Love in the age of the internet

Saya sih bukan orang yang kompeten ya untuk ditanya tentang perkara hubungan atau komitmen. Pengalaman komitmen terlama dan teromantis saya hanya bersama series Friends, Game of Thrones, dan Sex and The City. Selebihnya? Ya sudahlah, anggap saja itu cuma ketidaksengajaan, sama-sama butuh, lalu selesai.

Tapi Thalia lain cerita, dia berpacaran dengan Agra sedari SMA. Dari berat badannya empat puluhan kilo, hingga sekarang di angka delapan puluhan kilo.

Seberat itulah cinta mereka berdua.

Namun sayang, beratnya cinta bukan menjadi parameter valid untuk langgengnya sebuah hubungan. Dua belas tahun berpacaran, hingga mendekati umur tiga puluh, Thalia belum melihat tanda-tanda akan ada janur kuning yang akan hadir di depan gang rumahnya.

“Bukan berarti gue tipe cewek yang gila nikah, dan maksa-maksa pacar gue buat buru-buru nabung ratusan juta buat pesta pernikahan yang besoknya orang-orang enggak bakal inget juga. Gue cuma pengein tahu hubungan ini akan ke mana. Goal sih pasti tentang menikah ya, tapi setidaknya gue secure dia memang mau menghabiskan sisa hidupnya sama gue. Kalau memang enggak, ya sudah, lebih baik selesai.”

Ia menghisap batang rokoknya dalam-dalam, dengan perlahan ia hembuskan asap rokoknya yang menggumpal putih. Ia pandang asap-asap rokok tersebut dengan pilu, lalu beralih menatap saya, ada senyum di sana. Meski saya tahu berat untuk ia lakukan.

Siapa sih yang bisa tersenyum setelah hubungan selama sepuluh tahun dibina hancur begitu saja, apalagi hanya karena rasa takut dan ketidakpercayaan. Hal yang ia rasa, seharusnya sudah lenyap dari hubungan mereka.

Tapi ternyata tidak, rasa takut dan ketidakpercayaan bukan sekadar ‘hanya’, mereka pondasi paling dasar. Jika salah-salah pasang, mereka akan jadi semacam jamur dalam hubungan. Yang jika tidak diangkat, akan mematikan mereka berdua.

“But I still do love him. Maybe not as much as before, tapi cukup buat gue untuk sudi saat bangun tidur di pagi hari, dan hal pertama yang gue lihat adalah muka dia. Muka bantal yang sepuluh tahun ini selalu ada, dan menyapa gue dengan mata ngantuknya yang terbuka sebelah.”

Kini Thalia benar-benar tensenyum. Pahit.

“Mungkin elo mau coba metode gue?”

“Apa tuh?”

Pacarque. Aplikasi digital untuk cari pasangan, tinggal isi form dan tulis spesifikasi pasangan yang elo cari. Mulai dari background pendidikan, suku, tinggi badan, berat badan, panjang alat kelamin, sampai kekayaannya. Bisa ditambahin dengan jenis musik apa yang dia dengar, film atau buku favoritnya, dia cari komitmen atau cuma mau have fun. Semua bisa di custom sendiri. Bisa by geo lokasi juga lagi. Tinggal klik, tunggu alogaritma aplikasinya, vice verca, teman kencan pun hadir. Nyari pasangan enggak pernah segampang ini loh.”

Seperti mendengar pedagang obat-obat pinggir jalan, Thalia memandang saya takjub sekaligus bingung. Tapi mungkin lebih banyak tidak percayanya.

“Jadi elo kalau jalan sama orang, lewat aplikasi ini? Pacarque ini?”

“Jelas. Lumayan bisa makan enak gratis, kalau elo suka ya lanjut, kalau enggak tinggal cancel. Kayak elo belanja online aja, bedanya elo belanja pacar. Seru kan? Jadi udah enggak usah kaku mau cari omongan apa pas ketemu. Tinggal tanya, oh elo suka film ini, gue juga suka. Tinggal google dan kepo Instagramnya sedikit, udah ketawan deh dia orangnya seperti apa. Praktis dan hemat waktu.”

“WOW!”

“Mau coba?”

“Sebentar-sebentar! Hello… mereka orang asing! Kalau salah satu dari mereka adalah penjahat kelamin atau serial killer bagaimana?”

“Kan ada kualiti kontrolnya, jadi buat jadi member di sana elo dicek sistem gitu. Jadi benar-benar tersaring.”

“Tapi…”

“Apa bedanya sama elo ngajak ngobrol orang asing di cafe, kantor, atau tempat umum lainnya. Elo enggak bakal tau dia seperti apa kan sifatnya. Bahkan lebih random, elo harus menghabiskan pendekatan yang alot dan lama. Hanya untuk tahu seperti apa orangnya. Bagus kalau cocok, lah kalau enggak? Buang-buang waktu. Pakai aplikasi pacarque elo cuma butuh satu kali klik.”

“Tapi..”

“Enggak ada jaminan juga bakal langgeng antara ketemuan dari digital atau real life. Coba aja dulu, baru komentar.”

Thalia hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.

“Entahlah. Gue cuma ngerasa, kalau gue nanti coba, gregetnya enggak ada aja.”

“Greget apa? Lo dikasih minimal tiga pilihan loh. Kalau banyak yang cocok, bakal banyak daftar orangnya, elo tinggal geser kiri kalau enggak suka, dan geser kanan kalau elo suka. Bisa bikin back up plan juga lagi. Enggak cocok satu, bisa langsung ke opsi berikutnya.”

Thalia makin kelihatan tidak tertarik.

“Greget yang gue maksud adalah saat kita sibuk ngejalanin hari-hari bareng untuk memecahkan misteri pasangan kita. Kita jadi tumbuh bersama dia untuk tahu dia orang yang seperti apa, dan pada akhirnya kita punya itu sebagai bekal kecocokan yang akan membuat masing-masing jadi berkompromi satu sama lain dan berbahagia karenanya. Bukannya itu poin dari sebuah komitmen? Ketika perbedaan melebur menjadi sebuah pengertian?”

“Elo cuma punya dua jam waktu ketemu sama mereka sehabis pulang kerja. Enggak ada waktu buat kencan konvensional seperti itu lagi. Lagian lo gagal juga kan?”

“Tapi setidaknya gue punya memori. Gue punya pembelajaran. Organik. Enggak cuma lewat klik klik di google atau media sosial.”

Tapi saya tetap ngotot memberikan handphone saya dan membuatkan keanggotan Thalia di pacarque. Setelah tiga puluh menit, akun Thalia pun selesai dibuat.

“Selesai, profil elo udah jadi. Tinggal klik tombol search.”

Dengan malas Thalia menekannya, tidak sampai satu menit, Thalia mendapatkan sepuluh foto profil laki-laki yang sesuai dengan kolom-kolom pertanyaan yang ia isi.

“Wow! Ada sepuluh laki-laki yang cocok dan tertarik dengan profil gue? Terus?”

“Tinggal pilih, ajak ngobrol aja.”

Sepuluh menit kemudian, Thalia pun tenggelam dengan percakapannya dengan kesepuluh laki-laki yang cocok dengannya.

“Masih mau bahas Agra?”

“Agra, who?”

“Mantan elo.”

“Oh, sorry, soalnya yang masih live cuma Ardian, Surya, Danzel, dan Arka. Enggak ada Arga.”

“Terserah deh.”

Saya pun meninggalkan Thalia pergi, dan secara diam-diam membawa pulang satu pertanyaan yang tersisa dari obrolan kami. Pertanyaan yang saya ragu untuk tanyakan pada diri saya sendiri sedari dulu.

Dengan majunya teknologi dan kemudahan sistem digital yang ada, mengapa jatuh cinta tidak pernah menjadi mudah?

Dengan banyaknya pilihan, mengapa malah semakin sulit untuk menentukan?

Apa yang sebenarnya manusia cari?

Atau tepatnya, apa yang saya benar-benar cari?

tinderfeature1

A Biggest Problem of Modern People

1-djdiSQjlcc9nGIgw18aqPg.jpeg

Menurut saya akar permasalahan yang sering terjadi di dunia modern saat ini adalah gagalnya komunikasi satu sama lain.

Baik itu dalam skala personal maupun profesional. Komunikasi diganyang sebagai suatu issue yang menghambat performa seseorang maupun dalam kesatuan tim.

Dasarnya komunikasi adalah jalinan umpan balik, a conversation antara satu orang dengan yang lain dengan membawa satu pesan yang akhirnya sama-sama dipahami.

It is about how you delivere the message.

Namun terkadang, skill komunikasi seseorang terhambat pada keengganan seseorang untuk mengolah pesan terlebih dulu. Ada ego sebesar bulan yang membuat mereka merasa superior dibanding lawan bicaranya.

Alih-alih memahami, kebanyakan orang memilih berkoar paling keras seolah dia yang paling paham sabab musababnya. Parahnya lagi, paling tahu solusinya. Dan cacatnya logika pun semakin subur keluar dari mulutnya.

Skema sederhananya, mulut mereka terbuka lebih dulu sebelum otak mereka berfikir.

Menurut saya, di situlah di mana kebodohan itu hadir. Ketika tidak ada satu pun saraf dalam otak manusia tersebut berupaya untuk menghela nafas sejenak, for one or two second, kemudian membaca ulang pesan yang ia dapatkan, mencernanya then comes up dengan buah fikiran berupa pilihan respon terbaik apa yang dapat mereka utarakan.

Karena some people say, mulutmu harimaumu. Sekali berucap, you can’t take back your word, it is include your stupidity.

Saya menulis ini bukan karena saya peduli dengan skill komunikasi satu orang — I’m pointed to someone who was bumped into me with a zero skill of communication and shouted toward me like that person knows how to deal the problem. Instead solve the issue, that person just shows how stupid that person can be.

Dalam seni komunikasi pun diajarkan agar kita lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena dengan mendengar tanpa terburu-buru merespon seseorang, kita dapat mengetahui sebuah informasi baru. Di kasus ini adalah, kebodohan seseorang.

You can laughed afterwards, right on that person face or some secret chat room.

Setidaknya saya belajar sesuatu hari itu, dalam terjalinnya komunikasi ada kalanya lebih baik kita diam dan mengalah. Membiarkan imajinasi tumpul seseorang mengokoh dan menjelma menjadi stupa kebodohan yang menjeratnya dalam suatu kebiasan.

Mengapa Sulit Sekali Untuk Berempati?

Ada yang pernah bilang pada saya, kurang lebih seperti ini: empathy before ego.

More or less orang itu menjelaskan bahwa pada situasi tertentu, yang di mana kita tidak dapat merasakan penderitaan orang lain, setidaknya kita mampu berempati untuk kesedihannya. Bukan berbuat seolah-olah tidak mau memahami yang dialaminya.

Contoh kecilnya: Seorang Ibu hamil yang berdiri di kendaraan umum (kereta, red). Kondisi kereta di jam sibuk bukanlah waktu yang ideal untuk bernyaman-nyaman. Kebanyakan isinya adalah mereka yang berangkat kerja atau pulang kerja. Semua orang sama-sama mengantuk, letih, dan berdesak-desakan. Memang, ada gerbong yang dikhususkan untuk perempuan. Namun pada praktiknya, meledaknya jumlah penumpang, dua gerbong saja tidak cukup.

Pun, di kereta sudah ada peraturan untuk tempat duduk prioritas yang dikhususkan untuk ibu hamil, manula, penyandang berkebutuhan khusus, dan ibu yang membawa anak.

Peraturan itu sudah jelas, bahwa sesama penumpang harus saling menghormati.

Untuk para lelaki pastinya tidak pernah merasakan beratnya hamil. Setidaknya, berbaikhatilah memberikan tempat duduk anda untuk perempuan tersebut. Karena, meskipun anda tidak merasakan beratnya hamil sambil berdiri berdesak-desakan. Setidaknya anda berempati untuk kondisinya. Meskipun anda dalam kondisi sangat kantuk sekalipun.

Kalahkan ego anda yang berupa kantuk untuk seseorang yang kiranya lebih membutuhkan. Tidak ada yang bilang kantuk anda tidak penting. Namun, ini pilihan di mana anda memenangkan empati atas ego anda.

Situasi ini sering sekali saya dapati di kehidupan perkeretaan. Banyak sekali anak muda laki-laki yang kurang memahami nilai tersebut. Dibanding badan bugar mereka, si ibu yang menggendong anak kecil atau bapak-bapak yang sudah sepuh, jelas lebih membutuhkan tempat duduk tersebut.

Sekali lagi, ini bukan berarti kenyamanan anda sesuatu yang tidak penting. Namun alangkah terpujinya jika anda mempraktikan hal tersebut. Membantu sesama, menghormati yang lebih tua, dan peduli pada lingkungan sekitar. Toh, jika anda melakukannya, anda sedang berbuat baik pada seseorang. Ada pahala untuk anda.

Secara sadar tidak sadar, nilai anda pun sebagai manusia akan bertambah. Tidak butuh gelar pendidikan tinggi untuk memahami permasalahan ini. Hanya tinggal menambah dosis kepedulian akan lingkungan disekitar saja.

Karena yang paling mengerikan dari manusia adalah ketika hilangnya kepedulian akan sesama.

Ps: Tulisan ini dibuat saat kesal melihat dua remaja laki-laki bugar bermain hape di tempat duduk, dan tidak peduli memberikan tempat duduk mereka ke ibu-ibu yang menggendong anak dan seorang bapak tua.

Tentang Dua Hal Paling Nikmat Di Jakarta

sex

Kalau ditanya ke saya, saya akan menjawab; makanan dan sex.

Dua hal itu tersedia dengan baik di Jakarta, mulai dari yang jajanan pinggir jalan sampai yang fancy packagingnya. Promo dan marketingnya pun sama-sama memikat hati. Semua bisa dilihat dengan mudah di media sosial maupun offline.

Baik makanan dan sex di Jakarta sama-sama memiliki banyak jenis dan variannya, tergantung selera si pembeli tentu saja. Interest para pembeli pun dengan apik diolah menjadi kategori tersendiri oleh sang penjual. Jadi tidak usah pusing mencari apa yang kamu mau. Tinggal ketik semua ada.

Suka dengan makanan pedas? Pasti yang disuguhkan meliputi makanan seafood atau padang.

Suka sex yang menantang? Pasti akan disuguhkan permainan S & M yang kinky-kinky.

Suka sushi yang di mix dengan cita rasa lokal? Ada kok, bisa beli yang fusion salmon dengan rendang.

Bosan dengan gerakan yang mekanistis dan ingin coba gaya lain? Bisa! Tinggal sebut fetish kamu apa, semua layanan tersedia dengan rapi dan ‘alat-alat’nya pun hadir dengan jaminan kenikmatan tiada tanding.

Semua orang di Jakarta memiliki orientasi sendiri terkait soal makanan dan sex.

Ada yang menikmatinya secara diam-diam, adapula yang terang-terangan memproklamirkannya ke banyak orang.

Enggak ada yang salah dengan itu menurut saya.

Wong, itu kan urusan pribadi.

Perut dan kelamin kan kebutuhan dasar manusia. Yang salah adalah, ketika mencoba untuk mencampuri apa yang orang lain suka, itu baru mengganggu.

Apalagi mengintervensi keintimanan momen ketika menikmatinya. Aduh, urus piring dan ranjang sendiri saja lah ya.

Kenapa pula kita, yang jelas-jelas orang lain, merasa berhak dan bertanggung jawab untuk mencampuri apa yang orang lain suka.

Lagian, jika makanan dan sex menjadi milik publik. Banyak sekali yang berkorban loh. Yang mengaku suka makanan pedas tapi sebenarnya enggak kuat makan cabai seiris. Harus terima sakit perut saat ditraktir Bos.

Dan ada juga yang ngakunya, ehem, mainstream, tapi siapa tahu dia yang paling semangat kalau lelehan lilin nempel di badan dia sambil dicambuk-cambuk.

Lalu bagaimana?

Sisanya, menurut saya adalah hak dan tanggung jawab masing-masing sebagai seorang individu manusia yang bebas. Mereka bisa memilih makanan apapun yang mereka mau, begitupun sex yang ingin mereka nikmati di malam hari. (Ya, I know, makan dan sex tidak terpaut oleh dimensi waktu dan tempat).

Semoga kamu yang membaca, menikmati makan siang dan sex kamu ya.

Sex and Sushi

nakedsushi.0

Di suatu jam makan siang setelah melalui meeting pagi yang melelahkan bersama klien. Saya, Kalula, Bian, dan Rei memutuskan untuk makan sushi di Lotte.

Alasannya karena, pertama kami baru gajian, kedua Lotte dekat dengan kantor kami, dan terakhir saya sudah merengek dari awal bulan ingin mencoba resto sushi baru yang konon chefnya adalah orang Jepang asli. Banyak yang datang ke sana dan bilang lidah mereka dimanjakan dengan keontetikan rasanya. Saya pun penasaran dibuatnya.

Saya, Bian dan Rei berangkat terlebih dahulu menggunakan Uber, sedang Kalula menyusul dengan gebetan-nya (do people still use term ‘gebetan’?). Saat sampai di resto sushi sushi tersebut, ternyata antriannya panjang minta ampun. Tiga puluh menit sudah kami menunggu, baik panggilan guest listatau kehadiran Kalula pun masih belum kunjung datang.

“Semoga sushi ini se-worthy itu untuk ditungguin,” desah Rei kesal.

“Pak Brian, silakan di meja lima,” panggil si Mba pramusaji kemudian. Kami akhirnya masuk dengan perut lapar dan hati yang berdebar karena jam 1:30 PM kami harus kembali ke kantor. Kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk makan.

Setelah sampai di meja, kami meneliti daftar menu yang sesuai dengan selera dan budget (karena masih ada 29 hari yang harus dilewati setelah gajian), akhirnya kami memutuskan untuk memesan dua sashimi mentah yang berisi lima slice besar salmon, dua piring toro, tiga volcano roll, tigaocha dingin, empat sake aburi (I’m so obsessed with it), dan tiga cawan musi.

Sambil menunggu pesanan datang, Brian menelfon Kalula menanyakan keberadaannya.

“Dia bilang sudah di depan, sendiri. Engga sama si gebetannya,” terang Brian.

“Loh, dia kan misah berangkatnya tadi karena mau jemput si Andra kan?” tanya Rei bingung.

I dunno, but thats what she said.

“Tau gitu dia bareng kita aja, bill Ubernya bisa di split empat orang, lebih murah,” ujar Rei kesal.

Kami bertiga mengagguk setuju, kemudian tertawa geli.

Kemudian tepat saat pesanan kami datang, muncul Kalula dari depan kami lalu duduk dengan air muka yang aneh.

“Mba, saya pesan sakenya ya satu. Tidak pake lama,” kata Kalula dengan nada tinggi.

“Kenapa sih?” tanya saya bingung.

“Emang anjing tuh cowok. Udah disamperin, udah gue dandan cakep gini, udah gue ikut Zumba sama diet mayo sampai pusing, eh dia masih loh enggak mau ngenalin gue ke teman-teman kantornya.”

Kalula memukul meja di depannya, membuat semua mata di tempat ini memandang ke arah kami. But sure, I can feel her pain through her shaking voice.

“Gue pikir, setelah beberapa bulan ini, its enough for him to choose me, rather than his girlfriend.” Sake pun datang, Kalula segera menegaknya.

“Kita laper, curhatnya nanti ya di kantor,” Bian mencoba melawak untuk mencarikan suasana.

It works. Kalula kemudian melampirkan senyuman diwajahnya. Lalu kami pun mulai memakan dengan brutal satu persatu sushi di depan kami.

I was romanticise everything about him, I do,” Kalula menyalakan rokoknya. Memulai prolognya sekali lagi.

“Seolah apa yang dia lakuin ke gue itu yang paling hebat. Dan ngebuat gue ngerasa, gue spesial. Padahal kenyataannya, dia emang gitu aja ke semua cewek. Dia cuma nganggep gue sekadar, women who cool to hang out with and easily to fuck with. Fuck my ass.

“Udah pernah back door? Sakit enggak? Pakai lubricant kan?” tanya Bian penasaran yang kemudian diriingi lemparan sumpit oleh Kalula.

Manajer kami sudah menelfon Bian. Kami pun memanggil Mba pramusaji untuk minta tagihannya.

Split bill atau gimana?” tanya Rei.

“Pakai kartu kredit gue dulu deh, nanti gue email detail tagihannya kayak biasa.” Brian memberikan kartu kreditnya.

Saat kami tengah sibuk dengan handphone masing-masing yang berisi chat dari teman sekantor minta dititipkan pesanan sushi juga. Kalula mengeluarkan alat make upnya. Menghapus eyeliner yang terpatri di matanya.

“I don’t believe in romance anymore. I think there is no such thing about romance. Because, romance only a pseudo projections of visual perception created by imaginations. I mean… people only made romance with good looking people, and shitnya gue ngelakuin itu ke dia,kata Kalula berapi-api.

“Am I right?” tanya Kalula penuh kekalutan setelah tidak ada respon dari teman-temannya.

“Excuse me, what are you just saying?” jawab kami bertiga kompak.

Whatever,” Kalula mengibaskan tangannya.

Lalu kami pun keluar dari Lotte dengan tenang. Tanpa Kalula yang berapi-api, atau imajinasi Bian yang sudah masuk ke klasifikasi porno.

Karena supir Uber tidak mau mengangkut empat penumpang, akhirnya kami berempat berpisah. Saya dan Kalula terpaksa harus naik taksi.

Di dalam taksi, Kalula tidak banyak bicara. Ia memandang kosong ke jendela. Riuh dengan isi kepalanya sendiri atas apa yang terjadi siang tadi.

“Gue udah pakai eyeliner, Jem. Sejam gue dandan di kamar mandi tadi. Elo tau kan artinya?” tanya Kalula tiba-tiba.

“Bahwa elo tadi telat ngumpulin report?” jawab saya sekenanya.

Kalula tersenyum tipis. Ini adalah yang seharusnya ia dengar, dibanding kata-kata racun seperti you’ve fallin’ for him.

“I can feel you, La. It happens to best of us, you falling with him who made butterfly on your stomach, you romanticise all things about that person. About the way he look, the way he talk, or what ever when he speak up his mind. Everything that comes out of his mouth feels like song in your head.”

Kalula masih menatap ke luar mobil, entah mendengarkan atau tidak.

“I was set all high expectation till I realised, he just not that good. He just like rest of us who have flaw and could harm me. And when I’ve get hurt, there’s no such good thing about alien or stupid dragon from his favourite series anymore.” Kalula meneteskan air matanya. Sepertinya ini bukan sekadar masalah tidak dikenalkan oleh teman-teman Andra.

I mad at that person. But, actually I mad with myself. Because, the only person that I can blame is myself. Andra engga pernah minta buat gue jadi selingannya,” Kalula dengan kasar menghapus segera genangan air yang keluar dari matanya.

Kami sampai di kantor dengan perut kenyang, tapi Kalula membawa jiwanya yang kosong bersamanya.

Hey, how about the sushi?” tanya seorang teman saat sampai di meja kerja.

“Hmm, sushinya biasa aja. Engga seheboh apa kata orang-orang,”

Lalu saya tersadar. Mengutip apa yang Kalula bilang, ‘manusia cenderung untuk meromantisasi apa pun. Dan melupakan rasa aslinya’. Jangan-jangan orang-orang yang datang ke resto sushi itu sebenarnya merasakan apa yang saya rasakan juga, biasa saja. Tapi karena semua orang terlanjur bilang enak, dan ini menjadi tempat wajib orang-orang gaul, mereka terjebak untuk melanjutkan kebohongan romantisasi rasa itu.

Pada akhirnya, yang dinikmati bukan sushinya, melainkan imaji kenikmatannya. Tidak ada yang lebih meyedihkan ketika hidup bahagia dalam suatu ketiadaan.

Terkadang, Ada Rasa Sakit Yang Bisa Dimaklumi

i
pic from tumblr

Hampir satu tahun saya tidak bertemu dengan teman saya satu ini, namanya Jeihan, seorang teman yang datang dari asas ‘dikenalin’ teman lain. Sebuah pola umum rantai pertemanan di Jakarta.

But, surprisingly we can get along. Karena Jeihan teman yang asik.

Asik karena Jeihan bisa diajak ngobrol topik receh tentang gosip underground para artis-artis Ibu Kota, siapa yang jadi simpenan siapa, sampai ke obrolan soal, ‘kenapa jadi single di Jakarta kok berat banget ya? Mungkin karena pengaruh kosmik dan konspirasi Yahudi di dalamnya ya, kak!’

Obrolan-obrolan random semacam itu lah.

Malam-malam kami ditemani dengan beberapa gelas bir dan batang rokok yang melegitimasi kami seolah menjadi bagian dari yang katanya masyarakat kelas menengah ‘ngehek’ Jakarta.

Oh, tak lupa untuk mengupdatenya di social media tentu saja.

(Tapi kenyataannya kami lebih banyak mengonsumsi martabak keju pinggir jalan sembari menyeduh kopi sasetan di kosan. Penjelasan yang tadi biar terlihat keren saja).

Talking about her, Jeihan dulu seorang penyiar di radio paling terkenal di kota Lampung. Pendengar dia banyak, karena seperti yang tadi saya singgung di awal. Jeihan seorang pribadi yang asik.

Time goes by, Jeihan dan beberapa teman dari Lampung memutuskan untuk hijrah melewati selat sunda, mengadu nasib di Ibu Kota Jakarta. Sampai semesta membawa Jeihan menjadi Mba-Mba kantoran, tepatnya sebagai Account Executive di salah satu radio swasta Jakarta yang sasaran pendengarnya para ‘pekerja muda’.

“Masih sama-sama di radio, Jem,” ujarnya suatu waktu.

Di kosan barunya yang berisi dua temannya yang lain (biar hemat katanya). Jeihan memasak pempek kesukaan saya (sebagai hadiah sudah lama tidak berjumpa, dia tahu betul saya penggila pempek). Sepanjang memasak (Jeihan memasak-saya update SnapChat) kami saling bercerita tentang apa saja yang kami lewatkan selama setahun terakhir.

Banyak yang terjadi, beberapa berubah, tapi ada hal yang masih tetap sama.

Jeihan menjadi satu-satunya orang lama di kantornya yang bertahan, di saat beberapa teman sejawatnya memilih untuk resign atau diberhentikan. Salah satu alasan mengapa Jeihan masih bertahan karena dia senang menjadi pusat perhatian. Ketika presentasi di depan calon klien, ia mendapatkan sensasi di mana semua mata memandang dirinya, semua telinga mendengarkan detail-detail yang ia ucapkan.

That’s the best feeling in the world, Jem,” akunya.

Good, if you do what you love.

Kemudian Jeihan berfikir sejenak.

“Sama dikejar target sih, Jem. Kalau hidup enggak ada target, pasti basi banget. Plain aja gitu.”

Ia memotong dengan telaten pempek yang sudah membatu dari freezer kulkas.

“Kalau target nikah gimana, Han?” tanya saya memberanikan diri.

Dia tertawa mendengar pertanyaan saya. Jeihan kini berusia dua puluh delapan tahun, dan masih single.

I already gave a chance to my ex-boyfriend to fix our relationship. But, ketika semua sudah dicoba. Dia tetap enggak berubah. Then, we decided to end our relationship.”

Ada jeda di sana. Kami melakukan platting ala-ala, kami memiliki ide menghias piring dengan beberapa cireng goreng.

“Tapi, beberapa bulan lalu. Something happened,” Jeihan mengangkat pempek yang sudah masak lalu menaruhnya di piring yang penuh dengan cireng goreng dan genangan cuko khas Lampung. (Bahkan saat menuliskannya saja, saya menelan air liur saya, saking nikmatnya).

“Apa tuh, kak?”

I met this guy. The perfect guy. Cowok paling cakep sepanjang karir percintaan gue.”

“SIAPA KAK? LIHAT DONG FOTONYA!” teriak saya antusias.

Dia lalu memamerkan foto si perfect guy itu, (tipikal cowok tampan di akhir dua puluhan, putih-rapih-badan berotot, tapi yes dia cakep) diringi seringai bangga tentu saja.

“Terus, doi ke mana?”

“Nikah sama pacarnya,” jawab Jeihan kasual sembari mengambil satu sendok pempek di piringnya.

“Perih kak.”

Kami kemudian beranjak menuju ruang santai di dekat AC. Berebut memakan pempek kapal selam yang dibanjiri cukonya yang pedas.

“Tapi, itu adalah tiga bulan terbaik sepanjang hidup gue,” kata Jeihan. Tulus.

“Karena…..”

“Di kasurnya enak, bok!” Kami tertawa girang sekali.

“Masa sih cuma perkara cakep doang?” tanya saya penasaran.

“Gue cocok sama dia, selera musik kami sama. Dia denger PANAMA, Jem. Jarang yang tau band itu padahal loh. Terus so on and so on. Sampai gue waktu itu harus masuk Rumah Sakit. Puji Tuhan semua di cover sama kantor, ENAM FUCKIN JUTA soalnya. Pedihnya, gue ke Rumah Sakit sendirian, daftar sendirian, sampai resepsionisnya bilang, langsung ke UGD aja. Dan itu pun gue masuk ke UGD sendirian. Hahaha. Nasib jadi single.”

“Terus”

“Dia telfon gue. Gue masih inget suara panik dia. Saat itu dia belum bilang tentang perasaannya ke gue, I’m still considering him as a good friend aja. Pas gue kasih tau gue stay di UGD. Engga pake lama dia langsung nyusul ke Rumah Sakit.”

Thing you do for love.”

“Hahaha. Love? Really?” Jeihan tertawa sinis, agak ragu dengan term ‘Love’ yang saya maksud.

“Dari situ dia baru bilang, dia suka gue, dan takut kehilangan gue. Dan best partnya adalah, I already knew dia udah punya calon buat dinikahin. Kenapa gue bilang best part, karena asli deh. Cewek, kalau dipuji-puji lebih baik dibanding cewek lainnya, dijamin langsung klepek-klepek.”

Then..

“Ya sudah, kami sering jalan bareng. Intens, sepanjang tiga bulan itu. Sampai di mana, hari pernikahan dia. And we say goodbye. Properly. No drama.

Really? Se-casual itu?”

“Sangat! Bahkan sampai dia bilang, abis dia nikah beberapa bulan terus bakal divorce sama istrinya, I say NO.”

“Kenapa? Bukannya elo suka dia?”

I believe Karma does exist, bitch!” Kami mengangguk mengamini.

Perut saya pun mulai bereaksi, penuh dengan tumpukan pempek dan cerita Jeihan. Tersisa dua potong pempek di piring kami.

“Habisin, Jem.”

“Kenyang, Kak!”

Sembari menunggu perut rehat sejenak, Jeihan memainkan handphonenya lalu memutar satu buah lagu.

You say it used to be different, mmm mhm mhm
I know it’s safe but won’t you take me home
You know it could have been different, mmm mhm mhm
You say you wish that it was over 
— Panama.

“Ini our theme song,” jelasnya.

“Masih kangen ya?”

“Sangat, Jem!”

“Sepi ya kasur?” Tawa kami mengisi seisi ruangan.

One of the biggest reason, perhaps, I was fallin for him because of his look. Gue masih random lihat-lihat foto berdua sama dia yang dulu-dulu. Tapi engga, ada memori di mana kami benar-benar terkoneksi. Perasaan itu mutual. Sayangnya, ada periode berakhirnya. Tak ubahnya seperti pempek ini”

“Kenapa jadi ke pempek deh?”

“Ya itu. Ibaratnya, perut elo udah kenyang banget, mau dipaksain juga buat makan tuh pempek elo bakalan engga mau. Sesuka apa pun elo sama pempek itu. Karena bukan cuma elo bakalan sakit perut, tapi porsi untuk enaknya bakalan ilang. Karena memang udah kenyang aja. Jadi yang elo pengen inget enaknya aja,” Jeihan terdiam.

“Paham kan elo?”

Saya menganggukkan kepala.

We just two people who fallin in love in the wrong time. Sayangnya dia mau nikah, bukan mau sunatan.”

Kami berdua kemudian melupakan sisa pempek di piring kami. Ada spasi kosong beberapa menit kemudian, di mana pikiran kami berkhayal ke satu imaji membayangkan ketika kami memiliki kekuatan super untuk dapat mengkristalkan suatu momen atau mengulang kembali momen singkat terbaik dalam hidup kami.

“Gue balik ya! Besok masih harus ngeburuh.” Jeihan ada di dapur sedang mencuci piring kotor bekas pempek tadi.

“Kadang yang enak harus dibersihin juga ya, Jem. Hahaha. Hati-hati, Jem.”

Kemudian saya pun pulang, saat pintu kosan Jeihan tertutup saya membawa satu pertanyaan yang tersisa,

‘Seandainya……’.