Review This is Us Season 1 & 2: Dalam Sebuah Perspektif Personal

Screen Shot 2018-03-28 at 1.41.51 PM
pic from https://www.goodhousekeeping.com/life/entertainment/news/a48183/this-is-us-season-3/

Sebenarnya sudah direkomendasiin sama Kak Teppy dari setahun lalu, namun entah mengapa baru punya waktu tahun ini aja.

Daaaaaaan series ini bagus. Banget. Titik.

Setiap manusia pasti punya luka masa lalu yang akhirnya memberikan efek tersendiri di kehidupan mereka ke depannya.

Dengan premis tersebutlah series This is Us bergerak dengan begitu indah, memikat, juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi mereka yang memiliki pengalaman yang sama seperti pemain-pemain di dalamnya.

Series ini dengan apik menggambarkan hubungan antar manusia sebagai keluarga yang tumbuh bersama-sama dengan begitu detail sampai saya sebagai penontonnya merasakan keterikatan emosi dalam perubahan nasib dan pengembangan karakter sepanjang series berjalan.

Kejeniusan sang kreator dan penulis series ini dapat dilihat lewat pembagian scene dan cerita yang tidak linear namun bertumpu pada satu titik trauma misterius yang dihadirkan maju mundur dan selalu dihindari untuk dibicarakn oleh masing-masing anak di dalam keluarga ini.

Namun seperti halnya misteri lain dalam hidup, di tiap episodenya pedih dan misteri yang bercongkol terus mendesak untuk diselesaikan atau akan menghancurkan semua yang ada di ‘present moment’.

Dan itulah kekuatan dari series ini. Saya bisa nangis ambyar se-ambyarnya macam selang air setiap menyelesaikan episode-episode di series ini.

Kalau kamu-kamu tipe yang suka disakitin dengan cerita-cerita tear jerky, series ini cocok banget buat kamu.

Screen Shot 2018-03-28 at 1.45.18 PM
pic from https://www.nbcnews.com/better/health/6-important-relationship-lessons-we-can-all-learn-us-ncna802341

Topik besar dari series ini adalah gambaran dua karakter utamanya yaitu Jack dan Rebecca dalam membangun keluarga kecil mereka dari nol sampai anaknya tumbuh sebagai manusia dewasa.

Dan namanya juga hidup ya, pasti ada saja masalah-masalah di dalamnya. Namun serius, menonton series ini saya seperti sedang dalam sesi self healing. Karena isu-isu yang dihadirkan di series ini adalah sesuatu yang kebanyakan orang alami sebagai seorang anak maupun manusia secara keseluruhan. Dan selama satu jam saya dihadapkan dengan begitu larut lewat memori-memori usang yang telah lama ditekan, dilupakan, dan kini mendesak untuk didamaikan.

Fiuh, nonton series tidak pernah seberat ini.

Ketidaksempurnaan adalah Kesempurnaan

Jack sebagai seorang Ayah dan Suami dalam series ini terlihat sebagai manusia super sempurna di mata keluarga kecilnya.

Dan sebenarnya memang Jack seberusaha itu untuk menjadi sosok sempurna tersebut. Kita sebagai penonton akan dibuat terharu ketika melihat perjuangan Jack saat harus memutar otaknya untuk menyelesaikan masalah ‘papan’ keluarganya. Karena pada awalnya saat Rebecca hamil dia memperkirakan anaknya hanya akan ada satu. Tapi setelah beberapa bulan ia terkejut mendapati fakta bahwa ia akan memiliki TRIPLET. Bayangkan, sudahlah DP rumah awal hangus karena sudah pasti rumahnya saat lahiran enggak bakal muat, ditambah dia masih harus mencari uang tambahan untuk beli rumah baru lagi.

Namun Jack berusaha untuk melakukan apa pun demi memberikan kenyamanan terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Meskipun ia harus drop his pride and ego untuk minta ke Ayahnya yang dia benci sekali.

Apa yang Jack lakukan adalah gambaran kebanyakan peran seorang Ayah dalam kehidupan keluarga kebanyakan.

Dia akan berkorban dan bekerja paling keras untuk mendapatkan uang demi kelangsungan kehidupan keluarganya.

Saya mau berbagi cerita tentang sosok ‘Jack’ versi saya lewat pengalaman hidup dan sudut pandang saya.

Secara pribadi sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di keluarga Indonesia kelas pekerja kebanyakan. Tipe hubungan anak dan Ayah di negara ini dan yang saya punya secara khusus bukanlah bentuk paling ideal yang bisa diceritakan.

Ayah saya adalah si pendiam yang selalu pulang ke rumah dengan fisik dan mental kelelahan dan hanya bisa saya temui seminggu sekali. Itu pun lebih banyak saya mendapatinya tidur seharian di kamar.

Waktu yang saya punya dengan beliau hanya saat makan bersama. Namun sejak saya dan adik saya tumbuh besar dan membutuhkan ruang lebih luas di rumah kami yang kecil, saya harus merelakan tidak punya meja makan dan kehilangan ritual makan bersama-sama. Yang artinya saya akan kehilangan waktu berdua dengan Ayah saya. Maka keintiman itu akan terlewat meskipun hanya berputar tentang pertanyaan basa basi soal perkembangan di sekolah saja.

Entah apa beliau tahu bahwa hobi saya sebenarnya adalah membaca dan menulis bukan bermain sepak bola seperti kebanyakan anak-anak laki-laki di kampung saya.

Entah apa beliau tahu bahwa sepeda saya sering rusak karena dikerjai oleh anak-anak iseng karena mereka membenci saya atas fisik saya yang hitam dan kemayu. Yang mana merupakan gambaran paling jelek dalam kriteria anak laki-laki.

Entah apa beliau sadar bahwa saya selalu absen dari kelas mengaji setiap malam karena saya tidak nyaman membahas ajaran agama yang begitu dangkal dan anak-anaknya yang sering mem-bully saya.

Juga, entah apakah terbesit perasaan malu pada diri beliau dengan memiliki anak seperti saya?

Sepanjang hidup saya mempertanyakan itu semua di kepala saya.

Apakah Ayah saya menekan semua emosinya dan menjadikan dirinya sebagai martir dalam keluarga karena asas kewajiban atau karena memang dia mau melakukannya secara sukarela dan tulus karena kasih sayang?

Dude, tinggal di keluarga pinggiran Cibinong secara sadar saya sudah mengikhlaskan untuk mengeliminasi konsep ‘kasih sayang’ seperti yang hadir di televisi atau iklan-iklan. Saat sang Ayah memeluk anak-anaknya dan mengatakan, “I love you, Nak. Papah bangga sama kamu!”.

Hell, No. Itu hanya untuk para rich kids, and I’m not. Dari kecil saya sudah tahu diri untuk hal itu.

Komunikasi dan tendesi kulit bertemu kulit adalah sebuah konsep yang tidak pernah muncul dalam kepala orang tua macam Ayah saya. Entah karena risih atau memang orang tua beliau sebelumnya pun tidak melakukan hal tersebut.

Maka bisa dibayangkan sepanjang saya hidup saya akan sangat risih saat ada teman saya merangkul dan memeluk saya. Dulu saya bisa begitu aneh dengan hal tersebut, bahkan cenderung menghindar.

Karena ya tadi, kode kasih sayang tadi tidak terintegrasi dalam diri saya.

Juga, saya pun bisa menghitung berapa kali saya pernah mengobrol dengan beliau secara decent sebagai sesama manusia. Dan membayangkan saya dan dan beliau mengobrol as men to men adalah sesuatu yang aneh sekali.

Karena memang pada dasarnya seingat saya kami tidak pernah memiliki bonding moment seperti itu. Ide akan seorang Ayah di kepala saya adalah seorang kepala keluarga yang kelelahan mencari uang yang bahkan saya tidak tahu kapan ulang tahun dirinya.

Dulu saya akan membawa kebetean itu dan menyalahkan dunia akan hal tersebut.

Kenapa sih saya harus tumbuh seorang diri tanpa orang tua saya? Terlebih tanpa sosok Ayah. Saya bahkan pernah menyalahkan beliau atas ketidak cocokan diri saya atas ekspektasi society, karena gugurnya figur Ayah dalam diri saya.

Saya tidak pernah diajarkan olahraga oleh beliau, tapi secara mendadak saya disuruh mencintai sepak bola seolah itu sesuatu yang wajar. Wong saya lebih suka tidur atau baca buku dibanding berkeringat.

Ayah saya tidak pernah mengajarkan saya menyukur kumis dan janggut saat saya beranjak puber. Mana saya tahu bagaimana berdandan saat acara-acara resmi, terlebih dengan jas dan pakaian lainnya.

Atau hal-hal kecil lainnya yang menjadi common sense di keluarga teman-teman saya. Sedang di saya? No way hose. Tidak ada.

Tentu saja sebagai remaja saya akan iri hati dengan teman-teman saya yang bisa begitu dekat Ayah mereka. They can throw jokes to each other. They share knowledges and everything.

Saya? Harus tertatih-tatih mengetahui itu sendiri setelah banyak kegagalan.

Lalu saya kuliah dan benar-benar tumbuh secara mandiri. Dan makna orang tua pun semakin mengecil dan menghilang. Keinginan untuk dekat dan mengetahui sosok Ayah pun lepas di tengah jalan.

Kemudian seiring berjalannya waktu, saya lulus kuliah dan langsung bekerja full time. Lama saya jalani saya pun tersadar bahwa bekerja sangat melelahkan hati dan badan.

Gaji pertama yang saya dapat langsung saya berikan ke orang tua saya. Sedikit sih, cuma sejuta setengah kala itu, tapi saya bisa mendengar isak tangis dari kamar orang tua saya. Melihat anaknya kini sudah fully grown.

Saya membayangkan apa yang Ayah saya lalui seumur hidupnya dengan terus-terusan bekerja dan mengorbankan mimpi-mimpinya sendiri demi bisa memberikan saya kehidupan yang layak adalah sebuah ide yang mengoyak batin.

Hati yang beku ini pun perlahan luluh juga. Saya merasa berdosa sekali dengan segala buruk sangka dan kekecewaan yang saya bawa setiap hari saat dulu.

Ayah saya mungkin bukan orang tua paling kaya yang bisa memanjakan anaknya, tapi ia berusaha untuk memastikan anaknya tidak kelaparan dan bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Ayah saya mungkin tidak menanyakan hobi saya apa dan seterusnya, tapi seumur hidup saya, dia tidak pernah melarang saya untuk melakukan apa pun. Mulai dari sekolah yang saya mau sampai pekerjaan yang saya ambil sampai sekarang. Ia selalu mendukung dengan caranya sendiri.

Dan Ayah saya tidak pernah sekalipun marah besar dengan memukul saya. Tidak sekalipun saya pernah disakiti oleh tangannya.

Ia hanya akan diam dan itu membuat saya merasa lebih bersalah.

Seperti halnya Jack, orang tua saya bertambah tua, dan suatu saat akan pergi untuk selama-lamanya.

Yang ingin saya lakukan sekarang adalah mengingatnya sebagai sosok yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia. Sebagai seorang Ayah yang belajar untuk pertama kali. Sebagai seorang manusia yang juga memiliki ketakutan untuk tidak merusak apa yang ia miliki, keluarganya, anak-anaknya.

Dan lewat series ini, saya dapat memahami itu.

Saya dan Ayah saya adalah dua orang yang sama-sama belajar untuk membahagiakan satu sama lain dengan cara masing-masing. Dan pengorbanan itu berarti lebih dari apa pun di hidup saya. Karena dari sana saya pun sadar, bahwa di dunia ini ada satu orang yang akan selalu menganggap saya begitu berharga hingga ia mau mengorbankan apa pun dalam hidupnya.

Sesuatu yang terkadang saya lupakan.

Advertisements

Review Series Love: Tentang Gambaran Candu

Well, kemarin gue baru beres nonton series di Netflix judulnya LOVE. Kreatornya Jude Apatow, si jenius di balik beberapa film romantic comedy favorit gue seperti Bridesmaids, Superbad, dan This is 40.

Hal yang paling gue suka dari film doi adalah akan bagaimana ia mengangkat dan memusatkan narasi filmnya lewat karakter yang biasa-biasa aja. Sosok yang bisa gue temui setiap harinya secara random di kehidupan sehari-hari. Terkadang gue pun seperti dapat melihat diri gue di dalamnya.

Meskipun yang dihadirkan adalah wajah orang-orang kebanyakan, namun bukan berarti ‘orang-orang biasa’ tersebut tidak memiliki ‘masalahnya’ sendiri. Dan di tangan Jude Apatow, masalah tersebut dipulas dengan begitu menarik, relatable, dan engaging.

Dengan signifikan ia menggambarkan kedalaman karakter orang-orang biasa tersebut melalui reaksi-reaksi mereka yang mungkin bisa bikin elo bergumam kecil: SHIT! Aing juga bakal berekasi kayak gitu.

Semacem di film Bridesmaids nih, saat si Annie perebutan mic sama Helen untuk berlomba-lomba nunjukin di depan banyak orang kalau mereka adalah sahabat paling deketnya Lillian.

Itu kan hal paling basic dalam dunia pertemanan bukan? Kita bakal insecure sejadi-jadinya saat posisi sebagai ‘sahabat kental’ terancam dengan kehadiran orang baru.

Gue sih sangat bisa membayangkan diri gue melakukan yang Annie lakukan ya. Hehe. Makanya gue suka sebel sama film-film atau novel-novel yang menggambarkan karakter utamanya kelewat sempurna. Pengen banget bisikin begini ke kuping yang buatnya…

Screen Shot 2018-05-18 at 4.34.53 PM

Dari sana gue sebagai si another ‘orang-orang biasa’ tersebut terasa terwakilkan dan berfikir; mungkin memang enggak ada yang sempurna di dunia ini, di kehidupan ini. Kesempurnaan cuma state of mind kita aja.

Mungkin ya.

Screen Shot 2018-04-05 at 6.09.34 PM

Anyway, kembali tentang si series Love. Series ini mengisahkan dua tokoh utamanya yaitu Gus dan Micky. Ceritanya mereka berdua sama-sama sedang gagal dalam hubungan percintaan yang sudah lama mereka jalin gitu.

Kemudian di suatu pagi setelah kekacau balauan hidup mereka, di sebuah toserba mereka bertemu secara tidak sengaja. Dan dari sana lah petualangan cinta itu dimulai.

Cinta? Iya, cinta.

Orang-orang di usia 30an yang sudah jatuh bangun patah hati atau sering ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya ternyata masih punya kesempatan untuk jatuh cinta yang lucu-lucuan gitu loh.

Seenggaknya itu yang dialami Micky and Gus di sana ya.

Tentu saja perjalanan cinta mereka berdua naik turun. Di beberapa episode awal mereka masih gemes tarik ulur kejar-kejaran, atau diam-diam menyimpan perasaan masing-masing.

Ya namanya juga masih anget-angetnya.

Tapi, karena pada dasarnya mereka memang baru kenal satu sama lain, gejolak emosi pasti muncul di saat mereka berusaha memahami perbedaan karakter yang ada. Kesalahpahaman sering muncul saat ego dan insecurenya Micky berhadapan dengan kepragmatisannya Gus.

Gus adalah tipe orang yang berusaha untuk menekan semua amarah yang ada dalam dirinya hanya untuk menjadikan sekelilingnya merasa baik-baik saja. Mengorbankan perasaan dia sendiri, yang ujungnya malah merusak semua yang ada.

Tuh, jangan suka mendem atau meledak-ledak jadi orang. Ribet nanti hidupnya.

Selain tentang cinta-cintaan, series ini membahas sesuatu yang lebih dalam lagi. Dan ini lah yang menarik untuk dibahas.

Dalam setiap hubungan pasti ada satu pihak yang menjadi si obsesif. Si needy. Tipe manusia yang menutut segalanya harus dituruti sesuai dengan standar orang tersebut.

Kalau ketemu pasangan yang nurut sih ya semuanya bakal baik-baik aja. Tapi, apesnya kalau ketemu pasangan yang pragmatis pasif agresif (apa coba?) pasti endingnya yang ada cuma ngotot-ngototan satu sama lain.

Si pihak obsesif merasa ditolak dong ya, padahal ya si pragmatis cuma enggak mau ribet aja terus besoknya udah selow lagi.

Namun namanya ngerasa ditolak, emosi pun hadir. Dan jadilah si sosok yang tadinya obsesif menjadi drama dan meledak-ledak sejadi-jadinya.

Itulah yang terjadi dengan Micky. Salah satu adegan yang paling membekas di kepala gue adalah ketika Micky berubah menjadi si needy yang begitu emosional dan tidak ada henti-hentinya texting Gus setiap saat ketika Gus menolak bertemu dengannya untuk membahas sesuatu.

Setelah puluhan telepon dan pesan yang tidak berbalas dengan impulsifnya Micky pun menyambangi kantor Gus dan ‘menanyakan’ alasan mengapa Gus nyuekin dia. Nanyanya dengan amarah yang mendongkol tentu saja.

Mendapatkan jawaban yang tidak diingankan dan malah ditolak secara langsung oleh Gus, membuat mental Micky berantakan. Ia berteriak-teriak dengan begitu hebat tanpa menyadari bahwa yang dia lakukan hanyalah mempermalukan dirinya sendiri. DI KANTOR ORANG, DI DEPAN BANYAK ORANG.

Cut to dari sana, Micky dan Gus pun memilih break dan menjauh satu sama lain. Dari sana Micky menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Dengan kepribadiannya. Dengan tingginya kebutuhan dia akan perhatian dari orang lain. Spesifiknya ke certain person yang dia care about.

Micky akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang pecandu. Baik itu dengan alkohol, rokok, dan juga cinta. Dan untuk memperbaiki dirinya, ia pun bergabung dengan support grup bagi para pecandu alkohol dan cinta. Pelan-pelan dari sana Micky menjadi pribadi yang akhirnya dapat mengendalikan urgensi dirinya atas perasaan apa pun. Baik itu perhatian dari Gus dan ketergantungannya pada alkohol.

Dan, kawan, dari sana lah gue seperti melihat diri gue dalam kepribadian Micky. Seperti ada bunyi klik.

Jangan-jangan gue si Micky deh? Atau sebenarnya gue sudah menjelma menjadi si Micky tanpa gue sadari?

Gue pun mempertanyakan hal itu pada teman-teman gue dan juga ke korban kegilaan gue: si R dan si D. (D sih enggak jawab, hanya si R yang tahan dengan segala kegilaan gue dan rela menjawab).

Dan jawaban mereka adalah…..

positif. Bahwa gue seneedy itu juga.

Fine.

Gue dapat merasakan keterhubungan yang dilakukan oleh Micky terhadap Gus. Micky hanya ingin didengar, ditemani. Mungkin memang porsi ekspetasi Micky berlebihan, tapi itu bukan tanpa sebab. Perhatian menjadi sebuah candu untuk orang yang biasa ditelantarkan, dibuang.

Bahkan pernah loh si D bilang ke gue bahwa ekspektasi adalah sesuatu yang menjadi akar masalah di antara kami. Gue yang saat itu masih muda belia dan labil tentu saja marah. Bagaimana bisa seseorang yang memberikan gue kebahagian luar dalam ber’ekspektasi’ pada diri gue untuk tidak berlebihan merayakannya. Membalasnya.

I mean, I want make this thing longer. Tapi yang ada, dia merasa apa yang gue lakukan terlalu menyesakkan dirinya. Pret.

Orang-orang yang needy dan se-obsesif itu tidak melulu tiba-tiba menjadi seperti itu. Ada pengalaman dan perjalanan pahit di masa lalu yang membuat seseorang memiliki kepribadian tersebut. Terjebak pada perasaan ditolak yang mau sehebat apa pun disembuhkan, luka itu akan tetap hadir. Perasaan tidak lebih baik dari apa pun akan selalu menghantui.

Dan ketakutan untuk merusak kebahagian yang ada akan bercongkol di tiap kesempatan. Karena ya itu yang gue rasain. Setiap ada kebahagian datang di hidup gue dalam bentuk apa pun, gue sudah bersiap-siap pack up my feelings karena pasti di ujung-ujungnya gue akan melakukan suatu hal bodoh yang akan ruin everything. Itu semua sudah seperti hukum Newton. Sebuah kepastian yang tidak dapat gue hindari.

Seperti semua yang gue punya, baik R dan D memberikan sesuatu yang sebenarnya cukup. Mereka datang ke hidup gue dan gue bahagia karenanya. Tapi ada satu titik di mana gue terlalu ketakutan dan tidak mau semua kebahagian itu hilang. Dan yang ada karena ketakutan enggak jelas itu perlahan gue malah menjadi si gila yang menuntut segala hal yang tidak masuk akal ke mereka.

Sampai pernah loh gue nyamperin kantor si D dan gue breakdown di depan dia. Nangis jejeritan kayak orang ditinggal mati padahal cuma perkara si D enggak balas WA gue aja. Astaga! Gue sampai malu hati kalau ingat ketololan gue itu. Dan itu gue ngelakuinnya dua kali. Breakdown kok doyan. Heran.

Yang menjadi highlight lagi adalah di series Love ditunjukkan tentang sebuah Support Group yang membantu Micky melewati fase-fase ia meninggalkan ke needy-annya. Dan gue seperti butuh itu deh di Jakarta ini.

Gue kalau curhat masalah-masalah begini enggak jauh-jauh ke teman-teman gue yang sepertinya sudah bosan dengan curhatan gue. Sampai ada loh salah satu teman gue yang merasa gue adalah orang yang sangat self centered. I’m a selfish bitch yang selalu curhat tentang diri gue sepanjang waktu.

Padahal saat itu gue butuh banget untuk sharing sesuatu yang benar-benar belum selesai antara gue dan perasaan needy gue sama orang yang I care about.

Jadi, lari ke teman terkadang memang tidak menyelesaikan perasaan neurotic itu. Jika ada sebuah support group, di sana gue pasti bisa berbagi dengan orang-orang yang merasakan hal sama dengan gue. Melalui momen-momen pahit yang pernah kami lalui untuk sekadar mengkonfrotasikan emosi dan kepedihan yang selalu gue bawa setiap hari.

Lalu bersama-sama bangkit menata hidup yang berantakan ini dan memusatkan perasaan kelam ketika menghadapi momen…. KENAPA SIH DIA LARI DARI GUE? KENAPA SIH DIA BERUBAH? KOK DIA PERGI SIH PAS GUE LAGI SAYANG-SAYANGNYA? so on and so on.

Semua penolakan-penolakan itu harus dibicarakan. Harus disudahi.

Karena kalau tidak gue takut itu akan menjadi penyakit yang terus menerus menggerogoti gue tiap kali gue berada dalam sebuah hubungan. Karena nantinya it is gonna be only a different cast but with the same ending all over again. Peran gue hanya akan terus menjadi ‘si gila’ belaka.

Dan harus gue akui jika gue sudah berusaha segitunya banget untuk menyelesaikan suatu masalah dan hasilnya tetep nihil dan gue tetap kembali ke masalah tersebut. Mungkin… mungkin loh ya. Memang lebih mudah untuk kembali ke masalah yang gue sudah tahu luar dalam. Bahwa pada akhirnya orang-orang itu akan kembali lagi ke gue setelah mereka menolak gue.

Tapi yang terjadi sekarang adalah… mereka semua sudah berkeluarga. Dan gue si duri dalam daging. Yang harus gue lakukan bukan datang lagi ke kehidupan mereka.

Tapi menyelesaikannya. Menamatkan kisah tersebut. Gue enggak butuh masalah ini di satu atau dua tahun mendatang.

Mungkin gue harus jatuh banget sampai sakit se pedih-pedihnya biar mikir bahwa diri gue adalah toxic untuk orang lain dan harus pergi dari sana.

Ayodeji Awosika menulis,

“Sometimes the best way to point your life in a new direction is to become completely disgusted with your current one… I finally said ‘enough is enough.’Strong negative emotions can be just as powerful as positive ones. When will ‘enough be enough,’ for you? When will you decide you can’t live this way for even one more day? Once you make that decision, everything changes.”

Perasaan ditolak memang sakit, dan tiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Tapi belajar untuk mengakui hal tersebut dan pelan-pelan menyalurkan emosi dan kesedihan tersebut pada hal lain yang lebih konstruktif sepertinya sesuatu yang harus gue coba. Gue harus mengalihkan semua kedramaan dan kepedihan gue pelan-pelan.

Karena dengan terus feeding ke-needy-an gue itu, yang gue dapet hanyalah ketiadaan.

Dan untuk kamu-kamu yang suka drama dan merasa hidup berantakan saat ditolak oleh orang yang kamu sayang. Tenang, kamu enggak sendirian kok.

Puasa dan Romantisme di Dalamnya

Bulan puasa selalu memberikan waktu tersendiri seperti pause panjang dalam sebuah lagu. Pause tersebut entah akan memberikan hasil yang menarik atau biasa-biasa saja. Tapi ya yang paling nyebelin jika ternyata harus berakhir jelek.

Sejak 2008 lalu ketika masuk kuliah dulu, bulan puasa seperti memiliki makna lain dalam hidup saya. Seolah memiliki magicnya sendiri. Kekuatan yang memberikan saya kebahagian paling personal yang tidak bisa saya ceritakan dengan begitu deskriptif namun dapat saya rasakan sensasinya.

Terlebih ketika sudah jam dua pagi.

Mereka bilang sepertiga malam adalah waktu yang sempurna untuk bersimpuh dan berdoa. Memohon pada Sang Maha Besar dan berpasrah padanya.

Saya melakukannya dengan kamu. Dulu sekali saya akan menggapai komputer dan menyambungkan diri saya dengan kamu yang jauh sekali.

Kamu menyambut dengan hangat, tersenyum saat saya memanggil namamu. Menggerutu saat saya hendak pergi.

Selama dua tahun saya dan kamu melakukan rutinitas tersebut. Merayakan bulan puasa dengan cara yang hanya kita berdua yang tahu.

Di jam dua pagi saat sunyi meresapi malam dan dingin menyentuh sendi-sendi yang menghamba, kamu pernah berbisik padaku (tentu lewat internet, namun anggap saja hangatnya nafasmu mengalir di ujung telinga saya yang kelewat bahagia).

Kamu bilang bahwa malam akan menciut, bahkan terlalu kecil untuk saya genggam.

Kamu aneh, timpal saya kala itu.

Tapi ternyata kamu benar sedang tidak bercanda saat itu. Malam benar-benar mengecil beserta dingin dan gelapnya. Kamu mengemasnya dan meminta untuk menukarnya dengan yang paling berharga yang saya miliki.

Saya berfikir sejenak, tidak ada yang lebih berharga dalam diri saya selain diri saya sendiri.

Lalu kamu mengangguk, seolah setuju dengan perdagangan tersebut.

Kamu menyerahkan malam yang menciut itu dan menyisipkannya di sela-sela jemari saya yang sibuk mengetik.

Saya tentu terperanjat kaget dengan itu. Dari sana maka tiap jam dua malam di bulan puasa secara otomatis saya akan terbangun dan memiliki malam yang panjang yang hanya menyisakan saya dan kamu.

Saya dan kamu. Saya dan kamu. Saya dan kamu. Saya selalu senang mengulang-ngulangnya. Kita berdua bersatu dalam kebahagiaan.

Dingin dan sunyi adalah saksinya.

Tetapi harga yang harus saya bayar adalah menyerahkan diri saya. Sehingga tepat di jam dua malam ketika semua terasa dingin dan sunyi maka kamu akan memiliki saya secara utuh.

Menapakinya dan menjelajahi tiap senti diri saya hingga bosan.

Lalu pagi datang, menggusur satu persatu dingin dan sunyi yang kamu bungkus di sela-sela jemari saya tadi.

Malam pun pergi.

Namun, sayang, kamu lupa untuk mengembalikan diri saya. Karena sejak itu, bertahun-tahun sudah, di tiap jam dua malam kini saya tak lagi dapat merasakan keutuhan diri saya yang telah tercuri.

Yang kita berdua tahu, saya serahkan dengan sukarela.

Dan kamu pergi bersamanya tanpa pernah kembali lagi. Saya menyadari saya kehilangan sesuatu yang bahkan lebih lama perginya dibanding saat saya memilikinya.

10+1 Buku Indonesia Yang Asik

Hari ini di tanggal 17 Mei tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Nasional, yang istimewanya bertepatan dengan hari pertama puasa.

Sama seperti puasa, sebagai pembaca buku saya menganggap kegiatan membaca sama sakralnya dengan ibadah suci tersebut.

Momen saat memegang buku baru, romantisme menyiumi lembaran kertasnya, dan perasaan menggebu saat mencapai penutup cerita merupakan sebuah pengalaman yang memberikan adiksi tersendiri.

Terlebih jika cerita dalam buku tersebut mampu menyedot saya masuk ke dalam dunia baru yang asing, magis dan tidak bisa berhenti untuk dijelajahi.

Perjalanan sebagai seorang pembaca buku itu pun diawali dengan membaca majalah-majalah yang dapat saya temukan di rumah. Tumbuh di era 90an, industri cetak sedang berjaya dan diisi dengan poster-poster selebritas-selebritas dan anekdot di dalamnya. Ringan namun mampu menyihir untuk berlama-lama di sana.

Kemudian saat bersekolah keharusan untuk membaca buku-buku terbitan balai pustaka dengan konten cerita rakyat membawa saya pada dongeng-dongeng seru yang menghanyutkan.

Sejak itu apa pun bentuknya yang memiliki aksara di dalamnya akan saya habiskan dengan gembira.

Beranjak dewasa membaca menjadi momen pelarian dari dunia pubertas yang menjengkelkan dan aneh. Larut dalam kisah Harry Potter menjadi sesuatu yang menyenangkan dibanding harus berbasa-basi dengan orang lain.

Dan kebiasaan tersebut ternyata tidak pernah hilang. Kegiatan membaca tumbuh sebagai bagian dalam diri saya. Pilihan bacaan yang dulu sifaatnya hanya untuk seru-seruan berubah menjadi diskurs yang membuka pandangan akan situasi sosial sendiri. Dan dari sana membaca menjadi aktivitas yang lebih serius.

Akhirnya saya menyadari bahwa cerita dalam buku merupakan suara tersendiri dari sejarah suatu periode tertentu atau pun potret realita yang berbahasa lewat fiksi.

Maka di hari penting ini saya ingin membagikan 10+1 daftar buku Indonesia paling asik versi saya.

Tidak melulu yang menghentakan akal pikiran, namun sejatinya buku-buku yang akan saya bagikan mampu menemani dan memberikan ruang bagi suara yang patut untuk didengar.

Mari kita mulai saja daftar 10+1 daftar buku Indonesia yang paling asik tersebut:

  1. Gege Mengejar Cinta (2004, Adithya Mulya)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.13.37 PM

Tahun 2000an awal merupakan tahun di mana muncul genre baru di Indonesia setelah cengkraman reformasi yang membungkam banyak suara di negeri ini. Tahun-tahun tersebut cerita yang ditawarkan lebih beragam dan kaya.

Perayaan kehidupan dan cinta yang jenaka menjadi salah satunya. Para publisher menyebutnya dengan metropop, chick lit atau cerita kehidupan turbulensi para kaum urban di umur dua puluhan.

Lalu saat memasuki kelas 1 SMA di tahun 2006, saya membaca buku yang akan menjadi tonggak dasar kehidupan percintaan saya.

Buku berjudul Gege Mengejar Cinta merupakan karya kedua Adithya Mulya setelah kesuksesan novel Jomblo. Dan saya jatuh cinta dengannya.

Kisah urban para pekerja radio dan lika-liku kehidupan jomblo di usia 20an akhir memberikan warna jenaka dan sedih secara bersamaan.

Membaca buku ini seperti mengocok perut kita sendiri dan mempertanyakan sebuah keresahan paling penting dalam hidup. Mana yang akan kita pilih, seseorang yang kita cintai atau seseorang yang mencintai kita?

Silahkan dibaca buat yang mau galau meradang, sampai sekarang saya masih belum bisa move on dari buku ini meskipun sudah lewat 12 tahun. Karena sensasi yang didapat masih sama seperti pertama kali menamatkan buku ini.

Nyesek.

2. Kok Putusin Gue? (2004, Ninit Yunita)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.18.11 PM

Kalau tidak salah menjadi novel pertama dari Ninit Yunita. Kebetulan istri dari Adithya Mulya. Dari sana saya mengikuti semua buku dan blog kedua pasangan seru ini secara religiously.

Saya membaca buku ini di tahun 2005. Buku yang mengemas kisah patah hati dengan jenaka namun tetap haru. Gambaran kota Bandung dan kehidupan di dalamnya membuat saya mabuk akan romantisme Bandung yang masih saya cari seperti yang diceritakan oleh Ninit di buku ini. Tips membuat Tiramisu juga hadir dengan jenaka. Silahkan dibaca bagi yang suka menikmati kisah dengan ending ugly cry.

FYI, jangan nonton film adaptasinya. Jelek.

3. Saman (1998, Ayu Utami)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.30.34 PM

Tahun 2009 menjadi pertemuan pertama saya dengan Saman. Sebelas tahun setelah dulu ia terbit dan menjadi kontroversi di masanya.

Bab pertama buku Saman merupakan tulisan paling indah yang pernah saya baca di novel kontemporer Indonesia. Sejak itu saya menjadi pengikut Ayu Utami yang membaca habis seluruh buku dan tiap-tiap tulisan yang ia buat.

Perkenalan dengan feminisme dan kesadaran akan kesenjangan situasi sosial di Indonesia pun dimulai dari Saman.

Yang membekas tentu saja ending dari buku ini yang ditutup dengan kalimat, “Perkosa aku” yang keluar dari mulut sang pastor.

Wajib dibaca buat kamu yang ingin merasakan ketegangan dan keseksian nuansa 90an yang mencekam di negeri ini.

4. Cantik Itu Luka (2002, Eka Kurniawan)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.31.59 PM

Cukup baca dua bab buku ini dan kamu akan terperosok masuk ke dalam magisnya kisah Mas Eka Kurniawan. Pertemuan saya dengan Mas Eka dimulai di awal tahun 2016. Saat itu saya sama sekali belum pernah membaca karya beliau dan tidak pernah terbersit sedikit pun akan berjumpa langsung dengan beliau.

Kebetulan saat itu saya memenangkan kontes seminar penulisan yang dimentori oleh Mas Eka. Secara tidak langsung Mas Eka pernah membaca tulisan saya dan memilihnya dari ratusan submission yang ada.

Lalu setelah seminar tersebut saya membeli SEMUA buku beliau, dan warning saja, kalian tidak akan bisa berhenti masuk ke semesta Mas Eka yang begitu memikat, magis, dan menghujam di akhir.

Ironi-ironi paling sial muncul di setiap plot poin buku Cantik Itu Luka. Bagaimana bisa sebuah kecantikan bisa membawa sengsara pemiliknya, hanya Mas Eka yang bisa menuliskannya dengan tajam.

Cerita kehidupan kolonial dan kemerdekaan awal Indonesia berhamburan dengan seru, mencekam, dan sesekali lucu.

WARNING: Baca buku Mas Eka berarti harus siap-siap jatuh cinta dengannya.

5. Sihir Perempuan (2005, Intan Paramadhita)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.33.25 PM

Membaca buku Mbak Intan kebetulan beriringan dengan membaca karya-karya Mas Eka di tahun 2016 lalu. Buku Sihir Perempuan merupakan advokasi Mbak Intan terhadap paradigma buruk pada perempuan. Terlebih para stereotipe perempuan yang termarjinalkan.

Penuturan yang indah dengan balutan kisah-kisah yang dapat ditemukan sehari-hari membuat buku ini sangat sayang untuk dilewatkan. Baca segera dan kamu akan tersihir karenanya.

6. Raden Mandasia Si Pencuri Daging (2016, Yusi Avianto)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.35.03 PM

BUKUNYA BAGUS BANGET.

Sudah baca saja buat kamu yang suka cerita petualangan yang dibalut dengan kisah kolosal, kuliner, dan politik kerajaan macam Game of Thrones.

Beli segera dan jangan lupa beli kumpulan cerpen-cerpen Om Yusi sekalian. TIDAK AKAN MENYESAL!

7. Lupus (1986-2015, Hilman)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.44.20 PM

Perks sebagai kelahiran 90 adalah saya dapat menikmati kisah-kisah ngocol yang benar-benar lucu dan memiliki kedalaman cerita yang mendorong saya untuk belajar menulis dengan baik seperti Hilman.

Kisah Lupus benar-benar kaya dengan kemajemukan karakter-karakter di dalamnya dengan plot paling engaging sepanjang sejarah novel kontemporer Indonesia.

Novel lupus sudah dibaca oleh jutaan orang dengan seri-seri yang ditunggu oleh banyak orang di masanya.

Lupus pun bertransformasi menjadi ikon anak muda yang menjadi representasi masanya.

Ayo baca Lupus kembali dan siap-siap bernostalgia dengan jokes singkatan-singkatan yang mungkin sekarang akan terdengar garing.

8. Olga Si Sepatu Roda (1990-2002, Hilman)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.44.43 PM

Kamu akan jatuh cinta dengan cerita Olga dan kehidupan sehari-harinya. Sebagai seorang protagonis Olga hadir dengan karakter yang membuat orang ingin berteman dengannya atau menjadi seperti dirinya.

Menurut saya itulah kesuksesan Hilman sebagai seorang penulis. Membuat karakter dan narasinya hidup melintasi zaman.

9. Filosofi Kopi (2006, Dee Lestari)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.46.14 PM

Membuat daftar buku terbaik tanpa memasukkan karya Dewi Lestari merupakan sebuah dosa besar!

Lewat kumpulan cerpen ini, Dewi Lestari mencuat sebagai cerpenis andal dengan kedalam teknik bercerita lewat layer-layer misteri yang menonjok di akhir.

Mencari Herman masih menjadi cerpen favorit saya.

10. Pulang (2003, Leila S Chudori)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.47.06 PM

Buku babon yang ditulis dan diriset selama enam tahun oleh Leila Chudori merupakan sebuah pencapaian tertinggi dalam karya sastra Indonesia kontemporer yang mengangkat kisah perpetaan politik lewat dua zaman. 1965 dan 1998.

Dua tahun paling mencekam di negara Indonesia ini. Dengan sangat puitis dan romantis, Leila Chudori membuat sebuah karya yang tidak ingin siapa pun untuk diakhiri.

Kamu wajiib membacanya sebagai sebuah kesadaran zaman bahwa di Indonesia kita pernah memiliki sebuah masa yang begitu tragis dan memberikan luka yang belum terobati sampai sekarang.

+ 1

24 Jam Bersama Gaspar (2017, Sabda Armandio)

Screen Shot 2018-05-17 at 3.48.01 PM

Saya membaca buku ini sepanjang perjalanan kerja saya selama dua hari saat naik Commuter Line, Bojong Gede-Tanah Abang. Jadi selama dua jam dalam sehari saya baca buku ini.

Dibuka dengan rencanan pencurian yang mencekam namun jenaka, membuat saya jadi penasaran akan ke mana arah cerita buku ini.

Seolah, membaca buku ini seperti ikut dalam proses pemecahan teka teki menyebalkan tersebut. Naratornya kadang cerewet, Gaspar seperti anak kecil gendut yang rewel namun tetap menggemaskan.

Setiap kejadian di dalam buku ini dipikirkan dengan matang dan detail. Dan tiba pada akhir buku sang penulis yang sudah memasang kail yang sudah dirajutnya dari awal awal bab dan vice verca, dalam sekali paragraf deduktif khas detektif, di akhir cerita kailnya siap menarik pembacanya pada perasaan psikologis mendalam pada titik paling rendah. Menelanjangi mereka dan ringsek dalam kehampaan.

Sialan. Gerutu saya sambil menyeka air mata yang tak henti turun saat Gaspar menjelaskan tentang si tetangga perempuan masa kecilnya itu. Dalam kereta pula, yang penuh orang.  Menutup buku ini, mengakhiri segala kisah random interview polisi dan flashback teman-teman Gaspar membuat dada saya sesak, after tastenya bikin galau, seperti kehilangan teman yang selalu ingin dimiliki namun keburu pergi entah ke mana.

Perhatian saja, membaca buku ini berarti pembaca harus siap dengan segala konsekuensi turbulensi yang ada di dalamnya.

Jika penulisnya mengklasifikasikan bukunya sebagai cerita detektif, sayangnya tidak untuk saya. Buku ini lebih mencuat sebagai surat cinta romantis dengan tambahan ironi yang satir di akhir. Tidak manis dan tidak pahit. Hanya pekat menyesakkan yang membuat lubang kosong di dada.


Membaca memang merupakan sebuah perjalanan tanpa henti. Menumbuhkan kecintaan pada membaca pun tidak melulu harus dimulai dengan sesuatu yang kesannya ‘berat’ dan kelewat ‘sastra eksklusif’.

Dimulai dengan menamatkan kisah Paman Gober pun tak mengapa. Atau Oki dan Nirmala di majalah Bobo juga masih oke.

Yang terpenting adalah pemahaman bahwa membaca dapat membukakan jendela yang menghubungkan pikiran dengan dunia adalah sebuah keharusan.

Karena ketika sudah sekali merasakan nikmatnya membaca, dapat dipastikan tidak akan bisa dihentikan.

Karena lewat membaca kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, namun juga kekayaan imajinasi yang kini terasa mahal untuk didapatkan.

Jadi, buku Indonesia favorit kamu apa?

Serendipity

Dia datang membawa semua yang bertahun-tahun lalu coba kamu lupakan.

Selama itu kamu sudah berusaha untuk menekannya, menyembunyikannya, tapi di malam-malam yang sunyi terkadang kamu masih mengintipnya diam-diam.

Kalian berdua pun kembali bertemu dalam ketidaksengajaan.

Ketidaksengajaan yang mempertaruhkan empat tahun yang riuh dengan pekerjaanmu, mimpi-mimpimu yang maju mundur, dan makanan-makanan yang kamu asosiasikan dengan kebahagiaan.

Apakah bahagiamu masih sama?

Dalam sekejap ternyata semua hal di atas tadi menguap tak bermakna apa-apa dibanding ketika kamu berkomunikasi dengannya secara langsung.

Momen di mana kamu kembali terkoneksi dengannya. Berbagi udara yang sama dengannya. Menggerus rindu yang bertahun-tahun kamu simpan di brangkas terdalam hidupmu.

Malam itu kamu tunjukkan semua padanya. Satu persatu rindu itu pun terkikis dengan malu-malu dan menjelma menjadi kegembiraan.

Kegembiraan yang hadir saat kamu kembali melihat lesung pipinya yang terukir manis di senyumnya yang membuat perutmu melilit lemas. Atau tanpa permisi saat dua mata coklatnya menatapmu dengan hangat. Kamu mengaku kalah, detail-detail kecil tersebut berhasil mendorongmu ke masa lalu saat SMA dulu. Pada versi kamu yang begitu tergila-gila padanya. Mengais-ngais perhatiannya.

Kamu pun mengulang dalam hati bahwa kamu merindukan ini semua. Mengobrol dengannya tanpa terhalang apa pun. Dan sedikitnya kamu dapat merasakan ia memiliki sensasi yang sama. Tidak terucap, namun gerakannya membahasakan semuanya.

Tapi kamu sadar bahwa empat tahun merubah banyak hal dalam hidup seseorang.

Ia melihatmu yang membengkak dengan lemak-lemak jenuh menganjurkanmu untuk lebih banyak berolahraga dan berhenti merokok. Dengan tegas ia bilang bahwa ia tidak menyukai bau asap yang keluar dari mulutmu. Ia sedikit kaget melihatmu dalam format seperti itu. Tapi, kamu dapat membacanya, ia tidak menyukai fakta kamu merokok.

Sepele, tapi kamu tersipu karenanya. Kamu pun berjanji untuk menguranginya. Dimulai dari malam itu.

Cerita pun bergulir dari satu kisah ke kisah yang lain. Kamu tidak ingin menghentikan apa pun yang sedang terjadi di antara kalian berdua malam itu. Kamu ingin melihatnya terus berbicara. Membahas tentang konspirasi bisnis minyak swasta dengan pemerintah, atau saat kamu terkejut menyadari bahwa ia menonton dan mengikuti dengan khidmat series Game of Thrones.

Kemudian cerita remeh temeh itu pun berganti menjadi lebih serius. Ia membagi rahasianya di antara dinginnya malam dan ekspektasi-ekspketasimu yang menyesakkan.

Ia berujar ingin mengulang waktu yang ada. Empat tahun yang lalu. Namun, bukan tentang absennya kehadiranmu. Melainkan tentang hubungannya dengan orang lain. Kekasihnya yang ia nikahi dan akhirnya berpisah karena kondisi yang tidak dapat ia paksakan. Mereka berbeda keyakinan. Dan alasan itu cukup untuk menjadikan sebuah cinta yang indah tersebut harus bertransformasi menjadi sebuah aib dalam keluarga.

Kamu mendengarnya dengan sedih. Lagi-lagi kamu bukan menjadi prioritas dalam hidupnya. Dan sepertinya tidak akan pernah.

Kamu tidak mau merusak malam sakral ini, sekuat tenaga kamu berusaha mendengar kemalangannya dan menahan kesedihan milikmu.

Ia kini telah menjadi orang tua. Mendengar fakta itu membuat dirinya semakin berjarak jauh denganmu. Pahit. Empat tahun dan kamu masih begini-begini saja.

Lalu pertanyaan itu pun hadir, ia menanyakan kisah cintamu.

Apa kamu tidak berniat untuk menikah? Ia menatapmu lama, menunggu jawabanmu.

Ada jeda di sana.

Kamu pun memulai prolog itu. Sesuatu yang sudah kamu siapkan sejak delapan tahun lalu.

Kamu mengeluarkan satu novel dari dalam tasmu. Novel berjudul Gege Mengejar Cinta, novel yang kamu pinta dia untuk baca. Namun selalu berakhir gagal karena ia tidak terlalu menyukai aktivitas membaca.

Ia tersenyum geli melihat novel tersebut. Ternyata ia masih mengingatnya. Ia menambahkan cerita bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga menamatkannya dengan mencoba membaca satu dua halaman dengan penggaris. Takut-takut ada kalimat yang terlewat. Tapi ia tidak pernah berhasil menyelesaikannya.

Kamu bilang padanya selama bertahun-tahun kamu masih menyimpan novel tersebut. Membacanya jika sedang senggang dan masih dipenuhi nelangsa saat menamatkannya. After tastenya masih sama.

Setelah bertahun-tahun masih seperti itu efeknya? tanyanya takjub.

Kamu mengangguk.

Akhirnya keberanian itu pun datang, sekarang atau tidak sama sekali, kamu pun mengatakan bahwa sama seperti novel yang ia baca, perasaanmu padanya pun masih sama. Tidak pernah berubah.

Akhirnya kamu mengatakannya, membahasakan perasaan yang bertahun-tahun mencekikmu, mengerdilkanmu.

Sambil bercanda kamu pun bilang dia adalah cinta pertamamu. Dan sepertinya jika jatuh cinta lagi, kamu hanya akan bisa jatuh cinta dengan dirinya saja.

Ia menatapmu dengan perasaan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa itu akan keluar dari mulutmu malam ini.

Kamu tidak pernah merasakannya? tanyamu sedih.

Ia menggelengkan kepalanya.

Lalu kenapa kamu diam saja selama ini? Jarak yang selalu kamu buat adalah siksaan tersendiri buatku. Dan kamu tahu itu. Bertahun-tahun aku terluka karena ini. Karenamu. Amarah mulai menyelimuti suaramu.

Ia menyentuh jemarimu, mengalirkan rasa kasihan yang mungkin bertahun-tahun juga ia simpan untukmu.

Di malam tersebut, dari mulutnya, ia mengucapkan maaf. Tulus. Ia tidak menyangka bahwa dirimu terluka separah itu. Ia benar-benar tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan selama ini telah menyakitimu.

Semua khayalan-khayalan ini, alasan mengapa aku masih sendiri, semuanya hanya tentangmu. Dan akan selalu tentangmu.

Lalu gerakan itu pun menghentakan dirimu. Ia memelukmu. Menggapai seluruh kesedihanmu. Merasakan luka yang kamu simpan sendiri sejak SMA dulu. Berusaha untuk mengobatimu secara perlahan, meskipun kamu tau luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh.

Maaf. Ulangnya.

Kamu membalas pelukannya. Merasakan sesuatu yang kamu khayalkan sejak dulu. Bersentuhan dengannya. Menggapai dirinya yang selalu jauh dari rengkuhanmu.

Mengapa kamu harus pergi selama ini? Meninggalkanku dengan tanda tanya besar yang membuatku hampir gila karena kesedihan yang aku bawa setiap harinya. 

Ia tidak bergeming, meskipun suaramu semakin bergetar. Kedua sudut matamu memanas.

Tolong, jangan pernah pergi lagi. Bisikmu lirih.

Ia tidak menjawabnya. Hanya memelukmu semakin erat.

Kamu tahu akan seperti apa akhir dari semua ini. Kamu bisa menebaknya. Ia akan meninggalkanmu. Membuatmu kembali sengsara dengan rindumu yang menyesakkan. Juga pesan-pesan dan teleponmu yang tak akan pernah ia balas.

Kamu dapat membayangkan dirimu akan kembali mengakrabi malam-malam yang sepi dengan menguyah makanan sampah mematikan dan rindu yang sekuat tenaga sengaja kamu singkirkan.

Mungkin juga kamu akan mulai merokok lagi.

Namun malam ini, kamu lepaskan semua ketakutan itu terbang jauh. Dan hanya menyisakan dirimu dan dirinya yang bertaut pada satu momen di mana perasaan kalian saling bersinapsis dalam frekuensi yang sama.

Dan biarkanlah pelukan tersebut menjadi hadiah dari kesedihanmu selama ini.

Screen Shot 2018-05-11 at 2.40.58 AM
source: https://unsplash.com/photos/HIDx1jXz8tA