Perjalanan Membaca Novel Aroma Karsa (Mungkin Spoiler Sedikit)

Sebelum menulis postingan blog ini, secara personal aku sudah meminta izin ke Mak Suri aka Dewi Lestari, duluan lho!

dee

*Sok akrab, dasar caper!*

Jadi, di suatu hari yang biasa-biasa saja saat tagihan kartu kredit masih belum lunas, juga berat badan yang enggak mau turun-turun, dan percintaan yang masih sekering sepuluh tahun yang lalu.

Tepatnya sepuluh detik setelah selesai kepoin kehidupan si doi di Instagram yang sudah happy dengan orang lain, dan setelah bergumam kasar dalam hati (panjang banget intronya, mohon maaf), aku melihat satu postingan yang membuat hatiku gemetar persis seperti nama acara deterjen saat aku kecil dulu.

DAG-DIG-DUG-DER (Enggak Pakai Daia ya, saya tim Rinso).

Repeat after me, DEWI FUCKING LESTARI MAU NERBITIN BUKU BARU!

YASZ, BITCH!

BUKU BARU!

Happy-dance

Buku baru tersebut berjudul: Aroma Karsa.

Lalu dengan kegigihan yang tinggi sama seperti saat ngepoin si doi waktu pertama kali, aku buka seluruh akses jejaring media sosial yang ada di muka bumi ini untuk mencari tahu bagaimana mendapatkan buku tersebut.

Kemudian setelah dengan khidmat membaca persyaratannya, dan beberapa jam menonton satu dua episode Orange is The New Black, ternyata baru aku sadari langkah-langkahnya bukan main ribetnya pemirsa yang budimen. Terlebih operasional websitenya masih sering down.

Yang paling bikin kejang-kejang gemes adalah, Dewi Lestari berencana menerbitkan buku terbarunya ini melalui versi digital dalam bentuk cerbung (cerita bersambung) pula.

Dalam hati aku ngebatin, APA-APAAN INI? CUKUP SUDAH DIGANTUNG SAMA SI DOI MASA IYA HARUS DIGANTUNGIN DEWI LESTARI JUGA? MANEH MASOKIS HAH?

meme-Qasidah-4

Tapi, tidak sampai lima menit berfikir aku tetap mengklik enter dan submit uang 77 ribu untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang akan membaca buku Dewi Lestari ini. Bhihihik.

here-just-take

#anaknyalemah atau entah memang #masokissejati ~~~ ku sudah tidak dapat membedakannya akhir-akhir ini.

Lanjut! (kebanyakan curhat nyelipnya nih penulisnya)

Maka setelah melewati drama; kok aku mau submit ga bisa kak? kok aku ga dapet email konfirmasi? kok aku ga dimasukin grup di Facebook? kok si dia makin dingin sikapnya ke aku? kok….. dan banyak kok yang lain.

Aku resmi menjadi bagian dari Tribe Aroma Karsa di Facebook.

Screen Shot 2018-02-05 at 6.54.28 PM

HAHAHAHA MEMANG ENAK KALIAN GA IKUT GRUP KECE INI!

Happy_gif

Aku kasih tau ya kenapa ikut Tribe Aroma Karsa Dewi Lestari merupakan hal terbaik di hidupku sepanjang 2018 ini:

  • Misi Dewi Lestari untuk menghidupkan kembali greget dan nuansa bercerita lewat cerita bersambung seperti masa mudanya dulu ternyata berhasil. Saya dan enam ratus orang lainnya yang tergabung di grup Facebook tersebut jadi uring-uringan menunggu hari Senin dan Kamis. Wah, kacau deh! Di setiap part cerita, pasti Dewi Lestari motong ceritanya pas klimaks-klimaksnya dan bikin kita yang baca penasaran banget. Ibaratnya nih, ditinggalin pacar yang lagi-lagi sayangnya tanpa alasan. Bikin penasaran banget kan?

tenor (1)

*aku Aries yang sensitif, sok kuat padahal anaknya gampang cry cry*

  • Terus, ruang interaksi di grup Facebook Aroma Karsa benar-benar kemewahan tersendiri. Karena di sana saya dan teman-teman yang lain bisa ngobrol LANGSUNG dengan DEWI LESTARI. GILE, SETIAP KOMEN DIBALAS BELIAU DENGAN TULUS! Enggak terbayang harga berapa yang bisa menggambarkan pengalaman tersebut! Aku loh si sobat miskin ranting Cibinong bisa ngobrol sama penulis Idolaku dari zaman SMP dulu.

tenor

  • Orang-orang di grupnya juga seru-seru. Mereka masing-masing asik dan ngotot sendiri dengan memberikan reaksi mereka tiap kali selesai membaca part demi part yang dikirim tiap Senin dan Kamis. Topik yang paling laku adalah mengkhayal siapa saja aktor yang cocok untuk memerankan karakter-karakter di novel Aroma Karsa. Udah deh, bisa debat macem Pilkada Jakarta taun lalu. Haha.
  • Yang paling kocak lagi, setiap part cerita berkisar sekitar 50-60 halaman. Sering banget aku dan teman-teman abuse scroll ke bawah berharap akan ada halaman tambahan. Yang mana tentu saja itu enggak ada. Memang kamu pikir di hidup ini semua hal yang kamu inginkan bisa kamu miliki, Mantili?

Dan yang paling ngeselin adalah tiap kali Dewi Lestari dan suaminya teasing kami saat jeda panjang menunggu Senin dan Kamis. Mereka kode-kodean aja gitu dengan kasualnya.

Teh Dewi dan Mas Reza yang kalian lakukan itu…..

Screen Shot 2018-02-05 at 7.07.59 PM

Kalian pasti penasaran kan Aroma Karsa itu tentang apa?

Jadi in general, kisah Aroma Karsa mengenai petualangan mencari bebauan terbaik di dunia ini. Karena ceritanya masih on going, jadi belum terlihat sebenarnya gerakan narasinya mau dibawa ke mana. Tapi yang jelas, bukan Dewi Lestari namanya jika tidak melahirkan karakter-karakter yang dapat mengikat para pembacanya.

Bahkan dari paragraf pertama Aroma Karsa, Dewi Lestari menyihir para pembacanya masuk ke dalam semesta penuh misteri sebuah keluarga elit yang hanya dibagi berdasarkan misi rahasia.

Ada Jati dan Sumu yang menjadi Idola para kaum halu di Grup. Mereka tuh…. ah rahasia ah. Hahaha.

Makanya ikut PO-nya gelombang ke dua saja untuk ikut Tribe Aroma Karsa.

Screen Shot 2018-02-05 at 7.16.16 PM

Kurang lebih katanya akan ada 18 part dari Aroma Karsa ini, saat tulisan ini dinaikkan aku lagi baca part yang ke-6. Masih belum ketinggalan banyak kok!

Maka teman-teman sejawat sekalian yang sudah tergabung di grup gelombang pertama, ada baiknya kita rapatkan barisan, berpegangan tangan erat dan masing-masing saling menguatkan diri selama menjadi #PejuangSeninKamis!

DSW3bcKVQAAFNq4

Kurang lebih pengalaman seperti itu yang bisa aku ceritakan saat mengikuti Tribe Aroma Karsa. Membuat hari Senin dan Kamis aku menjadi lebih seru dan juga menjadi kecut penasaran lewat kekuatan bercerita Dewi Lestari.

Sampai berjumpa di grup Aroma Karsa!

Mari membaui cerita selanjutnya bersama-sama!

Anyway, ini Jati dan Suma versi aku:

jati suma

Advertisements

Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!

Like, Crazy (2011)

hero_EB20111102REVIEWS111109994AR

Manusia boleh berencana, namun jarak juga yang menentukan.

Mungkin seperti itu cerita film Like, Crazy (2011) dikisahkan. Dua orang yang berkenalan di semester kuliah akhir, jatuh cinta, kemudian mendapati kenyataan pahit bahwa salah satu dari mereka harus pergi karena terbatasnya masa berlaku visa pelajar.

Si perempuan harus kembali ke Inggris. Sedih. Mereka berdua sedang cinta-cintanya. Sedang masa honeymoon. Namun tidak ada yang mau mengalah untuk sebuah kesepakatan. Ya sudah, si Mbaknya pun terpaksa benar-benar pulang kampung sendiri tanpa si Masnya.

Berat.

Sisa waktu mereka berdua sebelum keberangkatan si Mbaknya pun terancam hambar. Rencana island hoping dengan perahu sewaan pun terasa mengejek. Kemewahan itu tidak memberikan kebahagian. Yang mereka berdua mau hanyalah besok bertemu lagi, lagi dan lagi. Cinta masih begitu membara bagi dua orang ini.

Setelah beberapa kali adegan ngambek dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti; lalu kamu maunya aku bagaimana? Ngibulin orang imigrasi?

Dari cuma ocehan asal, tetiba ide tersebut terasa masuk akal. Entah asumsi dari mana mereka berfikir bisa mengelabui imigrasi Amerika yang begitu ketat. Namun toh akhirnya mereka tetap melakukannya juga.

Aku kamu vs the world, betapa romantisnya. Mereka berdua pun menghabiskan musim panas penuh cinta bersama, yang ada hanya bercinta dan bercinta. Tahik kucing lah soal kasus visa pelajar yang jadi sumber masalah.

Cinta mereka semakin kuat, mereka seperti menginspirasi satu sama lain. Mereka merencanakan banyak hal berdua. Indah, namun kelewat indah untuk jadi nyata. Karena hidup tidak selalu merah muda, pihak imigrasi pada akhirnya tetap harus mendeportasi si perempuan. Mereka berdua berpisah secara sepihak. Tanpa diragukan lagi semesta Mbak dan Masnya jadi berantakan.

Zona waktu begitu menyebalkan, ketika di sana baru pulang kerja eh di sini sudah tengah malam buta.

Banyak pesan tak berbalas, telfon yang tidak sempat terangkat, dan akhirnya perasaan mutual yang dulu pernah ada menjadi sebuah pertanyaan mendongkol sendiri.

Seperti, benarkah yang ada di antara mereka berdua ini benar-benar nyata atau hanya summer fling semata dan ya sudah lupakan saja, lalu kembali meneruskan rutinitas hidup; kerja, nongkrong di bar, dan bertemu orang baru.

Dan ide besar dari film Like, Crazy pun akhirnya diperlihatkan atas dasar pertanyaan itu. Diteruskan atau kandas saja?

Si Mas Mbaknya ragu, si orang tua Mbakanya pengennya mereka nikah saja. Lebih murah dan punya ketahanan hukum.

Waktu berlalu. Mereka saling berkunjung satu sama lain. Namun namanya juga hidup, pasti ada saja yang bikin kesel. Lama-lama jarak dan komunikasi makin nyebelin. Kerjaan makin ribet dan rindu pun makin menyiksa.

Mereka berdua malah jadi tidak jujur satu sama lain, saling meneror, saling curiga, saling tuduh soal siapa tidur sama siapa.

Letih dengan itu semua, mereka pun mengajukan ide untuk masing-masing melakukan open relationship di saat mereka berpisah. Namun jika mereka berdua bertemu, mereka akan saling memiliki.

Tahik ya? Kesian amat yang jadi side kick si Mas dan Mbaknya pas mereka pisah. Lagian maunya jatuh cinta yang enak-enaknya saja, enggak mau tumbuh dan berjuang. Segitu baru jarak, gimana kalau beda marga sama enggak direstuin mertua.

Cinta mereka menjelma jadi egois untuk saling menguasai satu sama lain, bukan lagi karena hasrat untuk saling melengkapi. Dan meskipun mereka berdua di penghujung film akhirnya bersatu, tetapi pertanyaan besar itu tetap menggantung dalam benak masing-masing.

Layakkah semua ini?

Cinta si Mas dan Mbaknya di film ini seperti orang yang ngotot menyimpan celana jeans bekas yang sudah kekecilan, tapi sebenarnya dia tau celana itu enggak akan pernah muat dia pakai.

Pada akhirnya celana jeans tersebut bukan lagi menjadi sebuah motivasi tetapi menjelma menjadi sesuatu yang menyesakkan dan mengancam.

14a611ae1c65cf3c727d547bd6dc9fad--like-crazy-film-anton-yelchin

Tapi filmnya manis dan seru kok. Cuma aftermathnya bikin sebel aja. Nonton deh.

Cerita di Akhir Bulan

Belanja bulanan adalah satu dari banyak aktivitas rutin yang dilakukan untuk mengisi ulang persediaan makanan, kebutuhan kamar mandi, atau terkadang masa lalu yang tak sengaja terbeli.

“Menurutmu sudah berapa banyak mie instan ya yang aku beli sepanjang hidupku?”

Aku mencoba menghitung, I mean, dengan serius. Membuka kalkulator lalu menghitung ada berapa minggu dalam dua puluh delapan tahun. Kemudian aku kalikan dua (karena sejak kecil aku diharuskan hanya boleh makan mie instan di akhir pekan saja). Hasilnya dua ribu sembilan ratus dua puluh. Jika dikarduskan, aku sudah mengonsumsi tujuh puluh tiga karton mie instan.

“Lalu, sudah berapa tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik sejak kita memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain dan sepakat untuk memutus semua dorongan yang membuat kita berada dalam kondisi seperti ini? Berada dalam satu ruangan, berbagi udara dan oksigen yang sama, dan akhirnya berbicara juga melemparkan pertanyaan satu sama lain?”

Dan kamu menggelengkan kepalamu sembari menyembunyikan tawa kecil dari mukamu. Aku tidak kuat untuk tidak ikut tertawa denganmu.

“Apa yang lucu?” tanyamu bingung.

“Karena kamu ketawa duluan.”

“Kamu pasti sangat merindukanku,” godamu.

“Pede. Aku sudah punya pacar tau.”

Bohong. Kamu tau kan aku hanya tidak ingin membuatmu merasa terlalu menang dengan segala yang terjadi di antara kita berdua.

Kamu yang menikah dan aku yang masih single. Tentu saja kamu merasa kamu yang jadi pemenang di antara kita berdua. You wish!

Terkadang aku mempertanyakan alasan mengapa kita bertemu lagi seperti sekarang. Di waktu yang sebenarnya tidak terlalu tepat untuk masing-masing di antara kita.

Kamu yang sudah bersama istrimu dan aku dengan kehidupanku yang masih belum bisa melupakanmu dan memori-memori di dalamnya. Yeah, I know aku yang kalah.

Tapi bukan berarti dengan semena-mena semesta berhak memberikanku pemandangan bahagia milikmu ini.

Dengan senyum paling lebar yang pernah aku lihat dari wajahmu, kamu begitu tergila-gila dengan perempuan ini. Perempuan kecil botak yang berlari ke arahmu. Lalu kamu pun melemparkan tatapan teduh dari kedua mata coklatmu yang dulu pernah menjadi hal yang bisa membuat hatiku berdegub tak karuan.

Perempuan kecil botak itu memanggilmu papah dan memeluk kakimu erat-erat.

Kamu mengangkat tubuhnya dengan riang, menciuminya tiada henti dan memeluknya dalam-dalam seakan tidak boleh ada siapa pun yang menyakitinya. Seolah angin pun dapat membuatnya terluka.

Semua gerakan itu seperti sebuah gerakan lambat dimataku. Begitu bahagia, begitu asing, and honestly it hurts me a lil bit.

Sialnya aku berada di tengah-tengah semuanya.

Umur putrimu hampir tiga tahun dan dia sudah bisa calistung. Kamu ucapkan itu semua dengan penuh cinta dan bangga khas seorang Ayah.

Rasa-rasanya itu wajar, duniamu berputar begitu sempurna. Kamu menikah, memiliki anak, dan kamu berbelanja bulanan seperti aktivitas manusia normal lainnya.

Sedang duniaku, entahlah. Aku sepertinya sudah tidak mengenal duniaku lagi. Aku hanya meneruskan hidup dan menunda kematian datang.

“Ini Tante Mel, teman Papa waktu kuliah dulu.”

I supposed to be your mother I guess, secara teknis jika kami masih berpacaran dan tidak ada satu perempuan gila yang terlalu terobsesi dengan masa depan, which is perempuan gila itu adalah aku, mungkin aku yang akan melahirkan anak untuknya. Mungkin, yeah mungkin.

Perempuan kecil botak itu tersenyum padaku, kemudian menempelkan jari-jari basahnya di rambutku yang telah lurus sempurna karena perawatan sepuluh step yang dianjurkan penata rambut langgananku. Lalu DIBASAHI BEGITU SAJA DENGAN LUDAH YANG CUMA TUHAN YANG TAU ANAK BOTAK ITU MAKAN APA SAJA.

Lalu aku hanya balik tersenyum, membuat suasana untuk tetap cair dan semoga saja kita akan tetap berbincang seperti ini.

“Di mana ibunya?”

Itu loh… perempuan jahat yang telah merebutmu dariku dan terakhir aku cek di Facebook, yang mana empat jam lalu, bahwa dia hanya perempuan biasa-biasa saja yang tidak pernah menonton Game of Thrones dan tidak mendengarkan Beatles sama sekali. Oh please.. siapa yang tidak suka Beatles?

“Dia sedang berbelanja daging dan ikan untuk pesta ulang tahun Mamah.”

“Oh iya hari ini adalah ulang tahun Mamahmu. Titipkan salam dariku. Aku merindukan sambal kentang goreng ati buatannya.”

“Ia masih menanyakanmu sesekali.”

“Ya sudah lama sekali. Lama sekali.”

“Terakhir puasa tahun dua ribu dua belas bukan? Saat kamu membantu Mamah membuat kue-kue lebaran yang entah dari mana kamu begitu jago. Kamu masih suka masak?”

“Kadang-kadang, jika lapar dan tidak punya cukup uang untuk makan di restoran.”

Kamu kembali tertawa, kini dengan tulus. Seperti dua orang yang dulu pernah dekat kemudian terpisah karena ada perang padri panjang dan akhirnya bertemu lagi di sebuah toko swalayan.

“Kamu mau menggendongnya sebentar? Makin lama ia makin berat.”

Entah kenapa aku patuh dan begitu saja langsung menggendongnya.

“Siapa namamu?”

“Melaney. Mel.. Melaney. Mel..” jawabnya berulang-ulang dengan suara kecil seraknya.

Aku menatapmu buru-buru dengan perasaan tidak karuan.

“You named your daughter by my name?” tanyaku tergugup-gugup.

Kamu tidak menjawabku. Kamu hanya diam dan menatapku begitu dalam dengan kedua mata coklatmu. Persis seperti pertemuan terakhir kita.

Tiga tahun lalu kamu menyempatkan mengirim pesan pribadi padaku, menanyakan kabar, meminta bertemu. Kamu ingin bercerita.

Sayangnya pesan itu terlalu menyesakkan, aku tak kuat bertemu denganmu. Aku memilih diam tidak menggubrisnya.

Siapa pula yang mau mendengar rencana menikah mantan kekasih yang diam-diam masih kamu cintai.

Namun kamu terus memaksa dan kita pun bertemu. Kamu begitu berubah, begitu asing, namun ciumanmu tidak. Masih dengan basah dan gerakan yang aku hafal betul.

Kamu mendorongku, meraba seluruh tubuhku, mengacak-ngacak rambutku. Kamu jilati seluruh tubuhku seakan aku es krim yang hampir hancur meleleh, tidak boleh ada satu senti pun yang lepas dari jeratanmu.

Aku berdesah nikmat, tidak ada satu pun di antara kita yang meminta ini berhenti. Dan itulah bagaimana aku mengingat bagaimana kita bertemu terakhir kali.

“Dari mana saja sih kalian berdua, Mamah cari-cari dari tadi.”

Layaknya sinetron murah di televisi, semua pertemuan spekta ini pun ditutup dengan kedatangan istrimu yang berjilbab dan begitu cantik. Perempuan yang dulu pernah terfikir untuk aku santet dan teluh lewat penyakit kulit.

“Kok digendong bukan sama Papah sih, Mel.”

Sambil tersenyum aku menyerahkan anak kalian pada perempuan itu.

Memori memang bukan kawan yang baik. Ia tidak membantu untuk meredakan dahaga, malahan membuatnya semakin subur. Dan kehadiranmu lengkap dengan semua kehidupanmu yang begitu nyata membuat dahaga itu menjadi racun yang menghentak terlalu keras.

Aku tidak sanggup. Aku harus pergi.

Detik kemudian aku hanya tersenyum sambil lalu dan menjauh tanpa mengucapkan apa pun. Meninggalkan keluarga bahagia itu. Meninggalkanmu sekali lagi.

Aku kembali pada troli belanjaanku, mengambil satu dua botol bir yang aku rasa perlu untuk malam ini. Menyerobot beberapa antrian Ibu-Ibu yang hanya menaruh troli penuhnya dan masih berkeliaran dibeberapa diskonan yang hanya berbeda seratus dua ratus rupiah saja.

Kamu sudah tampak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya ku akan berdiri saja mengantri di kasir yang paling penuh seperti manusia normal lainnya di tempat ini lalu pulang sambil menangis dan mabuk. Agar esok pagi tidak ada penyeselan yang tertimbun rapat pada sebuah kesepian seperti manusia normal lainnya yang baru saja bertemu mantan kekasihnya yang ternyata menamai anaknya seperti namamu.

Betapa klise hidup ini.

https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTYfrom: https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTY

Black Mirror S04 Dalam Sebuah Review

black-mirorr

Yang terbaik dari serial Black Mirror adalah ia dapat memberikan gambaran teknologi masa depan yang terintegrasi dengan canggih dalam kehidupan sehari-hari manusia namun tetap menyimpan twist yang sialnya malah berbalik menghancurkan manusia itu sendiri.

Season 01 sampai 03 Black Mirror berisi alat-alat yang bisa menjadi kritik sosial dari betapa manusia bisa terobsesi dan diperbudak dengan teknologi tersebut.

Dan juga Black Mirror bisa menjadi pengadilan moral yang membuat kita melihat bahwa satu orang biasa yang tadinya hidupnya baik-baik saja bisa terjebak dalam agony hidup hanya karena satu kesalahan fatal belaka. Bola salju itu bisa mengoyak sendi rahasia terkelam manusia tersebut dan pahitnya, membunuhnya.

Oleh karena itu Black Mirror begitu memikat karena ia bisa meramalkan kepongahan teknologi dan menghidupkan khayalan paling pahit dan najis dari seorang manusia yang memiliki nafsu dan amarah di tiap-tiap episodenya. (Yang sepertinya di dunia nyata kini sedang menuju ke arah sana. Seperti Trump menjadi seorang Presiden, bukankah itu khayalan paling pekat dari dunia Black Mirror?).

Maka di season 04 pertanyaannya adalah apakah Black Mirror masih memiliki magicnya?

Jawabannya adalah…

Menurut gue Black Mirror season 4 sepertinya bermain aman dan malah terjebak pada dikotomi baik dan jahat yang terlalu preaching. Yang mana di season-season sebelumnya mereka malah berhasil mengaburkannya dan itulah yang jadi poin memikat dari serial ini.

  1. USS Callister

landscape-1508343510-screen-shot-2017-10-18-at-171757

Seperti episode pertama USS Callister, teknologi yang dihadirkan seperti serupa yang ada di episode White Christmas. Sebuah games yang membuat orang memiliki semesta sendiri dalam pikirannya. Mengopi subtil kesadaran manusia.

Namun di episode ini motivasi si Kapten Robert yang menjadi peran antagonis di sini terlalu banal. Masa hanya karena sekadar sebal dengan orang kantor? Sudah? Begitu saja?

Tidak ada rahasia-rahasia memalukan dan tersembunyi dari kolega-koleganya? Foto sexy? That’s it? Tidak ada twist seperti pedofil dari seorang anak yang terlihat baik-baik di luar?

Terlalu sepele dan tidak Black Mirror banget. Ending konfliknya pun berakhir anti klimaks. Durasi episode terlalu banyak dihabiskan pada kebingungan Nanette Cole yang bertanya-tanya mengapa ia ada di permainan tersebut. Padahal kan dia bekerja di perusahan game tersebut.

2. Arkangel

black-mirror-arkangel

Ini episode yang paling apa banget deh. Gue udah siap-siap untuk melihat perubahan si anak kecil manis ini menjadi seorang psikopat atau apalah. Taunya ceritanya cuma soal si Ibu yang posesif dan nyebelin yang enggak bisa ngeliat anaknya tumbuh. Bahkan gue mengharapkan si Ibu jadi orang yang malah berbuat hal-hal yang menghancurkan dirinya dan anaknya. Tapi enggak, mereka cuma berantem, mati pun tidak dan kisah berakhir. Another anti-klimaks episode.

3. Crocodile

blackmirror_s4_crocodile_00309_v23

Judul dan cerita yang membuat gue berfikir apa kolerasi dan metaforanya. Enggak nemu sih gue irisannya apa. Buayanya di mana juga gue engga tau.

Tapi di antara semua teknologi yang ada di season 04, episode ini paling keren. Karena bisa memvisualkan memori masa lampau. Tapi kesan Black Mirrornya masih kurang kental, karena fitur teknologinya cuma sebatas trigger, bukan sebab-akibat dan menjadi awal masalah. Hanya sebatas transisi aja pada banality devil di karakter Mia.

Jatohnya ini jadi cerita kriminal biasa dan engga seberkesan seperti episode Hated in Nation yang juga padahal cerita crime namun bisa dibungkus dengan lebih futuristik dan ironis.

4. Hang the DJ

lead_960

Padahal episode ini berpotensi seperti episode San Junipero, tapi sayangnya cerita terlalu lama berputar pada jalinan tanpa ujung dari “the System”. Seperti tinder namun sudah mengharuskan pasangannya mengiyakan pilihan dari sistem tersebut dan pahitnya harus terjebak selama masa expired yang ditentukan sistem tersebut.

Tidak ada romansa sehangat San Junipero dan tidak ada percikan emosi yang mendalam dari kedua karakter utama. Kesamaan mereka berdua hanya karena mereka dua orang yang sama-sama suka melontarkan jokes belaka dan merasa bosan dengan pilihan pasangan yang disuguhkan si sistem.

Selebihnya tidak ada yang menarik dari episode ini.

5. Metalhead

metal-head

Gue sih suka ya sama episode yang ini, semacam pasca kiamat gitu dan hanya menyisakan manusia yang melawan robot anjing yang bisa mengeluarkan senjata dari tubuhnya. Misi robot sialan itu cuma satu: Membasmi manusia.

Dengan kemasan hitam putih emosi yang ditunjukkan Bella, si manusia yang berjudi dengan maut, bisa terekam dengan sempurna. Bagaimana ia menggerakan seluruh gesture dan melihat ia benar-benar sendirian dan terluka.

Kita dapat melihat betapa capek dan mencekam hidupnya si Bella dalam berjuang melawan dan menghindar dari robot anjing tersebut. Pilihan yang tersisa untuknya hanyalah membunuh atau menyerah dan mati.

6. Black Museum

Penutup yang ok! Semua hal di episode ini baru berasa Black Mirror banget. Twist-twist di akhir yang enggak kebayang dan teknologi-teknologi yang niatnya membantu malah menghancurkan dihadirkan di sini.

Kritik sosial pun diargumentasikan juga dengan baik. Membuat gue sebagai penonton ikut tersenyum dan tertawa girang saat layar laptop menjadi gelap dan melihat misi si karakter utama berhasil dilaksanakan.

BlackMirror_S4_Museum_00239_V1.0

Meskipun tidak sesuai ekspektasi karena tingginya pencapaian estetik, cerita, dan emosi di season-season Black Mirror sebelumnya. Season 04 ini masih layak lah untuk ditonton di episode 5 dan 6.

Gue sih masih nunggu buat nonton Black Mirror di season tahun berikutnya.

Apakah kritik-kritik satir itu tetap ada dan menghantui para penontonnya yang begitu dekat dengan teknologi yang pada akhirnya malah mengaburkan makna teknologi itu sendiri.

Apakah mereka ada untuk membantu atau malah menghancurkan?

10+1 Film Indonesia Terbaik dan Terfavorit 2017

Menurut versi saya yang saya saksikan di bisokop sepanjang tahun 2017 ini.

2017 patut dirayakan karena tahun ini banyak sineas-sineas yang melahirkan film-film Indonesia berkualitas secara teknis dengan cerita yang menarik dan dibarengi dengan animo penontonnya yang masif.

Nyatanya film indie yang selalu dikaitkan dengan penonton festival ternyata di tahun ini bisa disaksikan oleh banyak masyarakat umum (seperti para pekerja kantoran biasa seperti saya, mahasiswa yang iseng sambil menunggu jam kuliah, atau bapak dan ibu saya yang jarang nonton film ke bioskop) di teater mainstream pula yang hasilnya ternyata berhasil dinikmati oleh mereka semua.

Juga film populer dengan penonton terbanyak bukan lagi didonimasi oleh film-film cacat logika dengan tema basi yang itu-itu saja dengan penyutradaraan sinetron yang dipaksakan hadir di layar lebar (bukan berarti sinetron itu jelek, namun kembali lagi ke konteks orang membayar untuk menonton sebuah film, mereka mengharapkan penggarapan yang bukan bisa mereka dapatkan secara gratis di televisi, you know what I mean right?).

Jadi mari saya berikan sepuluh list film Indonesia yang mewarnai bioskop tanah air dan menjadi topik pembahasan menarik di sosial media dan grup whatsapp untuk nobar sepanjang tahun 2017 ini.

  1. Pengabdi Setan (Joko Anawar)

cover-film-pengabdi-setan_20171015_120935

Ibu datang lagi.

Tiba-tiba di bulan Oktober 2017 kata-kata itu menjadi sesuatu yang menyeramkan terlebih diiringi bunyi lonceng dengan permintaan menyisirkan rambut.

Yang sudah menonton film Pengabdi Setan pasti mengerti hal-hal yang saya sebutkan barusan. Karena film Pengabdi Setan remakenya Joko Anwar tidak hanya menakuti hampir seluruh negara Indonesia di tahun 2017 ini, namun juga mendorong geliat para penonton film Indonesia untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, berteriak bersama, dan setelahnya membahas film ini tanpa henti baik di dunia nyata maupun di internet. Saya pun ikut mereviewnya di sini.

Gegap gempita Pengabdi Setan berhasil melahirkan ribuan meme-meme lucu yang bertebaran di media sosial. Tak pelak menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris dan fenomenal tahun ini.

2. Posesif (Edwin)

poster-posesif

Posesif mengangkat isu kekerasan domestik dalam berpacaran ke permukaan dengan eksekusi yang jempolan. Visual, musik, cerita juga akting para pemainnya memberikan kekuatan yang membuat film ini lebih dari sekadar nyata, namun juga menghantui. Edwin dan Puteri sangat pantas memenangkan kategori Sutradara dan Aktris Utama Terbaik di FFI 2017 lalu.

Yang terbaik dari film ini tidak hanya menjadikan film Posesif sebagai film remaja yang bernas namun juga penting. Saya membuat review lengkapnya di sini.

3. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo)

turah

Turah adalah gambaran terdekat dari realitas masyarakat kecil dalam kelas sosial pinggiran Indonesia. Film ini bertutur dengan narasi yang akrab lewat penggunaan bahasa Tegal di sepanjang film, sekumpulan aktor-aktor lokal, dan isu yang diangkat pun adalah sesuatu yang memang menjadi masalah paling ril dalam lingkup sosial tersebut; kemiskinan dan jerat penguasa.

Film ini menyimpan lapisan masalah yang lebih kompleks dalam argumentasi dan narasi mendalam lewat karakter Jadag yang peka akan dominasi relasi kekuasaan sang bos juga politik premanisasi para anteknya di kampung Tirang yang ia tinggali.

Ia menggugat itu dan Turah berada di tengah-tengahnya dengan kondisi yang dilematis. Di antara ingin meluruskan atau melupakan. Konflik berjalan dari sana dengan akhir adegan yang mencekam juga tragis.

Menonton film Turah buat saya seperti membaca cerita-cerita karya Mas Eka Kurniawan yang memiliki ketajaman kritik sosial dibalut dengan visual kekumuhan yang solid, membekas dan menusuk di akhir.

Pada resolusi penghujung film saya sebagai penonton seolah dibawa untuk menyaksikan gambaran kulit asli manusia. Mereka yang lebih memilih keamanan dirinya sendiri dibanding konsep-konsep besar akan kesetaraan sosial yang ideal.

Film Turah memiliki eksekusi luar biasa hingga tanpa sadar saya melupakan fakta bahwa ini hanyalah film fiksi, namun pemaparannya terasa seperti dokumentasi paling nyata yang pernah ada di Indonesia.

4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Mouly Surya)

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Awalnya saya melihat film Marlina sebagai sesuatu yang anti klimaks dalam segi cerita. Tidak ada yang meragukan kekuatan sinematografi dan akting di dalamnya. Namun untuk penceritaan tiap babaknya film ini seolah tidak mendeliver kisah yang semencekam para reviewer luar negeri tulis yang saya baca di internet.

Namun setelah diskusi panjang dan tentu juga ngotot dengan teman saya, akhirnya saya sadar bahwa penceritaan Marlina sesuatu yang bersifat simbolis dari sudut pandang perempuan. Atau jika lebih sempit lagi, Perempuan Sumba secara khusus.

Ada kesunyian yang mencakar lewat keteguhan dan kelembutan tindakan Marlina yang tidak terburu-buru dan non eksploit, pasti hasilnya akan berbeda jika Marlina adalah seorang laki-laki.

Banyak adegan-adegan yang menonjol di film ini, seperti Marlina yang menenteng-nenteng kepala tawanannya, adegan buang air kecil Marlina dan Novi, adegan kebebalan polisi dalam menanggapi kasus Marlina, dan yang paling membekas buat saya pribadi adalah saat Novi melawan suaminya yang menuduhnya main serong dengan laki-laki lain.

Akting Dea begitu prima. Dan membahas Marlina tidak hanya akan berhenti pada gambaran indah Sumba, namun juga ketidakadilan dalam dunia perempuan yang entah sampai kapan akan selesai.

Dan Mouly Surya di film ini menegaskan bahwa suara dalam filmnya akan semakin nyaring dan kuat. Mouly masuk dalam sutradara terbaik di Indonesia yang saya selalu tunggu kehadiran filmnya. Review lengkap Marlina saya tulis di sini.

5. Night Bus (Emil Heradi)

Night-Bus-BookMyShow-5-e1491466474614

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017 dan sebagai penonton awam sayangnya saya melewatkan kehadirannya di bioskop April lalu. Untungnya film ini diputar ulang setelah kemenangannya di FFI kemarin.

Dan setelah menonton filmnya saya setuju dengan pemilihan Night Bus sebagai film terbaik tahun ini, kekuatan filmnya tidak hanya datang dari cerita mencekam perjalanan para penumpang menuju Sampar, namun juga sentuhan-sentuhan kekerasan yang mengguncang kesadaran politik para penontonnya.

Review lengkapnya saya tulis di sini.

6. Ziarah (B.W. Purba Negara)

ziarah

Yang terbaik dari 2017 adalah keanekaragaman tema cerita film yang diangkat, di Ziarah tak hanya ceritanya saja yang unik namun juga pemain utamanya Ponco Sutiyem yang telah berusia 95 tahun.

Mbah Ponco berakting dengan sangat prima di film ini. Kegetirannya, pengharapannya, dan perjuangannya mengalir dengan indah dan menyentuh tiap-tiap yang menontonnya.

Kisah Mbah Ponco begitu satir dan masam di akhir, sesuatu yang menjadikannya begitu istimewa.

7. Susah Sinyal (Ernest Prakasa)

poster-susah-sinyal.jpg

Setelah kesuksesan film Cek Toko Sebelah Ernest Praksa mengangkat tema keluarga yang lebih kosmopolitan. Jurang antara kesibukan seorang working mom dan puteri milenialnya.

Meskipun inti cerita sempat goyang di seperempat akhir film dan mengaburkan konflik relasi antar anak dan sang ibu yang kurang dalam. Dan Ernest masih terjebak dengan jokes-jokes seksual yang sebenarnya tanpa hal tersebut jalinan cerita Ernest masih mengalir enak. Untungnya di penghujung film ini pada akhirnya berhasil menyatukan puzzle-puzzle di awal film dengan hangat dan jenaka.

Beruntung sekali Ernest memiliki Adinia Wirasti dan segenap pemeran pendukung komedian lainnya yang tidak hanya menghidupkan film Susah Sinyal, namun juga menjadikan Susah Sinyal memiliki komedi timing yang lebih rapi dibanding film-film dia sebelumnya.

Secara personal film Susah Sinyal menjadi film komedi favorit saya tahun ini. Karena kapan lagi saya bisa membawa satu keluarga saya menonton film yang tidak perlu saya jelaskan jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Film Ernest dapat dinikmati sebagai hiburan semata yang bisa masuk ke segala aspek kelas dan umur.

Saya sangat menunggu kisah-kisah keluarga komedi ala Ernest di tahun-tahun berikutnya.

8. Istirahatlah Kata-Kata (Yosep Anggi)

Istirahatlah Kata-Kata

Kontroversi film Istirahatlah Kata-Kata muncul di postingan teman-teman saya yang aktivis dan pemerhati sastra. Bagi saya yang mengenal Widji Tukul hanya sepotong-sepotong, tentu saja berbahagia dapat melihatnya di layar lebar. Cerita pengasingan Widji Tukul menjadi fokus dari sang sutradara. Debat terjadi di sana, karena mereka-mereka yang mengenal Widji Tukul lewat kobaran perjuangan dan kedekatannya dengan rakyat kecil tidak terwakilkan dalam film ini. Bahkan terasa sangat jauh dimulai dari pemutaran film ini yang hanya ada di bioskop-bioskop mahal ibu kota.

Saya melihat film ini sebagai tontonan yang indah dan mengugah. Akting yang kuat pun dideliver dengan sangat apik oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita.

Karena secara pribadi lewat film ini saya dapat melihat fragmen Widji Tukul yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Memang tidak adil rasanya hanya melihat sosok penting itu dalam satu film saja. Namun terlepas dari kontroversi serta kontranya, sejujurnya saya menghargai semangat kreatornya yang berani mengangkat kisah sang pejuang kata-kata di masa rezim orde baru ini.

9. Banda (Jay Subiakto)

banda

Mendengar tiga maestro visual Indonesia bekerjasama dalam proyek film yang mengangkat kisah dan sejarah pulau Banda tentu saja menjadikan film ini masuk dalam daftar wajib nonton saya.

Jay Subiakto, Oscar Motuloh, dan Davi Linggar membuat film dokumenter panjang ini dengan gambar yang memberikan orgasme visual paling mantap yang pernah ada.

Permainan cahaya, komposisi objek, warna, dan animasi grafis di dalamnya membuat film ini begitu kaya dalam segi konten dan narasi.

Sangat disayangkan tidak banyak yang mengetahui film ini, karena ada sejarah menarik yang juga kelam terjadi di Pulau Banda. Pulau yang menjadi saksi bagaimana Indonesia menjadi seperti sekarang ini.

10. My Generation (Upi)

Film My Generation 2017

Milenial dan sosial media adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Fenomena generasi head down diangkat oleh Upi sebagai cerita film teranyarnya yaitu My Generation. Fashion, pemain-pemain baru yang fresh, juga set yang vibrant dan energetik menjadikan film ini terasa sangat muda dan menangkap problem di eranya saat ini.

Kisah dysfunctional orang tua vs anak menjadi isu besar dalam film ini. Namun bukan Upi namanya jika tidak mampu mengemasnya menjadi tontonan yang lucu, engaging, dan pop banget.

Saat menonton film ini saya sebagai penonton serasa menyelami dunia anak-anak milenial dengan sangat dekat dan intim.

Salah satu film favorit saya dari Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta. Saya membuat review lengkapnya di sini.

Plus 1

Bukaan Delapan (Angga Dwimas Sasongko)

img_20170227_133322

Entah kenapa tidak banyak yang membahas film ini, bahkan masuk nominasi FFI pun sepertinya tidak. Padahal film Bukaan Delapan adalah film Angga yang bisa saya nikmati secara tulus dan nyaman tanpa harus terganggu dengan dialog aneh dan pemaksaan pemunculan karakter-karakter seperti di film Filosofi Kopi 1-2.

Film Bukaan Delapan terasa sangat personal dan dekat dengan penontonnya. Bahkan akting Chico Jeriko yang nyebelin pun bisa jadi lovable banget. Perjuangannya untuk membuktikan dirinya pada istri dan keluarganya adalah cerita paling romantis dan sentimentil di tahun 2017 ini.

Jokes-jokes di dalam film ini pun terasa pas pada tempatnya. Sarah Sechan tentu saja yang paling lucu sebagai seorang Ambu yang posesif dan sok.

Terlepas dari keabsenan festival-festival yang melihat film ini sebagai sebuah film cinta dan film yang decent secara keseluruhan pembuatannya di 2017 ini, buat saya pribadi film Bukaan Delapan memiliki tempat spesial sendiri yang berkesan di list saya ini.

Enggak sabar untuk menyaksikan film-film Indonesia keren lainnya di tahun 2018 nanti. Terima kasih juga untuk para kreator-kreator film Indonesia yang telah mencurahkan sepenuh hati, tenaga, dan waktunya untuk membuat film-film yang tidak hanya bagus namun juga mencerahkan bagi para penontonnya.

Mari dukung film-film Indonesia dengan menonton di bioskop di minggu-minggu pertama! (soalnya takutnya diturunin sama bioskop)

p.s: Dan film-film yang bagus aja sih sebenarnya hehe

Dan akhir kata selamat tahun baru 2018 ya buat teman-teman semua.

Cerita Tentang Kehidupan Sosial Media

1_YH5NTrbpgIwSKiOznqcOww
Photo credit: Lance Hossein Tagestani, Nadine Klingen, Lode Woltersom, Dionne Cats, Suleiman Alaoui, Wies Hundling, Elsemieke Uijen and Chiara Aerts.

Sebagai netizen ranting retweet dan repost meme-meme tidak berfaedah juga garing namun ku suka, ada beberapa hal yang membuat gue lama-lama khawatir dengan aktivitas internet akhir-akhir ini.

Dengan Facebook membeli Instagram dan akhirnya merubah alogaritma feed Instagram menjadi seperti Facebook, lama kelamaan gue merasa melihat diri gue seperti hidup dalam bubble yang dipilih oleh orang lain untuk gue jalani tiap harinya.

Apa yang gue lihat dan baca setiap kali buka sosial media adalah sesuatu yang sudah terfilter dengan sendirinya oleh satu mesin yang merasa beberapa hal yang gue cuma sekali dua kali ‘like’ dan ‘komentar’ adalah sesuatu yang menjadi interest gue luar dalam. Data-data behavior internet gue terekam dan mesin itu akan memberikan referensi konten-konten yang ‘mereka pikir’ adalah gue banget.

Padahal faktanya yang namanya sesekali bukan berarti itu yang mau gue lihat tiap hari juga kali bung!

Sekarang setiap buka Facebook dan Instagram gue jadi jarang ngeliat orang-orang yang memang dekat sama gue, alih-alih malah orang-orang asing dan beberapa teman yang ga begitu dekat namun karena asas gue pernah like satu dua kali mungkin foto bayi atau suatu aktivitas sosial media mereka dulu banget. Berakibat gue terpaksa jadi tau banget update paling mikroskopik akan hidup mereka. Padahal enggak perlu-perlu amat loh.

Dan impactnya? Gue kehilangan momen dan kabar dari orang-orang yang memang dulu jadi alasan utama gue untuk bikin Facebook. Inner circle gue. Semua itu terkikis karena beberapa dari mereka jarang update sosmed, dan platform-platform macam Facebook dan Twitter berpikir mereka enggak relatable buat gue. Hello…. gue malah penasaran sama yang itu dibanding si xxxxx yang suka pamer bayinya yang baru bisa cebok sendiri.

Terkadang gue pun jadi merasa asing dengan kehidupan sosial media gue.

Tanpa sadar gue mengizinkan hal ini terjadi dalam hidup gue karena gue pun tidak punya kuasa atas akun gue sendiri. Salahnya juga adalah gue yang sudah terlanjur ketergantungan dengan sosial media ini merasa apa yang beredar di dalamnya adalah sesuatu yang lebih penting ketimbang apa yang terjadi di dunia nyata. Gue berperan di dalamnya.

Gue masih inget banget ketika dulu Twitter masih begitu booming dan berpengaruhnya di tahun 2008-2011, gue dan teman-teman kampus yang rajin ngetwit dan rumpi di sosial media pasti akan merasa risih ketika hal yang kita bahas di Twitter kebawa pada ranah dunia nyata dan sehari-hari.

Kita akan geli sendiri ketika ada yang bahas hashtag atau jokes yang kita sering pakai di Twitter. Apa yang terjadi di twitter, stay di twitter kali ah.

Namun setelah enam tahun berlalu, batas antara dunia nyata dan dunia di sosial media jadi sesuatu yang bias.

Bahkan dulu ada anekdot bahwa setiap orang harus punya dua nama, nama asli dan nama akun twitter. Kini persona itu berubah menjadi satu tubuh. Avatar pun menjadi nyata. Internet benar-benar telah menjadikan kita semua warganya mau tidak mau. Secara kasual kita menjadikan internet bagian hidup terpenting dan terprivat yang tak terpisahkan.

Kita bisa lebih ekspresif, berani, bahkan bodoh di sosial media.

Masalah yang bersinggungan di sosial media kini bisa berujung panjang dan pahit di dunia nyata. Meski kadang ada yang berbuah manis, namun di bubble gue sekarang sepanjang apa pun yang gue lihat adalah pertarungan kata-kata kasar dan argumen-argumen yang membuat polusi pikiran. Bikin eneg.

Tiap-tiap orang merasa suara dan pendapatnya adalah yang paling penting dan wajib untuk semua orang tahu. Padahal yang namanya lapisan sosial bakal ada aja gesekan, pasti ada perbedaan. Karena tiap orang memiliki standar mereka sendiri, taste mereka sendiri, it doesn’t mean ketika satu opini elo ditentang oleh sebagian orang itu artinya mereka adalah haters atau ngajak berantem.

Ya mungkin simply karena mereka hidup dengan definisi yang berbeda yang kebetulan aja sekarang berbagi ruang yang sama di internet sama elo. Jadi jangan sewot dan merasa ini rumah aing terserah aing. Karena masalahnya tiap orang yang pakai internet bisa punya akses buat lihat jejak digital elo.

Kejadian yang paling menjengkelkan tentu saja kalau melihat ada orang yang mulai bawa isu SARA dengan ucapan kasar dan merendahkannya itu. Gue yang labil dan drama ini tentu saja kepancing untuk komentar. Ujungnya? Ya, perang bacot.

Percaya deh, di awal-awal pasti sangat sulit untuk menghindari dorongan untuk tidak berkomentar. Pasti gemas ngeliat kebodohan-kebodohan yang berseliweran. Tapi akhirnya gue sadar bahwa meladeni itu semua hanya buang-buang waktu, energi, dan kuota.

Untungnya kini di Facebook sudah ada fitur unfollow namun tetap bisa berteman demi asas masa lalu dia orang yang baik namun kini dia berubah jadi orang yang layak untuk dihindari.

Selain ketiadaan sopan santun di internet yang meresehakan lagi adalah fenomena orang-orang yang terobsesi dengan angka-angka like, followers, dan komentar. Metriks-metriks itu yang akhirnya membuat alogaritma bekerja dan menentukan bahwa hal-hal tertentu menjadi penting dan viral. Terlepas penting tidak pentingnya postingan tersebut.

Padahal secara konten apa yang sebenarnya jadi advokasinya?

Akhirnya, yang menyedihkan adalah semua angka itu kini jadi yang paling matter dalam sebuah kesuksesan seseorang di internet. Mereduksi hal besar menjadi pertanyaan, berapa nanti yang ngelike? Berapa followersnya? Berapa yang bakal reach kontennya?

Angka-angka dan kepopuleran semu itu akhirnya mencungkil sesuatu yang paling penting. Untuk apa konten itu dibuat dan akan berpengaruh seperti apa nantinya? Akankah merubah sesuatu?

Sudah banyak sekali contoh nyata beberapa orang yang melacurkan dirinya demi genapnya kenaikan jumlah angka-angka like dan followers di sosial media mereka. Kita semua diperbudak oleh itu semua.

Kapan terakhir kali bisa ngobrol tanpa semenit dua menit enggak ngeliatin gadget? Kapan terkahir kali bisa makan tanpa harus pusingin nanti make filter foto apa dan pake quotes sok pinter dan nginggris yang mana lagi? Kapan terkahir kali jalan-jalan santai tanpa harus mikirin ganti-ganti baju demi ootd dan benar-benar nikmatin suasana, manusia, dan lingkungan yang disekitar?

Gue tau sosial media juga penting, hence ironisnya gue bahkan dapet duit dan kerja di bidang sosial media. Namun gue sadar, kini sosial media berubah jadi monster yang pelan-pelan makan kewarasan dan kepedulian kita sebagai manusia. Bukan lagi jadi sarana silaturahmi dan cerita-cerita sharing bermakna lagi.

Maka dari itu, lewat gegap gempita dunia internet juag sosial media yang sangat bising akhir-akhir ini. Terkadang gue berfikir, obsesi mencintai diri sendiri yang berlebihan, bibit-bibit fitnah dan kebencian yang sudah terlanjur menggunung dan ditelan mentah-mentah oleh banyak orang, akan seperti apa ya ujungnya nanti?

Apakah ini semua berakhir seperti di salah satu episode epik Black Mirror? Ketika teknologi, internet, dan sosial media menjadi pisau tajam yang tak lagi membantu namun hanya menjadi alat destruktif yang melukai dan menghabisi apa pun  yang tidak seirama dengan tujuannya.

Akankah itu terjadi dalam waktu dekat? Atau yang menakutkan adalah sebenarnya itu semua sudah terjadi dan gue terlambat untuk menyadarinya.

Review Film Wonder: So Goooooood!

Wonder-TWITTER-FB-OG

Setelah film Coco yang menguras air mata dengan lagu Remember Me, di Desember ini ada lagi lho film yang bisa bikin hati yang dingin jadi lumer lagi, in a good way of course. Film itu bernama Wonder diangkat dari novel laris dengan judul yang sama.

Wonder bercerita tentang seorang anak kecil bernama Auggie yang memiliki penyakit bernama “mandibulofacial dysostosis“. Sebuah penyakit yang membuat kondisi wajahnya berbeda dengan anak-anak seumurannya.

Orang tua Auggie sejak dini sudah membuat bubble untuk menjaga Auggie, yaitu berupa home schooling. Namun orang tua Auggie merasa bahwa Auggie perlu keluar dari bubblenya tersebut dengan mulai bersekolah dan bersosialisasi di sekolah umum seperti anak-anak seumuran lainnya.

Turbulensi itu tentu saja membuat jungkir balik dunia Auggie dan keluarganya.

Dapatkan Auggie bertahan di antara anak-anak lainnya dengan kondisi Auggie yang seperti itu?

Dari sana sudah tahu dong akan seperti apa dramanya. Meski jalan ceritanya sudah jelas arahnya, penyajian film Wonder lah yang jadi keunggulannya.

Wonder menghadirkan kisah dan suara sendiri dari masing-masing karakter dalam film tersebut. Semua kepedihan dan pergolakan batin tiap-tiap karakter dibredel satu persatu untuk memberikan alasan sebab-akibat dalam tiap-tiap tindakan mereka di film tersebut.

Film Wonder begitu hangat dalam presentasinya, pasti kamu akan merasakan sesaknya dada kamu saat menyaksikan bagaimana masing-masing orang yang dulu membully Auggie berbalik arah membela dirinya.

Atau tentang bagaimana ketulusan hati seorang anak kecil yang mau menemani Auggie makan siang tanpa alasan apa pun.

Kisah-kisah dalam film Wonder mengajarkan bahwa jika ada dua pilihan di antara menjadi benar dan menjadi baik, pilihlah menjadi si baik. Karena kita tidak tahu bahwa satu kebaikan dari diri kita akan membawa kebahagian untuk seseorang.

8e43277d39528afd10daedf8dd93a037--fun-house-th-grades

Kisah-kisah karakter Wonder memang se-klise itu; kakak yang tidak diperhatikan orang tua karena ada si adik yang butuh ekstra penjagaan, sahabat yang berubah karena popularitas di sekolah, juga lika-liku pertemanan khas anak kecil yang dibumbui rasa kecewa.

Tapi sekali lagi, Wonder membuatnya menjadi sangat menarik karena cerita di sana dibuat begitu manusia dan dekat dengan penontonnya. Maka haru biru dan kehangatan cerita di akhir film dapat terhantarkan dengan sempurna.

Film Wonder pun tidak melulu tentang drama Auggie saja, ada gambaran besar yang perlu kita bahas lebih dalam selepas keluar dari pintu bioskop. Yaitu tentang bullying. Bullying is not cool. Tapi seberapa banyak dari kita yang mau stand up dengan isu tersebut. Entah saat kita menjadi si korban atau pun saksi di dalamnya.

Jelas sekali film ini mengargumentasikan hal tersebut. Tidak ada satu orang pun yang berhak untuk merendahkan satu orang lainnya. Dan yang kerennya lagi, stakeholder di sekolah dalam film Wonder digambarkan sebagai support system yang siap memberantas bullying itu sendiri.

Menurut gue hal tersebut menjadi tambahan konten yang mendidik dalam film Wonder.

Kita semua pun dapat melihat bahwa Wonder ingin mengingatkan kita bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan sebagai manusia adalah menerima diri kita sendiri. Apa pun konteksnya. Sejelek apa pun omongan orang tentang fisik dan sesuatu yang bersifat dari sananya, mau tak mau kita berdamai dengan diri kita. Karena jika terus nunduk dan malu dengan apa yang kita punya, semuanya ga ada ujungnya say.

Pasti ada aja yang kurang. Jadi ya sudah aja lah, elo yang harus jadi orang pertama yang jatuh cinta sama diri elo sendiri. Stand up and fight for yourself!

Tapi lain cerita ya kalau emang sifat elo nyebelin dan ganggu orang-orang ya elo perlu berubah dong.

Anyway, karakter favorit gue adalah Jack Will.

Screen Shot 2017-12-13 at 1.17.04 PM

Selain kiyut, dia pun memiliki peringai yang lovable banget (gedenya calon-calon cakep sih ini). Pun akting anak-anak kecil di film ini bagus-bagus banget. Jadi berasa pengen jadi anak kecil lagi terus main sama Auggie, Summer, dan Jack Will.

Scorenya: 5/5. Jangan lupa bawa tisu saat menonton.

 

Figuran Jakarta Punya Podcast!

Berawal dari kegigihan gue untuk membuat brand sendiri bernama Figuran Jakarta, setahun yang lalu akhirnya gue membuat blog ini yang mana niat awalnya adalah mengisinya dengan cerita-cerita curhatan dari para teman-teman perantauan yang tinggal di Jakarta beserta lika-liku dan dramanya.

Nyatanya, ternyata teman gue ga banyak-banyak amat juga dan curhatannya itu-itu aja. Jadi jaranglah gue update blog ini. Tapi sebenarnya gue males aja sih. Haha. Jadilah blog ini cuma gue isi dengan review-review film ala ala saja.

Kemudian di suatu malam yang dingin karena hujan yang tak kunjung reda bertemulah gue dengan Kaka Nat, Bangkit, dan Epen yang randomly berteduh di sebuah coffee shop sepi namun nyaman di bilangan Kemang.

Dari obrolan ngalur ngidul tersebut akhirnya kami memutuskan untuk mendokumentasikan obrolan halu ini. Isu yang dibahas tentu saja tentang drama kehidupan para buruh kerah putih perantauan di Jakarta bagaimana bisa bertahan hidup dari bulan ke bulan.

Kami juga bercerita bagaimana akhirnya kami datang ke Ibu Kota ini yang katanya lebih kejam dari Presiden Trump. Semua kami ceritakan secara nyablak dan tak beraturan. Lebih banyak bersenda gurau dan tertawa riang dan lupa apa yang kami omongin sih.

Ya namanya juga buruh kurang hiburan ye kan. Ada yang lucu dikit kita ketawain aja lah.

Kemudian juga karena dari kami semua ga ada yang cakep dan bisa ngedit video, maka channel soundcloud jadi pilihan kami untuk merekam obrolan kami, soalnya pendokumentasian mudah. Modal ngerekam di handphone saja semuanya beres.

Dan di hari Kamis tanggal 07 Desember 2017, resmilah kami membuat seri podcast #FiguranJakarta tentang cerita manis, asam, asin, dan kepahitan-pahitan akan dunia perburuhan serta drama kumbara di dalamnya.

Siapa tau cerita-cerita kami dapat menghibur atau bikin kesel, ya sudah aja lah, namanya juga usaha. Tapi tetep dengerin ya please..

Jadi jangan lupa like, comment, dan subscribe (padahal gue ga tau juga cara kerja soundcloud tapi pengen ngomong gini aje).

Sampai ketemu di podcast-podcast halu lainnya.

Wassalam!

PODCASTNYA DI MARIH LOH BISA DIDENGER PEMIRSA YANG BUDIMAN!

Review Film Coco: Remember Me

Pixar-Coco-2017-Movie-1509202144-1509202146

Cuma ada satu kata yang menggambarkan film ini: BAGUS BANGET! Eh dua kata deng.

Gue sedih loh pas nonton film ini, mungkin karena tema film keluarga adalah kelemahan gue. Apalagi kalau karakter utamanya anak kecil. Ai cry dong pas doi nyanyiin lagu remember me buat mama coco. Sampai orang yang disamping gue ngasih tisu buat gue aja. Sad abis.

Lagu remember me juga kacau sih enak banget, gue udah dengerin lima hari berturut-turut masih belom bosen-bosen. Anaknya emang obsesif impulsif kak.

Tapi asli ya Pixar tuh emang jagoan banget bikin film yang tear jerking gini. Di Toy Stories 3 ai cry, Inside Out ai cry juga sih.

Memang kebaca sih pattern cerita film Coco, ketebak banget bahwa si kakek yang asli pasti bukan si penyanyi beken itu. Tapi the way mereka bercerita tuh yang bikin baper. Ditambah lagu-lagu yang mengisi scene-scene dengan indah. Komplit sudahlah.

Tapi buat gue yang paling sedih dari film ini tuh lagunya sih. Ya si Remember Me ini. Ini kan inti dari semua narasi film di dalamnya, ketika bokapnya si Mamah Coco cabut buat ngejar mimpi dan dia cuma minta satu.. Remember Me.

Fak! Ai cry lagi.