Review Series Love: Tentang Gambaran Candu

Well, kemarin gue baru beres nonton series di Netflix judulnya LOVE. Kreatornya Jude Apatow, si jenius di balik beberapa film romantic comedy favorit gue seperti Bridesmaids, Superbad, dan This is 40.

Hal yang paling gue suka dari film doi adalah akan bagaimana ia mengangkat dan memusatkan narasi filmnya lewat karakter yang biasa-biasa aja. Sosok yang bisa gue temui setiap harinya secara random di kehidupan sehari-hari. Terkadang gue pun seperti dapat melihat diri gue di dalamnya.

Meskipun yang dihadirkan adalah wajah orang-orang kebanyakan, namun bukan berarti ‘orang-orang biasa’ tersebut tidak memiliki ‘masalahnya’ sendiri. Dan di tangan Jude Apatow, masalah tersebut dipulas dengan begitu menarik, relatable, dan engaging.

Dengan signifikan ia menggambarkan kedalaman karakter orang-orang biasa tersebut melalui reaksi-reaksi mereka yang mungkin bisa bikin elo bergumam kecil: SHIT! Aing juga bakal berekasi kayak gitu.

Semacem di film Bridesmaids nih, saat si Annie perebutan mic sama Helen untuk berlomba-lomba nunjukin di depan banyak orang kalau mereka adalah sahabat paling deketnya Lillian.

Itu kan hal paling basic dalam dunia pertemanan bukan? Kita bakal insecure sejadi-jadinya saat posisi sebagai ‘sahabat kental’ terancam dengan kehadiran orang baru.

Gue sih sangat bisa membayangkan diri gue melakukan yang Annie lakukan ya. Hehe. Makanya gue suka sebel sama film-film atau novel-novel yang menggambarkan karakter utamanya kelewat sempurna. Pengen banget bisikin begini ke kuping yang buatnya…

Screen Shot 2018-05-18 at 4.34.53 PM

Dari sana gue sebagai si another ‘orang-orang biasa’ tersebut terasa terwakilkan dan berfikir; mungkin memang enggak ada yang sempurna di dunia ini, di kehidupan ini. Kesempurnaan cuma state of mind kita aja.

Mungkin ya.

Screen Shot 2018-04-05 at 6.09.34 PM

Anyway, kembali tentang si series Love. Series ini mengisahkan dua tokoh utamanya yaitu Gus dan Micky. Ceritanya mereka berdua sama-sama sedang gagal dalam hubungan percintaan yang sudah lama mereka jalin gitu.

Kemudian di suatu pagi setelah kekacau balauan hidup mereka, di sebuah toserba mereka bertemu secara tidak sengaja. Dan dari sana lah petualangan cinta itu dimulai.

Cinta? Iya, cinta.

Orang-orang di usia 30an yang sudah jatuh bangun patah hati atau sering ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya ternyata masih punya kesempatan untuk jatuh cinta yang lucu-lucuan gitu loh.

Seenggaknya itu yang dialami Micky and Gus di sana ya.

Tentu saja perjalanan cinta mereka berdua naik turun. Di beberapa episode awal mereka masih gemes tarik ulur kejar-kejaran, atau diam-diam menyimpan perasaan masing-masing.

Ya namanya juga masih anget-angetnya.

Tapi, karena pada dasarnya mereka memang baru kenal satu sama lain, gejolak emosi pasti muncul di saat mereka berusaha memahami perbedaan karakter yang ada. Kesalahpahaman sering muncul saat ego dan insecurenya Micky berhadapan dengan kepragmatisannya Gus.

Gus adalah tipe orang yang berusaha untuk menekan semua amarah yang ada dalam dirinya hanya untuk menjadikan sekelilingnya merasa baik-baik saja. Mengorbankan perasaan dia sendiri, yang ujungnya malah merusak semua yang ada.

Tuh, jangan suka mendem atau meledak-ledak jadi orang. Ribet nanti hidupnya.

Selain tentang cinta-cintaan, series ini membahas sesuatu yang lebih dalam lagi. Dan ini lah yang menarik untuk dibahas.

Dalam setiap hubungan pasti ada satu pihak yang menjadi si obsesif. Si needy. Tipe manusia yang menutut segalanya harus dituruti sesuai dengan standar orang tersebut.

Kalau ketemu pasangan yang nurut sih ya semuanya bakal baik-baik aja. Tapi, apesnya kalau ketemu pasangan yang pragmatis pasif agresif (apa coba?) pasti endingnya yang ada cuma ngotot-ngototan satu sama lain.

Si pihak obsesif merasa ditolak dong ya, padahal ya si pragmatis cuma enggak mau ribet aja terus besoknya udah selow lagi.

Namun namanya ngerasa ditolak, emosi pun hadir. Dan jadilah si sosok yang tadinya obsesif menjadi drama dan meledak-ledak sejadi-jadinya.

Itulah yang terjadi dengan Micky. Salah satu adegan yang paling membekas di kepala gue adalah ketika Micky berubah menjadi si needy yang begitu emosional dan tidak ada henti-hentinya texting Gus setiap saat ketika Gus menolak bertemu dengannya untuk membahas sesuatu.

Setelah puluhan telepon dan pesan yang tidak berbalas dengan impulsifnya Micky pun menyambangi kantor Gus dan ‘menanyakan’ alasan mengapa Gus nyuekin dia. Nanyanya dengan amarah yang mendongkol tentu saja.

Mendapatkan jawaban yang tidak diingankan dan malah ditolak secara langsung oleh Gus, membuat mental Micky berantakan. Ia berteriak-teriak dengan begitu hebat tanpa menyadari bahwa yang dia lakukan hanyalah mempermalukan dirinya sendiri. DI KANTOR ORANG, DI DEPAN BANYAK ORANG.

Cut to dari sana, Micky dan Gus pun memilih break dan menjauh satu sama lain. Dari sana Micky menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Dengan kepribadiannya. Dengan tingginya kebutuhan dia akan perhatian dari orang lain. Spesifiknya ke certain person yang dia care about.

Micky akhirnya sadar bahwa dia adalah seorang pecandu. Baik itu dengan alkohol, rokok, dan juga cinta. Dan untuk memperbaiki dirinya, ia pun bergabung dengan support grup bagi para pecandu alkohol dan cinta. Pelan-pelan dari sana Micky menjadi pribadi yang akhirnya dapat mengendalikan urgensi dirinya atas perasaan apa pun. Baik itu perhatian dari Gus dan ketergantungannya pada alkohol.

Dan, kawan, dari sana lah gue seperti melihat diri gue dalam kepribadian Micky. Seperti ada bunyi klik.

Jangan-jangan gue si Micky deh? Atau sebenarnya gue sudah menjelma menjadi si Micky tanpa gue sadari?

Gue pun mempertanyakan hal itu pada teman-teman gue dan juga ke korban kegilaan gue: si R dan si D. (D sih enggak jawab, hanya si R yang tahan dengan segala kegilaan gue dan rela menjawab).

Dan jawaban mereka adalah…..

positif. Bahwa gue seneedy itu juga.

Fine.

Gue dapat merasakan keterhubungan yang dilakukan oleh Micky terhadap Gus. Micky hanya ingin didengar, ditemani. Mungkin memang porsi ekspetasi Micky berlebihan, tapi itu bukan tanpa sebab. Perhatian menjadi sebuah candu untuk orang yang biasa ditelantarkan, dibuang.

Bahkan pernah loh si D bilang ke gue bahwa ekspektasi adalah sesuatu yang menjadi akar masalah di antara kami. Gue yang saat itu masih muda belia dan labil tentu saja marah. Bagaimana bisa seseorang yang memberikan gue kebahagian luar dalam ber’ekspektasi’ pada diri gue untuk tidak berlebihan merayakannya. Membalasnya.

I mean, I want make this thing longer. Tapi yang ada, dia merasa apa yang gue lakukan terlalu menyesakkan dirinya. Pret.

Orang-orang yang needy dan se-obsesif itu tidak melulu tiba-tiba menjadi seperti itu. Ada pengalaman dan perjalanan pahit di masa lalu yang membuat seseorang memiliki kepribadian tersebut. Terjebak pada perasaan ditolak yang mau sehebat apa pun disembuhkan, luka itu akan tetap hadir. Perasaan tidak lebih baik dari apa pun akan selalu menghantui.

Dan ketakutan untuk merusak kebahagian yang ada akan bercongkol di tiap kesempatan. Karena ya itu yang gue rasain. Setiap ada kebahagian datang di hidup gue dalam bentuk apa pun, gue sudah bersiap-siap pack up my feelings karena pasti di ujung-ujungnya gue akan melakukan suatu hal bodoh yang akan ruin everything. Itu semua sudah seperti hukum Newton. Sebuah kepastian yang tidak dapat gue hindari.

Seperti semua yang gue punya, baik R dan D memberikan sesuatu yang sebenarnya cukup. Mereka datang ke hidup gue dan gue bahagia karenanya. Tapi ada satu titik di mana gue terlalu ketakutan dan tidak mau semua kebahagian itu hilang. Dan yang ada karena ketakutan enggak jelas itu perlahan gue malah menjadi si gila yang menuntut segala hal yang tidak masuk akal ke mereka.

Sampai pernah loh gue nyamperin kantor si D dan gue breakdown di depan dia. Nangis jejeritan kayak orang ditinggal mati padahal cuma perkara si D enggak balas WA gue aja. Astaga! Gue sampai malu hati kalau ingat ketololan gue itu. Dan itu gue ngelakuinnya dua kali. Breakdown kok doyan. Heran.

Yang menjadi highlight lagi adalah di series Love ditunjukkan tentang sebuah Support Group yang membantu Micky melewati fase-fase ia meninggalkan ke needy-annya. Dan gue seperti butuh itu deh di Jakarta ini.

Gue kalau curhat masalah-masalah begini enggak jauh-jauh ke teman-teman gue yang sepertinya sudah bosan dengan curhatan gue. Sampai ada loh salah satu teman gue yang merasa gue adalah orang yang sangat self centered. I’m a selfish bitch yang selalu curhat tentang diri gue sepanjang waktu.

Padahal saat itu gue butuh banget untuk sharing sesuatu yang benar-benar belum selesai antara gue dan perasaan needy gue sama orang yang I care about.

Jadi, lari ke teman terkadang memang tidak menyelesaikan perasaan neurotic itu. Jika ada sebuah support group, di sana gue pasti bisa berbagi dengan orang-orang yang merasakan hal sama dengan gue. Melalui momen-momen pahit yang pernah kami lalui untuk sekadar mengkonfrotasikan emosi dan kepedihan yang selalu gue bawa setiap hari.

Lalu bersama-sama bangkit menata hidup yang berantakan ini dan memusatkan perasaan kelam ketika menghadapi momen…. KENAPA SIH DIA LARI DARI GUE? KENAPA SIH DIA BERUBAH? KOK DIA PERGI SIH PAS GUE LAGI SAYANG-SAYANGNYA? so on and so on.

Semua penolakan-penolakan itu harus dibicarakan. Harus disudahi.

Karena kalau tidak gue takut itu akan menjadi penyakit yang terus menerus menggerogoti gue tiap kali gue berada dalam sebuah hubungan. Karena nantinya it is gonna be only a different cast but with the same ending all over again. Peran gue hanya akan terus menjadi ‘si gila’ belaka.

Dan harus gue akui jika gue sudah berusaha segitunya banget untuk menyelesaikan suatu masalah dan hasilnya tetep nihil dan gue tetap kembali ke masalah tersebut. Mungkin… mungkin loh ya. Memang lebih mudah untuk kembali ke masalah yang gue sudah tahu luar dalam. Bahwa pada akhirnya orang-orang itu akan kembali lagi ke gue setelah mereka menolak gue.

Tapi yang terjadi sekarang adalah… mereka semua sudah berkeluarga. Dan gue si duri dalam daging. Yang harus gue lakukan bukan datang lagi ke kehidupan mereka.

Tapi menyelesaikannya. Menamatkan kisah tersebut. Gue enggak butuh masalah ini di satu atau dua tahun mendatang.

Mungkin gue harus jatuh banget sampai sakit se pedih-pedihnya biar mikir bahwa diri gue adalah toxic untuk orang lain dan harus pergi dari sana.

Ayodeji Awosika menulis,

“Sometimes the best way to point your life in a new direction is to become completely disgusted with your current one… I finally said ‘enough is enough.’Strong negative emotions can be just as powerful as positive ones. When will ‘enough be enough,’ for you? When will you decide you can’t live this way for even one more day? Once you make that decision, everything changes.”

Perasaan ditolak memang sakit, dan tiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Tapi belajar untuk mengakui hal tersebut dan pelan-pelan menyalurkan emosi dan kesedihan tersebut pada hal lain yang lebih konstruktif sepertinya sesuatu yang harus gue coba. Gue harus mengalihkan semua kedramaan dan kepedihan gue pelan-pelan.

Karena dengan terus feeding ke-needy-an gue itu, yang gue dapet hanyalah ketiadaan.

Dan untuk kamu-kamu yang suka drama dan merasa hidup berantakan saat ditolak oleh orang yang kamu sayang. Tenang, kamu enggak sendirian kok.

Advertisements

Sarah Sechan: Tentang Semesta Era 90an dan Keunggulan Ikonnya!

Sarah Sechan merupakan salah satu VJ MTV ASIA di era 90an yang memenangkan banyak hati penontonnya di Asia Tenggara, terlebih di Indonesia. Sepanjang karirnya di MTV ASIA, Sarah Sechan menjadi asosiasi ikon remaja dengan gayanya yang lucu dan cuek. Tak pelak, setelah dua puluh tahun lebih berlalu, Sarah Sechan masih menjadi memori paling menyenangkan pada tiap-tiap orang yang pernah menontonnya di layar kaca mereka kala itu.

Termasuk saya.

Setelah menuliskan posting-an tentang MTV dan secuil menyinggung tentang betapa pentingnya keberadaan Sarah Sechan dalam hidup saya di sini.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.40 PM

Screen Shot 2018-04-12 at 7.29.03 PM
Seneng banget pas tulisan direspon Teh Sarah

Ada dorongan tersendiri dari dalam diri saya untuk menjelaskan alasannya dan mengapa menurut sudut pandang saya penting sekali untuk memiliki kembali ‘Sarah Sechan’ dalam kehidupan generasi digital saat ini. At least, minimal untuk adik saya lah yang baru memasuki bangku SMA.

Awal Mengenal Sarah Sechan

Saya lahir tahun 1990 dan pertemuan pertama saya dengan Sarah Sechan adalah menontonnya di serial televisi berjudul Olga Sepatu Roda tahun 1996 atau 1997 jika saya tidak salah ingat. Om-Om saya di rumah adalah penggemar novel Lupus dan Olganya Mas Hilman Hariwijaya, dari sana lah saya jatuh cinta membaca kisah epik Olga dengan Radio Gaganya.

Saat membaca novel-novel Olga terbayang akan sosok perempuan cuek, lucu, dan super nyebelin namun kita sayang. Lalu saat melihat Sarah Sechan membawakan peran tersebut di televisi bareng dengan Cut Mini sebagai sahabatnya, Wina. Sarah Sechan sukses menghidupkan karakter Olga luar dalam.

Yang paling saya ingat tentu saja saat Sarah Sechan diam-diam kabur dari kamarnya di malam hari sambil menenteng sepatu rodanya untuk pergi siaran yang mana berakhir ketahuan dan kena omel Mamih. (Mamih tuh enggak pernah hafal nama radio Gaga. Dia kalau ngomel pasti akan bilang: YA ETA, RADIO HAHA, RADIO TATA, RADIO LALA. HAHAHA. Lucu deh si Mamih).

Screen Shot 2018-04-12 at 7.58.14 PM

Betapa dulu menonton Olga di jam empat sore selama satu tahun mendorong saya untuk merengek dibelikan sepatu roda saat kenaikan kelas (namun sampai umur sebesar ini saya tidak pernah memilikinya. Maklum sobat miskin sejak lahir).

Lalu setelah legitimasi menjadikan Sarah Sechan sebagai idola tetap di antara power ranger, Doraemon, dan Sailor Moon. Tak disangka di satu sore sebuah kejadian merubah segalanya.

Saya masih ingat dengan jelas, setelah semalam suntuk menghafal surat-surat pendek Alquran agar besoknya lulus tes duluan dan bisa pulang dengan cepat demi menonton Olga tanpa ketinggalan satu detik pun.

Saya bergegas ke ruang keluarga, mengambil kuda-kuda untuk duduk rapi di depan televisi ditemani satu piring Indomie Goreng dengan toping chiki Taro yang sudah disiapkan Ibu saya.

Dengan jantung berdebar saat logo Indosiar berganti opening theme dan lagu sinetron Olga seperti biasa, scene pertama pun diawali dari depan pintu kamar Olga saat Mamih membangunkan Olga untuk sekolah. Saat pintu kamar terbuka, Olga merengek sebal karena Mamih mengganggu tidurnya.

Ada yang aneh. Saya tidak menemukan Sarah Sechan. Namun, mengapa perempuan di televisi tersebut dipanggil Olga? Lalu setelah lima belas menit berlalu, saya baru menyadari YANG JADI OLGA BUKAN SARAH SECHAN.

Mereka mirip. Tapi OLGA bukan SARAH SECHAN.

Saya yang masih enam tahunan kala itu tidak dapat mengekspresikan betapa sedih dan jengkelnya diri saya.

Saya cuma bisa teriak-teriak memanggil Ibu saya untuk memastikan bahwa yang saya tonton adalah Sinetron dengan judul yang benar dan memang perempuan berambut panjang di televisi kala itu bukan Sarah Sechan.

Ibu saya yang melihat ketantruman anaknya tentu saja bingung, lalu ia buru-buru mengecek jadwal-jadwal sinetron yang biasa ada di koran. Setelah membaca dua kali judulnya setelah iklan, Ibu saya dengan yakin memastikan bahwa yang saya tonton adalah sinetron yang benar.

“TERUS KENAPA OLGANYA BEDA?” saya masih ingat rengekan saya kala itu.

“YA MANA MAMAH TAU! Dia sakit kali makanya diganti,” jawab Ibu saya mencoba menenangkan.

Dari situ saya pun menganggap bahwa Sarah Sechan sedang izin sejenak karena sakit dan pasti akan kembali lagi.

Seperti kejadian Bu Sarti, Guru saya waktu kelas 1 SD dulu yang pernah izin satu minggu tidak masuk mengajar dan digantikan guru lain. Lalu di hari Senin depannya kami murid-muridnya bertemu dia lagi. Mungkin akan seperti itu polanya. Pikir saya kala itu.

Namun, setelah empat episode berlalu dan saya tidak melihat Sarah Sechan kembali.

Dari sana saya pun patah hati dan berjanji tidak akan pernah menonton sinetron Olga Sepatu Roda lagi yang tidak ada Sarah Sechannya.

MTV dan Sarah Sechan

Datanglah masa di mana Tante-Tante saya menyanyikan lagu, …BABY ONE MORE TIME! berulang-ulang tanpa bosan.

Jadwal menonton televisi di rumah saat jam empat sore yang sudah lama saya tinggalkan pun tiba-tiba digeserkan oleh Tante-Tante saya.

Ada apa nih?

Penasaran saya pun ikut nonton bareng. Tante saya dan teman-temannya yang sudah SMA kelas akhir kala itu berbisik-bisik centil tentang peruntungan zodiak dia dan pacarnya.

“Apa sih itu ZODIAK? Apa sih itu pacar?” tanya saya bingung.

Karena berisik, mereka pun mengusir saya.

Lalu saat mereka sudah siap mencatat apa yang ada di televisi, saya melihat satu perempuan berambut hitam panjang dengan bulu-bulu putih di lehernya.

ITU KAN SARAH SECHAN!

Saya pun ikut meriung ke tempat di mana Tante-Tante saya dan teman-temannya mencatat dengan khidmat apa yang diucapkan oleh Sarah Sechan.

Ini semacam kisi-kisi ujian EBTANAS apa gimana sih? Pikir saya.

Tapi bodo amat lah. Saya akhirnya bisa melihat Sarah Sechan kembali di layar televisi.

Sejak itu setiap harinya di ANTV, diiringi dengan video-video lagu dari luar negeri dan band-band lokal. Dengan khusuk saya menyaksikan Sarah Sechan ngebanyol dengan Jamie Aditya di MTV Land. Mewancari penyanyi-penyanyi luar seperti GIL, SHANIA TWAIN, dan RICKY MARTIN dengan bahasa inggris yang lancar dan gimmik-gimmik lucu.

Tidak ada yang berubah dari Sarah Sechan, ia tetap menghibur meskipun namanya bukan lagi Olga dan ketika dia ngomong entah kenapa tiba-tiba muncul teks berjalan di bawahnya.

Sebagai anak kecil yang terlanjur ngefans saya sih senang-senang saja melihat Sarah Sechan lagi meskipun sebenarnya saya tidak terlalu paham juga apa yang ia bicarakan dan teks berjalan itu tulis sih. Hehe.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.16 PM

Bukan Melulu Tentang Kecantikan

Mengapa Sarah Sechan bisa begitu ikonik di masanya bahkan sampai sekarang?

Apa sih yang membuatnya disukai banyak orang dan keunggulannya dibanding presenter-presenter lainnya?

Sarah Sechan memiliki keotentikan dirinya yang membuatnya diingat oleh banyak orang. Lewat celetukannya yang khas, pemikiran-pemikiran terbukanya yang diutarakan lewat bahasa simple dan lugas, juga pembawaan personalitynya yang menyenangkan membuat dirinya menjadi ‘suara’ akan generasinya.

Generasi yang sedang berada dalam transisi reformasi kala itu, ia menjadi pembebas di sana. Ia si perempuan modern yang melihat sesuatu dengan sudut pandang yang kosmopolitan namun tetap ajeg dengan kearifan lokal yang ada.

Meskipun berbahasa inggris dengan lancar, namun bukan berarti ia melupakan budayanya. Sarah Sechan hadir dengan perpaduan itu semua.

Kepercayaan dirinya, etos kerjanya, juga kemandiriannya memberikan sesuatu yang sudah jarang ditemukan di era digital ini. Ia perempuan yang berpegang kuat pada prinsip. Dapat kita temukan lewat tindakan-tindakannya seperti: saat pernikahan pertamanya ia tidak mau media meliputnya, saat ia menutup akun media sosialnya, dsb.

Ketika semua orang berlomba-lomba menjadi si cantik dan menjadi ‘sama’. Dari dulu Sarah Sechan berusaha untuk mencari apa yang menjadikannya berbeda, spesial, dan dekat dengan banyak orang.

Formula tersebutlah yang membuat Sarah Sechan terus dikenang oleh banyak orang. Sarah Sechan terasa dekat karena kebodorannya. Ia tidak berusaha menjadi si paling cantik, namun menjadi teman yang menemani siapa pun yang menontonnya. Namun, secara bersamaan aura bintangnya pun keluar lewat talentnya yang memang membuat orang nyaman berlama-lama menontonnya dan berlomba-lomba ingin menjadi temannya atau menjadi seperti dirinya.

Screen Shot 2018-04-12 at 7.24.00 PM

Saya rasa kualitas itu lah yang membuat Sarah Sechan unggul daripada yang lain.

Semesta Era Tahun 90an

Tahun 90an adalah era di mana televisi menguasai tiap-tiap ruang di rumah banyak orang. Media pesaingnya kala itu adalah radio dan printed media (majalah dan koran).

Semesta yang terbentuk kala itu adalah informasi yang datang yaitu secara berkala dan harus dicari. Itu membuat beberapa selebritas memiliki misterinya sendiri. Termasuk Sarah Sechan.

Sampai sekarang saya masih penasaran, seperti apa sih konten yang Sarah Sechan bawakan saat menjadi penyiar radio pagi hari di bawah arahan Mutia Kasim?

Media kala itu membentuk glorifikasi akan kemodernan lewat pembangunan kota Jakarta yang megah dan artis-artis yang rupawan.

Vibe tahun 90an memang gempar dengan pemberontakan dan hedonisme modern.

Dan Sarah Sechan berada di dalamnya dengan konsep yang banyak orang inginkan. Anak muda yang sukses lewat karir entertainment. Menjadi penyiar radio, VJ, dan pemain sinetron.

Khayalan dan ilusi akan semesta 90an tersebut membuat orang-orang menyimpan mimpi tersebut dan berkeinginan bahwa jika dewasa nanti, atau sesukses nanti, mereka ingin menjadi seperti Sarah Sechan.

Setidaknya untuk saya kala itu. Mimpi menjadi VJ atau penyiar radio menjadi bucket list yang saya simpan diam-diam.

Sarah Sechan VS Generasi Now!

Seperti yang saya singgung sebelumnya, yang membuat Sarah Sechan mencuat dan membekas adalah ia menjadi suara untuk generasinya. Ia adalah representasi anak muda modern dengan pemikiran terbuka.

Yang mana pemikiran-pemikirannya kala itu mengubah dan menginfluence banyak orang. Ada kedalaman berfikir yang membuatnya dihargai dan bertahan hingga sekarang.

Jika dibandingkan dengan mereka yang berada dalam semesta digital. Sesungguhnya perbedaan tersebut kontras sekali.

Kini, pengukuran akan ‘influence’ hanya dilihat dari angka dan bukan bobot maupun kualitas kontennya.

Mereka-mereka yang pamer harta lewat kehidupan sehari-hari akhirnya menjadi sampah pikiran yang menjadi lucu-lucuan semata. Namun, pada praktiknya tidak memberikan efek berarti pada generasi yang menontonnya.

Apa sih sumbangsihnya? Apa sih legacynya pada nantinya?

Sedangkan di tahun 90an, kebebasan untuk berekspresi seperti itu bagi anak muda adalah sesuatu yang mahal. Dan Sarah Sechan dengan jelas menggerakkan anak-anak muda di masanya untuk bereksperimen dengan pemikirannya, terbuka dengan hal yang baru, banyak membaca dan berani mengutarakannya.

Ketika kepekaan dan humanisme bersuara dalam diri Sarah Sechan tetap ada, maka ia akan relevan sampai kapan pun.


Kekhawatiran saya mungkin berlebihan, namun menemukan role model yang dapat memotivasi untuk menjadi lebih baik adalah sesuatu yang mahal di masa sekarang. Kebanyakan mereka-mereka di semesta digital muncul bagaikan toxic dengan drama yang membuat orang berteriak: APAAN SIH YANG BEGINIAN KOK BANYAK YANG NONTON!

Mungkin zaman berganti, trend bergeser, tapi yang coba ingin saya sampaikan sebenarnya sesederhana jika tidak bisa menjadi NADYA HUTAGALUNG, jadilah SARAH SECHAN.

Kita semua tidak harus menjadi sama kok. Semua memiliki keunikannya sendiri dan berbanggalah dengan itu.


Jika dulu Sarah Sechan biasa membacakan surat anak nongkrong MTV di acara MTV Most Wanted. Anggap saja tulisan ini adalah surat yang tidak pernah terkirim dari seorang penggemarnya yang dulu sering curi-curi menonton idolanya saat disuruh mengaji meskipun saat menonton ia tidak terlalu mengerti apa isinya.

Namun, yang pasti ia merasakan sesuatu yang ketika besar nanti ia akan mengerti artinya. Namanya kebahagian. Dan kini mengenang Sarah Sechan tidak akan lepas dari kebahagiaan itu sendiri.

Terima kasih Sarah Sechan untuk masa kecil yang seru mulai dari Olga Sepatu Roda dan MTVnya. I love you, Teh 🙂

Salam,

Figuran Jakarta.

Cerita di Akhir Bulan

Belanja bulanan adalah satu dari banyak aktivitas rutin yang dilakukan untuk mengisi ulang persediaan makanan, kebutuhan kamar mandi, atau terkadang masa lalu yang tak sengaja terbeli.

“Menurutmu sudah berapa banyak mie instan ya yang aku beli sepanjang hidupku?”

Aku mencoba menghitung, I mean, dengan serius. Membuka kalkulator lalu menghitung ada berapa minggu dalam dua puluh delapan tahun. Kemudian aku kalikan dua (karena sejak kecil aku diharuskan hanya boleh makan mie instan di akhir pekan saja). Hasilnya dua ribu sembilan ratus dua puluh. Jika dikarduskan, aku sudah mengonsumsi tujuh puluh tiga karton mie instan.

“Lalu, sudah berapa tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik sejak kita memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain dan sepakat untuk memutus semua dorongan yang membuat kita berada dalam kondisi seperti ini? Berada dalam satu ruangan, berbagi udara dan oksigen yang sama, dan akhirnya berbicara juga melemparkan pertanyaan satu sama lain?”

Dan kamu menggelengkan kepalamu sembari menyembunyikan tawa kecil dari mukamu. Aku tidak kuat untuk tidak ikut tertawa denganmu.

“Apa yang lucu?” tanyamu bingung.

“Karena kamu ketawa duluan.”

“Kamu pasti sangat merindukanku,” godamu.

“Pede. Aku sudah punya pacar tau.”

Bohong. Kamu tau kan aku hanya tidak ingin membuatmu merasa terlalu menang dengan segala yang terjadi di antara kita berdua.

Kamu yang menikah dan aku yang masih single. Tentu saja kamu merasa kamu yang jadi pemenang di antara kita berdua. You wish!

Terkadang aku mempertanyakan alasan mengapa kita bertemu lagi seperti sekarang. Di waktu yang sebenarnya tidak terlalu tepat untuk masing-masing di antara kita.

Kamu yang sudah bersama istrimu dan aku dengan kehidupanku yang masih belum bisa melupakanmu dan memori-memori di dalamnya. Yeah, I know aku yang kalah.

Tapi bukan berarti dengan semena-mena semesta berhak memberikanku pemandangan bahagia milikmu ini.

Dengan senyum paling lebar yang pernah aku lihat dari wajahmu, kamu begitu tergila-gila dengan perempuan ini. Perempuan kecil botak yang berlari ke arahmu. Lalu kamu pun melemparkan tatapan teduh dari kedua mata coklatmu yang dulu pernah menjadi hal yang bisa membuat hatiku berdegub tak karuan.

Perempuan kecil botak itu memanggilmu papah dan memeluk kakimu erat-erat.

Kamu mengangkat tubuhnya dengan riang, menciuminya tiada henti dan memeluknya dalam-dalam seakan tidak boleh ada siapa pun yang menyakitinya. Seolah angin pun dapat membuatnya terluka.

Semua gerakan itu seperti sebuah gerakan lambat dimataku. Begitu bahagia, begitu asing, and honestly it hurts me a lil bit.

Sialnya aku berada di tengah-tengah semuanya.

Umur putrimu hampir tiga tahun dan dia sudah bisa calistung. Kamu ucapkan itu semua dengan penuh cinta dan bangga khas seorang Ayah.

Rasa-rasanya itu wajar, duniamu berputar begitu sempurna. Kamu menikah, memiliki anak, dan kamu berbelanja bulanan seperti aktivitas manusia normal lainnya.

Sedang duniaku, entahlah. Aku sepertinya sudah tidak mengenal duniaku lagi. Aku hanya meneruskan hidup dan menunda kematian datang.

“Ini Tante Mel, teman Papa waktu kuliah dulu.”

I supposed to be your mother I guess, secara teknis jika kami masih berpacaran dan tidak ada satu perempuan gila yang terlalu terobsesi dengan masa depan, which is perempuan gila itu adalah aku, mungkin aku yang akan melahirkan anak untuknya. Mungkin, yeah mungkin.

Perempuan kecil botak itu tersenyum padaku, kemudian menempelkan jari-jari basahnya di rambutku yang telah lurus sempurna karena perawatan sepuluh step yang dianjurkan penata rambut langgananku. Lalu DIBASAHI BEGITU SAJA DENGAN LUDAH YANG CUMA TUHAN YANG TAU ANAK BOTAK ITU MAKAN APA SAJA.

Lalu aku hanya balik tersenyum, membuat suasana untuk tetap cair dan semoga saja kita akan tetap berbincang seperti ini.

“Di mana ibunya?”

Itu loh… perempuan jahat yang telah merebutmu dariku dan terakhir aku cek di Facebook, yang mana empat jam lalu, bahwa dia hanya perempuan biasa-biasa saja yang tidak pernah menonton Game of Thrones dan tidak mendengarkan Beatles sama sekali. Oh please.. siapa yang tidak suka Beatles?

“Dia sedang berbelanja daging dan ikan untuk pesta ulang tahun Mamah.”

“Oh iya hari ini adalah ulang tahun Mamahmu. Titipkan salam dariku. Aku merindukan sambal kentang goreng ati buatannya.”

“Ia masih menanyakanmu sesekali.”

“Ya sudah lama sekali. Lama sekali.”

“Terakhir puasa tahun dua ribu dua belas bukan? Saat kamu membantu Mamah membuat kue-kue lebaran yang entah dari mana kamu begitu jago. Kamu masih suka masak?”

“Kadang-kadang, jika lapar dan tidak punya cukup uang untuk makan di restoran.”

Kamu kembali tertawa, kini dengan tulus. Seperti dua orang yang dulu pernah dekat kemudian terpisah karena ada perang padri panjang dan akhirnya bertemu lagi di sebuah toko swalayan.

“Kamu mau menggendongnya sebentar? Makin lama ia makin berat.”

Entah kenapa aku patuh dan begitu saja langsung menggendongnya.

“Siapa namamu?”

“Melaney. Mel.. Melaney. Mel..” jawabnya berulang-ulang dengan suara kecil seraknya.

Aku menatapmu buru-buru dengan perasaan tidak karuan.

“You named your daughter by my name?” tanyaku tergugup-gugup.

Kamu tidak menjawabku. Kamu hanya diam dan menatapku begitu dalam dengan kedua mata coklatmu. Persis seperti pertemuan terakhir kita.

Tiga tahun lalu kamu menyempatkan mengirim pesan pribadi padaku, menanyakan kabar, meminta bertemu. Kamu ingin bercerita.

Sayangnya pesan itu terlalu menyesakkan, aku tak kuat bertemu denganmu. Aku memilih diam tidak menggubrisnya.

Siapa pula yang mau mendengar rencana menikah mantan kekasih yang diam-diam masih kamu cintai.

Namun kamu terus memaksa dan kita pun bertemu. Kamu begitu berubah, begitu asing, namun ciumanmu tidak. Masih dengan basah dan gerakan yang aku hafal betul.

Kamu mendorongku, meraba seluruh tubuhku, mengacak-ngacak rambutku. Kamu jilati seluruh tubuhku seakan aku es krim yang hampir hancur meleleh, tidak boleh ada satu senti pun yang lepas dari jeratanmu.

Aku mendesah nikmat, tidak ada satu pun di antara kita yang meminta ini berhenti. Dan itulah bagaimana aku mengingat bagaimana kita bertemu terakhir kali.

“Dari mana saja sih kalian berdua, Mamah cari-cari dari tadi.”

Layaknya sinetron murah di televisi, semua pertemuan spekta ini pun ditutup dengan kedatangan istrimu yang berjilbab dan begitu cantik. Perempuan yang dulu pernah terfikir untuk aku santet dan teluh lewat penyakit kulit.

“Kok digendong bukan sama Papah sih, Mel.”

Sambil tersenyum aku menyerahkan anak kalian pada perempuan itu.

Memori memang bukan kawan yang baik. Ia tidak membantu untuk meredakan dahaga, malahan membuatnya semakin subur. Dan kehadiranmu lengkap dengan semua kehidupanmu yang begitu nyata membuat dahaga itu menjadi racun yang menghentak terlalu keras.

Aku tidak sanggup. Aku harus pergi.

Detik kemudian aku hanya tersenyum sambil lalu dan menjauh tanpa mengucapkan apa pun. Meninggalkan keluarga bahagia itu. Meninggalkanmu sekali lagi.

Aku kembali pada troli belanjaanku, mengambil satu dua botol bir yang aku rasa perlu untuk malam ini. Menyerobot beberapa antrian Ibu-Ibu yang hanya meninggalkan troli penuhnya dan masih berkeliaran dibeberapa diskonan yang hanya berbeda seratus dua ratus rupiah saja.

Kamu sudah tampak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya aku akan berdiri saja mengantri di kasir yang paling penuh seperti manusia normal lainnya di tempat ini lalu pulang sambil menangis dan mabuk. Agar esok pagi tidak ada penyeselan yang tertimbun rapat pada sebuah kesepian seperti manusia normal lainnya yang baru saja bertemu mantan kekasihnya yang ternyata menamai anaknya seperti namamu.

Betapa klise hidup ini.

https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTYfrom: https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTY

Figuran Jakarta Punya Podcast!

Berawal dari kegigihan gue untuk membuat brand sendiri bernama Figuran Jakarta, setahun yang lalu akhirnya gue membuat blog ini yang mana niat awalnya adalah mengisinya dengan cerita-cerita curhatan dari para teman-teman perantauan yang tinggal di Jakarta beserta lika-liku dan dramanya.

Nyatanya, ternyata teman gue ga banyak-banyak amat juga dan curhatannya itu-itu aja. Jadi jaranglah gue update blog ini. Tapi sebenarnya gue males aja sih. Haha. Jadilah blog ini cuma gue isi dengan review-review film ala ala saja.

Kemudian di suatu malam yang dingin karena hujan yang tak kunjung reda bertemulah gue dengan Kaka Nat, Bangkit, dan Epen yang randomly berteduh di sebuah coffee shop sepi namun nyaman di bilangan Kemang.

Dari obrolan ngalur ngidul tersebut akhirnya kami memutuskan untuk mendokumentasikan obrolan halu ini. Isu yang dibahas tentu saja tentang drama kehidupan para buruh kerah putih perantauan di Jakarta bagaimana bisa bertahan hidup dari bulan ke bulan.

Kami juga bercerita bagaimana akhirnya kami datang ke Ibu Kota ini yang katanya lebih kejam dari Presiden Trump. Semua kami ceritakan secara nyablak dan tak beraturan. Lebih banyak bersenda gurau dan tertawa riang dan lupa apa yang kami omongin sih.

Ya namanya juga buruh kurang hiburan ye kan. Ada yang lucu dikit kita ketawain aja lah.

Kemudian juga karena dari kami semua ga ada yang cakep dan bisa ngedit video, maka channel soundcloud jadi pilihan kami untuk merekam obrolan kami, soalnya pendokumentasian mudah. Modal ngerekam di handphone saja semuanya beres.

Dan di hari Kamis tanggal 07 Desember 2017, resmilah kami membuat seri podcast #FiguranJakarta tentang cerita manis, asam, asin, dan kepahitan-pahitan akan dunia perburuhan serta drama kumbara di dalamnya.

Siapa tau cerita-cerita kami dapat menghibur atau bikin kesel, ya sudah aja lah, namanya juga usaha. Tapi tetep dengerin ya please..

Jadi jangan lupa like, comment, dan subscribe (padahal gue ga tau juga cara kerja soundcloud tapi pengen ngomong gini aje).

Sampai ketemu di podcast-podcast halu lainnya.

Wassalam!

PODCASTNYA DI MARIH LOH BISA DIDENGER PEMIRSA YANG BUDIMAN!

Love in the age of the internet

Saya sih bukan orang yang kompeten ya untuk ditanya tentang perkara hubungan atau komitmen. Pengalaman komitmen terlama dan teromantis saya hanya bersama series Friends, Game of Thrones, dan Sex and The City. Selebihnya? Ya sudahlah, anggap saja itu cuma ketidaksengajaan, sama-sama butuh, lalu selesai.

Tapi Thalia lain cerita, dia berpacaran dengan Agra sedari SMA. Dari berat badannya empat puluhan kilo, hingga sekarang di angka delapan puluhan kilo.

Seberat itulah cinta mereka berdua.

Namun sayang, beratnya cinta bukan menjadi parameter valid untuk langgengnya sebuah hubungan. Dua belas tahun berpacaran, hingga mendekati umur tiga puluh, Thalia belum melihat tanda-tanda akan ada janur kuning yang akan hadir di depan gang rumahnya.

“Bukan berarti gue tipe cewek yang gila nikah, dan maksa-maksa pacar gue buat buru-buru nabung ratusan juta buat pesta pernikahan yang besoknya orang-orang enggak bakal inget juga. Gue cuma pengein tahu hubungan ini akan ke mana. Goal sih pasti tentang menikah ya, tapi setidaknya gue secure dia memang mau menghabiskan sisa hidupnya sama gue. Kalau memang enggak, ya sudah, lebih baik selesai.”

Ia menghisap batang rokoknya dalam-dalam, dengan perlahan ia hembuskan asap rokoknya yang menggumpal putih. Ia pandang asap-asap rokok tersebut dengan pilu, lalu beralih menatap saya, ada senyum di sana. Meski saya tahu berat untuk ia lakukan.

Siapa sih yang bisa tersenyum setelah hubungan selama sepuluh tahun dibina hancur begitu saja, apalagi hanya karena rasa takut dan ketidakpercayaan. Hal yang ia rasa, seharusnya sudah lenyap dari hubungan mereka.

Tapi ternyata tidak, rasa takut dan ketidakpercayaan bukan sekadar ‘hanya’, mereka pondasi paling dasar. Jika salah-salah pasang, mereka akan jadi semacam jamur dalam hubungan. Yang jika tidak diangkat, akan mematikan mereka berdua.

“But I still do love him. Maybe not as much as before, tapi cukup buat gue untuk sudi saat bangun tidur di pagi hari, dan hal pertama yang gue lihat adalah muka dia. Muka bantal yang sepuluh tahun ini selalu ada, dan menyapa gue dengan mata ngantuknya yang terbuka sebelah.”

Kini Thalia benar-benar tensenyum. Pahit.

“Mungkin elo mau coba metode gue?”

“Apa tuh?”

Pacarque. Aplikasi digital untuk cari pasangan, tinggal isi form dan tulis spesifikasi pasangan yang elo cari. Mulai dari background pendidikan, suku, tinggi badan, berat badan, panjang alat kelamin, sampai kekayaannya. Bisa ditambahin dengan jenis musik apa yang dia dengar, film atau buku favoritnya, dia cari komitmen atau cuma mau have fun. Semua bisa di custom sendiri. Bisa by geo lokasi juga lagi. Tinggal klik, tunggu alogaritma aplikasinya, vice verca, teman kencan pun hadir. Nyari pasangan enggak pernah segampang ini loh.”

Seperti mendengar pedagang obat-obat pinggir jalan, Thalia memandang saya takjub sekaligus bingung. Tapi mungkin lebih banyak tidak percayanya.

“Jadi elo kalau jalan sama orang, lewat aplikasi ini? Pacarque ini?”

“Jelas. Lumayan bisa makan enak gratis, kalau elo suka ya lanjut, kalau enggak tinggal cancel. Kayak elo belanja online aja, bedanya elo belanja pacar. Seru kan? Jadi udah enggak usah kaku mau cari omongan apa pas ketemu. Tinggal tanya, oh elo suka film ini, gue juga suka. Tinggal google dan kepo Instagramnya sedikit, udah ketawan deh dia orangnya seperti apa. Praktis dan hemat waktu.”

“WOW!”

“Mau coba?”

“Sebentar-sebentar! Hello… mereka orang asing! Kalau salah satu dari mereka adalah penjahat kelamin atau serial killer bagaimana?”

“Kan ada kualiti kontrolnya, jadi buat jadi member di sana elo dicek sistem gitu. Jadi benar-benar tersaring.”

“Tapi…”

“Apa bedanya sama elo ngajak ngobrol orang asing di cafe, kantor, atau tempat umum lainnya. Elo enggak bakal tau dia seperti apa kan sifatnya. Bahkan lebih random, elo harus menghabiskan pendekatan yang alot dan lama. Hanya untuk tahu seperti apa orangnya. Bagus kalau cocok, lah kalau enggak? Buang-buang waktu. Pakai aplikasi pacarque elo cuma butuh satu kali klik.”

“Tapi..”

“Enggak ada jaminan juga bakal langgeng antara ketemuan dari digital atau real life. Coba aja dulu, baru komentar.”

Thalia hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.

“Entahlah. Gue cuma ngerasa, kalau gue nanti coba, gregetnya enggak ada aja.”

“Greget apa? Lo dikasih minimal tiga pilihan loh. Kalau banyak yang cocok, bakal banyak daftar orangnya, elo tinggal geser kiri kalau enggak suka, dan geser kanan kalau elo suka. Bisa bikin back up plan juga lagi. Enggak cocok satu, bisa langsung ke opsi berikutnya.”

Thalia makin kelihatan tidak tertarik.

“Greget yang gue maksud adalah saat kita sibuk ngejalanin hari-hari bareng untuk memecahkan misteri pasangan kita. Kita jadi tumbuh bersama dia untuk tahu dia orang yang seperti apa, dan pada akhirnya kita punya itu sebagai bekal kecocokan yang akan membuat masing-masing jadi berkompromi satu sama lain dan berbahagia karenanya. Bukannya itu poin dari sebuah komitmen? Ketika perbedaan melebur menjadi sebuah pengertian?”

“Elo cuma punya dua jam waktu ketemu sama mereka sehabis pulang kerja. Enggak ada waktu buat kencan konvensional seperti itu lagi. Lagian lo gagal juga kan?”

“Tapi setidaknya gue punya memori. Gue punya pembelajaran. Organik. Enggak cuma lewat klik klik di google atau media sosial.”

Tapi saya tetap ngotot memberikan handphone saya dan membuatkan keanggotan Thalia di pacarque. Setelah tiga puluh menit, akun Thalia pun selesai dibuat.

“Selesai, profil elo udah jadi. Tinggal klik tombol search.”

Dengan malas Thalia menekannya, tidak sampai satu menit, Thalia mendapatkan sepuluh foto profil laki-laki yang sesuai dengan kolom-kolom pertanyaan yang ia isi.

“Wow! Ada sepuluh laki-laki yang cocok dan tertarik dengan profil gue? Terus?”

“Tinggal pilih, ajak ngobrol aja.”

Sepuluh menit kemudian, Thalia pun tenggelam dengan percakapannya dengan kesepuluh laki-laki yang cocok dengannya.

“Masih mau bahas Agra?”

“Agra, who?”

“Mantan elo.”

“Oh, sorry, soalnya yang masih live cuma Ardian, Surya, Danzel, dan Arka. Enggak ada Arga.”

“Terserah deh.”

Saya pun meninggalkan Thalia pergi, dan secara diam-diam membawa pulang satu pertanyaan yang tersisa dari obrolan kami. Pertanyaan yang saya ragu untuk tanyakan pada diri saya sendiri sedari dulu.

Dengan majunya teknologi dan kemudahan sistem digital yang ada, mengapa jatuh cinta tidak pernah menjadi mudah?

Dengan banyaknya pilihan, mengapa malah semakin sulit untuk menentukan?

Apa yang sebenarnya manusia cari?

Atau tepatnya, apa yang saya benar-benar cari?

tinderfeature1