Mari Bicara Tentang Film Indonesia

Gegap gempita Pengabdi Setan (2017) Joko Anwar membawa saya pada pemikiran; sepertinya tren untuk me-remake film-film lama Indonesia untuk dimunculkan lagi ke kalangan generasi milenial saat ini merupakan suatu strategi marketing yang mumpuni.

Terbukti banyaknya film-film klasik dari era 50an hingga 80an kembali dihidupkan dengan nafas yang lebih modern oleh para sineas film demi menyesuaikan selera para penonton film Indonesia sekarang yang didominasi oleh para pelajar, mahasiswa, dan para pekerja awal. Yang notabene demografis umurnya berada di angka 14 hingga 35 tahun* dan aktif di media sosial.

Tahun yang berbeda tentu saja menghadirkan gap tren sosial yang berbeda pula pada penonton baru dengan film asli yang dibuat di era sebelumnya.

Karena sejatinya film memang menggambarkan situasi dan fenomena isu yang terjadi di jamannya. Jika boleh saya mengandaikan, film ibarat mesin waktu yang dapat membawa kita mengintip narasi dan visual masa lalu dengan lebih estetik.

Gap tren sosial yang paling nyata adalah pembaharuan teknologi dan akses informasi dalam era digital. Yang mana di kehidupan masyarakat sekarang rasa-rasanya sulit untuk tidak menggunakan internet dan media sosial dalam keseharian. Jika tidak mau dibilang adiktif. Sesuai dengan target audience penonton film Indonesia.

Kemajuan tersebut tentu saja berefek pada pergeseran paradigma berfikir masyarakat menjadi lebih global.

Jadi, isu-isu kelas masyarakat antara si kaya dan si miskin yang dulu merupakan momok dalam masyarakat Indonesia di era 70-80an. Kini di tahun 2017 bisa dengan lebih kasual disampaikan pada penontonnya. Pun bukan menjadi sentra dan penggerak cerita, melainkan hanya background karakter belaka.

Perbedaan situasi dan tren yang saya bahas tadi dimanfaatkan beberapa film maker sebagai manuver pendekatan ke penonton milenialnya.

Contohnya seperti di film Galih & Ratna (2017) versi Lucky Kuswandi yang merupakan pembaharuan dari film sebelumnya yang berjudul Gita Cinta Dari SMA (1979)  karya Arizal yang dibintangi ikon bintang muda di masanya, Rano Karno dan Yessy Gusman.

Cerita orisinalnya mengangkat tema besar tentang perbedaan kelas sosial antara Galih si Miskin dan Ratna si Kaya. Dikotomi tersebut menjadi kentara karena isu itulah yang menjadi konflik film. Namun di film Galih & Ratna dirubah menjadi lebih ‘kekinian’ dengan esensi narasi filmnya yang berputar tentang pengakuan diri dan mengejar mimpi (eksistensialisme) pada masing-masing karakter.

Formula tersebut tentu saja mampu membuat cerita lebih dekat pada penonton milenial sekarang yang isu pada generasinya kini memang tentang berlomba-lomba menunjukkan siapa diri mereka. Hasilnya? Film Galih & Ratna ditonton lebih dari 121 ribu orang.

Namun tentu saja ada banyak formula untuk membuat sebuah film remake tetap menjadi entitas yang dapat dinikmati oleh lintas generasi. Seperti setia dengan gagasan awal film pendahulunya.

Contohnya film Ini Kisah Tiga Dara (2016) Nia Dinata dan Nagabonar Jadi 2 (2007) Deddy Mizwar yang sama-sama dibuat dengan pakem ide awal film terdahulunya dan dinamis pada karakternya.

Nia Dinata yang memang konsisten mengangkat isu feminisme, mengartikulasikan dengan baik roh film yang diargumentasikan dalam film Tiga Dara (1956) Umar Ismail. Perempuan yang melawan untuk tunduk dalam jerat patriarki dan stigma sosial perempuan telat menikah.

Pun dalam film Nagabonar Jadi 2 (2007) besutan Deddy Mizwar, ia tetap menonjolkan marwah patriotisme dan nasionalisme yang begitu kental di filmnya. Sama seperti film pendahulunya Nagabonar (1987) karya MT Risyaf.

Memang menjual romansa nostalgia merupakan win win solution untuk mendapatkan kue lebih banyak antar lintas generasi. Yang satu ingin mengulang pengalaman terdahulu dan generasi baru ingin merasakan sensasi pertamanya.

Namun, menurut saya pribadi kadang keontetikan film terdahulu jika tidak ditempatkan dengan baik akhirnya malah menjadi boomerang sendiri yang tidak menjawab masalah tantangan perbedaan yang saya sebutkan di awal tadi.

Contoh saja film Bangun Lagi Dong Lupus (2013) Benni Setiawan, yang sayangnya tidak berhasil menghidupkan kembali ikonitas Lupus beserta jajaran karakter lainnya. Geger Lupus di masanya yang merupakan simbol anak muda yang ngocol namun kreatif, aktif, dan kritis tidak tersampaikan dengan baik. Jika tidak ingin dibilang buruk.

Lupus di film ini seakan bingung dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi sosok baru khas anak muda masa kini atau sekadar wannabe saja. Saya merasa tidak tersentuh dengan misi Lupus maupun keseluruhan cerita di dalamnya. Pun film Catatan Harian Si Boy (2011) Putrama Tuta yang gemilang dalam eksekusinya, masih belum berhasil mengabadikan karakter Satrio sebagai regenerasi Mas Boy yang dicintai banyak orang. Baik perempuan maupun laki-laki.

Disayangkan padahal film seperti Lupus dan Mas Boy di film Catatan Si Boy berhasil menjadi ikon kondang di masanya. Seakan menjadi tolak ukur maupun potret remaja di generasinya. Sebuah pencapaian yang sukses untuk sebuah film yang berubah menjadi pop culture. Timeless.

Kini film Indonesia seakan kehilangan tokoh-tokoh karakter kuatnya yang abadi dan dekat dengan penontonnya.

Dan perlukah saya membahas Warkop DKI Reborn 1 & 2?

Beberapa Film Klasik Indonesia Yang Layak Untuk di Remake

Well, terlepas dari itu semua, sebagai penikmat film Indonesia rasa-rasanya saya bermimpi untuk mengulang pengalaman menonton beberapa film klasik Indonesia.

Deretan film ini layak untuk dihidupkan kembali berdasarkan pencapaian gemilang mereka di masa lalu dan kesesuaian cerita akan situasi krisis sosial budaya juga pergeseran nilai lokal ke global yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Saya kategorikan dalam beberapa genre dan tema.

Dalam kategori drama sosial, saya mengajukan film:

  1. Taksi (1990) Arifin C Noer

Taxi Jugaa

Film Taksi seolah hadir sebagai sarkasme di masanya. Seorang sarjana yang tidak mendapatkan pekerjaan dan mengadu nasib ke kota besar alih-alih malah menjadi seorang supir taksi. Dari sana Giyon (Rano Karno) pun mengalami turbulensi hidupnya ketika mendapati penumpangnya Desi (Meriam Bellina) meninggalkan anaknya. Lewat akting di film ini Rano Karno memenangkan aktor terbaik di Piala Citra.

Taksi berhasil membicarakan hingar bingar ibu kota dengan cara menyindir dan menggambarkan situasi kondisi masyarakat ibu kota yang ikut campur dan menghakimi dengan baik di sini. Sesuatu yang layak dilihat di masa sekarang.

2. Cintaku di Rumah Susun (1987) Nya’ Abbas Akup

220px-Cintaku-di-rumah-susun

Film dramedi favorit saya. Kompleksitas dan keanekaragaman karakter yang hidup dalam satu rumah susun pasti sangatlah menarik untuk ditonton. Komedi situasi dari masing-masing background karakter yang berbeda dapat menggambarkan betapa kayanya budaya dan toleransi yang ada di Indonesia.

Lika-liku masalah masing-masing karakter pastilah akan mengundang tawa dan sindiran khas akan fenomena-fenomena sosial yang kita saksikan setiap harinya di kehidupan nyata.

3. Si Mamad (1973) Sumandjaya

Si_Mamad_(1973;_obverse;_wiki)

Memenangkan film terbaik dan aktor utama pria terbaik di FFI 1974. Bercerita tentang si PNS jujur yang terpaksa untuk korupsi kecil-kecil namun akhirnya membawa perasaan menyesal mendalam dalam kesehariannya. Film yang pastilah sangat wajib dibuat ulang mengingat banyaknya kejadian korupsi di negara ini setiap harinya.

Kategori romansa dan drama keluarga, saya mengajukan film:

  1. Boneka Dari Indiana (1990) Nya’ Abbas Akup

Boneka_Dari_India

Keluhan dari orang tua saya adalah jarangnya ia melihat cerita film Indonesia yang menggambarkan demografis dirinya. Sesosok suami istri dengan problematika yang menjerat di tengah-tengahnya.

Semasa dulu memang sepertinya film Indonesia lebih kaya dari segi tema dan cerita. Seperti halnya di film ini. Drama romantis komedi ini menceritakan pasangan suami istri baru yang selalu didikte oleh mertuanya. Lucu sekali, menghadirkan tawa yang membuat saya merenung dan meninggalkan perasaan hangat setelahnya.

Tidak diragukan lagi Nya’ Abbas Akup merupakan sineas klasik Indonesia favorit saya yang setia dengan tema-tema dasar di sekelilingnya yang dekat dengan penontonnya.

Perlu penjelasan lagi untuk membuat film ini diremake?

2. Pacar Ketinggalan Kereta (1989) Teguh Karya

Pacar_Ketinggalan_Kereta

Kisah romantis beda kelas memang menjadi favorit di masanya. Si kaya dan si miskin yang terhalang cintanya oleh si orang tua yang memandang rendah perkara tersebut. Namun yang paling saya sukai dari film ini adalah betapa Teguh Karya mengangkat isu perempuan dengan status janda menjadi karakter yang kuat dan mandiri.

Teguh karya tidak terjebak pada generalisasi umum akan pandangan janda itu sendiri. Ia malah bermain-main di sini. Film yang sangat menghibur pun penting karena keunikannya menggambarkan irisan polemik keluarga kaya dan miskin. Cinta.

Perlu dibuat ulang karena minimnya cerita film keluarga di Indonesia.

3. Usia 18 (1980) Teguh Karya

Usia_18_(1980;_obverse;_wiki)

Menampilkan Jaya pub yang klasik lengkap dengan isinya. Cerita film ini masih berputar tentang kelas dan perbedaan ekonomi. Namun yang menjadi lucu jika disaksikan sekarang adalah betapa sepelenya penyelesaian konflik di sana jika masing-masing dari mereka memiliki telfon genggam haha.

Saya tertarik untuk melihat bagaimana film maker membuat ulang film ini yang di mana mampu menonjolkan IKJ dan pentas drama dengan gambaran yang se-epik Teguh Karya tampilkan di film ini.

4. Cintaku di Kampus Biru (1976) Ami Prijono

053305100_1432119890-rae-Cintaku_Di_Kampus_Biru_1976-c

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk ditonton. Kekuatan film ini bukan hanya pada premisnya saja, melainkan kekuatan akting antara dua tokoh utamanya yang masing-masing memberikan penampilan yang pantas untuk diperbincangkan sepanjang masa.

Menarik untuk melihat bagaimana penggambaran cinta beda usia dan kampus biru UGM dari mata film maker saat ini.

5. Ramadhan dan Ramona (1992) Chaerul Umam

ramadhan-dan-ramona

Jika Hollywood memiliki deretan nama mulai dari Julia Robert, Jennifer Lawrence, dan Rachel Adam untuk pemeran ciamik film romantis komedi. Menurut saya Indonesia juga beruntung memiliki Lydia Kandou. Akting dan wajah cantik klasiknya merupakan roda penggerak film romantis di masanya.

Kategori kisah ikon remaja, saya mengajukan film:

  1. Lupus
  2. Olga Sepatu Roda
  3. Catatan si Boy

Ketiga film ini merupakan film legendaris yang mampu membawa jutaan penonton jatuh cinta dengan tiap-tiap tokoh utamanya. Tidak hanya melahirkan satu film, dua dari film di atas mampu membuat berjilid-jilid film di tahun-tahun berikutnya yang selalu sukses.

Fenomena ketiga film remaja tersebut juga memengaruhi pergaulan di masanya. Fenomena yang sama seperti di era digital. Bedanya pengaruh budaya pop ini lahir dari sebuah karakter fiktif beserta semestanya.

Siapa yang tidak ingin jadi wartawan dan memakan permen karet seperti Lupus?

Siapa yang setelah menonton film Olga tidak ingin belajar bermain sepatu roda dan menjadi penyiar radio?

Dan siapa yang bisa menandingi Okky Alexander sebagai si Boy yang kaya, gaul, dan soleh?

Karakter-karakter tersebut akan hidup terus menerus sebagai dokumentasi gambaran akan remaja yang mampu membuat perbedaan di masanya. Atau bisa dibilang revolusioner.

Menarik sebenarnya untuk melihat bagaimana karakter-karakter tadi beradaptasi dengan situasi digital saat ini.

Apakah Lupus akan menjadi blogger? Olga menjadi vlogger? Dan Mas Boy menjadi selebgram populer karena ketampanan, kekayaan, dan pergaulannya?

Kategori cerita anak, saya mengajukan film:

  1. Harmonikaku (1979) Arifin C Noer
  2. Djendral Kantjil (1958) Nya’ Abbas Akup
  3. Si Doel Anak Betawi (1972) Sjumandjaja

Apakah kalian asing dengan ketiga film tersebut? Berarti Anda melewatkan tiga film anak-anak terbaik yang pernah ada di negeri ini. Kesamaan dari ketiga film tersebut adalah kayanya muatan cerita lokal di dalamnya.

Baik budaya dan anekdot-anekdot daerah diartikulasikan dengan penyampaian yang memang ditunjukkan pada penonton muda.

Kesan petualangan dan kedekatan tema dasar yang diangkat pun akan membuat penontonnya jatuh cinta dengan para karakter utamanya dan ingin menjadi seperti mereka dan memiliki petualangan yang sama.

Minimnya film anak pun menjadi dasar mengapa perlu sekali dibuat kembali film untuk anak-anak yang mampu menampilkan keluguan dan kekayaan konten lokal dengan penampilan karakter kuat yang menjadi idola anak-anak.

Mendukung Film Indonesia Kedepannya

Saya percaya dengan menonton film Indonesia yang memuat konten berkualitas akan membuat kepercayaan penonton kembali hidup dan bergerak aktif. Karena seperti alasan awal saat kita menonton film saat pertama kali, yang kita cari adalah pengalaman sinematiknya. Kekuatan kasat mata yang dapat membawa kita penontonnya pergi ke dimensi lain dan larut dalam semesta yang para film maker itu buat.

Dan selama beberapa jam menonton, kekuatan-kekuatan dalam elemen film (musik, akting, cerita, sinematografi, dll) menggerakan emosi kita untuk tertawa, marah, dan menangis bersama film tersebut.

Sehebat itu kekuatan sebuah film untuk saya.

Dan saya yakin sekali masih ada film Indonesia yang memiliki kekuatan seperti itu untuk membuat penontonnya betah untuk datang lagi dan lagi ke bioskop.

Karena film Indonesia selalu memiliki caranya sendiri untuk terus bangkit dan melawan. Ia tengah bersiap-siap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Mari bersama-sama membuat itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan kamu? Apa kamu punya daftar film kamu sendiri yang sepertinya cocok untuk dibuat ulang?

*Data lebih lengkap bisa dilihat di sini -> http://journal.unair.ac.id/filerPDF/7-13_3.pdf
Advertisements

Review Film: 5 Hal Ganggu Dari Nonton Film Pengabdi Setan Joko Anwar

Film Pengabdi Setan punya tempat sendiri di hati Joko Anwar, karena setiap kali ditanya oleh wartawan tentang film apa sih yang paling dia suka dan pengen dia remake. Dengan semangat dan mantap dia bilang film ini.

pengabdi-setan-1

Picture from Kapanlagi.com

Gongnya adalah tahun ini saat media mengabarkan Joko Anwar akan beneran buat film Pengabdi Setan versi dia. WOW banget! Bisa kebayang sih happynya Joko Anwar.

Sekilas info: Sebelum memutuskan nonton film Pengabdi Setan, setahun lalu gue sama Oci, sobat nonton film Indonesia gue, kami menonton film The Copy Of My Mind. Film Joko Anwar yang digadang-gadang sebagai film terbaik dan sebagai surat cinta yang kelam buat Indonesia. Time capsule di masanya.

Nonton lah kami berdua dengan ekspektasi yang bisa dikatakan tinggi. Mengingat film-film dia sebelumnya enggak ada yang gagal.

Setelah satu setengah jam film berjalan dan layar bioskop jadi gelap, gue dan Oci cuma liat-liatan dan dengan parau ngomong, “Ini kita abis nonton film apa sih?”.

Yes, we just don’t get it tentang apa film ACOMM tersebut. Jadi pas Pengabdi Setan muncul, ada sedikit keragu-raguan buat nonton film tersebut. Namun karena marketingnya yang setiap hari muncul di media sosial ya akhirnya gue penasaran juga buat tau filmnya seperti apa.

28 September malem yang bertepatan dengan malam Jumat, gue dan adik gue memberanikan diri nonton film tersebut.

Dan menurut gue ada lima hal yang paling ganggu saat nonton film Pengabdi Setan:

  1. Penonton di belakang gue hobinya nendang-nendang bangku bioskop gue setiap semenit sekali karena ketakutan pas denger bunyi lonceng dan pas musik film tiba-tiba jadi serem. Makin serem scenenya intensitas nendangnya pun makin tinggi. Tingkat ganggunya -> Bikin gue ngedumel ke dia buat berhenti nendang-nendang. Dia minta maaf. Tapi pas klimaks film di akhir-akhir dia enggak bisa nahan dirinya jadi ya udahlah ya.
  2. Penonton di samping gue narik-narik tangan gue, padahal kita ENGGAK KENAL SAMA SEKALI. Ini ganggu banget karena elo pengen banget khusuk nonton filmnya. Tapi ke distract dengan adanya tangan orang asing yang bikin baju lo melar. Tingkat ganggunya bikin gue melotot dan minta dia pindah tempat duduk.
  3. Seisi bioskop pada teriak semua. Berisik. Dan bikin film tambah jadi horor kan. Aing takut.
  4. Penonton depan gue ngejengkang, ngejelimet, nutup-nutupin muka sepanjang film sambil baca-baca alfatihah. Lah dikira pengajian kali ah.
  5. FILMNYA KENAPA BERASA SEBENTAR BANGET!!!! I WANT MORE!

Yes, segokil itu Joko Anwar buat film Pengabdi Setan. Dia benar-benar mateng banget untuk eksekusi film ini. Semua aspek di dalemnya dia pikirin banget. Dan hasilnya: KELAS DUNIA. Berasa banget Joko Anwar menikmati membuat film ini.

Peduli amat sama review-review jelek tentang film ini yang bilang Bang Joko comot scene dan cerita film horor sana sini. Karena pada akhirnya konsep dan eksekusi film Pengabdi Setan berhasil ngebuat suasana horor effortlessly hadir dalam tiap suara dan akting pemainnya. Dan after tastenya tidak meninggalkan bekas serupa seperti film-film comotan sana sini yang si julid-julid itu review.

Film ini secara keseluruhan menghadirkan pengalaman sinematik yang kaya mulai dari segi warna filmnya, efek make upnya yang kacau kerennya, musik yang membuat atmosfir jadi merinding disko, dialog yang kaya akan emosi, juga yang paling memorable adalah scene-scene keren yang bikin elo mikir, “ini beneran nih syuting di Indonesia?”

Film pengabdi setan benar-benar berhasil membuat transisi dari mencekam ke lucu terus ke mencekam lagi dengan ketukan yang pas.

Dan favorit gue dari film ini adalah AKTING PARA PEMAINNYA.

ASLI GUE JATUH CINTA LAGI SAMA TARA BASRO DI SINI. Setelah dengan ketidakjelasan dia di film ACOMM. Di film ini dia muncul lagi dengan akting natural namun pas seperti di film-film dia sebelumnya macem Hi5teria dan film pendek Joko Anwar yang close up move on itu. Asik banget liat Tara Basro di Pengabdi Setan.

Namun selain Tara Basro, seluruh cast di film ini tampil dengan luar biasa. Enggak ada satu pun cast yang sia-sia. Mereka hadir dengan kunci dan cerita masing-masing. Nilai A sih untuk casting directornya.

Pas selesai nonton film Pengabdi Setan pengen banget liat spin off cerita Ian dan Bondi. Mereka gemas sekali. Asli. Please buat Bang Joko!

RMJsuC6GNX

Picture from MetroTvNews

Jadi kalau elo masih ragu buat nonton film ini. Gue kasih tau sama elo, semua yang ada di film Pengabdi Setan bisa dinikmati sebagai tontonan yang menghibur dan estetik. Film Indonesia mana coba yang bisa bikin scene masak telor ceplok secakep ini.

Nilai 10 sempurna deh buat film Pengabdi Setan. Semoga ada kelanjutannya ya. Dan IAN, WHY YOU SO CUTE KIDDO????!

So guys datang ke Bioskop terdekat buat nonton film ini bareng keluarga elo atau temen-temen elo rame-rame dan belajarlah untuk mencari posisi enak yang tidak membuat elo terganggu dengan penonton yang lain.

Selamat menonton!

MTV Gue Banget

Jadi gue punya ritual yang gue enggak sadar bahwa gue telah membuat ritual itu sendiri. Ngorek-ngorek pop culture masa gue kecil dulu. Sesuatu yang dulu hadir sepotong-sepotong gitu, dan alhamdulilah dengan kemajuan teknologi bisa gue hadirkan kembali.

Ini  berjalan sekitar satu setengah tahun yang lalu saat gue baru pindah kerja dan teman-teman gue yang biasa ada untuk ngabisin waktu weekend bersama tiba-tiba pergi satu persatu. (Ada yang ngelanjutin study abroad, nikah, atau simply hilang aja).

Jadilah gue lebih banyak ngabisin waktu dengan diri gue sendiri bersama laptop yang selalu setia ini.

Aktivitas favorit tentu saja nonton. Baik itu berupa bokep, film/series dan mantengin Youtube. Milenial sekarang kan punya slogan, Youtube lebih dari Tivi, jadi yaudah lah ya remaja basian ini kepincut binge watching Youtube juga.

Dengan dua hari yang ada gue selalu jumping dari satu video ke video lain di Youtube sampai enggak sadar udah seharian dan mendapati kuota internet hampir habis.

Awalnya gue cuma mau nonton video konser Radiohead yang jadul jadul, lama kelamaan dengan alogaritma Youtube gue end up dengan medapati video ini.

Video campaignnya Mtv Exit tentang human trafficking, dan ada Radiohead nyanyi lagu All I need di sini. Tanpa diragukan lagi pesan di video ini kuat banget. Saking kuatnya ngebawa gue ke memori tahun 2008 silam, saat awal-awal gue masuk kuliah dulu dan inget pernah lihat video ini sebelumnya di tivi teman gue Andika. Karena dia borju sekali dan sudah pasang Indovision di saat orang-orang lain belum kenal tivi kabel.

Well anyways, despite powerful message-nya, yang sebenarnya bikin gue ke hooked adalah MTVnya.

Iya, MTV. Music Televison. Sebuah channel yang semasa gue SD sampai SMP dulu (kira-kira 1996-2004)  menjadi tontonan wajib anak muda di zamannya karena cuma di channel itu gue bisa nonton video klip artis-artis favorit gue dan ketawa ngakak ngeliat tingkah Mas dan Mbak VJ yang jadi panutanque. (Cie, generasi 90an, actually gue baru engeh sama MTV di hidup gue pas tahun 97an pas liat Sarah Sechan si olga sepatu roda jadi VJ di sana)

Mtv pertama kali gue tonton ada di Antv, terus pindah ke Global Tv, dan sekarang MTV Indonesia sudah die 😦

Mungkin bagi para remaja dan orang-orang dua puluhan awal ikatannya enggak sekenceng bagi mereka yang sekarang udah umur 27 ke 40an (ini asumsi ya pemirsa jangan sensitif kalau gue salah) karena dulu MTV hadir selama DUA PULUH EMPAT JAM dan acara-acaranya emang kece-kece berat. (Means, mereka beda dari acara-acara mainstream di tivi-tivi nasional tempo itu). So, siapa yang enggak ke hooked sama MTV masa itu?

Elo pulang sekolah nonton MTV Most Wanted ngeliatin VJ Donita atau MTV Ampuh sama Mbak Shanty, terus pulang ngaji dari TPA abis ngapalin janji santri lo ngeliat muka Sarah Sechan dan Jamie Aditya di MTV Land, atau sampai bosen bisa hafal artis-artis mana aja yang ada di tangga lagu acara TLC yang diulang-ulang terus.

Tapi selain acara musik, MTV punya beberapa program sendiri yang konsepnya ngehek banget. Ini jadi semacam benih untuk ngedidik gue jadi si nyinyir yang bermulut kotor dan selalu sinis ngeliat hidup.

Menu acaranya semacem:

  1. Celebrity Death Match

Screen Shot 2017-09-29 at 12.15.26 AM

Acara bangke yang pertama kali gue tonton dulu gue kira adalah sebuah acara kartun ye kan. Kiyut dengan lilin-lilin macem kisah nabi di TPI dulu. Taunya emang nyebelin aja.

Jadi acaranya tentang artis-artis yang di kehidupan nyata yang emang rival-an terus di sini dibuat berantem beneran. Karakternya dari lilin dan mereka berantem di ring tinju ditonton oleh lilin-lilin yang lain. Berantemnya bener-bener sadis yang darah ngocor ke mana-mana, terus kalau tulangnya patah, patahan tulangnya bener-bener diliatin dan dijadiin mainan. Terus yang lucunya adalah mereka pas lagi berantem pasti bacot-bacotan yang kocak banget. Ngatain masing-masing orang dengan gosip-gosip yang mereka deny di dunia nyata. Pokoknya belajar sarkas dari sini deh.

Jaman dulu pas nonton beginian ya ketawa-ketawa aja entah kenapa, enggak ada linu-linunya. Episode paling epic yang gue inget pas Britney Spears vs Christina Aguilera.

Ya 2000an dulu kisah catfight mereka kan kenceng banget. Pas nonton episode itu kayak terpuaskan banget. Yes, akhirnya mereka berdua berantem juga. Hahaha.

Acara Celebrity Death Match ini gue rasa terinspirasi dari SmackDown deh. Karena kan dulu acara berantem-beranteman hype banget. Dari sanalah kata-kata ajaib seperti: Gue sleding tekel juga nih nenek lo itu hadir.

2. Beavis and Butthead

Kalau elo ngerasa juri dangdut d’academy udah bacot banget, elo harus liat dua orang ini. Mereka savage in the new level. Kalau enggak suka sama satu video klip band atau artis tertentu mereka bakal nyinyir dan bilang. Ini jelek banget! In your face dude. Mati ga lo.

Mereka semacam bisa ngucapin sesuatu yang orang-orang nyata ga berani atau males ngomong karena takut ngundang masalah. Tapi karena konsepnya kartun jadi mereka woles aja.

Terus yang diomongin bokep muluk. Tapi mereka enggak berani ngelakuin. Haha. Typical remaja lah. Dulu pas nonton ini gue rada ga ngerti dan masih ngeraba-raba maksud omongan mereka apa sih. Dan acara ini disiarin tengah malem terus. Jadi memori gue akan mereka agak samar-samar.

the-best-mtv-cartoons-you-ll-never-forget-u1.jpeg

3. Daria

Screen Shot 2017-09-29 at 12.55.38 AM

Nih perempuan bener-bener deh. Semua salah aja di mata dia. Dia definisi judes bin julid. Tapi kata-kata dia tuh kadang emang bener. Entah karena pembelaan dia aja yang emang males bersosialisasi atau dia kelewat peka. Hahaha.

Tapi gue suka banget sama konten remaja yang sarkas versi dia. Waktu nonton jaman dulu masih ga paham kenapa sih nih cewek kok males banget hidupnya kayaknya. Tapi pas gue re-wathced sekarang, tiap omongannya doi dan gambaran karakter-karakter yang lain kece abis. Mereka berhasil buat nyinggung dan bahas isu-isu penting yang remaja saat itu enggak kepikiran atau males bahas. Dan dibungkusnya pop banget, jadi ga ngeguruin atau keras banget. Lucunya masih dapet pas nonton.

Tema episode Daria bisa bahas tekanan remaja kulit hitam untuk tampil sempurna dan ga end up jadi kriminal, atau pandangan Daria tentang pendidikan dan gap kelas sosial di pergaulannya yang dia pretelin satu persatu. Pokoknya bikin orang bangun dari mimpinya.

Karena dia jujur dan enggak mau ngabisin waktu dia untuk jadi orang yang pada akhirnya bohong sama diri sendiri. Ini ngebuat doi disebelin orang-orang sih. But most of the time dia emang resting bitch aja yang don’t give a fuck sama hidup. And I like it.

Selain program-program tivi itu, tentu saja yang jadi daya darik MTV seperti yang gue jelaskan di awal adalah VJnya.

Dan favorit gue adalah……..

Screen Shot 2017-09-29 at 1.01.13 AM

The one and only Sarah Sechan. Gue bakal buat satu postingan sendiri sih tentang doi sepertinya.

Pertama kali liat dia itu di serial Olga Sepatu Roda, untuk anak umur enam tahun cerita Olga itu menghibur banget. Dan Sarah Sechan juga Cut Mini mainin karakternya enak banget. Gue inget pernah ngambek enggak ngaji TPA gara-gara enggak liat Sarseh di Olga dan digantiin sama Melly Manuhutu. Hahaha. Ya maklum namanya juga anak kecil.

Dan heboh banget lah gue pas ganti-ganti channel nemu Mbak Sarseh di Antv. Hal yang paling gue inget dari doi adalah: dia tuh lucu dengan kelucuan yang enggak lo bisa tebak dia serius apa becanda.

Dengan candaan yang tidak berlebihan dan enggak ngehina fisik orang. Doi ga butuh teriak-teriak buat terlihat lucu dan narik perhatian orang. Dia semacam punya teknik sendiri yang buat elo betah nonton dia dan ngeliat dia bawain sesuatu serasa simple dan cool banget. Berkelas deh.

Dan terbukti untuk yang pernah nonton dia di acara MTV pasti akan mengingat dia sebagai personality paling menyenangkan di layar kaca kita.

Terkadang masa alay dulu, gue sering berkhayal bisa bawain acara atau siaran radio dengan gaya dia yang asik dan simple banget itu. Sampe ya, semua cewek senior gue di SD dan SMP dulu dengan alaynya pas ngenalin diri make nama belakang sechan. HAHAHA. Balik lagi, ya namanya juga anak kecil.

Tapi ya mau gimana lagi, masa itu tuh nonton MTV jadi semacam benchmark buat anak muda berasa gaul dan hitz. Karena ya elo ngerasa internasional banget aja dengan niru ngomong indo-inggrisnya para VJ. Atau deg-degan pas nungguin karya kerajinan tangan elo dibacain atau enggak di MTV Most Wanted buat request Celine Dion nyanyiin lagu soundtracknya Titanic yang diputer-puter tiap 5 menit sekali di tivi masa itu. Tapi amazingnya elo ga bosen-bosen loh.

Semacem lihat fenomena ponakan-ponakan kita bisa back to back dengerin lagu Let it go – Frozen selama setahun penuh. Rasanya ya tiap elo denger itu lagu muncul di dalem mobil atau mall, bawaannya pengen elo tembak pake tombak aja itu speaker.

Tapi ya, aing kangen masa-masa itulah. Simple life. Di saat drama hidup cuma ulangan sekolah dan acara OSIS. Kalau ada masalah saat itu ya obatnya adalah cukup dengan duduk depan tivi sambil makan ciki Taro terus ngeliatin Mbak Sarah Sechan yang kocak meski kadang aku ndak ngerti doi ngomong apa (kadang enggak ada translate-annya pas doi ngomong). Hidup rasanya beres aja gitu. Sambil ketawa-ketawa sendiri pas nungguin doi bacain zodiak di MTV Getar Cinta.

Sebenarnya banyak banget memori seru selama delapan tahun nonton MTV, tapi ini yang paling ngebekas. Harus diakui MTV telah membentuk sejarah pop culturenya sendiri. Hingga orang bisa menyebut diri mereka generasi MTV, karena kesamaan akan pengalaman mereka.

Mulai dari pergeseran komunikasi yang digunakan dalam percakapan, gue perhatiin acara-acara di tivi yang dulunya menggunakan kata-kata baku, mereka coba untuk lebih rileks dan ngikutin mode-nya MTV pake gue-elo dan copy-an panggilan anak nongkrong. Disehari-hari pun kayaknya kalau elo enggak bisa bahasa inggris saat itu ya kayaknya kampung dan cupu banget. Gue inget banget sampe minta les sama nyokap biar keliatan tampil aja gitu. NIH GUE BISA NGEMENG ENGGRES. (yang padahal belepotan juga haha tapi waktu itu lo bisa ngartiin lagu I have a dream Westlife udah berasa megang banget deh).

MTV juga ngebentuk the way anak remaja berfikir jadi lebih berani dan nyeleneh. Karena memang kata MTV masa itu bisa diartikan sebagai sesuatu yang bersifat rebel. Dan asosiasi tersebut akan menempel bagi yang menontonnya. Elo jadi super kreatif aja kalau nonton acara-acara MTV.

MTV juga berhasil menghadirkan semestanya sendiri tentang gemerlap dunia seleb yang ga kesentuh (Remember Mtv Cribs, a day with… dan Pimp My Ride?). Mereka tuh ngebuat artis jadi semacam dewa yang harus disembah. Kesempurnaan fisik mereka, kekayaan hartanya, pergaulan A-list dengan event-event dunia yang megah, pasti ngebuat elo bisa ngayal babu pengen jadi bagian di dalamnya. Meski cuma sekecil ketombe mereka. Demam selebritis muncul dari sana.

MTV juga berhasil membawa peta permusikan ke level yang baru. Para penyanyi yang beken di radio, step up the game dengan ngebuat video klip yang berharap bisa sepowerful musik mereka. Kadang ada yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Dari MTV banyak banget video-video musik jenius yang hadir. Ngebuat yang nonton wanna have a piece of everything yang ada di sana. Tapi dari situ pula cemoohan artis-artis yang modal tampang doang mulai diperbincangkan. Asal lo cakep, semok, elo bisa masuk tivi buat nyanyi. Terlepas lo bisa nyanyi atau enggak. Apalagi ya degradasi perempuan untuk di overly sexualized ya dari MTV juga sih. You can see boobs and ass everywhere di Youtube sekarang ini ya karena MTV.

Dan soal musik, berkat MTV gue jadi tahu musik-musik alternatif yang enak didenger dan seru untuk ditonton di MTV Unplugged. The Cure, Nirvana, Lauryn Hill. Artis-artis yang emang bukan beredar di pasar mainstream bisa punya pasarnya sendiri karena MTV.

Tapi ya masa-masa itu udah lewat dan bisa dilihat acara-acara musik di Indonesia kacrut semua. Mereka bahkan ga bahas musik sama sekali. Beruntung banget gue bisa spend my childhood dengan nonton MTV. Hence, MTV akan tetap di hati dan tentu saja Mtv gue banget deh.

Jadi, momen MTV apa yang paling elo inget di hidup elo?

Setan Itu Bernama Waktu

Sadarkan kamu, hal paling mengerikan dari hidup di dunia ini adalah betapa kamu tidak sadar bahwa hal yang paling manakutkan sebenarnya ada di depan matamu. Bercongkol jelas tanpa kamu terganggu dengannya. Hari-hari kamu pun bergumul dengannya, menjalaninya bahkan dengan canda dan tangis, dan kemudian secara diam-diam saat kamu lengah, entah bahagia atau depresi, dia akan mengambil semua yang kamu punya tanpa kamu tahu. Meskipun kamu sadar, kamu tidak dapat melakukan apa pun. Karena dia bermain dengan licin. Dan kamu terjebak didalamnya. Tanpa bisa melawan atau berargumentasi.

Setan jahat itu bernama waktu.

Waktu.

Sesuatu yang menandai batas terhadap apa yang kamu jalani di hidup ini. Sering kali ia datang dengan cepat, kemudian melambat, dan yang paling ditakutkan adalah menghilang.

Lalu pertanyaan itu muncul. Seberapa sudah kamu mengatur waktu yang ada? Atau jika ingin lebih dramatis lagi, waktumu yang tersisa?

Jika hidup seperti dalam film, dalam transisi scene babak 1 menuju babak 2 akan datang layar hitam dengan musik statis dan secara perlahan di tengah-tengah akan muncul tulisan, dua tahun kemudian atau dua puluh tahun yang lalu.

Secara acak scene akan berjalan seperti biasa. Tokoh di dalamnya pun bermain sesuai perannya, namun semua terukur, semua bergerak pada tempatnya. Pada plot yang sudah solid.

Namun di kehidupan nyata, fast forward atau pun flashback sesuatu yang tidak bisa dijalani. Sayangnya hanya bisa dikenang.

Tapi, yah, manusia kan hanya kumpulan tumpukan daging yang memiliki segudang emosi dan memori yang selalu mereka bawa dan tangisi.

Kebanyakan sih terjadi saat Jumat malam datang saat tumpukan kerjaan begitu menggunung dan dengan sengaja kamu tinggalkan. Kemudian dengan payah badanmu dibawa jalan sendirian ke sebuah restoran Jepang yang sudah kita tahu bahwasanya setelah makan di sana dapat dipastikan tiga minggu ke depan usus-usus di perut hanya akan di isi dengan bungkusan mie instan. Namun tak apalah, kadang kamu butuh momen kontemplasi itu.

Untuk bergumul dengan si waktu, menandakan setan keparat itu masih memilikimu, mengendalikanmu.

Saat irisan gemuk salmon di restoran Jepang itu datang, secara resmi malam antara kamu dan si waktu pun dibuka.

Kamu tuang kecap asin itu di mangkuk kecil, warna hitam pekatnya mencair dan dengan cepat mengisinya dengan angkuh. Dengan telaten kamu memadukan wasabi pedas berwarna hijau itu di atas tubuh salmon merah muda yang sudah membuat mulutmu berliur.

Kemudian momen terbaik pun datang, kamu tabrakan daging salmon itu ke dalam mangkuk kecil tadi. Bermandi kecap asin, kamu masukkan daging salmon mentah itu ke dalam mulutmu.

Gigitan pertama membuatmu meringis kegirangan. Begitu nikmat, seolah si setan waktu itu menghentikan langkahnya. Kamu tersesat dalam kenikmatan. Dan mengulangnya lagi hingga empat kali, dan daging salmon di depanmu habis sudah.

Lalu dengan sopan, si waktu akan berdehem pelan, mencoba menarik perhatianmu.

“Ya?” tanyamu.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” ujar si waktu dengan tidak sabar.

“You running outta time? Mungkinkah waktu kehabisan partikelnya sendiri?”

Rasa penasaran itu keluar dari mulutmu. Sang waktu hanya memutar matanya tak tertarik. Pertanyaan klasik, pikirnya. Tentu saja semua ada batasnya, bahkan waktu sekalipun.

“Yang bergerak pasti akan berhenti,” ucapnya malas.

Kamu mengangguk, mencoba memahami. Sekalipun kamu tahu, di luar sana orang akan melihatmu berbicara dengan dirimu sendiri.

“Lalu apa?” tanya setan keparat itu dengan lebih mendesak.

“Aku mau balik ke lima belas tahun yang lalu.”

Sang waktu memandangmu tajam.

“Kenapa kali ini jauh sekali?”

“Karena semuanya berawal dari sana dan harus berakhir di sana,” jawabmu pasti.

“Tidak.. tidak.  Tidak bisa sejauh itu. Kamu tahu peraturannya.”

Matanya pun selesai memandangmu. Berharap kamu pun sadar bahwa ini usai dan kamu bergegas pulang.

Namun niatmu kelewat keras dan kamu tahu si setan waktu itu punya banyak cara licin untuk membuat permintaanmu jadi nyata. Ia hanya mengulur, bermain-main dengan emosimu.

“Tapi aku adalah si penghenti waktu. Kamu tentu ingat itu.”

Dan tepat setelah ucapan itu, setan waktu itu mengeluarkan jam pasirnya, meninggalkannya di atas mejamu, lalu sebelum ia menghilang, dalam satu petikan jarinya udara di dalam ruangan itu menjadi kosong, badanmu seperti mengapung tinggi. Kamu kesakitan. Teramat sakit hingga kamu lupa apa artinya sakit.

“Kamu tahu resikonya.”

Matamu memerah, perutmu seperti ditusuk seribu pisau tajam yang menggantung kekal tanpa bisa diserabut. Nafas yang tadi berjalan seperti tercekat hebat, entah telah berapa lama, kamu pun berhamburan dengan perih yang termat nyeri.

Di situ kamu sepakat untuk menyadari bahwa kamu telah kehilangan seperapat waktumu di masa depan, hanya untuk mengulang apa yang telah usang dan terlewat di masa lalumu yang membosankan itu.

shutterstock_271332740

Semacam Review Film Jomblo Jika Tidak Salah

Tahun itu 2006, gue berumur enam belas tahun dan masih duduk di bangku kelas dua SMA. Banyaknya waktu yang ada kala itu membawa gue membaca novel berjudul Jomblo karya Adithya Mulya.

Bukunya bagus. Banget. Dan sejak itu gue ngefans sama Adithya Mulya. Lalu gue pun membaca buku keduanya, Gege Mengejar Cinta. Tidak ada yang lebih indah dan menyakitkan daripada membaca buku tersebut.

Adithya Mulya mampu membuat gue ketawa dan nangis di waktu bersamaan. Begitu kuat, sampai meyakinkan diri gue selama bertahun-tahun yang datang bahwa gue ingin menjadi sosok pria seperti Gege. Yang menantikan cinta dengan sabar dan hati-hati.

Hingga pada akhirnya, sepuluh tahun sudah, cinta yang gue nantikan dengan sabar dan hati-hati itu tidak pernah hadir dan hanya berupa kepingan-kepingan cerita picisan yang usang seiringnya waktu. Janur kuning sudah menyilang dan semua sudah berubah.

Tidak ada Gege, tidak ada cinta yang berbalas, persis seperti yang diceritakan Adithya Mulya. Hanya menyisakan gue yang betul-betul menjelma menjadi si hopeless romantic. Bedanya gue dengan Gege, gue sinis, apatis, dan lebih judes.

Mau gimana lagi? Hidup di Jakarta kalau enggak gitu bisa stress kali.

Lalu di tengah malam minggu di Juli 2017 yang random, padahal besok pagi-paginya gue harus dokumentasiin tunangannya Firman. Gue memilih begadang dan membuka file-file film di hardisc dan menemukan film Jomblo. Tidak disengaja tentu saja.

Jomblo menurut gue merupakan karya terbaik Hanung Bramantyo dalam mengadaptasi cerita dari novel dan meneterjemahkannya ke bentuk visual. Dulu film ini begitu iconic, sampai membawa nama Ringgo Agus menjadi bintang film besar. Akting Ringgo yang memiliki kemampuan komedi yang khas membuat adegan saat ia memakai kostum ayam mengelilingi kampus menjadi scene yang menggemaskan.

Seperti melihat cowok nerdy khas Michael Cera. Kalau adegan itu di reproduksi ulang dan yang main adalah Raditya Dika atau para komika-komika gengnya, hasil yang didapat mungkin adalah candaan yang dipaksakan dan ngebuat gue mau muntah. Like, “Nyet ape sih!”.

Namun di film Jomblo semua terasa effortlessly, menandakan bahwa pembuatannya tidak main-main.

Setelah beres nonton filmnya, after taste yang didapat masih sama. Film Jomblo masih menyisakan perasaan sesak setelahnya. Menandakan bahwa film Jomblo memang sebuah karya dengan presentasi yang baik.

Masih di tahun yang sama, saat DVD filmnya keluar si R langsung membelinya dan kita berdua nonton di kamarnya dengan khidmat.

Di tengah-tengah film, ia kemudian berkomentar, “Gue harus kuliah di Bandung, punya geng seperti di film ini.”

Menarik, film selalu mampu menggerakan orang untuk menjelma menjadi salah satu karakter di dalamnya atau hidup dalam narasi cerita yang mereka sukai.

“Bagian mana yang elo suka?” tanya gue setelahnya.

“Konsep pacarannya, kuliah di Bandung bebas ya,” jawabnya sederhana.

Memang. Bahkan hubungan Lani dan Agus begitu ideal untuk dimiliki.

Lalu, saat kami berdua masuk waktu kuliah. Tidak ada satu pun di antara kami yang berkuliah di Bandung. R masuk jurusan Teknik seperti yang ada di film Jomblo, R berpacaran dan berselingkuh, R memutuskan hubungan beberapa kali, R berhubungan sex pada akhirnya, dan R menjadi jomblo lagi. Namun kini mengganti referensi filmnya.

Gue?

Dulu mencintai R, melupakan R, jika sedang sendiri kadang kangen dengan R, lalu bertemu D, D punya pacar lain, R hadir lagi, R brengsek lagi, dan voila kami tidak berbicara selama bertahun-tahun. Namun kadang rindu itu masih ada.

Tapi kini di umur 27, gue menyadari bahwa obsesi kami untuk menghidupkan narasi Jomblo dan segenap sekuens di dalamnya. Atau  mengingingkan menjadi atau menemukan karakter persis seperti di film tersebut adalah sebuah usaha kesia-siaan.

Karena yang kami lupa, semua itu hanya film. Semua hanya rekaan. Dan mungkin propaganda.

Seperti menyesap kepahitan yang menempel di lidah, jika dalam satu waktu berkunjung ke Bandung atau menyebut salah satu keyword yang berhubungan dengan film atau novel Jomblo. Rasa sakit dan perihnya masih ada.

Mengingatkan gue dengan sedikit mengejek bahwa gue pernah sebodoh itu percaya bahwa sex harus menunggu saat nikah dan cinta adalah milik semua orang.

Karena kenyataannya, kedua-duanya hanya bohong belaka.

fictions_jombloadit

Cerita Bogor

Sore tadi gue berkunjung ke Bogor. Entah untuk apa. Tidak ada urgensi berlebih yang mengharuskan gue untuk bergerak ke arah sana. Tapi saat itu kekosongan hidup membuat yang random terasa wajar. Dan pergi ke Bogor menjadi sesuatu yang masuk akal. Meski itu hanya untuk berputar-putar dari Warung Jambu ke Taman Kencana, dan dengan sengaja menyasarkan diri ke daerah belakang PMI.

Semua perjalanan itu, melewati jalan-jalan yang kini telah berubah, Bogor terasa menjadi kota lama yang berusaha memiliki wajah baru yang metropolitan. Sesuatu yang mungkin dua belas tahun lalu tidak pernah gue pikirkan sebelumnya.

Namun meskipun ada perubahan di sana sini, Bogor masih hijau, langitnya masih berwarna oranye, dan kesegaran udaranya masih enak untuk dihirup.

Dan ternyata kenangan itu masih hadir. Entah secara tiba-tiba, atau memang sengaja gue cari-cari.

Menyedihkan, setelah selama ini, dua belas tahun, dan gue masih berharap akan bertemu dengan elo di suatu tempat di sudut Bogor nantinya. Dan semua berjalan dengan kasual, menyadarkan kekosongan selama puluhan tahun itu di antara kita berdua adalah sebuah kesalahan.

Nantinya elo pun menyesal kemudian meminta pertemuan berikutnya dengan lebih terencana. Dan keesokan harinya kita akan berada pada sebuah kafe baru di sebuah rooftop gedung dengan pemandangan yang menghadap ke arah Gunung Salak. Membicarakan yang terlewat, sesekali berpegangan tangan, dan menertawai kepingan-kepingan masa lalu.

Bodohnya, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi.

Dan juga entah mengapa, apa dasar dan alasannya gue berharap itu terjadi lagi.

Mungkin ini karena Bogor dengan kekuatannya yang selalu akan menggerakan seluruh memori dan kenangan sialan itu dan menyisipkannya ke kepala gue.

Atau memang rindu itu masih ada dan terlalu takut untuk muncul.

I really don’t know.

Namun sore tadi langit Bogor berwarna oranye dan seperti yang gue jelaskan tadi, jalan-jalannya masih menyimpan senyum dan tawa yang dulu pernah elo bagi ke gue. Saat elo membawa motor dan gue dibelakang membonceng sambil tertawa girang bisa berada sedekat itu dengan elo.

Semua kenangan dan perasaan itu menggema dengan sembarangnya dan meninggalkan kehampaan yang sialnya lebih dalam dari sebelumnya.

Satu jam sudah gue dan motor ini berputar-putar diiringi beberapa lagu dari album terbaru Frank Ocean, gue sudah berusaha keras untuk menangis namun tak kunjung banjir air mata. Setetes pun tak hadir, hanya hampa yang membolongi perasaan bahagia titik demi titik. Seperti dementor dan ciuman mematikannya.

Gue memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Membawa kehampaan dari Bogor yang semoga nantinya menjelma menjadi kehambaran yang membeku. Dan berniat dengan kocokan gerakan tangan di kelamin dan semburan setelahnya, akan menghilangkan itu semua.

Semoga.

 

 

Sang Penari: Kisah Cinta Yang Merah

cb56e56a1cb96c5216b23751b3c96712

Sepertinya cinta memang akan selalu menjadi sesuatu yang tragis bagi sebagian orang. Apalagi mereka yang hidup dalam perbedaan kelas dan merasakan beratnya gesekan sosial politik di tempat yang mereka diami. Bisa dipastikan panah dewa cinta tak akan melirik sama sekali.

Dapat dibilang film Sang Penari merupakan film tentang cinta. Menceritakan kisah cinta antara Rasun dan Srintil.

Namun sayangnya, kisah cintanya tidak semembara Cinta dan Rangga. Tidak juga seharu biru Habibi Ainun.

Kisah cinta Rasun dan Srintil terasa pahit dan pilu. Jenis cerita cinta yang ketika kamu selesai menontonnya seperti ada lobang bolong merongga di dadamu. Bagai luka yang membekas dan enggan kamu obati. Karena di sana letak kenikmatannya, luka perih yang bisa kamu mainkan karena ternyata rasanya menyenangkan.

Begitu pula Rasun dan Srintil, meski cerita mereka perih dan mengoyak kalbu, namun itu tidak berarti cerita mereka tidak indah.

Keindahan kisah cinta mereka berada pada polemik dan kehancuran mereka sendiri.

Sang Penari secara jenius menggabungkan unsur adat, seni, romansa, dan panasnya situasi politik dengan presentasi yang kuat dan juga menawan.

Film diawali dengan keriuhan kampung Dukuh Paruk pasca penggerebekan oleh pihak militer. Kemudian laki-laki berbaju tentara itu menemukan bapak tua buta yang masih mengingatnya.

Cerita pun bergerak dari sana. Sebuah flashback hitam akan bagaimana ronggeng yang menjadi jantung dari Dukuh Paruk hancur karena segenggam tempe bongkrek. Dan Srintil ada di tengah-tengahnya. Menyaksikan bagaimana penari ronggeng pujaannya keracunan, dan bagaimana warga desa begitu kejam membiarkan mayat kedua orang tuanya membusuk begitu saja.

Tahun berlalu, Srintil pun menjadi perempuan dewasa yang rupawan dengan segenap hasrat untuk joget, menjadi seorang ronggeng. Siap menyuburkan kembali ekonomi kampung dan berbakti pada Eyang leluhur.

Namun jalannya tidak mudah, pertentangan hadir dari Dukun Ronggeng. Dengan penuh rasa enggan, Rasun yang awalnya menolak Srintil menjadi seorang ronggeng mau tak mau membantunya dengan memberikannya keris kecil peninggalan penari ronggeng terdahulu. Itu semua menandakan bahwa Srintil adalah penari pilihan langit. Srintil pun resmi dinobatkan sebagai penari ronggeng yang baru.

Kejayaan Srintil pun membawa kemakmuran kampung, seisi Dukuh Paruk kembali riuh dengan geliat joget Srintil. Sampai cinta Srintil dan Rasun pun diuji dengan prosesi buka kelambu.

Sebuah adat di mana keperawanan sang ronggeng dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Rasun bukan lelaki kaya. Ia hanya pekerja serabutan, sedang ada ratusan laki-laki yang siap untuk meniduri Srintil. Ia bukan pesaing.

Tetapi hati Srintil sudah terpaut pada Rasun. Keperawanannya pun ia serahkan pada Rasun. Dengan konsekuensi Rasun meninggalkannya. Karena Rasun tidak mampu melihat Srintil menjadi ronggeng. Meminjam ungkapan yang dipakai oleh Rasun, “ia tidak mau melihat Srintil seperti pohon kelapa yang siapa pun bisa menaikinya”.

Rasun pergi, menjadi seorang tentara. Sedang Srintil tetap menari.

Tahun 65 takdir membawa mereka kembali bertemu, dengan situasi yang berbeda. Panasnya peta politik antara PKI dengan negara menyeret Srintil dan Rasun pada pusaran yang sama.

Alih-alih didaftarkan menjadi penari istana seperti yang dijanjikan, Srintil yang tidak bisa membaca (pun seisi kampung Dukuh Paruk), nama mereka dijadikan simpatisan PKI. Yang nantinya daftar tersebut membawa mereka pada sang malaikat maut.

Melihat Srintil yang dibawa oleh tentara lainnya, Rusun dengan segenap kemampuannya berusaha untuk menyelamatkan Srintil. Namun semuanya terhalang. Srintil tetap pergi, kini ditangan sang maut.

Di akhir film, tahun berganti, Rasun secara tidak sengaja mendatangi bunyi gendang yang ia kenal di sebuah pinggir jalan. Di sana ia menemukan Srintil. Ia tetap perempuan yang sama yang ia kenal. Ia tetap menari. Namun saat mata mereka bertemu, Srintil kembali pergi. Kini dengan kelegaan.

Film pun ditutup dengan sangat poetik dan sinematik dengan tarian Srintil menuju ketiadaan yang panjang. Dan meninggalkan perasaan agoni dan gemetar haru saat scene tersebut usai.

Membahas Sang Penari

Sang Penari bukan film yang dibuat sembarangan. Film ini diangkat dari adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk tahun 1982 karangan Ahmad Tohari. Salah satu buku sastra paling penting di Indonesia.

Film ini pun memakan riset selama dua tahun untuk memberikan keontetikan situasi terutama pada scene penggerebekan kampung oleh militer yang kemudian membawa pada pembantaian masal.

Menurut saya pribadi, jika dirunut ada empat pembahasan penting dalam film sepanjang seratus menit lebih ini. Yaitu mengenai:

  • Adat
  • Kisah Cinta
  • Tubuh Perempuan
  • Politik 65

Dalam aspek adat kita dapat melihat betawa piawainya Prisia Nasution memerankan Srintil. Musik dan tariannya begitu mistis, memikat siapa pun yang menyaksikannya. Jelas sekali bahwa dari awal tujuan hidup Srintil adalah menari, meneruskan rantai budaya dan membersihkan nama baik keluarganya yang kandung rusak karena kejadian semasa ia kecil. Tidak banyak film Indonesia yang begitu otentik mengangkat budaya awal ronggeng yang ditampilkan dengan layak. Tidak hanya sekadar tempelan dan pemanis. Namun secara sadar, peran tarian di sini adalah sentral dari bergeraknya cerita dari awal hingga akhir.

Hal yang juga penting diamati lebih dalam lagi adalah bagaimana dalam konteks film ini, sebagai penari ronggeng, tubuh Srintil adalah alat. Ia kendaraan untuk mendapatkan materi. Sesuatu yang sudah tidak asing di budaya yang patriarki di Indonesia ini. Namun yang menarik adalah, tubuh Srintil pun laksana potret keagungan maha kuasa. Siapa pun yang tidur dengan Srintil niscaya akan mendapatkan kesuburan dan kesuksesan.

Fenomena ini membuat Srintil memiliki power dan kendali di sana. Ia bisa memilih dengan siapa ia akan tidur. Meskipun, sangat disadari bahwa dalam masyarakat Dukuh Paruk, otoritas tubuh Srintil hanyalah sebatas adat. Sesuatu yang bisa mereka miliki bersama. Bukan lagi sesuatu yang bersifat personal.

Membahas politik, film Sang Penari patut diacungi jempol. Dengan berani film ini membahas kisah kelam tahun 65. Isu yang jarang hadir dalam perfilman Indonesia modern.

Betapa muatan politik di film ini mengalir dengan sangat jelas dan tepat pada temponya. Kerusuhan enam lima dengan nyata digambarkan dengan todongan dan teriakan tentara pada para warga yang tidak mengetahui apa pun. Rasa takut mereka menular di film ini.

Mereka adalah korban. Korban ketidaktahuan yang diberantas karena kepentingan elit politik. Betapa adegan saat Srintil bertanya mengenai apa maksud dari namanya ditulis dalam sebuah carik kertas yang ia bahkan tidak dapat baca, adalah gambaran paling lugu mengenai keterikatan rakyat kecil dalam pusaran politik saat itu.

Korban kebanyakan di tahun enam lima mungkin adalah mereka yang sebenarnya tidak mengetahui apa itu komunisme, yang mereka tahu itu adalah partai yang memihak para petani. Dan dalam satu kali gilas, hampir jutaan korban rakyat jelata itu pun hancur dalam ketiadaan. Ini menegaskan bahwa kita, saya dan kamu, siapa pun itu adalah mahluk politik yang bisa saja terjerat konflik kapan pun.

Adegan yang mencekam antara militer dan ketakutan warga kampung digambarkan begitu realis hingga saat cerita cinta yang pilu itu selesai, film Sang Penari menawarkan menu lain bagi penontonnya.

Apakah kita akan mengingat sejarah ini lalu membongkarnya? Atau hanya diam membiarkannya?

Sembari kita memikirkan jawabannya, mungkin di sana, yang pasti Srintil akan terus menari. Hingga sendi-sendi dalam tubuhnya perlahan berhenti.

Love in the age of the internet

Saya sih bukan orang yang kompeten ya untuk ditanya tentang perkara hubungan atau komitmen. Pengalaman komitmen terlama dan teromantis saya hanya bersama series Friends, Game of Thrones, dan Sex and The City. Selebihnya? Ya sudahlah, anggap saja itu cuma ketidaksengajaan, sama-sama butuh, lalu selesai.

Tapi Thalia lain cerita, dia berpacaran dengan Agra sedari SMA. Dari berat badannya empat puluhan kilo, hingga sekarang di angka delapan puluhan kilo.

Seberat itulah cinta mereka berdua.

Namun sayang, beratnya cinta bukan menjadi parameter valid untuk langgengnya sebuah hubungan. Dua belas tahun berpacaran, hingga mendekati umur tiga puluh, Thalia belum melihat tanda-tanda akan ada janur kuning yang akan hadir di depan gang rumahnya.

“Bukan berarti gue tipe cewek yang gila nikah, dan maksa-maksa pacar gue buat buru-buru nabung ratusan juta buat pesta pernikahan yang besoknya orang-orang enggak bakal inget juga. Gue cuma pengein tahu hubungan ini akan ke mana. Goal sih pasti tentang menikah ya, tapi setidaknya gue secure dia memang mau menghabiskan sisa hidupnya sama gue. Kalau memang enggak, ya sudah, lebih baik selesai.”

Ia menghisap batang rokoknya dalam-dalam, dengan perlahan ia hembuskan asap rokoknya yang menggumpal putih. Ia pandang asap-asap rokok tersebut dengan pilu, lalu beralih menatap saya, ada senyum di sana. Meski saya tahu berat untuk ia lakukan.

Siapa sih yang bisa tersenyum setelah hubungan selama sepuluh tahun dibina hancur begitu saja, apalagi hanya karena rasa takut dan ketidakpercayaan. Hal yang ia rasa, seharusnya sudah lenyap dari hubungan mereka.

Tapi ternyata tidak, rasa takut dan ketidakpercayaan bukan sekadar ‘hanya’, mereka pondasi paling dasar. Jika salah-salah pasang, mereka akan jadi semacam jamur dalam hubungan. Yang jika tidak diangkat, akan mematikan mereka berdua.

“But I still do love him. Maybe not as much as before, tapi cukup buat gue untuk sudi saat bangun tidur di pagi hari, dan hal pertama yang gue lihat adalah muka dia. Muka bantal yang sepuluh tahun ini selalu ada, dan menyapa gue dengan mata ngantuknya yang terbuka sebelah.”

Kini Thalia benar-benar tensenyum. Pahit.

“Mungkin elo mau coba metode gue?”

“Apa tuh?”

Pacarque. Aplikasi digital untuk cari pasangan, tinggal isi form dan tulis spesifikasi pasangan yang elo cari. Mulai dari background pendidikan, suku, tinggi badan, berat badan, panjang alat kelamin, sampai kekayaannya. Bisa ditambahin dengan jenis musik apa yang dia dengar, film atau buku favoritnya, dia cari komitmen atau cuma mau have fun. Semua bisa di custom sendiri. Bisa by geo lokasi juga lagi. Tinggal klik, tunggu alogaritma aplikasinya, vice verca, teman kencan pun hadir. Nyari pasangan enggak pernah segampang ini loh.”

Seperti mendengar pedagang obat-obat pinggir jalan, Thalia memandang saya takjub sekaligus bingung. Tapi mungkin lebih banyak tidak percayanya.

“Jadi elo kalau jalan sama orang, lewat aplikasi ini? Pacarque ini?”

“Jelas. Lumayan bisa makan enak gratis, kalau elo suka ya lanjut, kalau enggak tinggal cancel. Kayak elo belanja online aja, bedanya elo belanja pacar. Seru kan? Jadi udah enggak usah kaku mau cari omongan apa pas ketemu. Tinggal tanya, oh elo suka film ini, gue juga suka. Tinggal google dan kepo Instagramnya sedikit, udah ketawan deh dia orangnya seperti apa. Praktis dan hemat waktu.”

“WOW!”

“Mau coba?”

“Sebentar-sebentar! Hello… mereka orang asing! Kalau salah satu dari mereka adalah penjahat kelamin atau serial killer bagaimana?”

“Kan ada kualiti kontrolnya, jadi buat jadi member di sana elo dicek sistem gitu. Jadi benar-benar tersaring.”

“Tapi…”

“Apa bedanya sama elo ngajak ngobrol orang asing di cafe, kantor, atau tempat umum lainnya. Elo enggak bakal tau dia seperti apa kan sifatnya. Bahkan lebih random, elo harus menghabiskan pendekatan yang alot dan lama. Hanya untuk tahu seperti apa orangnya. Bagus kalau cocok, lah kalau enggak? Buang-buang waktu. Pakai aplikasi pacarque elo cuma butuh satu kali klik.”

“Tapi..”

“Enggak ada jaminan juga bakal langgeng antara ketemuan dari digital atau real life. Coba aja dulu, baru komentar.”

Thalia hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.

“Entahlah. Gue cuma ngerasa, kalau gue nanti coba, gregetnya enggak ada aja.”

“Greget apa? Lo dikasih minimal tiga pilihan loh. Kalau banyak yang cocok, bakal banyak daftar orangnya, elo tinggal geser kiri kalau enggak suka, dan geser kanan kalau elo suka. Bisa bikin back up plan juga lagi. Enggak cocok satu, bisa langsung ke opsi berikutnya.”

Thalia makin kelihatan tidak tertarik.

“Greget yang gue maksud adalah saat kita sibuk ngejalanin hari-hari bareng untuk memecahkan misteri pasangan kita. Kita jadi tumbuh bersama dia untuk tahu dia orang yang seperti apa, dan pada akhirnya kita punya itu sebagai bekal kecocokan yang akan membuat masing-masing jadi berkompromi satu sama lain dan berbahagia karenanya. Bukannya itu poin dari sebuah komitmen? Ketika perbedaan melebur menjadi sebuah pengertian?”

“Elo cuma punya dua jam waktu ketemu sama mereka sehabis pulang kerja. Enggak ada waktu buat kencan konvensional seperti itu lagi. Lagian lo gagal juga kan?”

“Tapi setidaknya gue punya memori. Gue punya pembelajaran. Organik. Enggak cuma lewat klik klik di google atau media sosial.”

Tapi saya tetap ngotot memberikan handphone saya dan membuatkan keanggotan Thalia di pacarque. Setelah tiga puluh menit, akun Thalia pun selesai dibuat.

“Selesai, profil elo udah jadi. Tinggal klik tombol search.”

Dengan malas Thalia menekannya, tidak sampai satu menit, Thalia mendapatkan sepuluh foto profil laki-laki yang sesuai dengan kolom-kolom pertanyaan yang ia isi.

“Wow! Ada sepuluh laki-laki yang cocok dan tertarik dengan profil gue? Terus?”

“Tinggal pilih, ajak ngobrol aja.”

Sepuluh menit kemudian, Thalia pun tenggelam dengan percakapannya dengan kesepuluh laki-laki yang cocok dengannya.

“Masih mau bahas Agra?”

“Agra, who?”

“Mantan elo.”

“Oh, sorry, soalnya yang masih live cuma Ardian, Surya, Danzel, dan Arka. Enggak ada Arga.”

“Terserah deh.”

Saya pun meninggalkan Thalia pergi, dan secara diam-diam membawa pulang satu pertanyaan yang tersisa dari obrolan kami. Pertanyaan yang saya ragu untuk tanyakan pada diri saya sendiri sedari dulu.

Dengan majunya teknologi dan kemudahan sistem digital yang ada, mengapa jatuh cinta tidak pernah menjadi mudah?

Dengan banyaknya pilihan, mengapa malah semakin sulit untuk menentukan?

Apa yang sebenarnya manusia cari?

Atau tepatnya, apa yang saya benar-benar cari?

tinderfeature1

27

happy_birthday

Hari ini saya berulang tahun. Ke dua puluh tujuh. Angka yang menarik. Karena saya selalu menganggap diri saya akan selalu terjebak pada angka dua puluhan awal dan tidak akan bergerak ke mana-mana, karena I don’t know, I feel forever young (masih tinggal dengan orang tua, lajang, tanpa tanggung jawab pada apa pun selain diri sendri dan belum pernah mencuci dan menggosok baju sendiri. I know, malu-maluin banget).

Lalu menuju pergantian umur, yang saya lakukan ternyata bukan membuat daftar doa dan keinginan yang belum tercapai seperti saat tahun-tahun sebelumnya, melainkan dengan seksama saya membuat daftar restoran mana yang memberikan makanan gratis untuk promo ulang tahun.

Yeah, right, food before everything.

Banyak perubahan dalam hidup, saya banyak belajar, namun terkadang masih sering banyak buat salah sih. Tapi ya sudahlah, namanya juga hidup. Enggak ada yang sempurna. Cuma Dian Sastro dan Habib Rizieq yang bisa jadi sempurna.

Tapi, entahlah, ulang tahun ke dua puluh tujuh tahun saya masih sama seperti ulang tahun ulang tahun saya sebelumnya. Saya melewati dan merayakannya sendirian. Hanya beberapa orang (yang mana dua orang saja; Wulan dan Dita) yang notice bahwa saya berulang tahun dan agaknya mereka berfikir perlu untuk mengucapkan selamat pada saya.

Jika dulu saya masih memiliki teman-teman terdekat yang masih rela meluangkan waktunya untuk sekadar menelfon dan menghanturkan doa. Sekarang saya harus terima mereka sedang tertidur lelap dengan suami di samping mereka saat jam dua belas malam berganti.

Semuanya berubah dan saya makin berkompromi dengan itu semua. Terutama pada kenyataan-kenyataan bahwa; bumi itu bulat dan tidak akan menjadi datar selain jika kiamat datang; sushi masih makanan terenak; dan serial Friends itu lucu banget. (Dan, yeah, harus lunasin tagihan kartu kredit tahun ini).

Tapi selebihnya ya saya senang-senang aja sih dengan apa yang saya punya sekarang. Dulu saya selalu berdoa untuk hal-hal yang saya miliki saat ini. Dan setelah ada, sudah seharusnya tugas saya mensyukurinya. Bukan lagi banyak meminta. Karena jika terus meminta, takutnya saya tidak pernah sadar dengan apa yang sudah saya raih dengan berdarah-darah. (Beneran, saya beberapa tahun terakhir kena ambien, feses saya berdarah, literally).

Saya juga sudah mulai enjoy dengan pekerjaan saya yang sekarang, yang selalu makan siang sendirian dan enggak pernah ngomong itu. Hampir setahun dan saya makin nunggu-nunggu kapan THR ditransfer ke rekening saya.

Mimpi saya pun jadi enggak muluk-muluk seperti tahun kemarin, at least saya sudah mencoba. Dan, yeah, gagal semua. Kurus enggak, jadi vlogger enggak, bikin youtube channel barengan juga gagal, nulis novel enggak jalan-jalan. Auk ah!

Tapi, saya langganan fitnes lagi sih, terus masih suka nulis-nulis outline novel, tapi kalau buat vlog dan sebangsanya sih memang sudah enggak ada harapan ya.

Dunia romansa saya pun masih kering aja, tidak seperti tahun lalu, masih ada si eye candy. Tahun ini total saya cuma berkomitmen dengan facebook dashboard, excel report, netflix dan makanan.

Tapi, yeah, saya masih beruntung toh, masih diberikan sehat jasmani dan rezeki sama Yang Maha Esa. Semua keluarga masih lengkap, masih ada rumah yang nyaman untuk ditiduri, kerjaan yang masih bisa buat bantu-bantu sekolah adik, dan kelengkapan organ tubuh yang lain.

Seharusnya itu lebih dari cukup.

Mungkin dua puluh tujuh dalam hidup saya adalah tentang duduk tenang dan diam sejenak, lalu mensyukuri yang masih bertahan dan setia di hidup saya.

Now, let me spend my time wisely with my books, tv series and foods.

Then, I think I’m just doing fine with my life.

A Day with Dewi Lestari

Sabtu kemarin, tanggal satu april dua ribu tujuh belas tepatnya di jam dua siang, setelah telat dua jam datang ke sebuah seminar di Galeri Nasional, dengan terburu-buru saya menghampiri deretan bangku depan di mana teman saya sudah menunggu dengan memberikan tampang sebal.

Setelah meminta maaf, saya langsung memfokuskan diri pada tiga perempuan yang ada di panggung depan. Penampakannya adalah: pencahayaan yang buruk, banner acara yang terlalu kecil dengan design yang tidak mematuhi tata warna dan prinsip keterbacaan (bagaimana bisa seseorang membuat sebuah spanduk dengan dasar warna merah cenderung gelap dan menimpanya dengan tulisan berwarna hitam? Well, terima kasih, we can’t see your words for sure), lalu dengan kesalahan teknis mikrofon yang sangat menggangu, yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara dengungan keras dan tajam, akhirnya secara resmi semua ke clumsy-an itu menandakan acara talkshow sudah dimulai.

Sang moderator, perempuan muda pemenang debat nasional yang sepertinya tidak berbakat menjadi seorang moderator, karena dia terlalu terburu-buru dalam menyampaikan tiap resolusi diskusi dengan aksentuasi yang kelewat grenyek- tau kan ketika seseorang tidak memiliki dinamika rendah tingginya volume suara dan intensitas suara yang terlalu nyaring, jenis suara yang membut setiap ucapannya terdengar seperti orang marah-marah. Tidak ada kelunakan di dalamnya, dan sangat tidak bisa dinikmati. Girl, for sure you should stay on debate.

Dan yang membuat saya rolling eyes adalah dia tidak berusaha untuk menyebut kedua nama pembicaranya dengan nama asli, dia memilih untuk memanggil mereka dengan sebutan mba-mba sekalian. To be honest for me is so disturbing, sorry. Tapi sesekali ada lah beberapa momen di mana saya terpana dengan beberapa pemilihan kata-katanya. Seperti saat dia mau mengajak para hadirin untuk bertanya dan dia mengucapkan kata-kata yang kurang lebih, saya tidak akan membiarkan tiap-tiap pertanyaan anda mendingin sendiri. Damn gurl! But I love her confidence actually, all my shitty comments just because I was really really annoy about the way she deliver her words toward the speakers. Just being honest here.

Dibalik semua deksripsi judes saya, saya cuma mau bilang bahwa di antara ketiga orang yang ada di panggung tersebut ada seorang perempuan yang tulisannya sudah saya baca dan kagumi sejak saya duduk di kelas dua SMP. Waktu itu tahun dua ribu empat, dan umur saya baru empat belas tahun. Saya memegang bukunya dan kebetulan membaca karyanya secara acak. Yang saya baca pertama kali adalah bukunya yang berjudul PETIR. Dengan filosofi nama-nama karakter yang menurut saya lucu (spolier alert: Nama Etra dan Watti berasal dari pekerjaan Ayah mereka dibidang listrik) membuat saya tertarik untuk menamatkan buku tersebut. Sejak saat itu saya menyimpan nama Dewi Lestari sebagai penulis favorit saya.

Dan setelah sepuluh bukunya yang saya baca dan ratusan or ribuan jam yang saya habiskan dengan membaca seluruh isi blognya dari tahun dua ribu delapan. Akhirnya saya bisa bertemu dengan Dewi Lestari secara langsung.

Dan yang terbaiknya adalah, ia menyebut nama saya dan tatapan mata kami bertumbuk beberapa detik (kondisi ini terjadi karena saya mengajukan pertanyaan juga sih haha).

Momen sepanjang satu jam setengah di hari Sabtu yang mendung itu terasa tidak nyata. Itu DEWI FUCKING LESTARI duduk terpisahkan hanya beberapa kaki dari tempat saya berada dan kenyataan bahwa kami berbagi oksigen yang sama dalam satu ruangan adalah sebuah GOALS checklist yang akan saya kristalkan dalam memori hidup saya.

Terutama setelah saya mengatakan pada DEWI LESTARI secara langsung bahwa cerpen MENCARI HERMAN adalah cerpen terbaik yang pernah saya baca sepanjang hidup saya.

Ok, enough story about being fanboy I guess.

Kembali tentang seminar tadi, dengan tema Indonesia Menulis, para mahasiswa UI jurusan Hukum ini menghadirkan dua penulis perempuan kece dengan dua perspektif yang menarik. Ada Agnes Davonar sang penulis novel best seller seperti; Surat Kecil untuk Tuhan, My Idiot Brother dan Gaby. Beberapa cerpen dan novelnya telah diangkat ke pelbagai layar lebar dan sukses di pasaran. Menghadirkan sebuah topik yang menurut saya penting untuk dibagi pada para penulis pemula. Yaitu tentang membuat brand, konten, dan marketing sebuah karya.

Kemudian Dewi Lestari, sosok yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi tentang kemampuan teknis penulisannya, membagikan beberapa tip dan cerita pahitnya pada masa-masa awal penulisan buku maha penting SUPERNOVA.

Dua pembicara yang berprofesi sebagai penulis best seller ini membagikan resep penulisan dan post production penulisan yang sangat applicable bagi para penulis pemula. Secara bebas akan saya list di bawah ini:

  1. Dewi Lestari dan Agnes mengajarkan kita bahwa kegagalan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Mereka menceritakan tentang penolakan demi penolakan dari para penerbit besar pada masa awal penulisan mereka. Tidak putus asa, mereka pun memutuskan untuk menerbitkan buku mereka secara mandiri. Dan hasilnya? Best seller! Terlebih untuk Agnes, dia telah memiliki kontrak eksklusif dengan sebuah brand coklat yang membuatnya menjadi penulis established dengan karya yang belum terbit, tapi sudah diperebutkan banyak orang. Pencapaian yang terbilang sukses untuk penulis di Indonesia.
  2. Menulislah karena itu adalah sebuah panggilan hati dan bukan karena faktor uang. Secara komikal Dewi Lestari menceritakan kisahnya tentang bagaimana dulu saat ia mengikuti satu buah lomba cerpen di sebuah majalah dengan honorium 75 Ribu yang di masa itu sangat besar sekali bagi anak SMP. Dengan pedenya dia sudah membuat daftar ke mana saja uang itu akan pergi. Setelah dua bulan berlalu dan namanya tidak pernah hadir dalam deretan pemenang bulanan, akhirnya ia sadar ia telah gagal. Sampai kuliah pun ia terus mengalami penolakan dan kegagalan yang membuatnya akhirnya sadar bahwa karya tulisannya tidak pernah menang dikarenakan tidak sesuai dengan kriteria majalah-majalah tersebut. Entah tulisannya terlalu pendek untuk sebuah cerbung, atau terlalu panjang untuk sebuah cerpen. Yang akhirnya membawa dirinya pada keputusan bahwa ia akan menulis untuk dirinya sendiri. Untuk sebuah pencapaian kepuasan aktualisasi dirinya di usia 25 tahun. Untuk membuktikan ia telah menang atas dirinya sendiri. Sebuah sprit awal yang sangat perlu ditanamkan pada tiap-tiap penulis pemula bahwa, mulailah menulis karena itu hal yang paling penting untuk diri kamu sendiri. Bukan karena untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
  3. Marketing strategi adalah sesuatu yang kadang kala luput oleh para penulis di Indonesia. Karena memang sejatinya tugas penulis adalah menulis dan menyerahkan pemasaran buku pada penerbit. Namun bagi mereka yang berkeinginan untuk menerbitkan buku secara mandiri, bagian marketing adalah hal yang krusial. Karena mereka harus tahu bagaimana mendistribusikan buku mereka dan sampai di tangan para pembaca. Agnes menceritakan kisahnya yang menurut saya sangat strategis, yaitu dia membuat sebuah blog dan menuliskan ratusan cerpen di sana dan membuat traffic dan hit websitenya tumbuh secara organik. Setelah mendapat angka jutaan viewers ia menawarkannya pada penerbit. Dengan bargain seperti ini, penulis menjadi memiliki peluang lebih untuk membuat karya mereka diterbitkan. Karena mereka telah lebih awal membuat brand dan audience mereka sendiri.
  4. Simpan semua tulisan lama. Karena kata Dewi Lestari, kita tidak akan pernah tau kapan tulisan-tulisan tersebut akan menjadi fragmen-fragmen support yang penting dalam penyatuan sebuah manuskrip. Kadang it helps. Puisi-puisi dalam novel Supernova jilid pertama tadinya berasal dari bank data Dewi Lestari, yang akhirnya ia rajut menjadi sebuah kesatuan dalam bukunya tersebut. Dan sebut saja Filosofi Kopi, Madre, juga Perahu Kertas yang berasal dari harta karun lama Dewi Lestar. Jika dia tidak pernah menyimpannya, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk membaca karya-karyanya tersebut. Jadi sepayah apa pun tulisan kamu, just keep it. We don’t know how those writings will help us.
  5. It sound cliche but please NEVER GIVE UP. Karena menyelesaikan tulisan bukan pekerjaan semalam jadi. Dan setelah jadi pun bukan barang mudah untuk menerbitkannya. Jadi tetaplah berjuang. Karena jika menjadi seorang penulis adalah benar-benar mimpimu, jangan pernah berhenti mengejarnya.
P_20170401_152638_BF
Selfie bahagia dengan Dewi Lestari

Obrolan Sabtu kemarin agaknya membuka pikiran saya bahwa memang menjadi penulis adalah pekerjaan seumur hidup. Dan kata menyerah tidak ada di dalamnya. Semangat untuk teman-teman yang sedang ingin memulai atau sudah menjalani proses mencapai mimpinya menjadi penulis!