Kesadaran Untuk Melepaskan

Satu bulan terakhir bisa dibilang waktu terbaik yang kita punya. Koreksi. Yang saya punya.

Kamu sih biasa-biasa saja. Saya yang merasa bahwa kamu kembali jadi orang yang bersikap kasual, bersedia mendengarkan dan menemani saya. Meski tidak berlebihan. Meski terkadang saya masih harus mengejar-ngejar kamu. Meski kamu hanya mendiamkan lalu pergi.

Sialnya pekerjaan selalu menjadi irisan kita berdua. Padahal sebenarnya saya ingin pergi dan marah dari kamu. Kini kita berdua terikat kontrak. Menyebalkan.

Terlepas dari itu semua saya senang mendengar fakta bahwa kamu bilang ke satu orang akan keinginanmu untuk tetap membuat saya ada di hidup kamu yang tertutup itu.

Namun, dari situ kini saya malah yang mempertanyakan kembali kesadaran diri saya atas makna kamu di hidup saya yang sudah berantakan ini yang lagi-lagi karena kamu.

Sampai kapan saya akan begini? Menggantungkan kebahagiaan saya pada diri kamu? Memusatkan seluruh dunia saya pada justifikasi diri kamu?

Toh kamu sebenarnya juga tidak peduli-peduli amat sama saya sebenarnya.

Lalu, jika semua sudah terpapar seperti itu, kini saya lebih sering bertanya pada diri saya.

Apa sih yang saya kejar dari kamu? Dari orang yang dulu ketika ngeliat bentukan kamu saja saya sudah males banget. Yang dengan yakin saya bisa bilang, idih bukan tipe gue.

Tapi, lihat sekarang? Kita seperti memiliki complicated bonding yang sebenarnya tidak tahu arahnya ke mana. Meaning; kamu ngelepasin saya juga enggak, tapi kita kenapa nempel-nempel terus. Saya benar-benar berpikir keras, kenapa juga ya dulu saya bisa begitu terobsesi dengan kamu yang kelewat biasa-biasa saja.

Kenapa sih saya enggak bisa bersikap biasa aja gitu saat ketemu kamu?

Saya sih inginnya melepas kamu. Sekarang juga. Saya kehilangan begitu banyak hal karena kamu. Meskipun harus diakui di waktu yang bersamaan terkadang ada rasa bahagia yang menyempil saat kita berdua. Ada perasaan menyenangkan saat berbagi ide bersama kamu, saat berjuang bersama kamu.

Walau sejujurnya sebenarnya kamu lebih banyak bikin sakitnya sih.

Tapi, bagaimana jika begini saja, untuk sekarang kita nikmati saja moment di mana kita bisa dekat satu sama lain. Dan jika kamu ingin pergi, beritahu saya. Minimal sebulan sebelumnya. Jadi saya bisa menyiapkan diri untuk patah hati, entah untuk yang keberapa kali.

Setidaknya kali ini saya sudah tahu jadwalnya. Jadi harusnya enggak sakit-sakit amat gitu. Bisa kan?

Foto dari unsplash
Advertisements

A Baby Step To Move On

Do I really like you or I just obsessed with you?

Maybe this is not as easy as it starts, but I know where it goes. I will move forward to the place where I don’t need you. Where I can see myself laugh and smile because I want to, not because I saw you. Not because little things that you did to me. Not even close. Not even a bit.

I’m happy because I have conquered myself.

In the past it was so exhausting every time I’m craving for your attention. Bothered by the thing that actually I don’t need to worried about.

It harmed myself more than I expected. I become so obsessed, everything is always about you. You become the priority that I don’t need to. And that ruined everything.

I pretended to be someone else, I lose myself, and even more, for many times I lose you. It hurts me and I know that It hurts you too.

What are we? You and I asked for each other. And then you silent. The silent that you know will hurt me.

I don’t know. I don’t know. I don’t know. I repeatedly talk to myself in your room. The place where I always beg you to stay. And this is the fourth time we did this. This is too many, you can’t handle me anymore.

My friends always told me you are just being nice to me. You are too kind to hate and avoid me. I knew that. Cuz in the end of the day, we are always being back together. Not in a romantic way, but it’s good to know that you still want me in your life. Even after the damage that I’ve done between us.

We supposedly reminds to be stranger for each other.

You supposedly only become somebody I talk for one or two. Not like these.

‘These’ means; I want to have you for my own, I don’t want to share you to anyone, I don’t want you to ignore me even for a second. Those are actually the wrong reason to love somebody.

Why I become so needy, pathetic, and insecure like that? For someone like you? Whom I know nothing about. Whom I just known for a months. Who don’t even care about me at all.

I wonder, what exactly thing that make me really crazy about you?

I dig for the answer. I don’t find anything in particular. I have nothing to say.

Nonetheless, if I don’t have the answer it means supposedly my feelings will fades as time goes by. I hope.

The last time we argued for each other, I told you that I promise to totally leave your life. To make a real distance. Without any doubt, you agree with that. Maybe this is best for us. You said.

You don’t want me anymore. But you still make me stay in your room.

But, I know why. You pity me. And you do realize that you are bad for me. And we both know that.

And I said, ‘Please help to make me don’t need you anymore. Please help to make me don’t want you anymore’.

You sigh and silent. You just gave me a sign to leave your room.

I still hold my tears. You accompany me to the front door. Without saying goodbye to each other, then I went. I didn’t look back. And when I was on my way to my place I secretly make a promise to myself.

This time I will break my pattern, I will letting you go, and I will be fine.


Saw You In a Dream

You just don’t hear me anymore
And I know that I shouldn’t even try
It’s a waste of time — The Japanese House

Bayangkan seperti ini. Kita berdua adalah dua orang paling sial di muka bumi ini. Sudah sama-sama sedang berusaha menghindar satu sama lain, tapi semesta selalu punya caranya sendiri untuk membuat kita berdua bertautan kembali.

Salah satunya adalah dengan kamu datang ke dalam mimpi saya. Betul tidak sih? Karena saya memang tidak berencana membuat kamu ada di dalam mimpi saya. Kamu jangan kepedean ya. Kita kan sudah sama-sama berjanji untuk tidak berkomunikasi satu sama lain lagi. 

Karena, kamu berpikir jika kita saling berbicara lagi, saling terkoneksi lagi, jalinan itu akan kembali lagi. Ekspektasi saya akan muncul lagi. Dan obsesi itu akan datang menguasai dan merusak apa yang ada. Meskipun kali ini sudah tidak ada lagi yang bisa dirusak. Karena kita berdua sudah sama-sama tahu bahwa tidak ada lagi hal baik yang tersisa.

Kamu terlanjur bilang bahwa kamu sudah lelah dengan ini semua. Kamu tidak dapat lagi melanjutkan permainan ini. Meskipun dengan jelas selama empat kali saya memohon-mohon padamu untuk mengulang kembali apa yang terjadi dari awal lagi. Seperti biasanya. Dulu setelahnya kamu akan tersenyum dan kita pun akan menukar candaan bodoh dan semua pun mencair dan baik-baik saja.

Tapi tidak malam itu. Suaramu meninggi tiap kali saya bilang, “biasanya kita mulai dari awal lagi kok”.

Sepertinya tidak akan ada lagi kesempatan kedua. Jatah untuk itu telah habis. Matamu begitu letih dan gerakanmu begitu dingin. Ini sepertinya betulan. Kamu sudah merencanakan dengan serius ingin mengusir saya dari hidupmu.

“Demi kebaikan kita berdua,” ucapmu yakin penuh kepastian. Melihat muka saya pun kamu tidak peduli.

Tapi sebenarnya rasanya aneh ketika kamu bilang seperti itu. Sejujurnya ini adalah perpisahan paling baik yang pernah saya punya. Rata-rata ‘mereka’ akan menghilang tanpa memberikan alasannya. Dan selama bertahun-tahun saya akan mengais meminta jawaban untuk itu. Kamu begitu baik memberikannya di awal. Sepertinya kamu kasihan sama saya. Kamu sudah tidak mau melihat saya gila lagi. Atau kamu tidak mau repot-repot dikejar kegilaan saya di kemudian hari.

Tapi, apa pun alasannya, rencana kamu berhasil.

Obsesi itu pun perlahan pudar, meski tidak kilat. Masih ada hari-hari di mana isi kepala saya hanya tentang kamu. Namun, untungnya sekarang sudah biasa saja. Mungkin rasa sakit itu sudah berkompromi. Mungkin saya juga tidak enak dengan kamu. Kamu begitu baik. Saya yang gila.

Dan setelah lebih dari satu bulan dari perjanjian itu, akhir-akhir ini tiba-tiba saja kita berdua saling bertemu di mimpi. Mimpi saya tepatnya. Seperti biasa kita sedang tertawa berdua, membicarakan hal-hal bodoh yang tidak perlu. Semua terasa ringan. Sampai ya, saat saya bangun tidur, dengan begitu jelas saya mengingat semua yang ada di mimpi tersebut. Saya tersenyum begitu riang. Saya merasakan bahagia yang dulu pernah kamu berikan.

Meskipun ketika kita bertemu lagi suasana tetap dingin, penuh diam, dan kaku itu akan terus ada. Tapi, di mimpi itu, saya punya versi kamu yang dulu. Yang membuat saya terobsesi dengan kamu. Yang membuat saya begitu menyukai menghabiskan waktu lama-lama hanya dengan merokok dengan kamu. Atau membuatkan mie dengan topping telor yang tidak bisa saya masak.

Semuanya begitu sederhana.

Namun tidak dengan obsesi ini, yang entah kenapa hadir begitu meresahkan dan mengganggu.

Tidak seharusnya kamu berada dalam kotak tersebut. Seharusnya kita cuma dua orang yang kenal begitu saja dan menukar canda kebodohan sambil lalu.

Tidak seharusnya saya mendedikasikan satu tulisan panjang ini buat orang macam kamu.

Jika memang semua tuduhanmu benar malam itu. Betapa sialnya saya harus kembali menjadi si bayangan dalam cahaya yang seharusnya bisa saya miliki sendiri.

Tapi kamu benar. Sudah seharusnya saya belajar mengikhlaskan. Melepaskan kamu. Dan konsep-konsep kebahagian yang berkali-kali kamu bilang tidak perlu saya sematkan pada diri kamu.

Semua terlanjur terjadi. Setidaknya untuk perpisahan kali ini biarkan saya tidak kehilangan diri saya. Versi saya yang dulu baik-baik saja jauh sebelum saya mengenal kamu.

Bisa kan?

Kamu dan Cerita Hari Liburmu

Akhir-akhir ini kamu tidak terlalu menyukai hari libur. Alasan awalnya karena; Pertama, kamu tidak bertemu dengannya lagi. Kedua, ternyata dia tidak terlalu berniat bertemu denganmu sering-sering. Ketiga, semua teman-temanmu sibuk dengan hidupnya dan agaknya mereka masih sebal denganmu. Keempat, kamu selalu merasa kesepian di kamar indekos sempitmu tiap kali hari libur datang.

Lalu, ketika beberapa minggu ini hubunganmu dengan orang itu kacau balau, kamu menambah satu lagi alasan kenapa kamu tidak menyukai hari libur. Kamu jadi lebih banyak memikirkan tentang bagaimana membuat hubunganmu dengan dirinya kembali baik-baik saja.

Tapi, beberapa hari terakhir kamu sudah berjanji untuk tidak mengulang kebodohan-kebodohan ini lagi.

Sudah jelas bahwa tidak ada harapan untuk dirimu. Tidak ada lagi ruang untuk menghabiskan waktu demi seseorang yang tidak lagi peduli padamu.

Jadi kamu pun bertekad untuk membuat hari libur di bulan ketiga tahun ini sebagai perayaan kembali pada hidup single mu yang mungkin membosankan tapi setidaknya sedikit lebih sehat secara mental.

Pertama, kamu memilih untuk bangun siang. Tabiat yang sudah lama tidak kamu lakukan sejak mengenal orang itu. Karena dia selalu bangun pagi dan kamu jadi terbiasa karenanya. Jadi, kamu pun kembali menjadi si malas dengan bangun siang. Jam dua belas tepatnya. Badanmu lebih rileks dan pikiranmu pun lebih enteng. Masih ada dua belas jam lagi di hari liburmu.

Kedua, kamu mencari lokasi tempat makan yang sangat kamu inginkan. Apalagi kalau bukan semangkok bakmi. Bakmi Bangka langganan di belakang Mol favorit menjadi tujuan makan siangmu.

Sesampainya di sana Cici dan Koko penjualnya menyapamu akrab. Ini kali kelima kamu berkunjung ke sana. Sebelum memesan kamu sudah diberitahu bahwa pangsit stoknya tengah habis. Maka kamu pun memesan bakmi dengan bakso. Yang dengan sangat baik hati mereka menambahkan satu butir bakso lagi dengan satu gelas minuman gratis. Bahkan mereka pun menawarkanmu nasi gratis juga. Tapi perutmu terasa penuh. Kamu pun menolak dengan halus seraya tersenyum.

Ketiga, setelah perut kenyang kamu menghubungi beberapa temanmu. Ich dan Wyn. Kebetulan semalam kamu gagal ngebir bersama. Namun sayang Ich sedang sibuk dengan pasangannya. Kamu akhirnya jalan bersama Wyn. Di sebuah coffee shop yang menjual kopi dengan harga yang terlalu mahal. Tapi tak apa. Kamu sedang tidak ingin sendirian pikirmu.

Selama beberapa jam kamu menghabiskan waktu dengan membaca beberapa artikel tentang Mercury Retrograde yang membuat dirimu sedikit panik. Karena dari sana kamu mengetahui bahwa zodiakmu, Aries, adalah bintang yang paling banyak terpengaruh atas fenomena kosmik ini.

Kamu akhirnya mencatat beberapa hal yang dianjurkan di internet ketika menghadapi Mercury Retrograde ini. Anyway, Mercury Retrograde adalah ….three or four times a year, Mercury passes the earth in its orbit. As it rounds the bend, Mercury slows down and appears to stop (station) and spin backward (retrograde). Of course, it really ISN’T moving backward, but much like two trains or cars passing each other, this creates the optical illusion that one (Mercury, in this case) is going backward.

In astrology, Mercury rules communication, travel, and technology—so all of these areas can go haywire for about three weeks. To top it off, Mercury retrograde also has what’s called a “shadow period”, so you may feel the #retroshade a couple weeks before and after the official Mercury retrograde dates. Great, right.

Dari internet pun menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang bersifat Re-Wind.

Try not to start anything new. Focus on activities that start with the prefix “re-,” which means to go back. Review all your contracts before you sign. Renew your commitments, rather than making new ones. Prepare to repeat yourself often. Reunite with old friends. Redecorate a room. Rekindle a romance.

That last one should be taken with caution. Mercury retrograde CAN bring back an old flame, but often it’s for the purpose of closure, not necessarily because this is the “one that got away.” Don’t be surprised if you get a Facebook friend request from someone you dated ages ago or a forgotten childhood friend. We’ve bumped into long-lost friends (and loves) on the street during Mercury retrograde. Strange times!

Ada dua hal yang terlintas di benakmu terkait hal ini. Kamu ingin melakukan hal-hal re-wind tersebut. Mengubungi orang-orang yang meninggalkanmu tanpa alasan dan tentu saja si orang itu. Dan seperti hal lainnya dalam hidupmu, kamu menyalahkan fenomena ini atas kesialan yang kamu alami selama lima bulan terakhir.

Namun, kamu pun berpikir kembali, untuk apa?

Tapi semalam dua orang teman secara khusus menghubungimu untuk memberitahukan hal ini.

Pertama seorang teman bernama Dina, dengan jelas pointing zodiak Ariesmu sebagai salah satu bintang yang terkena efek paling keras dari Mercury Retrograde ini. Dengan spesifik ia mengatakan bahwa kesialan ini adalah faktor alam. Sesuatu yang tidak bisa kamu lawan. Terbaik yang bisa dilakukan adalah berhati-hati, bersabar, dan mengurangi melakukan hal-hal bodoh yang biasa kamu lakukan kemarin-kemarin.

Kamu pun mengangguk setuju dengan sedikit ketakutan dari kamarmu. Telepon dari Dina pun kamu tutup karena tiba-tiba Rangga, salah satu teman hippiemu, mengubungimu seperti seorang cenayang.

Dia bertanya apakah kamu baik-baik saja?

Kamu merasa baik-baik saja namun tidak sepenuhnya baik-baik saja. Kamu hampa dan gamang. Kamu sedang kalah dan gagal. Tapi sudah terlanjur menerimanya. Jawabmu.

Lalu Rangga pun kemudian menjelaskan tentang lagi-lagi, Mercury Retrograde ini. Dan sekali lagi, ia menegaskan bahwa Aries, adalah bintang yang paling terasa dampaknya. Maka ia pun perlu merasa khawatir dengamu. Ia pun menambahkan bahwa selama 21 hari kamu harus lebih peka dengan tubuh dan lingkungan sekitar. Karena di masa-masa ini adalah masa di mana sekali membuat kesalahan, akan besar akibatnya.

Mendengarnya kamu pun jadi makin berhati-hati.

Lalu Rangga menutupnya dengan memberikanmu sebuah tes dengan menyuruhmu menutup mata untuk bermeditasi dan memberikan afirmasi positif.

Kamu tersentuh dengan sikap teman-temanmu.

Keempat, kamu pun kembali makan. Dengan Sushi dan KFC. Karena sedang ada promo. Dengan seratus ribu rupiah kamu sudah menikmati makanan senilai 200 ribu. Perutmu kenyang, hatimu pun terasa lebih bahagia.

Sesekali mungkin kamu masih ingin membicarakan tentang orang itu ke Wyn. Tapi, kamu tahu Wyn sudah bosan dan muak dengan cerita-cerita sedih dan bodohmu. Maka kamu pun memilih untuk lebih banyak mendengar dan bertanya. Menumbuhkan empati yang sudah lama tertutup keegoisanmu.

Kamu pun masih memiliki beberapa jam di hari liburmu. Menyisakan beberapa ruang untuk dirimu sendiri. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak kamu lakukan.

Memprioritaskan apa yang benar-benar kamu inginkan.

Menyapa kembali dirimu yang sempat kamu lupakan karena sesaknya obsesimu akan orang tersebut.

Di sebuah coffee shop kedua yang kamu datangi. Di tengah bisingnya musik aneh dari sebuah event yang kamu benci. Di keramaian yang tidak kamu kenal siapa pun di sana. Pelan-pelan kamu pun seperti merasakan dirimu kembali. Dalam sebuah episode kehidupan seorang single yang biasa-biasa saja cenderung membosankan namun kamu suka.

Keenam, baiknya kamu cepat-cepat berbaikan dengan teman-teman lamamu. Karena kamu merindukan mereka lebih dari merindukan si orang itu.

Selamat menikmati hari libur dan jangan lupa untuk terus menulis.

Karena dengan menulis kamu berkawan dengan keabadian dan perlahan melawan rasa sepi itu sendiri tanpa kamu bahkan sadari.

You’re Gonna Be Okay

Eventually.

Fase pertama ketika melepaskan sesuatu yang tadinya begitu berarti dalam hidup secara tiba-tiba pastilah marah.

Amarah menjadi satu dari sekian banyak emosi yang hadir dalam merepresentasikan kekecawaan dan rasa rindu tersebut.

Marah karena mengapa berakhir seperti ini.

Marah karena mengapa dia tidak berjuang dengan begitu hebatnya untuk mempertahankan dirimu.

Marah karena, betapa bodoh mengulang kesalahan yang sama terus menerus dan selalu berakhir seperti ini.

Tapi, pertanyaan berikutnya adalah, mau sampai kapan?

I mean, that is okay to have those emotions. You deserve to be angry.

Merelakan kehilangan bukan hal yang mudah untuk dilakoni. Tapi, pada akhirnya seluruh amarah itu akan terasa sia-sia jika terus menerus disimpan dan dijadikan amunisi untuk mendestruksi diri sendiri.

Jangan lah. Capek sendiri. Marah boleh, melukai diri sendiri jangan. Jadi apa yang harus dilakukan ketika marah?

Dari sebuah podcast saya mendengar bahwa ketika manusia dikelilingi oleh perasaan marah dan emosi berlebih, bergerak menjadi salah satu cara untuk merelease-nya. Olahraga bisa sih. Tapi kalau malas berkeringat, keliling jalanan sambil nangis-nangis dengan kendaraan bisa jadi solusi. Pokoknya pas sampai kamar badan sudah letih dan ketiduran.

Fase berikutnya setelah dealing with anger and everything adalah fase denial dan mencoba untuk merekonsiliasi. Ini bentuk mundur karena dorongan untuk kembali menyapa orang tersebut besar sekali. Ini fase yang berbahaya. Karena jangan sampai harga diri kamu tercecer begitu saja hanya karena satu ‘hai’ saja. Jangan sampai progres kamu mundur karena rasa rindu dan keragu-raguan sesaat.

Siapkan pertahanan terbaikmu, kesadaran barumu, bahwa dengan tetap berada di titik ini, menolak untuk merekonsiliasi dan mempertanyakan kembali hubungan kamu, adalah hal terbaik yang kamu punya.

Karena, beberapa cerita mungkin membutuhkan beberapa drama untuk membuatnya tetap menarik. Mungkin di ceritamu adalah pilihanmu itu sendiri.

Tapi, ya kalau menurut kamu semuanya bisa diselesaikan dengan orang tersebut. Ya, monggo. Misalkan sudah mentok banget, ya coba cari distraksi lain saja. Coba hubungi keluarga, rekonek dengan orang-orang lama, atau bahkan masuk ke komunitas baru. Bukan hanya untuk berusaha menghalau urgensi ketika isi kepalamu dipenuhi hanya dengan orang tersebut saja ya. Tapi, ya jangan-jangan kamu memang sudah lama saja tidak bertemu teman-teman kamu atau membuat teman-teman baru.

Terakhir, fase yang paling sialan adalah terbiasa dengan itu semua.

Terbiasa dengan rasa sakit yang telah menggerogoti namun pada akhirnya sudah menjadi bagian dalam keseharianmu. Akhirnya ketika melihat orang tersebut bahagia dengan orang lain dan tidak membutuhkanmu lagi kamu juga sudah terbiasa dengan hal tersebut. Tidak dengan rasa marah, tidak juga dengan rasa kecewa.

Dari situ saya juga berfikir, jangan-jangan perasaan ikhlas itu bukan hanya tentang berdamai dengan diri sendiri saja. Bisa jadi karena sudah terbiasa saja, dan akhirnya luka dan kekecawaan yang sedari kemarin mendongkol jadi bias sendiri. Inner peace mungkin hanya sebuah ilusi yang diglorifikasi agar mereka-mereka yang tersesat seperti melihat ujung perjalanannya.

Padahal kan enggak semua orang bisa survive dengan metode tersebut. Mungkin ada beberapa orang yang memang; “ya sudahlah saya loser dan terpaksa untuk bangun lagi dan mencoba lagi sambai ribuan hari sampai akhirnya sadar sudah bertahan sejauh ini.”

Dikasih tau pahitnya seperti itu juga enggak apa-apa sih sebenarnya. Hehe. Jalan untuk rileks dan tidak drama dalam hidup pasti panjang dan sulit tapi kan tidak ada yang tidak mungkin. Tergantung kita mau atau enggaknya.

Saya enggak janji kamu bisa dengan mudah bisa selesai dengan semua rasa kecewa kamu ya. Tapi setidaknya dalam prosesnya, dalam masa silent kamu, dalam masa kecewanya kamu, kamu bisa menemukan diri kamu lagi. Kamu bisa menemukan alasan untuk mencintai diri kamu ternyata jauh lebih penting dibanding mengejar-ngejar dan mempertanyakan kepergian orang tersebut. Itu yang terpenting sih. Jangan kebanyakan galau dan sakit hati. Enggak enak.

Jadi, selamat menikmati fase-fase itu semua ya! Kamu enggak sendirian. Sudah itu aja yang perlu kamu tahu.