Saw You In a Dream

You just don’t hear me anymore
And I know that I shouldn’t even try
It’s a waste of time — The Japanese House

Bayangkan seperti ini. Kita berdua adalah dua orang paling sial di muka bumi ini. Sudah sama-sama sedang berusaha menghindar satu sama lain, tapi semesta selalu punya caranya sendiri untuk membuat kita berdua bertautan kembali.

Salah satunya adalah dengan kamu datang ke dalam mimpi saya. Betul tidak sih? Karena saya memang tidak berencana membuat kamu ada di dalam mimpi saya. Kamu jangan kepedean ya. Kita kan sudah sama-sama berjanji untuk tidak berkomunikasi satu sama lain lagi. 

Karena, kamu berpikir jika kita saling berbicara lagi, saling terkoneksi lagi, jalinan itu akan kembali lagi. Ekspektasi saya akan muncul lagi. Dan obsesi itu akan datang menguasai dan merusak apa yang ada. Meskipun kali ini sudah tidak ada lagi yang bisa dirusak. Karena kita berdua sudah sama-sama tahu bahwa tidak ada lagi hal baik yang tersisa.

Kamu terlanjur bilang bahwa kamu sudah lelah dengan ini semua. Kamu tidak dapat lagi melanjutkan permainan ini. Meskipun dengan jelas selama empat kali saya memohon-mohon padamu untuk mengulang kembali apa yang terjadi dari awal lagi. Seperti biasanya. Dulu setelahnya kamu akan tersenyum dan kita pun akan menukar candaan bodoh dan semua pun mencair dan baik-baik saja.

Tapi tidak malam itu. Suaramu meninggi tiap kali saya bilang, “biasanya kita mulai dari awal lagi kok”.

Sepertinya tidak akan ada lagi kesempatan kedua. Jatah untuk itu telah habis. Matamu begitu letih dan gerakanmu begitu dingin. Ini sepertinya betulan. Kamu sudah merencanakan dengan serius ingin mengusir saya dari hidupmu.

“Demi kebaikan kita berdua,” ucapmu yakin penuh kepastian. Melihat muka saya pun kamu tidak peduli.

Tapi sebenarnya rasanya aneh ketika kamu bilang seperti itu. Sejujurnya ini adalah perpisahan paling baik yang pernah saya punya. Rata-rata ‘mereka’ akan menghilang tanpa memberikan alasannya. Dan selama bertahun-tahun saya akan mengais meminta jawaban untuk itu. Kamu begitu baik memberikannya di awal. Sepertinya kamu kasihan sama saya. Kamu sudah tidak mau melihat saya gila lagi. Atau kamu tidak mau repot-repot dikejar kegilaan saya di kemudian hari.

Tapi, apa pun alasannya, rencana kamu berhasil.

Obsesi itu pun perlahan pudar, meski tidak kilat. Masih ada hari-hari di mana isi kepala saya hanya tentang kamu. Namun, untungnya sekarang sudah biasa saja. Mungkin rasa sakit itu sudah berkompromi. Mungkin saya juga tidak enak dengan kamu. Kamu begitu baik. Saya yang gila.

Dan setelah lebih dari satu bulan dari perjanjian itu, akhir-akhir ini tiba-tiba saja kita berdua saling bertemu di mimpi. Mimpi saya tepatnya. Seperti biasa kita sedang tertawa berdua, membicarakan hal-hal bodoh yang tidak perlu. Semua terasa ringan. Sampai ya, saat saya bangun tidur, dengan begitu jelas saya mengingat semua yang ada di mimpi tersebut. Saya tersenyum begitu riang. Saya merasakan bahagia yang dulu pernah kamu berikan.

Meskipun ketika kita bertemu lagi suasana tetap dingin, penuh diam, dan kaku itu akan terus ada. Tapi, di mimpi itu, saya punya versi kamu yang dulu. Yang membuat saya terobsesi dengan kamu. Yang membuat saya begitu menyukai menghabiskan waktu lama-lama hanya dengan merokok dengan kamu. Atau membuatkan mie dengan topping telor yang tidak bisa saya masak.

Semuanya begitu sederhana.

Namun tidak dengan obsesi ini, yang entah kenapa hadir begitu meresahkan dan mengganggu.

Tidak seharusnya kamu berada dalam kotak tersebut. Seharusnya kita cuma dua orang yang kenal begitu saja dan menukar canda kebodohan sambil lalu.

Tidak seharusnya saya mendedikasikan satu tulisan panjang ini buat orang macam kamu.

Jika memang semua tuduhanmu benar malam itu. Betapa sialnya saya harus kembali menjadi si bayangan dalam cahaya yang seharusnya bisa saya miliki sendiri.

Tapi kamu benar. Sudah seharusnya saya belajar mengikhlaskan. Melepaskan kamu. Dan konsep-konsep kebahagian yang berkali-kali kamu bilang tidak perlu saya sematkan pada diri kamu.

Semua terlanjur terjadi. Setidaknya untuk perpisahan kali ini biarkan saya tidak kehilangan diri saya. Versi saya yang dulu baik-baik saja jauh sebelum saya mengenal kamu.

Bisa kan?

Advertisements

2019 dan Kebodohan-Kebodohan yang Seharusnya Dihilangkan

Ketika hati berkata A dan mulut berkata lain.

Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang mengulang kesalahan yang sama. Kepahitan yang berulang yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan lagi. Entah karena mereka menyukai luka yang sama terus menerus, atau memang kontrol diri mereka selemah itu.

Dan kamu adalah jagoannya. Master dari segala kebodohan tersebut.

Selama sepuluh tahun kamu terus hidup dalam rantai yang seharusnya sudah kamu putus bertahun-tahun lalu. 

Seperti cerita usang ini, ketika kamu diam-diam membohongi diri kamu bahwa sebenarnya kamu masih butuh orang itu hadir di hidup kamu.

Bahwa hari demi hari makna dia di hidup kamu menjadi besar secara tiba-tiba tanpa kamu sadari. Mungkin kamu sadar tapi tidak mau kamu akui. Karena ketika kamu mengakuinya kamu tahu hal ini tidak akan ke mana-mana. Kamu tahu ini tidak akan menjadi apa-apa. Selalu seperti itu. Kamu hanya akan jatuh cinta sendirian. Kamu hanya akan meromansa sesuatu yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat.

Saat kamu melihat dia sedang berusaha melepasmu dan jalan dengan yang lain. Sesak rasanya dan kamu ingin sekali bilang padanya bahwa: hei, kamu tidak perlu berubah untuk jadi orang lain untuk bisa terlihat menarik di mata saya.

Bodoh.

Kamu dan selalu tentang hal-hal bodoh yang seharusnya sudah musnah di tahun yang baru ini namun masih kamu jalani, karena kamu menikmatinya.

Sebenarnya kamu benar-benar menyukainya atau hanya rasa obsesimu semata? Betapa kamu hanya ingin memilikinya, mengaturnya, memamerkannya.

Bahwa sekalipun tidak pernah ada yang berbalas dari hal-hal yang kamu lakukan untuknya.

Betapa tolol ucapmu sambil menghembuskan asap rokok terakhirmu.

Karena sebenarnya kamu tahu bahwa sekarang kamu sedang menabung sakit yang akan kamu tahu akan menyiksamu begitu parah di kemudian hari.

Sudahi saja, dunia memang tidak pernah adil untuk orang sepertimu. Dan tak akan pernah.

Kadang Hidup Selucu Itu

Tapi memang akan tetap pahit untuk ditelan.

Harapan adalah akar dari segala sakit hati di muka bumi ini. Gue menyesal mengetahui hal ini agak terlambat. Setelah gue menaruh banyak harapan gue pada kotak-kotak yang gue pikir akan aman. Yang gue pikir akan membuat hidup jadi lebih menyenangkan untuk dijalani.

Nyatanya, semakin bertambah umur, semakin gue menyadari bahwa kotak-kotak tersebut semakin menyempit, mengecil, bahkan hilang.

Karena rasa takut itu, kadang gue menggenggam terlalu erat kotak tersebut hingga hancur. Hingga akhirnya gue lupa alasan mengapa harapan itu gue taruh di sana.

Sampai akhirnya gue menyerah sendiri, menangis terlalu lama, dan membuang harapan-harapan yang tersisa.

Tahun berlalu dan gue mengoleksi sesuatu yang baru; kesedihan. Sesuatu yang lebih gampang dipupuk dan ditanam. Berbuahnya pun lebih cepat. Namun, memang pahit sekali rasanya.

Tapi ya, bukan berarti hidup akan terasa sesak seperti itu terus. Ini semua akan terlewati. Pelan sekali memang. Tapi akan selesai juga sih pada akhirnya.

Hidup memang tidak akan pernah adil. Terlebih untuk orang-orang seperti gue. Bukan menyalahkan tapi ya dari pengalaman memang seperti itu. Meskipun harus diakui gue memang menyumbang cukup banyak untuk membuat semua menjadi seperti ini.

Telat memang untuk baru menyadari itu semua. Ketika semuanya sudah terlanjur berantakan dan tak ada lagi yang tersisa. Siapa yang menyangka di mana pun gue berada masalahnya akan terus seperti ini. Tuhan lucu, hidup lucu, dan sepertinya mereka mengajak gue untuk tertawa dengan segala ironi ini.

Pun akhirnya gue sadar mau apa pun isinya kotak tersebut. Mau berapa banyak yang dikoleksi. Tidak akan pernah cukup untuk menyakiti sebuah hati. Hati terlalu luas untuk hanya dikerdilkan dengan harapan dan kotak-kotak kesedihan tersebut.

Perlahan, tapi gue percaya ini akan berakhir juga. Sekali lagi, gue menambah satu kotak harapan baru. Semoga yang ini lebih kuat.

Source: https://unsplash.com/photos/LkHXBKpwhZ8

Lauh Mahfuz: Ketika Perasaan Sedekat Nafas Namun Terpisah Rasa

Seorang teman pernah berkata, tidak apa mencinta sesuatu yang tidak dapat dimiliki, karena setidaknya ia pernah berada dalam Lauh Mahfuz seseorang tersebut.

Kami tengah makan siang di suatu akhir pekan, suasana restoran yang santai membuat otak saya bekerja lebih lambat dari biasanya. Yang saya dengar keluar dari mulut teman saya adalah: LO MAMPUS. Marah dong saya. Lalu untuk memastikan, saya bertaya kembali pada teman saya tentang apa yang tadi ia katakan sebelumnya.

Secara perlahan teman saya menyebutkan Lauh Mahfuz dengan begitu khidmat. Seperti ada kerinduan dalam ucapannya. Namanya begitu cantik dan misterius. Ternyata Lauh Mahfuz memiliki arti yang begitu dalam.

Pic from: https://unsplash.com/photos/67rnodKzsRQ

Secara bebas Lauh Mahfuz adalah sebuah kitab kehidupan yang sudah ditulis Tuhan bahkan sebelum manusia itu sendiri lahir.

Dalam kitab tersebut berisi kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh siapa saja yang akan hadir sepanjang manusia itu hidup.

Teman saya meyakini bahwa kehadiran dirinya di dalam hidup seseorang yang ia cintai selama enam tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Ia ada karena sesuatu dan memiliki maknanya sendiri. Meskipun kecil. Dan baginya itu semua sudah cukup. Ia berbahagia karenanya.

Dengan mengetahui fakta tersebut membuat teman saya sedikitnya merasa lebih ikhlas ketika tidak dapat memilikinya.

Karena mungkin cinta memiliki banyak bentuknya. Mungkin cinta dengan versi yang teman saya punya adalah yang terbaik yang bisa ia dapat. Keikhlasan untuk tidak menguasai dan memiliki, namun berbahagia karenanya. Keegoisan lebur dalam kekagumannya. Sesederhana itu. 

Setelah kami menghabiskan menu terakhir kami, ada dorongan yang menyesakkan dalam diri saya untuk menghapus nomor R di handphone saya.

Karena dalam versi saya, entah bentuk cinta apa yang saya punya, pada akhirnya dalam cerita yang saya miliki yang tersisa hanya rasa sakit berkepanjangan yang membosankan.

Dan saya tidak butuh kitab apa pun untuk mengingatkan saya bahwa tidak ada siapa pun yang menginginkan saya berada dalam hidup mereka.

Mungkin ada satu bentuk cinta yang saya butuhkan untuk sekarang. Kedamaian akan rasa sendiri yang tak lagi merongrong mengejek, namun membebaskan.

Karena pada akhirnya tidak semua orang memiliki keberuntungan untuk bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Hidup tidak semudah dan seadil itu. Dan tak akan pernah.

Jika tidak dapat memiliki seseorang yang saya inginkan, setidaknya saya bisa merasa diinginkan meskipun itu hanya dengan diri saya sendiri.

Rahasia Kecil Bersama R

Kalau sedang menonton film-film high school romance Hollywood pasti ada beberapa adegan acara-acara party kelulusan SMA di mana orang-orang menari dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Memori terakhir tentang kehidupan SMA yang akan segera tergerus dengan memori baru saat kuliah nanti.

Foto-foto bersama teman-teman sekelas, kenangan-kenangan manis saat bermalam bersama, atau momen mabuk colong-colongan mungkin adalah secuil cerita tentang acara perpisahan saat SMA bagi sebagian orang.

Tapi, sejujurnya saya tidak pernah mengalami itu semua.

Semua terjadi karena waktu SMA saya dulu mengadakan acara perpisahan dengan menginap di pantai dengan diiringi acara-acara keakraban khas anak SMA lainnya, sayangnya saya melewatkannya. Begitu pun dengan R.

Saya melewatkannya karena saya tahu R tidak akan datang. Kala itu saya merelakan melepaskan memori bersama teman-teman sekelas saya demi R. Sesuatu yang ketika itu seolah menjadi keputusan yang tepat dan benar untuk dilakukan.

R baru kembali dari Bandung. Saya dan dia tidak berhenti menukar pesan lewat SMS dan sesekali menelfon. Saat itu kami baru saja menuntaskan perang dingin kerena saling diam selama beberapa bulan.

Saya merindukannya, tentu saja.

Sepanjang dua malam sepulangnya dia dari Bandung kami tidak berhenti mengobrol dan mengobrol. Saya mengirimkannya list beberapa lagu yang ingin saya minta dia untuk burning dalam satu CD dan memberikannya pada saya ketika kami bertemu lagi.

Ketika topik obrolan tidak penting beralih tentang rencana kuliah kami yang akan terpisahkan jarak. Ia terus mengalihkannya. Dia akan berkuliah di Depok sedang saya di Jakarta. Kampus dia keren, kampus saya biasa-biasa saja.

Waktu itu tidak pernah terpikirkan bahwa kami akan berpisah atau berakhir seperti ini, menjadi orang asing yang enggan untuk bertemu satu sama lain, apabila melihat betapa dekatnya kami.

Saat itu kami begitu terikat satu sama lain, setidaknya itu yang saya rasakan. Dan saya selalu ingat bahwa kami membahasakan begitu banyak rasa dalam dua malam itu.

Lalu di suatu pagi, ketika pesta perpisahan sekolah kami selesai dan kami perlu masuk untuk mengurus ijazah , saya dan R bertemu kembali. Ada perasaan yang begitu sesak saat melihatnya begitu dekat, ketika mendengar suaranya yang sudah kelewat akrab di telinga, dan dengan malu-malu menyentuh kulit yang begitu hangat sekaligus menggetarkan di waktu bersamaan.

Saya tidak pernah merasa terkoneksi begitu dalam dan dekat dengan orang lain selain bersamanya saat itu.

Namun, saya yang naif ini melupakan satu hal, bahwa tidak ada hal baik yang akan bertahan lama di hidup saya.

Ketika R tersenyum bahagia di Sekolah saat itu adalah hari ketika ia tersenyum menyambut pacarnya yang baru kembali dari liburan. Bukan untuk seseorang yang merelakan kenangan terakhir masa SMAnya pupus demi dirinya.

Setelah ia puas bertemu dengan pacarnya, ia mendekati saya dan menyerahkan satu CD pesanan yang saya minta semalam. Saya tersenyum tipis mengucapkan terima kasih dan dengan berat hati pergi dengan kikuknya.

Namun, dia menahan saya, meminta untuk berhenti sebentar.

Saya melihat dua mata coklat teduhnya yang kini sedang menatap saya lekat-lekat. Dia hanya diam saja, namun dari matanya tersebut saya dapat merasakan ucapan selamat tinggal, sesuatu yang tak sempat terucap dari mulutnya.

Dan di umur saya yang delapan belas tahun kala itu, saya merasakan itu semua sudah cukup. Entah kenapa saya paham bahwa hari itu adalah hari terakhir saya akan melihat R yang saya kenal. R versi saya yang selama dua malam kemarin menjadi dirinya sendiri dan menunjukkannya pada saya. Atau ya karena dia toh hanya diam dan akhirnya pergi meninggalkan saya juga.

Bersama R, dari dulu hal sekecil apa pun adalah sesuatu yang cukup untuk saya. Meskipun itu berarti melukai dan menyiksa diri saya sendiri pada akhirnya. Selamanya akan selalu seperti itu.

Screen Shot 2018-11-03 at 17.24.07
Photo from https://unsplash.com/photos/DoNywkrERqo