOK BISA KETEMU SIH DI ANTARA BANYAKNYA TUKANG NASI GORENG? KOK BISA TAHU ARUNA MALEM-MALEM MAMNYA NASI GORENG?

Apa Aruna punya grup Whatsapp berempatan dan langsung share loc di sana? Tapi katanya kan lagi berantem? Gengsi dong, beb! Itu semua menjadi pertanyaan besarku sampai di kamar kosan.

Namun, pada akhirnya toh film Aruna masih bisa sangat dinikmati dan diapresiasi dengan kemasannya yang begitu menggemaskan dan bikin nagih. Semua eksekusinya terberkati dengan hasil yang berkelas dan tidak main-main. Film ini perlu sekali ditonton seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya oleh penonton Indonesia lainnya.

Saya pun jadi kepikiran saat Bono sang pemuja makanan menjelaskan filosofi makanan pada Farish yang simple dan pragmatis. Farish berpendapat bahwa makanan hanya sekadar untuk kenyang saja. Titik.

Oh tentu tidak mas ganteng, saya mengamini apa yang Bono, Aruna, dan Nad percayai. Bahwa makanan adalah sebuah sumber kebahagian dan pengalaman yang dapat memperkaya manusia dan membawa penikmatnya pada titik zen yang menghubungkan dia dengan tubuhnya dan berkomunikasi dengan semesta. Karena setiap sedih, rindu rumah, atau senang pasti yang dicari manusia pasti makanan. Makan adalah sebuah budaya dan makanan adalah jati dirinya.

Terlebih jika bisa berbagi makanan dengan orang yang disayang, itu semua dapat memberikan sensasi yang lebih menyenangkan dan historik dua kali lipat. Ada cerita dan perasaan yang hadir di sana.

Seperti sebuah pemeo usang yang berujar, everything taste better when you are eat together.

Mungkin kurang lebihnya seperti itu. Dan bagi saya, film Aruna dan Lidahnya adalah film drama terbaik Indonesia terbaik tahun 2018 ini. Karena begitu pop dan enak dicerna.

Ayo nonton Aruna dan Lidahnya di bioskop! SEKARANG! Dan, WARNING, jangan lupa makan dulu daripada nanti kesiksa sepanjang nonton filmnya!

PS. Mau pamer foto-foto pas dateng ke Premier filmnya hehe.

IMG_3876

57ecacd1-7b9b-46ea-b438-8de5ff8f1383
Datang sekantor, karena kantor saya salah satu sponsor film Aruna loh!

IMG_3863
Namanya Endeus.tv

Kamu bisa mengunjungi websitenya di sini > https://endeus.tv/

Jadi, Endeus.tv adalah sebuah website yang memberikan inspirasi masakan harian berupa tutorial untuk kamu-kamu yang ingin membuat masakan dengan mudah, ringkes, dan enak.

 

 

Isi Goodybag Aruna dan Lidahnya lucu dapet kecap dan kita dikasih nasi goreng Aruna yang lumayan bikin enggak laper-laper banget pas nonton. Meskipun habis selesai nonton tetap nyari makan.

IMG_3864
Ada warung lucu sebagai display foto-foto seperti di poster filmnya

dan momen terbaiknya tentu saja adalah….

IMG_3870
Bertemu para bintang filmnya yang aduhai cakep-cakep banget!

Ayo-ayo bikin satu juta orang yang nonton film Aruna dan Lidahnya!