Potongan Memori Kala Itu

Dalam satu waktu di sebuah kampus sekitar Depok. Tentang kamu, rintik hujan, dan sejumput kebahagian yang tertinggal.

Screen Shot 2018-07-27 at 00.16.06
unsplash

Saat itu kamu menggenggam tanganku di depan begitu banyak orang yang tidak kita kenal. Ini pertama kalinya. Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku dapat merasakan kegugupanmu, kamu pun dapat melihat betapa kaku tanganku kala itu.

Umur kita baru delapan belas tahun saat itu. Baru tiga bulan saja merasakan masa kuliah. Romansa putih abu-abu masih terasa, bahkan lebih kuat.

Kita pun berhasrat atas satu sama lain. Entahlah dengan cinta. Tapi yang aku tahu, aku menginginkanmu, dan kamu pun menginginkanku. Bagiku itu cukup.

Ada banyak cerita yang kamu bagi padaku setiap harinya. Tentang jaket kuning kebanggaanmu, teman-teman baru, dan mata kuliah yang mau tak mau harus kamu hadapi tiap harinya. Dan hatiku pun mendadak hangat tiap kali melihat dirimu yang dulu selalu pelit bicara kini tampil berbeda. Ada banyak hal baru di harimu dan kamu pun menceritakannya padaku. Membaginya tanpa aku minta. Seakan aku berada di sana. Seolah-olah aku membutuhkan cerita-ceritamu untuk bertahan hidup.

Apakah ini artinya bahwa kamu ingin aku ada dalam ceritamu? Menjadikan aku bagian dari itu semua?

Kamu hanya tersenyum saat aku menanyakannya, ada hangat dari sentuhanmu di wajahku dan tiba-tiba kamu pun menciumku dengan cepat. Seperti selalu ada hari esok untuk ciuman yang lebih perlahan dan lama. Pikirmu saat itu. Koreksi. Pikir kita berdua saat itu.

Kemudian tiba saatnya kamu dan aku berpisah. Aku dapat melihat semangat di kedua matamu ketika menuju kampus dan betapa aku tahu kamu hanya berpura-pura sedih saat melepasku di Margonda.

Aku akan merindukanmu. Katamu setiap kali saat aku turun dari mobilmu. Setiap hari selama tiga bulan.

Dan selama tiga bulan itu pun aku tidak pernah membalas ucapanmu dan hanya melambaikan tangan saja. Entah mengapa.

Kembali pada scene saat kamu memegang tanganku. Menggandengnya. Memamerkannya. Memilikinya.

Saat itu Minggu malam. Kamu dan aku sedang menikmati konser pertama kita sebagai pasangan. Ribuan orang bernyanyi, berjoget, dan kita berdua tahu bahwa genggaman tanganmu efeknya lebih dahsyat dari seluruh band dan penyanyi malam itu dijadikan satu.

Hujan turun. Rintik-rintik yang syahdu itu pun membasahi kita berdua. Kamu menarikku ke dekat pohon, kita berdua tersenyum dengan kebodohan ini. Seharusnya kita kembali saja ke mobil lalu pulang. Katamu.

Tapi aku menolaknya. Aku ingin menikmati hujan ini bersamamu.

Kamu tampak bingung tapi toh kamu tetap mengiyakannya. Kita berdua pun berpelukan di bawah rintik hujan diiringi musik dari penyanyi yang kita tidak begitu kenal. Namun entah dorongan dari mana, ada rasa nikmat di sana. Musik itu seakan menjadi latar akan cerita aku dan kamu malam itu. Aku kamu, aku kamu, aku kamu. Betapa hatiku bergetar tiap kali mengulang kalimat itu.

Kemudian kamu pun memelukku. Erat. Seakan ini yang terakhir. Aku dapat merasakannya.

Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya malam ini?

Aku pura-pura tidak menyadarinya. Membalas pelukanmu dalam diam. Detik kemudian aku tenggelam dalam sebuah momen yang takutnya tidak akan terulang lagi di antara malam, hujan, dan pelukanmu. Dan rasa khawatir itu pun aku simpan sendiri.

Malam pun berganti pagi, hujan pun berhenti, sayangnya pelukanmu pun ikut memudar.

Lima bulan kemudian tidak pernah ada lagi cerita-cerita darimu tentang teman-teman baru atau dosen-dosen aneh yang selalu mengganggu dengan tugas-tugasnya.

Kita berdua pun sudah tidak pernah berciuman lagi atau sekadar mengucapkan kata rindu. Semua hal yang telah menjadi rutinitas dan kebiasaan itu pun perlahan berhenti dan tenggelam dalam ketiadaan.

Aku mengerti. Kamu menjauh. Kembali menjadi versi dirimu yang tidak banyak bicara. Apakah kamu tidak ingin aku menjadi bagian dari ceritamu lagi?

Apa yang berubah?

Apa yang salah?

Sepanjang itu kamu pun tidak pernah memberitahukanku, memotong seluruh saluran komunikasi dalam tempo yang begitu panjang. Menyiksa. Kamu seperti merenggut sesuatu yang sudah terintegrasi dalam diriku. Dan sialnya, aku mengizinkan itu semua terjadi. Tanpa penolakan sedikit pun rasa sakit itu bertengger nyaman cukup lama sampai sebuah pesan darimu datang ke handphoneku. Singkat namun cukup untuk memutarbalikkan duniaku.

Kamu akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku.

Lewat sebuah pesan singkat tanpa penjelasan apa pun yang menyertainya. Tanpa ada kata maaf basa-basi yang mempermanis perpisahan ini. Tidak. Kamu hanya bilang; Aku rasa kita tidak cocok lagi. Kita putus ya.

Terlambat. Mengapa ini semua terjadi saat semua hal tentangmu terlanjur tertata begitu rapi dan lengkap dalam khayalanku. Saat aku sudah mengetahui jawaban yang harus aku berikan padamu saat kamu mengucapkan “aku akan merindukanmu”.

Aku sudah memikirkannya dengan begitu dalam. Membayangkan akan membuat setiap perpisahan kita sebelum ke kampus lebih melankolik dan romantis.

Tiap kali kamu mengatakan: “Aku akan merindukanmu”, maka dengan bangga aku akan menjawabnya dengan, “aku tahu”.

Persis seperti yang diucapkan Hans Solo pada Puteri Leia di film Star Wars.

Sayangnya itu semua tidak sempat terjadi.

Sepuluh tahun sudah, apa kabar dirimu sekarang? Masihkah kamu menyimpan memori ini juga?

Dari Rental CD Sampai ke Jennifer Lopez

Untuk seorang anak yang tinggal dan tumbuh di daerah nanggung bernama Cibinong dan enggak punya cukup uang jajan, akses untuk mendapatkan hiburan itu terasa lumayan sulit dan kalau pun tersedia itu juga harus menempuh jarak yang lumayan banget.

Dulu saat masih SMA di tahun 2005 sampai 2008, hasrat untuk menonton film dan nonton konser itu lagi tinggi-tingginya. Meski saat itu media sosial baru mentok di Friendster dan IMRC dan belum bisa pamer apa-apa karena handphone juga masih poliponik. Tapi ya umur-umur segitu ya kan, rasanya pengen mingle dan tampil aja.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.50.17
Modal update lagu-lagu terkini karena ada fitur radionya. Dulu berasa asik sendiri aja karena sok bisa denger radio sambil jalan ke mana-mana.

Tingginya keinginan gue pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk pergi nonton Pensi kudu banget ke Jakarta. Dulu tuh berasa jutaan kilo jauhnya kalau mau ke Jakarta plus gue engga tau jalan. Kalau maksain, nyasar yang ada.

Dan kalau mau nonton ke bioskop harus pergi ke Bogor Kota yang mana trayek angkotnya dari Cibinong mentok cuma sampai di Jambu Dua aja. Jadilah jarak menjadi tantangan dan hambatan buat gue.

Mohon maap, harap dicatat bahwa di tahun tersebut masih belum ada ojek online. Transportasi yang ada cuma angkot dan bus yang wasalam banget deh. Tapi demi gaya dan up to date, dipaksa-paksain aja dong ke Bogor naik angkot berkali-kali cuma buat lihat ciuman Shandy Aulia sama Samuel Rizal di film Apa Artinya Cinta.

Pilihan bioskop di Bogor saat itu mulai dari bisokop Galaksi (Tajur), Mall Elos aka Eka Lokasari (Sukasari) dan Dewi Sartika (Biasa disebut DS, lokasi di Pasar Anyar). Atau kalau mau jauhan dikit dan harga tiket lebih murah bisa ke daerah Depok, yang kalau enggak salah dulu cuma ada di Detos (Depok Town Square).

Berarti untuk sampai ke bioskop dari Cibinong gue harus ngelanjutin perjalanan berikutnya dari Jambu Dua naik angkot trayek baru lagi.

Nungguin lagi deh abangnya ngetem. Duh, kebayang kan tuh berapa tahun cahaya yang harus dihabiskan demi nyampe ke bioskop.

Screen Shot 2018-07-23 at 17.30.19
Angkot “SEXY” (angkot yang ada tempelan stiker sexy) adalah angkot andalan, karena komplit ada sound sytem dan lebih bersih. Favorit deh.

Makanya asli gue suka gedeg banget kalau ke bioskop terus film yang ditonton tuh jelek. Duh, KZL.

Soalnya coy pengorbanan gue buat nonton ngabisin waktu perjalanan dua-tiga jam di jalan aja neh. Belum lagi ada bonus adegan nyium semriwing wewangian ketek orang-orang yang beradu di hidung.

Udah deh bubar jalan semua kekecean modal minyak wangi gatsby yang disemprot sana sini. Semua berubah jadi paduan keringet matahari dan besi angkot.

Tapi gue percaya Tuhan enggak bakal ngasih ujian ke umat yang enggak bisa mereka jalani. Lalu gue bertemanlah dengan Jeje, dari doi gue diberikan solusi praktis untuk memenuhi tingginya kebutuhan gue menonton film.

Yaitu dengan menyewa film ke rental CD. Saat itu di Cibinong ada dua tempat rental CD film.

Anyway, jadi life before internet, netflix, torrent dan Indo xxi merajarela seperti sekarang yang membuat nonton film jadi gampang banget. Rental film itu dulu semacam getaway buat nikmatin film dari yang jadul sampai yang terbaru (hitungan terbarunya adalah setelah 3 bulan film itu turun layar di bioskop) dalam bentuk CD.

Di daerah Cikaret ada yang namanya Aster Disc. Dia bangunannya ruko dua lantai dan pilihan filmnya lebih yang artsy dan kebanyakan adalah pemenang-pemenang Oscar gitu. Terus ada Ultra Disc, lokasinya deket SMA gue dulu di daerah Ciriung. Film-film di Ultra Disc lebih up to date dari Aster Disc.

 

Jadi, enggak perlu lagi deh jalan jauh-jauh ke Bogor atau Depok. Akhirnya buat nonton film gue cukup ke Cikaret atau Ciriung (yang mana cuma 10 menit naik motor), di sana ada ratusan judul film yang udah menanti buat disewa.

Nah dari history film-film yang gue pinjem, lama kelamaan kebentuk interest genre film yang gue suka. Yaitu di romantic comedy. Kisah-kisah unyu ala-ala FTV yang ceritanya berfokus pada percintaan cewek dan cowok yang enggak sengaja ketemu lewat adegan ketabrak dan akhirnya mereka kenalan deh, turns out salah satu dari mereka tajir. Ada bumby drama sana sini tapi pada akhirnya mereka live happily ever after.

Saat itu cerita-cerita macem gitu merupakan hiburan yang menyenangkan buat sobat miskin macem gue buat ngayal babu.

Yang menarik lagi dari rental-rental film itu, penjaganya tau banget soal film. Dari Mbaknya gue akhirnya bisa berkenalan dengan film-film Jennifer Lopez. Si seksi yang hitz banget di MTV saat itu lewat lagu If You Had My Love, Love Don’t Cost a Thing, dan No Me Ames ternyata punya film-film yang asik buat ditonton.

Akting Jennifer Lopez yang selow tapi asik dan cerita filmnya yang udahlah enggak usah didebat banget, karena yang memang too good to be true. Bisa banget ditonton di malam minggu kelabu buat jadi obat haha hihi ber-aw aw romantis ringan baik sendiri atau nonton bersama sobat-sobat jomblo lainnya.

Berikut gue buat daftar lima film doi yang paling asoy:

1. Maid in Manhattan (2002)

Ini ceritanya udah halu banget. Pegawai hotel yang akhirnya pacaran sama tamu tajirnya. Ya bukannya enggak mungkin, tapi peluang untuk terjadi di dunia nyata kan kecil ya.

Tapi di antara semua film romantic comedy Jennifer Lopez, ini yang paling gue suka. Mulai dari soundtracknya yang kacau enak-enak banget, sukses mengisi mood film dari yang happy sampai ke sedih. Terus duet akting Jennifer Lopez dan si Voldemort berasa nyata banget.

Asli, sedih beneran gue pas si Jennifer Lopez ketawan ngebohong dan galau di kereta pas pulang kerja.

Mana ditambah ada lagu Norah Jones, don’t know why diputer, ibarat luka udah perih dipeperin jeruk nipis. Nyes…… perih tsay.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.12.43 AM

Jennifer Lopez di film ini super cantik banget dengan balutan gaun nudenya. Effortless aja bentukannya. Pokoknya dia jago banget deh meng-embody peran-peran perempuan susah yang bisa dikasihani penonton dan digebet orang-orang kaya. Macem gold digger tapi lebih alus gitu mainnya.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.05 AM

Ya tapi mohon maap ya, Jennifer Lopez enggak didandanin juga tetep cantik aja tuh.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.35.21 AM

2. The Wedding Planner (2001)

Nah, kalau film yang ini lebih ngeselin lagi. Premisnya tentang wedding planner yang akhirnya nikah sama suami kliennya.

Lah brengsek banget kan ya.

Tapi ya enggak dibuat ala-ala pelakor gitu. Doi berdua ketemu sebelum si cowok tau kalau si Jennifer Lopez adalah wedding planner pernikahan doi.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.15.50 AM

Untuk segi cerita, film ini paling lambat pergerakannya, enggak sedinamis dan semenarik film-film romantic comedy Jennifer Lopez lainnya. Tapi akting-akting aktor yang ada di sini juara semua.

Adegan meet cute atau ketemuan antara Jennifer Lopez dan Matthew McConaughey cukup halu sih. Di situ digambarin Jennifer Lopez lebih milih sepatu Gucci barunya dibanding nyawanya. Untung banget kan di sana ada dokter tulang yang ganteng yang bantu doi.

What a coincidence.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.16.06 AM

3. Monster in Law (2005)

Nah menurut gue di antara semua film Jennifer Lopez yang gue tonton, film Monster in Law itu paling kocak. Asli seru abis ngeliat perang dingin antara mertua dan menatu yang dimainkan begitu apik oleh Jane Fonda.

Seru banget ini filmnya. Meski romantisnya cuma tempelan aja ya. Karena karakter cowoknya kayak enggak penting gitu. Cuma hadir sekali dua kali. Yang bikin seru film ini ya kegilaan mertuanya yang lagi krisis kehidupan yang udah enggak laku di pertelevisian dan harus menghadapi anak kesayangannya mau nikah sama perempuan muda yang pekerjaannya cuma penjaga anjing.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.29 AM

Terus ngana tau Jennifer Lopez sama cowoknya ketemuannya gimana?

Enggak sengaja ngeliat di pantai terus tabrakan di Starbucks. Terus abis itu mereka jadi sering ketemuan secara enggak sengaja gitu.

Life is so easy ya?

Screen Shot 2018-07-23 at 16.11.02.png

4. Shall We Dance? (2004)

Film yang diadaptasi dari film Jepang dengan judul yang sama, Shall We Dance adalah sebuah film yang manis banget. Meski karakter Jennifer Lopez dan Richard Gere tidak berakhir jadian (yang mana membuat film ini lebih manis lagi) tapi cerita di film ini disampaikan dengan lebih matang dan seksi.

Kombinasi kegundahan pria paruh baya dan kekuatan karakter Jennifer Lopez yang dimunculkan lewat gerakan dance doi yang gokil banget bikin elo akan tersedot dan berdoa buat mereka agar menang di dance competition yang mereka incar.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.17.00 AM

5. The Back Up Plan (2010)

Kalau film yang ini udah di era download. Tapi tetap gue masukin karena ceritanya memang kocak banget. Meski lagi-lagi, jangan terlalu serius untuk memasukan logika pada setiap adegan di film ini. Karena balik lagi ya filmnya enak buat halu-haluan aja.

Jennifer Lopez yang sedang hamil di film ini digambarkan dengan begitu kocak karena dia harus mengalami fase naik turun hormon yang bikin sekuens-sekuens di film The Back Up Plan jadi lucu banget.

Screen Shot 2018-07-22 at 2.18.39 AM

Memang sih film dengan genre romantic comedy itu terkadang formulanya hit and miss. Tapi di kelima film Jennifer Lopez yang ini doi aktingnya enggak asal dan ngotot pengen tampil bagus sendirian. Doi bisa ngeblend banget sama aktor-aktor yang lain. Tektoknya dapet.

Kebayang sih mungkin pas dari awal si Jennifer Lopez udah di brief sama sutradaranya buat pembawaannya lebih asik dan lovable. Karena toh memang film doi bukan buat Oscar material. Tapi ngejar dapet penonton banyak. Dan tanpa diragukan lagi Jennifer Lopez bisa ngasih itu semua dengan begitu baik.

Selamat menonton!

 

Pertemuan Itu

Screen Shot 2018-07-16 at 5.20.03 PM
Source https://unsplash.com/photos/Bq_bGDX-gCs

Dalam sebuah pesta yang riuh dan kamu berjarak hanya beberapa kaki dari tempat saya berdiri. Tanpa sengaja kita pun bertatapan, namun tak berusaha membuat komunikasi apa pun.

Kamu terdiam.

Dan tak secuil pun usaha saya membuat ini menjadi lebih mudah. Tidak, tidak akan lagi.

Hanya dalam hitungan detik, tatapan kita pun berubah menjadi rasa enggan yang malas.

Dan menghindar adalah pilihan yang tersisa.

Dengan cepat masing-masing dari kita berusaha untuk melupakan apa pun yang muncul di kepala saat masa lalu mengetok datang. Kemudian dengan kasual melanjutkan hidup masing-masing tanpa perlu menoleh ke belakang dan bertanya-tanya lagi.

Tidak ada desakan untuk menjadikan pertemuan tak sengaja ini menjadi ajang konfrontasi yang terjadi di masa lalu.

Karena,

luka terlanjur terperi,

sakit telah didera,

waktu pun tak kan kembali.

Semua mati menjadi abu.

Tak ada yang tersisa.

Kamu hanya orang asing yang dulu pernah saya kenal. Tidak lebih.

Yang membuat ngeri, ini semua nyata. Bayangan yang dulu hanya angan-angan pahit telah terjadi. Menggerus semua yang pernah ada, mengaburkan semua asa, dan menyisakan hati yang kebas.

Dan ternyata ini rasanya ketika tidak merasakan apa pun pada sesuatu yang dulu begitu gigantis dalam hidup.

Sakit pun tidak. Hanya kebebalan yang acuh.

Saya benar-benar mati rasa, entah bagaimana dengan kamu.

Mereka bilang tak ada cara apa pun yang bisa menyembuhkan itu semua.

Sayangnya, ingin pun tidak.

Review This is Us Season 1 & 2: Dalam Sebuah Perspektif Personal

Screen Shot 2018-03-28 at 1.41.51 PM
pic from https://www.goodhousekeeping.com/life/entertainment/news/a48183/this-is-us-season-3/

Sebenarnya sudah direkomendasiin sama Kak Teppy dari setahun lalu, namun entah mengapa baru punya waktu tahun ini aja.

Daaaaaaan series ini bagus. Banget. Titik.

Setiap manusia pasti punya luka masa lalu yang akhirnya memberikan efek tersendiri di kehidupan mereka ke depannya.

Dengan premis tersebutlah series This is Us bergerak dengan begitu indah, memikat, juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi mereka yang memiliki pengalaman yang sama seperti pemain-pemain di dalamnya.

Series ini dengan apik menggambarkan hubungan antar manusia sebagai keluarga yang tumbuh bersama-sama dengan begitu detail sampai saya sebagai penontonnya merasakan keterikatan emosi dalam perubahan nasib dan pengembangan karakter sepanjang series berjalan.

Kejeniusan sang kreator dan penulis series ini dapat dilihat lewat pembagian scene dan cerita yang tidak linear namun bertumpu pada satu titik trauma misterius yang dihadirkan maju mundur dan selalu dihindari untuk dibicarakn oleh masing-masing anak di dalam keluarga ini.

Namun seperti halnya misteri lain dalam hidup, di tiap episodenya pedih dan misteri yang bercongkol terus mendesak untuk diselesaikan atau akan menghancurkan semua yang ada di ‘present moment’.

Dan itulah kekuatan dari series ini. Saya bisa nangis ambyar se-ambyarnya macam selang air setiap menyelesaikan episode-episode di series ini.

Kalau kamu-kamu tipe yang suka disakitin dengan cerita-cerita tear jerky, series ini cocok banget buat kamu.

Screen Shot 2018-03-28 at 1.45.18 PM
pic from https://www.nbcnews.com/better/health/6-important-relationship-lessons-we-can-all-learn-us-ncna802341

Topik besar dari series ini adalah gambaran dua karakter utamanya yaitu Jack dan Rebecca dalam membangun keluarga kecil mereka dari nol sampai anaknya tumbuh sebagai manusia dewasa.

Dan namanya juga hidup ya, pasti ada saja masalah-masalah di dalamnya. Namun serius, menonton series ini saya seperti sedang dalam sesi self healing. Karena isu-isu yang dihadirkan di series ini adalah sesuatu yang kebanyakan orang alami sebagai seorang anak maupun manusia secara keseluruhan. Dan selama satu jam saya dihadapkan dengan begitu larut lewat memori-memori usang yang telah lama ditekan, dilupakan, dan kini mendesak untuk didamaikan.

Fiuh, nonton series tidak pernah seberat ini.

Ketidaksempurnaan adalah Kesempurnaan

Jack sebagai seorang Ayah dan Suami dalam series ini terlihat sebagai manusia super sempurna di mata keluarga kecilnya.

Dan sebenarnya memang Jack seberusaha itu untuk menjadi sosok sempurna tersebut. Kita sebagai penonton akan dibuat terharu ketika melihat perjuangan Jack saat harus memutar otaknya untuk menyelesaikan masalah ‘papan’ keluarganya. Karena pada awalnya saat Rebecca hamil dia memperkirakan anaknya hanya akan ada satu. Tapi setelah beberapa bulan ia terkejut mendapati fakta bahwa ia akan memiliki TRIPLET. Bayangkan, sudahlah DP rumah awal hangus karena sudah pasti rumahnya saat lahiran enggak bakal muat, ditambah dia masih harus mencari uang tambahan untuk beli rumah baru lagi.

Namun Jack berusaha untuk melakukan apa pun demi memberikan kenyamanan terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Meskipun ia harus drop his pride and ego untuk minta ke Ayahnya yang dia benci sekali.

Apa yang Jack lakukan adalah gambaran kebanyakan peran seorang Ayah dalam kehidupan keluarga kebanyakan.

Dia akan berkorban dan bekerja paling keras untuk mendapatkan uang demi kelangsungan kehidupan keluarganya.

Saya mau berbagi cerita tentang sosok ‘Jack’ versi saya lewat pengalaman hidup dan sudut pandang saya.

Secara pribadi sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di keluarga Indonesia kelas pekerja kebanyakan. Tipe hubungan anak dan Ayah di negara ini dan yang saya punya secara khusus bukanlah bentuk paling ideal yang bisa diceritakan.

Ayah saya adalah si pendiam yang selalu pulang ke rumah dengan fisik dan mental kelelahan dan hanya bisa saya temui seminggu sekali. Itu pun lebih banyak saya mendapatinya tidur seharian di kamar.

Waktu yang saya punya dengan beliau hanya saat makan bersama. Namun sejak saya dan adik saya tumbuh besar dan membutuhkan ruang lebih luas di rumah kami yang kecil, saya harus merelakan tidak punya meja makan dan kehilangan ritual makan bersama-sama. Yang artinya saya akan kehilangan waktu berdua dengan Ayah saya. Maka keintiman itu akan terlewat meskipun hanya berputar tentang pertanyaan basa basi soal perkembangan di sekolah saja.

Entah apa beliau tahu bahwa hobi saya sebenarnya adalah membaca dan menulis bukan bermain sepak bola seperti kebanyakan anak-anak laki-laki di kampung saya.

Entah apa beliau tahu bahwa sepeda saya sering rusak karena dikerjai oleh anak-anak iseng karena mereka membenci saya atas fisik saya yang hitam dan kemayu. Yang mana merupakan gambaran paling jelek dalam kriteria anak laki-laki.

Entah apa beliau sadar bahwa saya selalu absen dari kelas mengaji setiap malam karena saya tidak nyaman membahas ajaran agama yang begitu dangkal dan anak-anaknya yang sering mem-bully saya.

Juga, entah apakah terbesit perasaan malu pada diri beliau dengan memiliki anak seperti saya?

Sepanjang hidup saya mempertanyakan itu semua di kepala saya.

Apakah Ayah saya menekan semua emosinya dan menjadikan dirinya sebagai martir dalam keluarga karena asas kewajiban atau karena memang dia mau melakukannya secara sukarela dan tulus karena kasih sayang?

Dude, tinggal di keluarga pinggiran Cibinong secara sadar saya sudah mengikhlaskan untuk mengeliminasi konsep ‘kasih sayang’ seperti yang hadir di televisi atau iklan-iklan. Saat sang Ayah memeluk anak-anaknya dan mengatakan, “I love you, Nak. Papah bangga sama kamu!”.

Hell, No. Itu hanya untuk para rich kids, and I’m not. Dari kecil saya sudah tahu diri untuk hal itu.

Komunikasi dan tendesi kulit bertemu kulit adalah sebuah konsep yang tidak pernah muncul dalam kepala orang tua macam Ayah saya. Entah karena risih atau memang orang tua beliau sebelumnya pun tidak melakukan hal tersebut.

Maka bisa dibayangkan sepanjang saya hidup saya akan sangat risih saat ada teman saya merangkul dan memeluk saya. Dulu saya bisa begitu aneh dengan hal tersebut, bahkan cenderung menghindar.

Karena ya tadi, kode kasih sayang tadi tidak terintegrasi dalam diri saya.

Juga, saya pun bisa menghitung berapa kali saya pernah mengobrol dengan beliau secara decent sebagai sesama manusia. Dan membayangkan saya dan dan beliau mengobrol as men to men adalah sesuatu yang aneh sekali.

Karena memang pada dasarnya seingat saya kami tidak pernah memiliki bonding moment seperti itu. Ide akan seorang Ayah di kepala saya adalah seorang kepala keluarga yang kelelahan mencari uang yang bahkan saya tidak tahu kapan ulang tahun dirinya.

Dulu saya akan membawa kebetean itu dan menyalahkan dunia akan hal tersebut.

Kenapa sih saya harus tumbuh seorang diri tanpa orang tua saya? Terlebih tanpa sosok Ayah. Saya bahkan pernah menyalahkan beliau atas ketidak cocokan diri saya atas ekspektasi society, karena gugurnya figur Ayah dalam diri saya.

Saya tidak pernah diajarkan olahraga oleh beliau, tapi secara mendadak saya disuruh mencintai sepak bola seolah itu sesuatu yang wajar. Wong saya lebih suka tidur atau baca buku dibanding berkeringat.

Ayah saya tidak pernah mengajarkan saya menyukur kumis dan janggut saat saya beranjak puber. Mana saya tahu bagaimana berdandan saat acara-acara resmi, terlebih dengan jas dan pakaian lainnya.

Atau hal-hal kecil lainnya yang menjadi common sense di keluarga teman-teman saya. Sedang di saya? No way hose. Tidak ada.

Tentu saja sebagai remaja saya akan iri hati dengan teman-teman saya yang bisa begitu dekat Ayah mereka. They can throw jokes to each other. They share knowledges and everything.

Saya? Harus tertatih-tatih mengetahui itu sendiri setelah banyak kegagalan.

Lalu saya kuliah dan benar-benar tumbuh secara mandiri. Dan makna orang tua pun semakin mengecil dan menghilang. Keinginan untuk dekat dan mengetahui sosok Ayah pun lepas di tengah jalan.

Kemudian seiring berjalannya waktu, saya lulus kuliah dan langsung bekerja full time. Lama saya jalani saya pun tersadar bahwa bekerja sangat melelahkan hati dan badan.

Gaji pertama yang saya dapat langsung saya berikan ke orang tua saya. Sedikit sih, cuma sejuta setengah kala itu, tapi saya bisa mendengar isak tangis dari kamar orang tua saya. Melihat anaknya kini sudah fully grown.

Saya membayangkan apa yang Ayah saya lalui seumur hidupnya dengan terus-terusan bekerja dan mengorbankan mimpi-mimpinya sendiri demi bisa memberikan saya kehidupan yang layak adalah sebuah ide yang mengoyak batin.

Hati yang beku ini pun perlahan luluh juga. Saya merasa berdosa sekali dengan segala buruk sangka dan kekecewaan yang saya bawa setiap hari saat dulu.

Ayah saya mungkin bukan orang tua paling kaya yang bisa memanjakan anaknya, tapi ia berusaha untuk memastikan anaknya tidak kelaparan dan bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Ayah saya mungkin tidak menanyakan hobi saya apa dan seterusnya, tapi seumur hidup saya, dia tidak pernah melarang saya untuk melakukan apa pun. Mulai dari sekolah yang saya mau sampai pekerjaan yang saya ambil sampai sekarang. Ia selalu mendukung dengan caranya sendiri.

Dan Ayah saya tidak pernah sekalipun marah besar dengan memukul saya. Tidak sekalipun saya pernah disakiti oleh tangannya.

Ia hanya akan diam dan itu membuat saya merasa lebih bersalah.

Seperti halnya Jack, orang tua saya bertambah tua, dan suatu saat akan pergi untuk selama-lamanya.

Yang ingin saya lakukan sekarang adalah mengingatnya sebagai sosok yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia. Sebagai seorang Ayah yang belajar untuk pertama kali. Sebagai seorang manusia yang juga memiliki ketakutan untuk tidak merusak apa yang ia miliki, keluarganya, anak-anaknya.

Dan lewat series ini, saya dapat memahami itu.

Saya dan Ayah saya adalah dua orang yang sama-sama belajar untuk membahagiakan satu sama lain dengan cara masing-masing. Dan pengorbanan itu berarti lebih dari apa pun di hidup saya. Karena dari sana saya pun sadar, bahwa di dunia ini ada satu orang yang akan selalu menganggap saya begitu berharga hingga ia mau mengorbankan apa pun dalam hidupnya.

Sesuatu yang terkadang saya lupakan.

Review Series Love: Tentang Gambaran Candu

Well, kemarin gue baru beres nonton series di Netflix judulnya LOVE. Kreatornya Jude Apatow, si jenius di balik beberapa film romantic comedy favorit gue seperti Bridesmaids, Superbad, dan This is 40.

Hal yang paling gue suka dari film doi adalah akan bagaimana ia mengangkat dan memusatkan narasi filmnya lewat karakter yang biasa-biasa aja. Sosok yang bisa gue temui setiap harinya secara random di kehidupan sehari-hari. Terkadang gue pun seperti dapat melihat diri gue di dalamnya.

Meskipun yang dihadirkan adalah wajah orang-orang kebanyakan, namun bukan berarti ‘orang-orang biasa’ tersebut tidak memiliki ‘masalahnya’ sendiri. Dan di tangan Jude Apatow, masalah tersebut dipulas dengan begitu menarik, relatable, dan engaging.

Dengan signifikan ia menggambarkan kedalaman karakter orang-orang biasa tersebut melalui reaksi-reaksi mereka yang mungkin bisa bikin elo bergumam kecil: SHIT! Aing juga bakal berekasi kayak gitu.

Semacem di film Bridesmaids nih, saat si Annie perebutan mic sama Helen untuk berlomba-lomba nunjukin di depan banyak orang kalau mereka adalah sahabat paling deketnya Lillian.

Itu kan hal paling basic dalam dunia pertemanan bukan? Kita bakal insecure sejadi-jadinya saat posisi sebagai ‘sahabat kental’ terancam dengan kehadiran orang baru.

Gue sih sangat bisa membayangkan diri gue melakukan yang Annie lakukan ya. Hehe. Makanya gue suka sebel sama film-film atau novel-novel yang menggambarkan karakter utamanya kelewat sempurna. Pengen banget bisikin begini ke kuping yang buatnya…

Screen Shot 2018-05-18 at 4.34.53 PM

Dari sana gue sebagai si another ‘orang-orang biasa’ tersebut terasa terwakilkan dan berfikir; mungkin memang enggak ada yang sempurna di dunia ini, di kehidupan ini. Kesempurnaan cuma state of mind kita aja.

Mungkin ya.

Screen Shot 2018-04-05 at 6.09.34 PM

Anyway, kembali tentang si series Love. Series ini mengisahkan dua tokoh utamanya yaitu Gus dan Micky. Ceritanya mereka berdua sama-sama sedang gagal dalam hubungan percintaan yang sudah lama mereka jalin gitu.

Kemudian di suatu pagi setelah kekacau balauan hidup mereka, di sebuah toserba mereka bertemu secara tidak sengaja. Dan dari sana lah petualangan cinta itu dimulai.

Cinta? Iya, cinta.

Orang-orang di usia 30an yang sudah jatuh bangun patah hati atau sering ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya ternyata masih punya kesempatan untuk jatuh cinta yang lucu-lucuan gitu loh.

Seenggaknya itu yang dialami Micky and Gus di sana ya.

Tentu saja perjalanan cinta mereka berdua naik turun. Di beberapa episode awal mereka masih gemes tarik ulur kejar-kejaran, atau diam-diam menyimpan perasaan masing-masing.

Ya namanya juga masih anget-angetnya.

Tapi, karena pada dasarnya mereka memang baru kenal satu sama lain, gejolak emosi pasti muncul di saat mereka berusaha memahami perbedaan karakter yang ada. Kesalahpahaman sering muncul saat ego dan insecurenya Micky berhadapan dengan kepragmatisannya Gus.

Gus adalah tipe orang yang berusaha untuk menekan semua amarah yang ada dalam dirinya hanya untuk menjadikan sekelilingnya merasa baik-baik saja. Mengorbankan perasaan dia sendiri, yang ujungnya malah merusak semua yang ada.

Tuh, jangan suka mendem atau meledak-ledak jadi orang. Ribet nanti hidupnya.

Selain tentang cinta-cintaan, series ini membahas sesuatu yang lebih dalam lagi. Dan ini lah yang menarik untuk dibahas.

Dalam setiap hubungan pasti ada satu pihak yang menjadi si obsesif. Si needy. Tipe manusia yang menutut segalanya harus dituruti sesuai dengan standar orang tersebut.

Kalau ketemu pasangan yang nurut sih ya semuanya bakal baik-baik aja. Tapi, apesnya kalau ketemu pasangan yang pragmatis pasif agresif (apa coba?) pasti endingnya yang ada cuma ngotot-ngototan satu sama lain.

Si pihak obsesif merasa ditolak dong ya, padahal ya si pragmatis cuma enggak mau ribet aja terus besoknya udah selow lagi.

Namun namanya ngerasa ditolak, emosi pun hadir. Dan jadilah si sosok yang tadinya obsesif menjadi drama dan meledak-ledak sejadi-jadinya.

Itulah yang terjadi dengan Micky. Salah satu adegan yang paling membekas di kepala gue adalah ketika Micky berubah menjadi si needy yang begitu emosional dan tidak ada henti-hentinya texting Gus setiap saat ketika Gus menolak bertemu dengannya untuk membahas sesuatu.

Setelah puluhan telepon dan pesan yang tidak berbalas dengan impulsifnya Micky pun menyambangi kantor Gus dan ‘menanyakan’ alasan mengapa Gus nyuekin dia. Nanyanya dengan amarah yang mendongkol tentu saja.

Mendapatkan jawaban yang tidak diingankan dan malah ditolak secara langsung oleh Gus, membuat mental Micky berantakan. Ia berteriak-teriak dengan begitu hebat tanpa menyadari bahwa yang dia lakukan hanyalah mempermalukan dirinya sendiri. DI KANTOR ORANG, DI DEPAN BANYAK ORANG.

Cut to dari sana, Micky dan Gus pun memilih break dan menjauh satu sama lain. Dari sana Micky menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Dengan kepribadiannya. Dengan tingginya kebutuhan dia akan perhatian dari orang lain. Spesifiknya ke certain person yang dia care about.

Micky akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang pecandu. Baik itu dengan alkohol, rokok, dan juga cinta. Dan untuk memperbaiki dirinya, ia pun bergabung dengan support grup bagi para pecandu alkohol dan cinta. Pelan-pelan dari sana Micky menjadi pribadi yang akhirnya dapat mengendalikan urgensi dirinya atas perasaan apa pun. Baik itu perhatian dari Gus dan ketergantungannya pada alkohol.

Dan, kawan, dari sana lah gue seperti melihat diri gue dalam kepribadian Micky. Seperti ada bunyi klik.

Jangan-jangan gue si Micky deh? Atau sebenarnya gue sudah menjelma menjadi si Micky tanpa gue sadari?

Gue pun mempertanyakan hal itu pada teman-teman gue dan juga ke korban kegilaan gue: si R dan si D. (D sih enggak jawab, hanya si R yang tahan dengan segala kegilaan gue dan rela menjawab).

Dan jawaban mereka adalah…..

positif. Bahwa gue seneedy itu juga.

Fine.

Gue dapat merasakan keterhubungan yang dilakukan oleh Micky terhadap Gus. Micky hanya ingin didengar, ditemani. Mungkin memang porsi ekspetasi Micky berlebihan, tapi itu bukan tanpa sebab. Perhatian menjadi sebuah candu untuk orang yang biasa ditelantarkan, dibuang.

Bahkan pernah loh si D bilang ke gue bahwa ekspektasi adalah sesuatu yang menjadi akar masalah di antara kami. Gue yang saat itu masih muda belia dan labil tentu saja marah. Bagaimana bisa seseorang yang memberikan gue kebahagian luar dalam ber’ekspektasi’ pada diri gue untuk tidak berlebihan merayakannya. Membalasnya.

I mean, I want make this thing longer. Tapi yang ada, dia merasa apa yang gue lakukan terlalu menyesakkan dirinya. Pret.

Orang-orang yang needy dan se-obsesif itu tidak melulu tiba-tiba menjadi seperti itu. Ada pengalaman dan perjalanan pahit di masa lalu yang membuat seseorang memiliki kepribadian tersebut. Terjebak pada perasaan ditolak yang mau sehebat apa pun disembuhkan, luka itu akan tetap hadir. Perasaan tidak lebih baik dari apa pun akan selalu menghantui.

Dan ketakutan untuk merusak kebahagian yang ada akan bercongkol di tiap kesempatan. Karena ya itu yang gue rasain. Setiap ada kebahagian datang di hidup gue dalam bentuk apa pun, gue sudah bersiap-siap pack up my feelings karena pasti di ujung-ujungnya gue akan melakukan suatu hal bodoh yang akan ruin everything. Itu semua sudah seperti hukum Newton. Sebuah kepastian yang tidak dapat gue hindari.

Seperti semua yang gue punya, baik R dan D memberikan sesuatu yang sebenarnya cukup. Mereka datang ke hidup gue dan gue bahagia karenanya. Tapi ada satu titik di mana gue terlalu ketakutan dan tidak mau semua kebahagian itu hilang. Dan yang ada karena ketakutan enggak jelas itu perlahan gue malah menjadi si gila yang menuntut segala hal yang tidak masuk akal ke mereka.

Sampai pernah loh gue nyamperin kantor si D dan gue breakdown di depan dia. Nangis jejeritan kayak orang ditinggal mati padahal cuma perkara si D enggak balas WA gue aja. Astaga! Gue sampai malu hati kalau ingat ketololan gue itu. Dan itu gue ngelakuinnya dua kali. Breakdown kok doyan. Heran.

Yang menjadi highlight lagi adalah di series Love ditunjukkan tentang sebuah Support Group yang membantu Micky melewati fase-fase ia meninggalkan ke needy-annya. Dan gue seperti butuh itu deh di Jakarta ini.

Gue kalau curhat masalah-masalah begini enggak jauh-jauh ke teman-teman gue yang sepertinya sudah bosan dengan curhatan gue. Sampai ada loh salah satu teman gue yang merasa gue adalah orang yang sangat self centered. I’m a selfish bitch yang selalu curhat tentang diri gue sepanjang waktu.

Padahal saat itu gue butuh banget untuk sharing sesuatu yang benar-benar belum selesai antara gue dan perasaan needy gue sama orang yang I care about.

Jadi, lari ke teman terkadang memang tidak menyelesaikan perasaan neurotic itu. Jika ada sebuah support group, di sana gue pasti bisa berbagi dengan orang-orang yang merasakan hal sama dengan gue. Melalui momen-momen pahit yang pernah kami lalui untuk sekadar mengkonfrotasikan emosi dan kepedihan yang selalu gue bawa setiap hari.

Lalu bersama-sama bangkit menata hidup yang berantakan ini dan memusatkan perasaan kelam ketika menghadapi momen…. KENAPA SIH DIA LARI DARI GUE? KENAPA SIH DIA BERUBAH? KOK DIA PERGI SIH PAS GUE LAGI SAYANG-SAYANGNYA? so on and so on.

Semua penolakan-penolakan itu harus dibicarakan. Harus disudahi.

Karena kalau tidak gue takut itu akan menjadi penyakit yang terus menerus menggerogoti gue tiap kali gue berada dalam sebuah hubungan. Karena nantinya it is gonna be only a different cast but with the same ending all over again. Peran gue hanya akan terus menjadi ‘si gila’ belaka.

Dan harus gue akui jika gue sudah berusaha segitunya banget untuk menyelesaikan suatu masalah dan hasilnya tetep nihil dan gue tetap kembali ke masalah tersebut. Mungkin… mungkin loh ya. Memang lebih mudah untuk kembali ke masalah yang gue sudah tahu luar dalam. Bahwa pada akhirnya orang-orang itu akan kembali lagi ke gue setelah mereka menolak gue.

Tapi yang terjadi sekarang adalah… mereka semua sudah berkeluarga. Dan gue si duri dalam daging. Yang harus gue lakukan bukan datang lagi ke kehidupan mereka.

Tapi menyelesaikannya. Menamatkan kisah tersebut. Gue enggak butuh masalah ini di satu atau dua tahun mendatang.

Mungkin gue harus jatuh banget sampai sakit se pedih-pedihnya biar mikir bahwa diri gue adalah toxic untuk orang lain dan harus pergi dari sana.

Lewat sebuah blog saya mendapati tulisan Ayodeji Awosika yang sepertinya dapat merangkum masa transisi kegilaan saya, yaitu:

“Sometimes the best way to point your life in a new direction is to become completely disgusted with your current one… I finally said ‘enough is enough.’Strong negative emotions can be just as powerful as positive ones. When will ‘enough be enough,’ for you? When will you decide you can’t live this way for even one more day? Once you make that decision, everything changes.”

Perasaan ditolak memang sakit, dan tiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Tapi belajar untuk mengakui hal tersebut dan pelan-pelan menyalurkan emosi dan kesedihan tersebut pada hal lain yang lebih konstruktif sepertinya sesuatu yang harus gue coba. Gue harus mengalihkan semua kedramaan dan kepedihan gue pelan-pelan.

Karena dengan terus feeding ke-needy-an gue itu, yang gue dapet hanyalah ketiadaan.

Dan untuk kamu-kamu yang suka drama dan merasa hidup berantakan saat ditolak oleh orang yang kamu sayang. Tenang, kamu enggak sendirian kok.