Serendipity

Dia datang membawa semua yang bertahun-tahun lalu coba kamu lupakan.

Selama itu kamu sudah berusaha untuk menekannya, menyembunyikannya, tapi di malam-malam yang sunyi terkadang kamu masih mengintipnya diam-diam.

Kalian berdua pun kembali bertemu dalam ketidaksengajaan.

Ketidaksengajaan yang mempertaruhkan empat tahun yang riuh dengan pekerjaanmu, mimpi-mimpimu yang maju mundur, dan makanan-makanan yang kamu asosiasikan dengan kebahagiaan.

Apakah bahagiamu masih sama?

Dalam sekejap ternyata semua hal di atas tadi menguap tak bermakna apa-apa dibanding ketika kamu berkomunikasi dengannya secara langsung.

Momen di mana kamu kembali terkoneksi dengannya. Berbagi udara yang sama dengannya. Menggerus rindu yang bertahun-tahun kamu simpan di brangkas terdalam hidupmu.

Malam itu kamu tunjukkan semua padanya. Satu persatu rindu itu pun terkikis dengan malu-malu dan menjelma menjadi kegembiraan.

Kegembiraan yang hadir saat kamu kembali melihat lesung pipinya yang terukir manis di senyumnya yang membuat perutmu melilit lemas. Atau tanpa permisi saat dua mata coklatnya menatapmu dengan hangat. Kamu mengaku kalah, detail-detail kecil tersebut berhasil mendorongmu ke masa lalu saat SMA dulu. Pada versi kamu yang begitu tergila-gila padanya. Mengais-ngais perhatiannya.

Kamu pun mengulang dalam hati bahwa kamu merindukan ini semua. Mengobrol dengannya tanpa terhalang apa pun. Dan sedikitnya kamu dapat merasakan ia memiliki sensasi yang sama. Tidak terucap, namun gerakannya membahasakan semuanya.

Tapi kamu sadar bahwa empat tahun merubah banyak hal dalam hidup seseorang.

Ia melihatmu yang membengkak dengan lemak-lemak jenuh menganjurkanmu untuk lebih banyak berolahraga dan berhenti merokok. Dengan tegas ia bilang bahwa ia tidak menyukai bau asap yang keluar dari mulutmu. Ia sedikit kaget melihatmu dalam format seperti itu. Tapi, kamu dapat membacanya, ia tidak menyukai fakta kamu merokok.

Sepele, tapi kamu tersipu karenanya. Kamu pun berjanji untuk menguranginya. Dimulai dari malam itu.

Cerita pun bergulir dari satu kisah ke kisah yang lain. Kamu tidak ingin menghentikan apa pun yang sedang terjadi di antara kalian berdua malam itu. Kamu ingin melihatnya terus berbicara. Membahas tentang konspirasi bisnis minyak swasta dengan pemerintah, atau saat kamu terkejut menyadari bahwa ia menonton dan mengikuti dengan khidmat series Game of Thrones.

Kemudian cerita remeh temeh itu pun berganti menjadi lebih serius. Ia membagi rahasianya di antara dinginnya malam dan ekspektasi-ekspketasimu yang menyesakkan.

Ia berujar ingin mengulang waktu yang ada. Empat tahun yang lalu. Namun, bukan tentang absennya kehadiranmu. Melainkan tentang hubungannya dengan orang lain. Kekasihnya yang ia nikahi dan akhirnya berpisah karena kondisi yang tidak dapat ia paksakan. Mereka berbeda keyakinan. Dan alasan itu cukup untuk menjadikan sebuah cinta yang indah tersebut harus bertransformasi menjadi sebuah aib dalam keluarga.

Kamu mendengarnya dengan sedih. Lagi-lagi kamu bukan menjadi prioritas dalam hidupnya. Dan sepertinya tidak akan pernah.

Kamu tidak mau merusak malam sakral ini, sekuat tenaga kamu berusaha mendengar kemalangannya dan menahan kesedihan milikmu.

Ia kini telah menjadi orang tua. Mendengar fakta itu membuat dirinya semakin berjarak jauh denganmu. Pahit. Empat tahun dan kamu masih begini-begini saja.

Lalu pertanyaan itu pun hadir, ia menanyakan kisah cintamu.

Apa kamu tidak berniat untuk menikah? Ia menatapmu lama, menunggu jawabanmu.

Ada jeda di sana.

Kamu pun memulai prolog itu. Sesuatu yang sudah kamu siapkan sejak delapan tahun lalu.

Kamu mengeluarkan satu novel dari dalam tasmu. Novel berjudul Gege Mengejar Cinta, novel yang kamu pinta dia untuk baca. Namun selalu berakhir gagal karena ia tidak terlalu menyukai aktivitas membaca.

Ia tersenyum geli melihat novel tersebut. Ternyata ia masih mengingatnya. Ia menambahkan cerita bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga menamatkannya dengan mencoba membaca satu dua halaman dengan penggaris. Takut-takut ada kalimat yang terlewat. Tapi ia tidak pernah berhasil menyelesaikannya.

Kamu bilang padanya selama bertahun-tahun kamu masih menyimpan novel tersebut. Membacanya jika sedang senggang dan masih dipenuhi nelangsa saat menamatkannya. After tastenya masih sama.

Setelah bertahun-tahun masih seperti itu efeknya? tanyanya takjub.

Kamu mengangguk.

Akhirnya keberanian itu pun datang, sekarang atau tidak sama sekali, kamu pun mengatakan bahwa sama seperti novel yang ia baca, perasaanmu padanya pun masih sama. Tidak pernah berubah.

Akhirnya kamu mengatakannya, membahasakan perasaan yang bertahun-tahun mencekikmu, mengerdilkanmu.

Sambil bercanda kamu pun bilang dia adalah cinta pertamamu. Dan sepertinya jika jatuh cinta lagi, kamu hanya akan bisa jatuh cinta dengan dirinya saja.

Ia menatapmu dengan perasaan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa itu akan keluar dari mulutmu malam ini.

Kamu tidak pernah merasakannya? tanyamu sedih.

Ia menggelengkan kepalanya.

Lalu kenapa kamu diam saja selama ini? Jarak yang selalu kamu buat adalah siksaan tersendiri buatku. Dan kamu tahu itu. Bertahun-tahun aku terluka karena ini. Karenamu. Amarah mulai menyelimuti suaramu.

Ia menyentuh jemarimu, mengalirkan rasa kasihan yang mungkin bertahun-tahun juga ia simpan untukmu.

Di malam tersebut, dari mulutnya, ia mengucapkan maaf. Tulus. Ia tidak menyangka bahwa dirimu terluka separah itu. Ia benar-benar tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan selama ini telah menyakitimu.

Semua khayalan-khayalan ini, alasan mengapa aku masih sendiri, semuanya hanya tentangmu. Dan akan selalu tentangmu.

Lalu gerakan itu pun menghentakan dirimu. Ia memelukmu. Menggapai seluruh kesedihanmu. Merasakan luka yang kamu simpan sendiri sejak SMA dulu. Berusaha untuk mengobatimu secara perlahan, meskipun kamu tau luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh.

Maaf. Ulangnya.

Kamu membalas pelukannya. Merasakan sesuatu yang kamu khayalkan sejak dulu. Bersentuhan dengannya. Menggapai dirinya yang selalu jauh dari rengkuhanmu.

Mengapa kamu harus pergi selama ini? Meninggalkanku dengan tanda tanya besar yang membuatku hampir gila karena kesedihan yang aku bawa setiap harinya. 

Ia tidak bergeming, meskipun suaramu semakin bergetar. Kedua sudut matamu memanas.

Tolong, jangan pernah pergi lagi. Bisikmu lirih.

Ia tidak menjawabnya. Hanya memelukmu semakin erat.

Kamu tahu akan seperti apa akhir dari semua ini. Kamu bisa menebaknya. Ia akan meninggalkanmu. Membuatmu kembali sengsara dengan rindumu yang menyesakkan. Juga pesan-pesan dan teleponmu yang tak akan pernah ia balas.

Kamu dapat membayangkan dirimu akan kembali mengakrabi malam-malam yang sepi dengan menguyah makanan sampah mematikan dan rindu yang sekuat tenaga sengaja kamu singkirkan.

Mungkin juga kamu akan mulai merokok lagi.

Namun malam ini, kamu lepaskan semua ketakutan itu terbang jauh. Dan hanya menyisakan dirimu dan dirinya yang bertaut pada satu momen di mana perasaan kalian saling bersinapsis dalam frekuensi yang sama.

Dan biarkanlah pelukan tersebut menjadi hadiah dari kesedihanmu selama ini.

Screen Shot 2018-05-11 at 2.40.58 AM
source: https://unsplash.com/photos/HIDx1jXz8tA
Advertisements

Second Decision

Screen Shot 2018-04-07 at 1.28.14 AM
source: https://unsplash.com/photos/AUbVjzmzhwI
The story begin with a same pattern. It was start very okay, but in the end it is always end up like this; they leave me when I was in love with them.
It was a story that I can’t even finish it. A never ending chapter with a different casts but a same plot all over again.
It takes two years of my high school and five years of my college also one year after graduation to sums up.
Such a long time, huh? I know, I know, I was such a big idiot back then. (I still do).
I’m so messed up. What I did mourn every fucking day at that moment. Wondering why this is happening to me. I wasted my time chasing someone who don’t even bother to remember when my birthday is.
I disconnected with all my friends and refuse to change. For what? Only to get their attentions, that you can expected, I’ve got none of it. I start become addicted with the pain.
My high expectations and obsessions that separated us away. Till the moment we no longer talk to each other, without even saying any goodbye. Like what we had doesn’t means anything. None of them are worth to make any effort to fight for.
Thats the hardest part of my adolescence year. I used to rejected by people that I supposed to trust.
Time passes by, after so many ups and downs, pains, and lots of eat. I comes up with the thought, “It has to be something wrong!” I said to my self.
Then I figured it out about everything, I analyzed every fucking move that I failed to make them to love me. At first I always blaming other people.
Like, I always mocking D or R or ‘that person’-‘s new partners, a person that replacing my place. Duh! I can’t imagine why they can get along. A person who so ordinary, who don’t even know about photography, philosophy, or Beatles’s song.
But the fact is, they love each other, the feelings are mutual. And I can’t force people to change as the way I want, or push them to love me because I love them.
Then when they are starts to getting married, I chose to give up.
I learn to minimise their meanings in my life and start to numb myself.
It succeed for awhile.
But deep down I know, it’s not the way I want to end this story. To become ignorant.
My friend said, I always live in the past, not in the present. I always focus on the details and forget to embrace the big concept of it.
I agreed with my friend. I lose the big picture about R or D or ‘that person’ as a human. They have flaws, they made mistakes. They could harm or comfort me. The problem is, it was me who couldn’t handle the reality.
I’m the one who live in the imaginary universe.
I created a character and put in to R or D or ‘that person’, I overstated their persona. And thats TOTALLY WRONG. Period.
I only love the idea about me who falling in love with a cool and cute strangers who have same taste of musics and films. Those people who I have to admit, have a good move in bed but forget everything in the next morning. It will always about me who always want something that I cannot have.
I was a last option, I will always be a second decision.

Another Twenty Something Life Story

Siang itu seperti kebanyakan hari yang lain. Turun dari Ojek online, datang ke kantor jam sembilan pagi, taping kartu masuk kantor, update beberapa kerjaan, cek notifikasi media sosial.

Kemudian jam sebelas sampai dua belas daily meeting.

Jam makan siang pun datang. Semua orang bergegas ke kantin. Setiap stall dipenuhi perut-perut kelaparan. Semua sibuk dengan piring masing-masing.

Makan siang hari ini pun masih dengan menu yang sama: nasi merah porsi setengah, ayam karage, tahu, dan sayur pokcay. Makan selesai. Sesekali masih cek notifikasi media sosial.

Efek makan siang memang membuat mulut masam. Diawali dengan membakar satu batang, setengah jam kemudian lima batang rokok pun ludes. Sisa rokok dibuang dibekas gelas kopi plastik. Kenapa tidak di tempat sampah ya? Berfikir lama, ternyata tak ada alasan spesifik.

Kembali ke kantor. Handphone ramai dengan grup chat berisi empat orang teman sejak semasa kuliah yang membahas keluhan pekerjaan dengan gaji yang segitu-gitu saja tapi tidak mau capek kerja.

Yang paling santer adalah perdebatan mengapa kami semua masih jomblo di usia seperti sekarang. Padahal mengisi SPT selalu tepat waktu, menyumbang 2,5 persen dengan rutin dari penghasilan bulanan, juga tidak pernah menyebar hoax di internet. Masa itu masih kurang untuk dijadikan menantu?

Setelah satu jam saling bertukar analisis, kami sepakat bahwa kami kurang cakep, gembrot, dan miskin. Semua orang dalam grup chat tersebut pun akhirnya melanjutkan hidup menyedihkannya sekali lagi.

Kerja. Kerja. Kerja.

Bohong deng, cek notifikasi sosial media lagi. Lalu, ada sebuah notifikasi ulang tahun. Lihat kalendar. Pause moment sejenak. Ternyata ada yang ulang tahun hari ini. Bukan sembarang orang. Dia seseorang dari masa lalu.

Hati berdegub sedikit lebih cepat, ada keraguan untuk mencari nama si ulang tahun di kontak handphone. Masih ada atau sudah terhapus ya?

Close tab. Pergi ke kamar mandi sebentar untuk menggosok gigi. Rutinitas baru jika ingin berkonsentrasi.

Lalu pesan selamat ulang tahun pun terkirim. Ternyata kontaknya masih tersimpan di handphone padahal sepertinya sudah dihapus beberapa tahun lalu. Aneh. Tapi, ya sudah, pesannya sudah terkirim juga.

Menaruh handphone di dalam boks rapat-rapat supaya tidak di cek setiap satu menit sekali.

1 menit. Buka tab kerjaan.

5 menit. Buka Facebook.

10 menit. Kepo bacain seluruh ucapan ulang tahun di akun doi. Tidak ada yang menarik, cuma orang-orang centil yang cari perhatian. Cih.

11 menit. Mengambil handphone di boks. Ternyata pesan dibalas.

Tumben. Setelah empat tahun tidak ada kabar, tidak ada kontak, kok mendadak jadi ramah.

Kami bertukar pesan beberapa kali, ia berterima kasih karena masih mengingat ulang tahunnya.

Dalam hati ngedumel, YA ANDA KAN DULU SELAMA BERTAHUN-TAHUN ADALAH BAGIAN TERPENTING. MASALAH HAFAL TANGGAL ULANG TAHUN MAH CUMA REMAH-REMAH.

Tapi malas untuk ngomel, lalu minta traktir. Ia mengiyakan. Jumat adalah jadwal yang disepakati.

Ada senyum.

Lengkungan di wajah itu pun bertahan hingga malam hari dan membuat dunia mengecil menyisakan obrolan singkat tersebut bersama memori yang dulu sempat tergusur bertahun-tahun.

Sebuah kebahagian.

Titi Kolo Mongso

Yang arti populernya adalah once upon a time atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah pada zaman dahulu. Merupakan idiom yang menandakan sebuah cerita dongeng dimulai.

Tiba-tiba saja seorang teman mengirimkan sebuah foto berisi caption tersebut. Diambil dari Instagram seseorang yang, hmmm, katakanlah berarti di hidup saya untuk waktu yang cukup lama.

Delapan tahun.

Bila di persentasekan secara detail: 1 tahun bahagia, 2 tahun tersiksa, 1 tahun numb. Sisanya ya lihat-lihat dari kejauhan namun kadang rindu. Ngomong-ngomong, sekarang dia sudah menikah dan punya anak.

Saya enggak tahu sih siapa nama anaknya dan bagaimana bentuk wajahnya. Tapi sepertinya dia bahagia.

Saya? Tentu saja mundur begitu jauh. Dia kan sudah tidak dalam rengkuhan saya lagi. Dia begitu asing dalam bentuknya. Sedang saya hanya berjalan di tempat saja.

Lalu, dalam rangka mencoba menuntaskan cerita novel saya yang tidak kunjung-kunjung diketik dan hanya diulur-ulur saja. Saya menemukan tulisan lama saya tahun 2012 silam. Di periode 2 tahun tersiksa seperti yang saya sebutkan di atas.

Sekonyong-konyongnya saya jadi ingat dia dan sedih sendiri lagi.

Saya jadi bertanya ke diri saya sendiri dengan begitu serius, mengapa saya bisa sebodoh itu ya?

Tahun-tahun saya terbuang sia-sia dengan hanya berisi pertanyaan-pertanyaan enggak penting akan eksistensialisme hubungan antara kami berdua. Seperti; Apa dia pernah sedikitnya mencintai saya? Atau minimal tertarik dan kami memiliki perasaan mutual yang sama? Atau jangan-jangan saya selama ini berhalusinasi dan ke GE-ERan sendiri saja?

Yang terpahitnya sih, mungkin dia memang baik sama semua orang dan saya cuma another ‘semua orang’ itu. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang perlu dibanggakan.

Jika iya, ya saya mau bagaimana lagi. Saya cuma bisa tersenyum kecut mengetahui itu semua. Bahwa bertahun-tahun saya hanya mengarang sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Sesuatu yang tidak pernah terjadi namun saya yakini ada. Yaitu perasaan berbalas darinya.

Saya mendedikasikan banyak tulisan yang isinya ternyata hanya hoax belaka. Dan betapa bodoh bahwa saya ikut memercayai khayalan saya sendiri. Lalu, orang lain yang melihatnya, membacanya, dan mengenal kami berdua sudah jelas pasti terpingkal-pingkal sendiri. Bergidik jijik dengan apa yang saya rasakan.

Sedih rasanya, sesuatu yang saya anggap penting hanya bualan receh semata di mata orang-orang.

Lalu, betapa terkejutnya saya saat si teman itu menambahkan cerita dibalik foto tersebut dengan tambahan flashback saat saya ke Semarang dan beberapa tahun pertama saat saya pertama kali mengenal si ‘itu’.

Quote langsung dari omongannya (saya enggak nambah-nambahin loh ya): “Dia pernah bilang, dia bisa jadi diri sendiri selama itu bareng sama elo. Dan sama elo, dia selalu ketawa bahagia. Sesuatu yang enggak pernah gue lihat saat dia bareng orang lain, bahkan ketika sama pacarnya sendiri. Mungkin secara fisik gue dekat sama doi, tapi secara keterikatan perasaan, gue rasa elo yang lebih tahu. Dia hormatin elo dan saat elo dateng ke Semarang tempo itu dia ngasih sesuatu yang enggak pernah dia kasih sama siapa pun. Waktu dan rahasia-rahasia dirinya yang enggak pernah dia bagi dengan siapa pun, kecuali elo. Dan itu artinya cuma satu.” (Anyway, mereka berdua sahabat karib gitu.)

Sontak saya menahan diri saya untuk tidak terlalu bahagia mendengarnya. Saya tidak langsung percaya begitu saja. Jika dilihat dari sejarahnya kan saya cuma keset di hidup dia. Saya cuma opsi ke dua. Si side kick, bukan pemeran utama.

Jadi, saya cuma tertawa saja mendengarnya. Namun, dengan kesungguhan si teman itu mengatakan tambahan sesuatu yang membuat pertahanan saya perlahan retak.

“Dia juga suka sama elo, gue tahu itu. Tapi keadaan keluarga dan sistem yang membuat dia untuk ngelawan perasaan ke elo. Jadi dia enggak bisa bilang itu semuanya ke elo dan cuma bisa lari.” Dan si teman kemudian menceritakan background lengkap keluarga si ‘itu’ yang begitu agamis dan sangat mengedepankan keteraturan.

Sesuatu yang sungguh bertolak belakang secara keseluruhan dengan kondisi saya.

Saya takut untuk memercayai itu semua. Meskipun jika saya percaya, pertanyaan berikutnya adalah: Untuk apa?

Sebagai penutup curhat sepanjang empat jam itu, si teman memberikan ucapan baik hati yang mampu membuat pertahanan terakhir saya jebol juga.

“Untuk elo tahu bahwa elo enggak gila. Elo enggak jatuh cinta sendirian. Seperti halnya hidup, ini tragedi lain yang ada di dalamnya. Enggak ada yang salah dengan elo atau pun dia. Cuma keadaan yang memaksaan itu semua terjadi. Seenggaknya elo tahu, dia membalasnya dengan cara dia sendiri.”

Saya? Cry tentu saja. Nafas saya naik turun tidak beraturan dan saya menangis sesenggukan melepaskan luka di dada yang tertahan terlalu lama.

Saya akhirnya bisa dengan lantang mengatakan, saya tidak gila.

Dia mencintai saya juga dan itu semua bukan khayalan pepesan kosong semata.

Dan mengetahui itu semua buat saya lebih dari cukup. Meskipun endingnya dia tetap menjadi milik orang lain dan sayangnya pernyataan-pernyataan berbalas itu tidak keluar dari mulutnya langsung.

Namun, dari sana perlahan luka-luka dan kerapuhan yang saya tutupi dan bawa tiap hari akhirnya dapat beristirahat sejenak.

Saya resmi terbebas dari ketakutan dan pertanyaan-pertanyaan usang yang kini sudah tidak relevan lagi.

Kepingan Bernama Betadin

Enam tahun lalu, saya akhirnya ke kota di mana orang itu berada tiap harinya. Tiga hari saya bersamanya adalah hari paling penting dalam hidup saya. Hari di mana akhirnya kami tidak lagi terhalangi jarak ratusan kilometer dan layar komputer.

Hari di mana kami bersentuhan satu sama lain, hari di mana saya merasa belong to someone.

Sebentar memang, tapi itu cukup. Dan saya menemukan tulisan ini, di saat saya masih 22 tahun dan mencintainya.

Saat saya yang berdoa untuk dirinya dan bergetar hanya karena sekadar mendengar namanya.

Saya tidak menyangka saya pernah sebodoh ini.

Alkisah ada seorang butiran debu yang memberanikan dirinya pergi ke luar kota untuk bertemu seseorang yang diam-diam ia suka. Dengan niat awal soal melihat pameran foto, meskipun ia tahu bukan itu alasan sebenarnya. Maka, dengan tergesa-gesa dan hanya bermodal membawa satu pakaian ganti berangkatlah si butiran debu ini.
Perjalanan selama sepuluh jam menggunakan kereta ekonomi pun ia lewati tanpa mengeluh, semuanya terkendali. Ia ingin sampai di sana dengan kesan bahwa ini perjalanannya yang kesekian, ini hanya sekadar kunjungan silaturahmi antar klub, ini hanya akan jadi hunting foto biasa. Bukan kunjungan terselubung untuk bertemu langsung dengan seseorang yang selama dua tahun ini selalu memberikan perasaan menyenangkan jika mengobrol bersamanya.
Oh ya, sebut saja dia betadin.
Kenapa betadin? Karena seperti fungsinya betadin itu sendiri. Ia menyembuhkan, namun memberikan efek perih.
Seperti itulah orang itu di hidup si butiran debu. Menyembuhkan namun memberikan luka baru. Butiran debu pun menguatkan tekadnya. Ia tidak akan menghubungi si betadin dalam waktu dekat. Ia akan menjalani harinya di kota baru nanti sebagai warga Jakarta yang mandiri, penuh kehati-hatian, dan cerdas. Si butiran debu ingin dikejar.
Sialnya, saat baru sampai di stasiun, si butiran debu harus menunggu selama satu jam jemputannya. Nyalinya menciut, seluruh temannya di kota tersebut sibuk dan tengah kuliah.
Ia pun dengan berat hati menghubungi si betadin. Berharap mendapatkan adegan seperti di film-film romantis; bertemu, mengelilingi kota, tertawa, dan cipokan. Kenyataan yang di dapat hanyalah: pesannya tidak dibalas. Dan sialnya si penjemput yang dari tadi ditunggu tiba-tiba datang. Dengan menyesal si butiran debu memaki dirinya yang terlalu murahan untuk mengirimkan sms duluan.
Dari pagi hingga sore hari si butiran debu menikmati kota tersebut. Ketenangannya, keramahan teman-teman barunya, pameran fotonya. Semuanya sempurna. Sampai saat ia hendak berkeliling kota lama, sebuah sepeda motor berhenti di depannya. Si betadin hadir. Menyapanya. Kekakuan menjalar di sepanjang tubuhnya. Lidahnya pun kelu. Butiran debu hanya tersenyum kecut kemudian malu hati lalu meninggalkannya.
Tak lama, si butiran debu merasa bodoh sekali. Ia sudah sejauh ini pergi dan sedekat ini pula dengan si betadin. Tidak seharusnya ia bersikap tolol seperti itu.
Dengan langkah yang sengaja diperlambat, ia menunggu untuk memperbaiki kekonyolannya. Ia sudah 22 tahun, ia harus berhenti bersikap kekanak-kanakan. Batinnya dalam hati.
Ia berencana meminta maaf. Sayangnya, terlalu banyak orang disekitarnya. Ia sesak akan kebisingan dari suara-suara orang yang baru ia kenal beberapa jam tadi. Ia gagal berbicara berdua dengan si betadin. Hanya sesekali bertukar lirikan mata dan akhirnya si betadin dan butiran debu masing-masing tenggelam dalam kesibukan dengan kamera dan teman-teman sendiri.
Butiran debu menghela nafas, mungkin memang bukan jatahnya untuk becengkrama dengan si betadin.
Ia berjalan menjauhi rombongan dan tidak sengaja bertemu dengan teman lama, berbincang lama hingga magrib. Dan saat kembali ke rombongan, saat si butiran debu ingin melihat si betadin untuk terakhir kali, betadin hilang. Ia tidak ada di mana pun.
Ia pergi, tanpa pamit. Seperti yang biasa ia lakukan.
Butiran debu kembali ke galeri dengan perasaan gamang. Kesal, ia pun mengupdate status twitternya yang intinya kurang lebih; semua orang di sini terlihat begitu baik kecuali satu orang itu, yang seharusnya tidak membuat jarak seperti ini.
Akhirnya ia bersikap masa bodoh dan memilih untuk ikut salah seorang teman barunya. Berusaha melupakan si betadin.
Namun, lamat-lamat semakin keras ia melupakan, si butiran debu hanya makin merindukan si betadin.
Saat hendak makan malam, ia pun kembali menghubungi si betadin.
“Going to dinner. Wanna join?”.
Tidak berapa lama, pesannya berbalas.
“Di mana? Maksud twit yang tadi apa?”
Betadin ternyata menyadarinya. Si butiran debu tidak berusaha menjelaskan, dan memintanya untuk kembali bertemu dengannya di sebuah kedai kopi.
Sampai jam sepuluh malam butiran debu mengumpulkan keberaniannya untuk kembali bertemu langsung dengan si betadin. Betadin pun menghampiri si butiran debu. Mereka bertemu lagi. Kaku.
Saling diam masih menghiasi mereka berdua. Sampai di kedai kopi, si butiran debu diperkenalkan ke teman-teman betadin.
Terharu, si butiran debu merasa dianggap sebagai sesuatu.
Semakin malam, mereka berdua masih tidak saling mengobrol dan hanya menghabiskan malam dengan segelas capucino dan jus jambu merah dalam diam. Sampai akhirnya teman-teman si betadin izin untuk pulang.
Si butiran debu pun menyerah. Ia jengah dengan saling diam ini. Semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Ia berfikir untuk pulang secepatnya dari kota ini.
Lalu saat kegalauan memenuhi isi kepalanya, si betadin mendekatinya.
“Nginep di mana?” Pertanyaan itu keluar dari mulut betadin.
Butiran debu malas untuk menjawab. Sebenarnya ia masih ingin bersama si betadin. Ia ingin mengganti waktu mereka berdua yang tercuri oleh kekakuan dan saling diam.
Namun ia malu dan marah. Mulutnya terlalu malas untuk bersuara dan memilih mengacuhkan pertanyaan tersebut. 
Berempat, si butiran debu dan teman baru, betadin dan temannya, berjalan pelan menyusuri malamnya kota tersebut.
Sedikit dalam hatinya sebenarnya butiran debu masih berharap diberi kesempatan untuk memiliki waktu bersama si betadin.
Kedua teman si betadin pun berencana pamit. Setelah melewati proses tukar tumpangan dan beberapa alasan klise. Butiran debu menjelaskan bahwa ia tidak mau bermalam di galeri, pilihannya adalah tempat temannya atau…… sebelum butiran debu menyelesaikan omongannya, tiba-tiba Si betadin menawarkan tempatnya untuk bermalam.
Kaget, namun pada akhirnya toh si butiran debu pun mengangguk malu.
Tersisalah butiran debu dan betadin berdua.
Ini pertama kalinya butiran debu memiliki kesempatan benar-benar berduaan dengan si betadin tanpa terhalang layar lcd, kabel, dan bantuan internet. Ia bisa melihatnya langsung dengan detail dan menyentuhnya dengan malu-malu.
Mereka pun pergi menuju kosan si betadin. Sesampainya, suasana di antara mereka berdua akhirnya cair dan menjadi diri mereka masing-masing.
Mereka tertawa bersama, menceritakan kebodohan-kebodohan sepanjang hari tersebut. Dan akhirnya ciuman itu hadir. Entah siapa yang memulainya, namun saat tubuh mereka bersatu, mereka merasakan kenyamanan yang sedari tadi mereka cari.
Sialnya waktu berjalan begitu cepat saat mereka bersenang-senang.
Si Betadin memaksa si butiran debu untuk tidur di kasurnya. Ternyata betadin merasakan perasaan gugup yang sama. Namun, si Butiran debu menolaknya. Ia masih ingin menikmati detik demi detik waktu bersama betadin.
Ia memaksakan matanya untuk terus terjaga. Mungkin si betadin tidak enak, ia pun akhirnya ikut menemaninya meskipun ia sangat mengantuk.
Canda mereka pun berlanjut. Keduanya lebur seperti seharusnya, dua orang teman yang akhirnya bertemu, berbagi cerita yang terlewatkan, menertawakan banyak hal. Sesekali menyelipkan sentuhan yang menghangatkan. Intim.
Si betadin bercerita tentang komputernya yang dijarah maling dan dia hanya melihat si maling keluar sambil tertawa. Tentang tips bodoh akan mengapa ia bisa kurus. Lalu… tentang keinginannya bekerja di Kalimantan.
Si butiran debu mendengarkan dengan seksama tiap kata yang keluar dari mulut si betadin. Mengukir semuanya dalam ingatannya. Akan bagaimana si betadin tersenyum dan matanya menyipit. Saat ia melepaskan kaca matanya yang menurutnya sudah ia tidak perlu lagi. Atau saat si betadin membuka bajunya dan butiran debu dapat menemukan bekas luka di bagian bawah tubuhnya.
Ia merekam itu semua dengan hati-hati. Takut-takut ini akan menjadi yang terakhir.
Saat pukul tiga pagi, akhirnya si betadin ijin untuk tidur lebih dulu dan memaksa butiran debu untuk istirahat juga. Sikapnya yang manis membuat butiran debu meleleh.
Butiran debu kini berada di kamarnya. Ia bisa saja memakai komputernya dan mengakses semua kehidupan si betadin. Terlintas di kepalanya untuk mencari tahu semua kehidupan betadin.
Namun, si butiran debu memilih untuk tidak melakukannya.
Ia memilih untuk cukup mengetahui betadin seperti yang ia tahu sekarang ini.
Ia cukup bahagia untuk tidak perlu tahu masa lalunya, siapa pasangan barunya.
Ia akan menunggu sampai betadin yang bercerita sendiri padanya.
Menuju subuh, di atas kasur yang biasa betadin pakai untuk tidur, di bantal yang biasa ia gunakan, butiran debu berbaring di atasnya. Sesekali ia melongok keluar melihat betadin yang memaksakan diri tidur di luar hanya untuk sekadar memberikan waktu istirahat untuk si butiran debu. Padahal yang ia mau ia hanya ingin bersama si betadin, ia tidak butuh semua perhatian itu. Cukup dengannya dan semuanya baik-baik saja.
Melihat semua itu si butiran debu tidak dapat menutupi kebahagiannya. Ia membawa senyum bahagia itu ke tidurnya.
Paginya, semuanya seperti mimpi.
Mereka berdua sarapan bersama, makan di tempat favorit si betadin, berjalan mengelilingi kampus betadin, menemaninya ke jurusannya untuk mengurusi administrasi kelulusannya.
Si butiran debu juga diajak menemui teman-teman kampusnya. Ia diperkenalkan satu persatu seperti tropi yang dibanggakan si betadin.
Butiran debu berdoa semoga ini tidak cepat-cepat berakhir.
Ini bagian terbaik ketika bersama si betadin. Dunia terasa menyempit dan hanya menyisakan mereka berdua. Mereka saling menukar jokes dan tawa yang butiran debu janji tidak akan ia bagi dengan orang lain. Ini hanya akan menjadi rahasia mereka berdua yang ia simpan dalam-dalam.
Si Betadin dengan baik hati sepanjang hari menuruti keinginan butiran debu melihat-lihat kota ini.
Dengan sepeda motor, mereka berdua mengelilingi kota ini dengan saling bertukar hal bodoh. Mereka bersentuhan, mereka menyimpan senyum penuh arti satu sama lain.
Terkadang diam banyak menghiasai detik-detik tersebut. Namun, yang mereka rasakan mutual. Mereka berdua berbahagia di detik itu.
Sensasi itu datang dengan begitu mendebarkan. Detik itu si butiran debu sedang berboncengan berdua dengan seseorang yang selama ini hanya sanggup ia raih lewat internet dan layar 11 inci di rumahnya. Perasaan bahagianya membuncah tak terperi, ia tak menyangka sekarang ia sedang melewati jalan yang selalu betadin lewati. Makan di tempat yang selalu betadin ceritakan. Dan berbagi udara yang sama pula dengannya.
Tidak ada yang lebih magis dari itu semua. Mereka berdua seakan menjadi kesatuan yang tak perlu meraba sejarah lagi. Mereka adalah momen, kenangan yang mereka buat sendiri.
Sore pun datang. Si betadin masih menawarkan dirinya untuk menemani. Seperti tidak mengenal lelah. Padahal si butiran debu tahu betul si betadin kini sangat mengantuk (dia cuma tidur dua jam mungkin) juga kepanasan.
Hari itu pun ia bahkan rela membatalkan banyak janji untuk sekadar sopan menemaninya. Tidak ada yang lebih menghanyutkan hati daripada itu semua.
Di sebuah klenteng yang mereka datangi, diam-diam si butiran debu memanjatkan doa saat si betadin sibuk dengan handphonenya.
Ia berdoa semoga si betadin cepat mendapatkan pekerjaan, namun tidak di Kalimantan seperti keinginan si betadin. Semoga di Jakarta, agar mereka dapat bertemu setiap hari.
Ia menutup doanya dan berjalan menuju si betadin yang sudah menunggunya dan menyambutnya dengan senyuman. Manis.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada ini semua. Kata pulang pun menjadi pahit di lidah. Rasanya ingin butiran debu bekukan jarum jam itu tanpa adanya satuan waktu yang membatasi mereka berdua.
Namun semua perjalanan akan ada ujungnya, dengan berat hati butiran debu meninggalkan betadin, karena ia harus kembali ke galeri.
Saat sampai di galeri mereka kembali bersikap biasa-biasa saja. Bukan seperti dua orang yang saling mengenal.
Mereka kehilangan kata di antara banyak orang.
Butiran debu harus bersama rombongannya dan betadin pamit pergi bersama temannya.
Dan, kawan, itu menjadi momen terakhir butiran debu melihat si betadin.
Butiran debu tiada henti menengok ke belakang hanya untuk mencuri lihat kepergian betadin.
Hatinya meringis, saat itu ia tidak peduli dengan apa yang dibicarakan orang-orang. Ia hanya ingin kembali berdua dengan betadin.
Sayang, semua terlambat dan betadin pun seolah tidak berusaha untuk tinggal.
Yang ditakutkan pun akhirnya datang. Hari di mana si butiran debu harus kembali ke Jakarta.
Sialnya, betadin tidak kunjung datang.
Ia tiada henti mengulur-ngulur waktu kepulangannya untuk bisa berkesempatan memiliki waktu berdua untuk terakhir kali. Atau sekadar berpamitan dengan proper.
Namun, waktu yang ditunggu tidak kunjung datang.
Bukan jatahnya untuk berpamitan. Ia menahan nyeri yang mampir di hatinya. Detik ketika ia  hendak meninggalkan kota itu, betadin akhirnya datang dalam diam.
Tidak ada ucapan selamat jalan, waving goodbye, atau apa pun.
Dia hanya berdiri di sana dan tidak berkata apa-apa.
Nyeri di dada semakin mengular ke seluruh pikirannya. Kesal, si butiran debu pun pulang tanpa sempat menoleh kebelakang. Tanpa sempat mendapatkan ucapan “hati-hati di jalan” dari si betadin.
SIAL. SIAL. SIAL. Ia mengutuk dirinya. Tidak seharusnya berakhir seperti ini.
Tidak ada yang tersisa dari si betadin kecuali sabuk milik adik betadin yang ia pinjam dan tidak sempat ia kembalikan. Si butiran debu pun berniat kembali untuk menamatkan ceritanya dengan akhir yang lebih baik. Namun, sayang, saat ia hendak keluar mobil, teman seperjalannya sudah tidak dapat menunggunya lagi.
Mobil si butiran debu pun akhirnya pergi semakin menjauh. Ia melongok ke belakang sekali lagi, berharap menemukan wajah si betadin untuk terakhir kali. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Mereka resmi berpisah.
Perjalanan si butiran debu pun berakhir. Dan ia sedikit menyesal dengan sikap kekanak-kanakannya.
Entah apa yang ia dapat. Entah apa yang telah ia pelajari.
Semuanya terbungkus rapi di memorinya yang ia simpan sendiri.
Tiga hari kemarin seperti hadiah untuk dirinya yang sabar dan percaya bahwa akan tiba datangnya masa di mana ia pantas untuk mendapatkan sesuatu yang bernama bahagia.
Ia sudah merindukan si betadin.
Hari pun berlalu. Kini si butiran debu harus berjalan lagi di tengah bisingnya klakson kendaraan Jakarta tanpa ada seseorang di sampingnya yang bisa ia ajak berbagi canda atau sekadar tertawa mendengar lawakan garingnya. Ia merasa sendiri dan kesepian.
Ini yang paling menyiksanya, saat rindu bertemu dengan nama si betadin. Tidak ada yang bisa ia lawan selain terpuruk perih tidak berdaya.
Ia tidak dapat memiliki betadin lebih daripada ini. Mereka hanya dua orang yang kebetulan memiliki sedikit kesamaan dan bertemu atas bantuan kecanggihan teknologi selama dua tahun.
Selebihnya yang ia miliki hanya ketiadaan. Hubungan mereka tidak akan berjalan ke mana-mana.
Butiran debu harus belajar untuk melepaskan dan terbiasa dengan rasa kecewa.
Sialnya, dari sekian banyak orang di muka bumi ini. Di antara lima miliar orang yang berpeluang untuk bertemu dengan butiran debu. Kenapa hanya si betadin yang memberikan rasa nyaman ini?
Rasa aman bahwa ketika bersamanya semuanya akan baik-baik saja. Ketika ia tidak perlu menjadi orang lain, atau berusaha terlihat pintar dan lucu.
Fakta bahwa ia akan diterima apa adanya, adalah kualitas terbaik yang si betadin miliki.
Dan si butiran debu rela menukar apa pun untuk itu. Hanya si Betadin yang mampu memberikan rasa itu. Yang pahitnya tidak mungkin bisa si butiran debu rasakan tiap harinya.
Di tengah asap yang polutan, mungkin saatnya si butiran debu mengikis doanya dan bersikap realistis.
Tidak akan ada akhir bahagia untuk seseorang seperti butiran debu.
Dan ia harus menerima mungkin tiga hari kemarin adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk jatuh cinta dan sedikit berbalas.
Rawamangun, Oktober 2012