Hal Yang Paling Berbahaya Dari Film Aruna dan Lidahnya, Dalam Sebuah Review Film

Menurut saya ada dua hal yang tidak dapat manusia tolak dalam hidupnya. Yaitu cinta dan makanan.

Screen Shot 2018-09-22 at 02.55.38

Di film Aruna dan Lidahnya, dua hal tersebut menjadi magnet paling besar yang memberikan perasaan hangat, lucu, dan menyenangkan setelah selesai menyaksikan filmnya di bioskop.

Dan sialnya menjadi lapar juga. Saya tiga kali menonton dan tiga kali pula harus berkeliaran mencari mie ayam atau nasi goreng yang masih buka di malam hari.

Aruna dan lidahnya jika diibaratkan makanan adalah sebuah sajian yang akan melengkapi segenap palet lidah bagi siapa pun yang mencicipinya. Ada rasa manis, asam, pahit, asin yang berpadu sempurna di dalam cerita, akting, musik, dan gambarnya.

Sebelumnya, saya menahan untuk tidak langsung menulis review ini sehabis menonton filmnya karena beberapa alasan.

Pertama, saya ingin melihat respon lain dari para penontonnya. Tidak hanya yang menyukainya, tapi juga yang sebaliknya.

Kedua, saya berusaha untuk menonton kedua kalinya untuk memastikan penilaian saya secara objektif.

Dan ternyata hasilnya tetap sama. Saya masih menyukainya dan tidak dapat berhenti untuk membicarakannya setelah keluar dari gedung bioskop.

Bukankah itu salah satu tanda-tanda dari film yang bagus? Ketika kita tidak bisa berhenti membicarakannya sampai seminggu ke depan dengan emosi dan semangat yang sama. Dan Aruna memiliki charm tersebut.

Tapi, seperti pepatah yang menyebutkan tak ada gading yang retak, memang harus diakui ada beberapa detail dan poin-poin yang akhirnya membuat saya sadar film Aruna dan lidahnya juga memiliki kelemahannya sendiri.

Namun, barangkali pertama-tama kita perlu membahas sebenarnya tentang apa sih film Aruna dan Lidahnya ini dan hal-hal apa saja yang bisa membuat saya jatuh cinta dengan film ini dan rela menontonnya sampai tiga kali.

Kisah Aruna dan Pencariannya

Secara garis besar cerita film Aruna dan Lidahnya terbagi atas beberapa pilar tema. Yaitu; konspirasi flu burung, petualangan makanan nusantara, persahabatan di umur 30an, dan percintaan.

Keempat cerita tersebut dibalut oleh sang sutradara, Edwin, dalam sebuah perjalanan tugas kantor Aruna yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan kemudian diikuti supervisornya Farish, dimainkan oleh Oka Antara, yang dikirim dari kantor yang berbeda untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia dengan misi pencocokan data akan isu kasus flu burung yang menjangkit beberapa tubuh manusia. Kota-kotanya antara lain adalah Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang.

Di sela-sela perjalanan Aruna, dua temannya, Bono seorang chef yang diperankan dengan fresh dan komikal oleh Nicholas Saputra-kenapa fresh? Karena karakter Bono jelas sangat berbeda dari peran-peran Nicholas sebelumnya-dan tentu saja idola baru saya Nad, si manusia bebas dengan segala kekerenannya yang dengan apik dimainkan oleh Hannah Al Rashid, mereka ikut dalam perjalanan Aruna dengan menyisipkan agenda kuliner mereka yang akhirnya kejadian juga.

Dari awal investigasi ini sebenarnya Aruna sudah mencium kejanggalan dalam data isu flu burung yang ada. Dimulai dari keanehan lokasi-lokasi dari data tersebut yang menurutnya terlalu berjauhan dan tidak membentuk pola wabah itu sendiri.

Dan yang makin meyakinkan Aruna adalah ketika di setiap kota para korban yang diduga menderita flu burung tersebut tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Karena memang pada dasarnya virus flu burung hanya hinggap pada unggas dan bukan entitas manusia. Lalu apa yang sebenarnya Aruna dan Farish sedang pecahkan dan hadapi dalam investigasi mereka kali ini?

Konspirasi tersebut akhirnya membuat perjalanan Aruna dan Farish menjadi penuh tanda tanya dan pelik. Tidak sampai sana, yang membuat keseluruhan cerita ini makin menarik adalah balutan komedi romantis keempat pemainnya lah yang membuat jalinan film Aruna dan Lidahnya menjadi hidup, mesra, dan menggemaskan.

Kekuatan Film Aruna

  1. Akting solid dari para pemainnya

Kekompakan akting empat pemeran utamanya adalah suguhan paling seru sepanjang film. Terutama Dian Sastro. Dian bermain dengan sangat komikal. Kesan quirky terasa begitu natural dan membuat dirinya tampil dengan begitu adorable. Bahkan imagenya lebih kuat dari karakter Cinta yang terlalu melekat dalam dirinya. Saya dibuat jatuh cinta lagi dengan akting Dian Sastro.

Sejujurnya selain film Ada Apa Dengan Cinta, Pasir Berbisik, juga Drupadi saya tidak melihat Dian memberikan hal baru dalam aktingnya dan ia hanya menjadi dirinya saja. Tanpa value yang menginspirasi saya sebagai penontonnya.

Namun, dalam film ini Dian kembali membawa jutaan alasan untuk orang-orang kembali menyembahnya sebagai seorang bintang. Tanpa banyak bicara, lewat raut wajah, gerak tubuh dan ekspresinya, ia dapat dengan sukses menghidupkan karakter Aruna yang saya yakin dapat membuat orang-orang jatuh cinta.

Apalagi dibeberapa adegan seperti saat Dian Sastro breaking the 4th wall dan saat Pak Musa, salah satu pasien yang diduga terkena isu flu burung meninggal. Dian menghadirkan situasi komedi yang begitu lucu dengan pelan-pelan memanfaat keadaan duka lewat curi-curi kesempatan menyender pada tubuh Oka Antara.

Seisi bioskop benar-benar dibuat tertawa dan gemas. Scene tersebut juga merupakan alasan saya menonton film Aruna untuk ketiga kalinya. Karena kesemuanya terasa real dan relatable buat orang-orang yang sudah lama naksir dan akhirnya bisa dekat dengan gebetannya.

Dan Hannah Al Rashid, ya Tuhan, tampil dengan begitu kuat bagai magnet. Kebebasan perempuan yang menentukan nasib hidupnya sendiri digambarkan dengan sangat apik oleh Hannah lewat keluwesan dirinya sepanjang film. Kesan cool, pintar, dan seksi diembodikan oleh Hannah dengan tepat tanpa terkesan murahan dan menyebalkan. Ia dapat membuat penonton bersimpati pada dirinya.

Dan Nicholas Saputra juga Oka Antara seperti biasa bermain dengan kapasitas yang diharapkan. Tidak hanya sebagai tempelan tampan pemeran laki-laki belaka. Namun, menyeimbangi dua kutub yang ada.

2. Dialog yang cerkas

Salut untuk Titien Wattimena, sang penulis naskah, yang dengan sempurna menghidupkan percakapan tiga sahabat yang begitu dekat dengan penontonnya. Titien berhasil memotret dialog-dialog kental khas kaum urban tanpa harus terjebak dalam tuntutan untuk memperlihatkan mereka menjadi manusia super sempurna. Semua terasa nyata dan cerkas. Celetukan-celetukan para pemain Aruna siap menyindir siapa pun yang sedang berada di posisi yang sama dengan mereka.

Cinta dan makanan memang akan selalu beririsan. Namun romantisasi di dalamnya adalah sesuatu yang berlebihan. Seperti yang Aruna katakan di awal film, kurang lebihnya adalah, romantisasi makanan dan cinta adalah sesuatu yang memaksakan.

“Masa harus menunggu seseorang yang tepat dulu untuk bisa menikmati semangkuk sop iga yang enak?” Punch line tersebut begitu menggugah dan sangat tepat ditaruh di awal film.

Salah satu dialog yang saya suka dan membekas adalah ketika Aruna dan Nad saling sindir terhadap situasi salah satu pasien yang ditinggal oleh suaminya karena selingkuh dan akhirnya si pasien tersebut memanfaatkan fasilitas rumah sakit untuk bisa tinggal lama di sana tanpa harus bertemu lagi suaminya yang serong.

Nad secara subtil mengkritik sikap Aruna yang dilihatnya terlalu menghakimi perempuan ketiga dalam hubungan rumah tangga si pasien tersebut. Namun dengan cepat kritik tersebut di counter oleh Aruna dengan menyatakan bahwa Nad juga belum tentu pernah merasakan berada di posisi si pasien yang ditinggal dan dikhianati oleh suaminya.

Suasana tersebut benar-benar terbangun dengan dramatisasi yang pas seperti perang dingin yang mungkin terjadi dalam sebuah pertemanan. Tidak berlebihan namun akan menghantui mereka yang mendengarnya.

3. FOOD PORN FOOD PORN EVERYWHERE

Waduh, Edwin paham betul bagaimana menyiksa seseorang secara visual. Gambar-gambar makanan yang dihadirkan begitu memikat dan benar-benar terasa begitu detail. Mulai dari uap makanan, suara kuah yang berdenting dengan sendok dan mangkuk, juga hantaman sendok yang kemudian masuk ke tenggorokan tiap-tiap pemain benar-benar mengoyak-ngoyak perut yang menontonnya.

Yang kerennya lagi, suasana ketika tiap-tiap pemainnya makan dilengkapi dengan perbincangan-perbincangan kasual yang tidak seperti sedang akting. Tapi benar-benar layaknya orang yang sedang menikmati makanan bersama teman-temannya dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing.

Berikut daftar makanan yang saya incar dari film Aruna dan Lindahnya.

a. Choi pan

Screen Shot 2018-10-03 at 10.55.13
gambar dari https://cookpad.com/id/resep/176142-chai-kwe-choi-pan

Nyebelin banget deh pas adegan munculin Choi Pan. Bayangin deh, ketika sudah tersiksa oleh deretan visual makanan yang menggoda dari awal film, di tengah-tengah film Edwin kembali menambah cobaan hidup dengan menghadirkan Choi Pan yang begitu seksi lengkap dengan sausnya yang dijilat dengan begitu semangat oleh Aruna dan Farish. Waduh warna putih kulit Choi Pan yang menempel indah di sumpit bercampur dengan saus kecoklatannya benar-benar tampak nikmat.

Sejujurnya seumur hidup saya belum pernah makan Choi Pan, saya pikir ini seperti another dim sum. Tapi dengar dari teman isinya lobak. Jadi penasaran untuk mencicipinya. Katanya di Ambasador ada yang jual. Pulang kerja jajan ah ke sana.

b. Rawon

Screen Shot 2018-10-03 at 11.06.26
Gambar diambil dari sini > https://www.resep-masakan-enak.com/2017/10/resep-cara-membuat-rawon.html

Wah parah sih ini, yang ini pelanggaran banget. Potongan dagingnya gendut-gendut banget. Saya baru lihat rawon dengan kuah yang begitu kental dan terlihat gurih sekali lengkap dengan kepalan uap lewat daging yang begitu tumpah ruah. Perut saya otomatis langsung menggelinjang kelaparan melihat momen tersebut. BAHAYA!

c. Mie Kepiting Pontianak

Screen Shot 2018-10-03 at 11.14.08
gambar dari sini > https://www.sumber.com/jalan-jalan-kuliner/kalimantan-barat/kuliner-kalimantan-barat/sumber/mie-kepiting.html

Mie Kepiting Pontianak menurut saya adalah primadona dari semua makanan yang disajikan di film Aruna dan Lidahnya. Bagaimana tidak, penggambaran deksriptif menu ini paling banyak dibanding menu-menu lainnya.

Mengutip dari ucapan Bono, teksur mie ini begitu empuk dan menelan mie kepiting ini ia bisa melihat SURGA. Duh kebayang kan enaknya? Dan ditambah lagi argumen Nad yang menyatakan bahwa harta karun dari mie kepiting ini adalah telur kepiting yang tersembunyi dan siap mengejutkan lidah mereka mereka yang memakannya.

Duh, mana potongan kepitingnya gede banget lagi pas di film. PUSING! Di Jakarta ada ga ya? 😦

d. Lorjuk

Screen Shot 2018-10-03 at 11.23.09
gambar dari > http://www.tribunnews.com/travel/2015/06/09/menu-lorjuk-kesukaan-ani-yudhoyono-dan-ibas-di-resto-ria-galeria-langganan-anang-ashanty

Lorjuk adalah sebuah makanan khas Madura dengan menu utamanya adalah kerang bambu yang hanya ada di Madura. Presentasinya yang memang challenging ini berdasarkan ungkapan Bono yang seorang chef, menyimpan kesegaran yang dapat membuat orang patah hati jadi semangat lagi. Penasaran kan….

e. Pengkang

Screen Shot 2018-10-03 at 11.26.03
Gambar dari > http://pontianak.tribunnews.com/2016/02/19/singgah-di-pondok-pengkang-makan-lempar-khas-kalbar

Kayaknya Pengkang itu lemper yang diisi daging-daging udang ya dan dibakar dengan daun pisang. Belum pernah coba juga sih, tapi dari tampilannya bikin penasaran.

f. Nasi Goreng

Screen Shot 2018-10-03 at 11.32.13
Gambar dari > https://www.kawalingpinoy.com/nasi-goreng-indonesian-fried-rice/

Nah, ini makanan basic yang bikin cerita Aruna jadi panjang banget! Aruna sampai harus ke Pontianak loh drama kabur-kaburan gitu buat nyari resep nasi goreng Mbak rumahnya tempo dulu.

Di akhir film para empat aktris itu berkumpul bersama merayakan malam yang penuh cinta dengan memasak nasi goreng bersama-sama di gerobak abang-abang pinggir jalan. Enggak kebayang sih kalau jadi si abang nasgor itu. Mimpi apa doi didatengin bintang film cakep-cakep gitu.

4. Landscape visual cantik yang siap membawa siapa pun untuk bergegas jalan-jalan

Bukan Edwin namanya jika tidak memberikan orgasme visual yang menggetarkan. Rentetan visual ibu kota lewat gedung-gedung tinggi dan kaca-kaca yang membungkus manusia-manusia di dalamnya benar-benar menghadirkan suasana malam khas Jakarta. Kemudian kontras di tiap-tiap kota yang didatangi pun dihadirkan dengan begitu berwarna dan indah.

Adegan Barongsai, penyebrangan di kapal, jalan di pasar-pasar, sampai inspeksi ke kandang-kandang terasa sangat poetic dan Instagram-able banget. Keren lah pokoknya.

Dan Edwin tetaplah Edwin, yang menampilkan simbol-simbol yang membingungkan di visualnya. Seperti dramatisasi Aruna yang berusaha mengembalikan indra pengecapannya.

Edwin menghadirkannya dengan begitu absurd namun menarik. Bagaimana seorang Dian Sastro memeras banyak buah limon dan menyesap di lidahnya dan ketika Dian menyedot air pantai dengan sedotan panjang adalah ke-absurd-an yang begitu janggal namun begitu simbolik secara bersamaan.

5. Placement brand yang enggak maksa

Edwin dengan jitu menaruh beberapa brand dalam film dengan begitu subtil dan sesuai konteks. Seperti saat Aruna lupa untuk print tiket pesawat, kemudia Bono memberikan solusi untuk tidak perlu repot lagi karena sudah bisa lewat aplikasi.

Seisi bioskop bertepuk tangan dan mengacungkan jempol karena punch line yang diucapkan Bono.

Kecap Bango yang selalu hadir terus menerus pun semua sesuai konteks dan tidak memaksakan. Jago deh Edwin.

6. Musik yang asik

Jualan kenangan masa lalu memang paling ampuh untuk menarik simpati. Apalagi dikemas dengan asik dan bikin nagih. Pemilihan lagu-lagu di film Aruna dan Lidahnya ciamik banget. Mulai dari lagu-lagu 80an sampai 90an yang bikin orang nyanyi-nyanyi di bioskop pas lagunya diputar. Arasemen baru dari lagu-lagu seperti Antara Kita-nya RSD dan Tentang Aku- Jingga terasa begitu manis seperti memori hangatnya matahari di sore hari.

Kritik Terhadap Film Aruna dan Lidahnya

Jika film Aruna dan Lidahnya sebatas untuk hiburan dan bikin senyum-senyum manja, sebenarnya film Aruna sudah menuntaskan tugasnya. Namun, setelah saya membaca beberapa kritik akan film ini, sebenarnya masukan-masukan tersebut memberikan perspektif yang lebih kaya untuk pengembangan cerita Aruna dalam pemetaan topik yang lebih kerucut dan terfokus sebagai penggerak substansi film secara keseluruhan.

Sekali lagi, menonton film dan menerjemahkan apa yang dirasakan hasilnya akan berbeda di tiap masing-masing orang. Ada yang akan menilai suatu film dari teknisnya, ada yang mengukurnya dari segi ceritanya, dan ada yang sesederhana ketika nanti filmnya selesai ia bisa langsung ke kamar mandi dan menuntaskan kebelet yang ia tahan sepanjang film.

Karena tafsiran dan pengalaman yang berbeda-beda, maka sebuah karya seni akan bersifat personal dan intim bagi tiap-tiap orang.

Tapi secara general kita dapat menangkap bahwa film Aruna dimaksudkan untuk kalangan masif, sesuatu yang seharusnya bisa ditonton oleh banyak orang. Sehingga dari segi penceritaan mungkin akan terasa lebih light dan terselip humor dan drama cinta di sana sini lengkap dengan deretan pemain yang rupawan.

Semua formula terasa sudah lengkap, namun apa yang sebenarnya membuat film Aruna dan Lidahnya seperti terjebak dalam genre yang ia usung. Film ini terasa galau akan identitasnya.

Apakah ini genre film komedi romantis kah? Atau cerita detektif dalam memecahkan sebuah konspirasi? Atau film makanana semata?

Karena pertama, jika film ini ingin dikategorikan sebagai genre komedi romantis, porsi kisah percintaan dan jalinan dramatisasi tiga babaknya hanya terjadi di tengah-tengah saja dan back story alasan masing-masing karakter untuk jatuh cinta satu sama lain tidak tergambarkan dengan kuat. Dalam arti, apa sih yang membuat Aruna bisa sebegitunya menyukai Farish selama itu dan masih menyimpan perasaannya?

Lalu, kesubtilan perasaan platonik Bono ke Nad benar-benar terlalu tipis. Saya tidak dibuat percaya bahwa Bono benar-benar suka dengan Nad. I mean, c’mon! get real, mereka sudah berusia 30an, mabuk, berada di kamar yang sama. Dan yang terjadi hanyalan ucapan, “stay”? Really?

Kedua, cerita konspirasi isu flu burung pun yang niatnya menjadi adrenalin dalam film ini terasa malu-malu dan terkesan nanggung untuk ditunjukkan. Jika memang skalanya adalah kepemerintahan dengan budget milyaran atau triliyiunan rupiah, gambaran akan ketegangan dan perencanaan strateginya masih begitu lemah dan tertebak. Mungkinkah investigasi yang dari awal sudah dapat mengendus kebusukan sistem di dalamnya dapat dibongkar oleh oleh dua orang saja dengan data-data yang sebenarnya bisa sekali dipalsukan dari pusat.

Ketiga, kontroversi makanan yang hadir sebagai tempelan dalam film ini sebenarnya saya agak setuju sih. Karena, dari awal film kesan petualangan lidah Aruna hanya sekadar tentang Aruna yang pelan-pelan kehilangan sensitivitas dalam indra pengecapnya. Karena apa? Sejak kapan? Kok enggak dijelaskan? Lalu, apakah keseluruhan perjalanan sepanjang hampir dua jam ini tentang mencari menu rahasia dari si Mbak rumahnya masa dulu, tapi kok sampai akhir film enggak dikasih tahu apa yang membuat nasi goreng itu berbeda. Apa sih bedanya Mba Aruna aku penasaran tahu….. Sehingga substansi lidah yang berasosiasi dengan makanan tidak kuat bertautan sebagai penggerak cerita film. Beda dengan film Tabula Rasa yang memang makanan padang penjadi substansi dan filosofi akan film tersebut. Cerita bergerak progresif karena premis yang dihadirkan adalah seorang warga Papua yang belajar memasak di rumah makan Padang dan konflik hadir di sana. Nah, kalau di film Aruna dan Lidahnya, scene makanan hanya seperti turis-turis yang lagi makan saja. Tanpa value lebih di dalamnya.

Terus nih ya, yang paling nyebelin sebenarnya adalah ketika semua orang dapat menemukan Aruna di sebuah warung nasi goreng gerobak pinggiran yang antah berantah banget. KOK BISA KETEMU SIH DI ANTARA BANYAKNYA TUKANG NASI GORENG? KOK BISA TAHU ARUNA MALEM-MALEM MAMNYA NASI GORENG?

Apa Aruna punya grup Whatsapp berempatan dan langsung share loc di sana? Tapi katanya kan lagi berantem? Gengsi dong, beb! Itu semua menjadi pertanyaan besarku sampai di kamar kosan.

Namun, pada akhirnya toh film Aruna masih bisa sangat dinikmati dan diapresiasi dengan kemasannya yang begitu menggemaskan dan bikin nagih. Semua eksekusinya terberkati dengan hasil yang berkelas dan tidak main-main. Film ini perlu sekali ditonton seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya oleh penonton Indonesia lainnya.

Saya pun jadi kepikiran saat Bono sang pemuja makanan menjelaskan filosofi makanan pada Farish yang simple dan pragmatis. Farish berpendapat bahwa makanan hanya sekadar untuk kenyang saja. Titik.

Oh tentu tidak mas ganteng, saya mengamini apa yang Bono, Aruna, dan Nad percayai. Bahwa makanan adalah sebuah sumber kebahagian dan pengalaman yang dapat memperkaya manusia dan membawa penikmatnya pada titik zen yang menghubungkan dia dengan tubuhnya dan berkomunikasi dengan semesta. Karena setiap sedih, rindu rumah, atau senang pasti yang dicari manusia pasti makanan. Makan adalah sebuah budaya dan makanan adalah jati dirinya.

Terlebih jika bisa berbagi makanan dengan orang yang disayang, itu semua dapat memberikan sensasi yang lebih menyenangkan dan historik dua kali lipat. Ada cerita dan perasaan yang hadir di sana.

Seperti sebuah pemeo usang yang berujar, everything taste better when you are eat together.

Mungkin kurang lebihnya seperti itu. Dan bagi saya, film Aruna dan Lidahnya adalah film drama terbaik Indonesia terbaik tahun 2018 ini. Karena begitu pop dan enak dicerna.

Ayo nonton Aruna dan Lidahnya di bioskop! SEKARANG! Dan, WARNING, jangan lupa makan dulu daripada nanti kesiksa sepanjang nonton filmnya!

PS. Mau pamer foto-foto pas dateng ke Premier filmnya hehe.

IMG_3876

57ecacd1-7b9b-46ea-b438-8de5ff8f1383
Datang sekantor, karena kantor saya salah satu sponsor film Aruna loh!
IMG_3863
Namanya Endeus.tv

Kamu bisa mengunjungi websitenya di sini > https://endeus.tv/

Jadi, Endeus.tv adalah sebuah website yang memberikan inspirasi masakan harian berupa tutorial untuk kamu-kamu yang ingin membuat masakan dengan mudah, ringkes, dan enak.

 

 

Isi Goodybag Aruna dan Lidahnya lucu dapet kecap dan kita dikasih nasi goreng Aruna yang lumayan bikin enggak laper-laper banget pas nonton. Meskipun habis selesai nonton tetap nyari makan.

IMG_3864
Ada warung lucu sebagai display foto-foto seperti di poster filmnya

dan momen terbaiknya tentu saja adalah….

IMG_3870
Bertemu para bintang filmnya yang aduhai cakep-cakep banget!

Ayo-ayo bikin satu juta orang yang nonton film Aruna dan Lidahnya!

Advertisements

Review Film Kafir Bersekutu dengan Setan: Gambar Cantik Namun Tanpa Kengerian yang Membekas

Tragedi kisah cinta di masa lalu yang membawa nestapa pada satu keluarga.

Screen Shot 2018-08-31 at 15.40.02

Yang sempat menonton film Kafir tahun 2002 yang diperankan dengan begitu YA ALLAH INI BENERAN APA CUMA FILM DOANG SIH oleh Sujiwo Tejo pasti sudah akrab dengan premis film yang ditawarkan, yaitu seorang dukun yang bersekutu dengan ilmu hitam, meninggal, lalu mayatnya tidak dapat dikuburkan dan membuat resah satu keluarganya.

Kengerian yang ditularkan dari akting Sujiwo Tejo yang begitu nyata atau KELEWAT NYATA dan adegan-adegan mistis yang vulgar, dalam arti begitu mengerikan tanpa filter artistik, membuat film Kafir terdahulu begitu mistis dan traumatis.

Lalu selang enam belas tahun muncul film berjudul hampir sama, Kafir Bersekutu dengan Setan, yang mencoba mengangkat semangat film terdahulu dengan eksekusi yang lebih modern dan artsy.

Jika saja kita tidak melihat film Kafir Bersekutu dengan Setan sebagai film dengan genre horor, semua orang pasti sepakat bahwa gambar-gambar di dalam film ini terekam dengan begitu romantis dan klasik.

Namun, kenyataannya Kafir adalah sebuah film horor karena narasinya yang menggambarkan sebuah teror teluh yang mengoyak keluarga Herman. Diawali dengan kematian Herman secara tiba-tiba ketika makan bersama dengan keluarganya. Lalu teror itu pun dilanjutkan dengan serangan-serangan lain yang tak kalah dahsyat dalam sepanjang film.

Membandingkan film ini dengan Pengabdi Setan dan Sebelum Iblis Menjemput seperti melihat kesamaan pola dalam penceritaan. Terlebih pada pengabdi setan. Kesamaan setting masa lampau, yang katanya 90an namun menurut saya kalau dari fashionnya lebih terlihat seperti tahun 80an dengan pusaran masalah yang terjadi pada sebuah keluarga yang menginfeksi anggota keluarga lainnya.

Tapi harus diakui film Kafir Bersekutu dengan Setan memiliki kehangatan scene yang lebih kekeluargaan dan lokal. Namun sayang dalam jahitan satu babak ke babak yang lain terasa sekali jumping ceritanya yang kurang erat. Apalagi di scene akhir yang satu keluarga Herman duduk menatap senja atau matahari terbit. Duh, kenapa enggak ke kantor polisi atau pulang ke rumah?

Namun harus diakui dalam segi cerita film Kafir lebih matang dibanding pengabdi setan yang banyak bolongnya, di sini dengan solid sang sutradara menyampaikan motivasi masing-masing karakter dengan jelas. Misi balas dendam.

Penampilan Sujiwo Tejo di sini pun masih begitu prima dan membekas, meskipun porsinya hanya sedikit.

Tapi kembali lagi film Kafir mengusung genre film horor yang membuat saya berkespektasi untuk mengalami pengalaman horor yang menakutkan. Tapi sayangnya tidak ada yang terlalu membekas di film ini selain akting Putri Ayudya sebagai Sri yang layak sekali mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya. Ketakutan dan kerapuhannya terasa begitu nyata di adegan kamar yang begitu melelahkan.

Scene yang paling keren dari film Kafir ini tentu saja ketika Sri bertemu sang dukun, dengan dominasi warna merah dan api yang menyala-nyala membuat film Kafir tampil sebagai film horor dengan estetika yang berkelas.

Akting, setting, musik, naskah cerita secara keseluruhan film ini ditampilkan dengan sangat layak. Misteri yang ditempelkan dalam film ini meskipun sudah tertebak di awal masih mampu membawa penontonnya untuk ikut berspekulasi.

Sejujurnya saya menyukai pengalaman menonton film Kafir, namun melihat secara keseluruhan cerita dan eksekusinya saya malah melihat film ini cenderung masuk ke genre drama misteri dibanding horor.

Karena sepanjang film saya tidak menutup mata sama sekali.

Review Film Sebelum Iblis Menjemput: Serem Abis Coy!

Jangan pernah berjanji dengan Iblis jika tidak siap dengan konsekuensinya.

Screen Shot 2018-08-31 at 14.33.06

Sebelum Iblis Menjemput hadir dengan atmosfir kengerian yang luar biasa. Ada begitu banyak momen-momen yang membuat saya ketika menonton film ini harus menutup mata. Waduh adegan saat si Ibu mantan artis terkenal, yang dimainkan dengan begitu cemerlang oleh Karina Suwandi, menggaruk-garuk kayu lantai dengan sekuat tenaga sampai kukunya copot dan nyeri berdarah itu sungguh sebuah mimpi buruk yang brutal.

Kekuatan film ini pun muncul dari mood warna yang ditampilkan dengan indah sekaligus mencekam. Secara teknis mulai dari makeup, set rumah besar yang terbengkalai, ruang bawah tanah yang kotor, kamar rumah sakit yang dingin, sampai lumpur di hutan, memberikan lompatan-lompatan horor yang membuat film ini tampil begitu kuat dan tajam. Membuat saya yang menontonnya berharap film ini agar cepat selesai.

Bukan karena jelek, tapi sepertinya jantung saya sudah tidak mampu untuk menghadapi satu persatu kejutan yang hadir terus menerus. Dan kenapa ya kalau film horor sebentar banget paginya?

Jajaran pemainnya pun tampil dengan begitu prima, baru kali ini saya menyukai akting Chelsea Islan yang selalu tampil ngotot dan ngegas, tapi di film ini kelunakan dan dinamika amarahnya tepat pada porsinya.

Dan Pevita Pearce juga Karina Suwandi are so perfect. Mereka adalah bintang utama dan pencuri scene di film ini. Secara gemilang mereka berakting dengan begitu meyakinkan dan tentu saja menyeramkan. Tanpa harus banyak bicara, ekspresi, jeritan, dan tangisan mereka akan menghantui siapa pun yang menontonnya.

Juga harus diacungi jempol pada departemen artistiknya. Gambaran akan setan perempuan serta iblis bertanduk dalam film ini merupakan kemasan paling ngeri dan terbaik di film horor Indonesia modern.

Adegan muntahan darah dan mata merah Ray Saetapi itu juara! Eneg dan menjijikannya dapet banget.

Bagi yang sudah menonton film Rumah Dara, VHS, dan The Abc’s of Death, pasti sudah akrab dengan ke-gore-an Timo saat menampilkan kesadisan dan kebrutalan koyakan darah dalam pertarungan masing-masing karakter melawan kematian. Dan di Sebelum Iblis Menjemput, terlihat sekali Timo menampilkannya dengan begitu canggih.

Seperti adegan saat sang Ayah yang terbaring koma di rumah sakit kemudian dari mulutnya keluar rambut yang mencekiknya dengan begitu liar. Secara pelan namun bengis, ketegangan tersebut diselesaikan dengan rontaan panjang dari sang Ayah untuk mencapai tombol warning di sampingnya namun tidak sempat teraih. Lalu scene bergerak dengan cepat pada muncratan darah yang menjadi jawabannya. Kacau keren banget adegan itu.

Dan Timo pun membawa kita untuk merasakan keletihan Pevita saat melawan Ibunya di adegan lumpur yang ikonik itu. Enggak kebayang bagaimana Pevita mengerahkan seluruh energinya untuk tenggelam dalam pergelutan di lumpur yang basah dan berat itu. Salut!

Sinematografi film Sebelum Iblis Menjemput ini tampil dengan presentasi yang mahal. Scene ketika kamera mengambil gambar gedung tinggi menuju kamar si Ayah adalah sesuatu yang menggetarkan dan memberikan vibe yang begitu jauh dan dingin.

Tapi di atas segala pencapaian tinggi secara teknis dan presentasi, ada beberapa hal yang menganggu saya ketika menonton film ini. Yaitu:

KENAPA PEVITA DIEM AJA KETIKA IBUNYA SUDAH JELAS-JELAS MINTA TOLONG UNTUK DITARIK KELUAR KETIKA KESEDOT KE RUANG BAWAH TANAH. Eh, pas Ibunya sudah masuk ke ruang bawah tanah Pevita baru deh jerit-jerit panik. Apaan deh. itu turn off banget.

Tapi secara overall film Sebelum Iblis Menjemput asik banget, jajaran pemainnya bermain dengan kuat dan efek-efek di tiap adegannya hadir sebagai keseluruhan yang mencekam.

Masih ada di bioskop dan jangan lupa nonton untuk ikut merasakan kengeriannya. Saya sih cukup sekali, enggak kuat!

Screen Shot 2018-08-31 at 14.33.48

Review Film Wiro Sableng Yang Tidak Tahu Harus Berkata Apa

Wiro Sableng di awal film tampil dengan prima lewat silat dan pertarungan yang meyakinkan, namun setelahnya…..

Screen Shot 2018-08-31 at 11.29.19

Yang ditonjolkan hanya pertempuran yang berulang tanpa kedalaman cerita dan motivasi yang kuat dari tiap-tiap karakternya.

Jika membandingkan dengan pendahulunya Pendekar Tongkat Mas yang tampil prima dengan scenery landscape Sumba yang cantik dan ambisi yang kuat dari karakter utamanya, di Wiro Sableng sang Sutradara tidak mau repot untuk menjelaskan satu persatu background karakternya dan KENAPA BANGET ITU ISTANA HARUS DIAMBIL ALIH SAMA ABDI DALEMNYA???

Karena apa gitu? Aku enggak ngerti.

Kenapa sih Sutradaranya harus menganggap semua orang yang menonton film ini adalah pecandu novel Wiro Sableng sebelumnya.

SALAH! Aku masih perlu diperkenalkan dengan Anggini dan Gurunya, back storynya apa hingga ia semudah itu mau mengikuti Wiro. Hanya untuk menjadi pendekar? Lalu apa?

Terus si Kakek di pasar itu (Setelah aku googling aku baru tahu namanya adalah Kakek si Segala Tahu) itu tuh fungsinya apa sih?

Bujang Gila Tapak Sakti pun sebenarnya tidak perlu-perlu amat untuk ikut Wiro kan? Lalu kenapa dia ikut?

Terus Marsha Timothy itu apa sih? Semacam lelembut atau gimana? Kok ga dijelasin. Kok bisa datang tiba-tiba terus dan nyelametin seluruh pertempuran. Kenapa enggak dari awal aja sih say? 😦

Terus adegan pengkhianatan informasi bahwa si pangeran dan sisternya si Raja lagi blusukan kenapa harus keluar dari omongan dan ga ditunjukin dari perjalanan mereka sebelumnya sih?

Dan adegan di berantem di pohon itu, duh maaf banget, menurutku itu cringe abis 😦 It was so painful to watch. Transisi gambar dari adegan pohon ke lembah itu pun ga asik banget. Apalagi pas Wiro turun dari gunung itu aduh say maaf banget kayak lagi nonton acara silat yang di Indosiar itu loh 😦

Terus para komplotan penjahat-penjahat itu kenapa enggak dikenalin satu-satu dengan kekuatannya apa gitu kek. Basa basi dikit. Kan kasihan udah ngumpul-ngumpul dan dandan cakep-cakep enggak dikenalin.

Dan Vino yang jadi Wiro itu hem………

Yang menyelamatkan film ini hanyalah hypenya, soundnya, gurunya wiro sableng dan Sherina. The rest is… I don’t know what to say.

Makna kesablengan dari film ini pun enggak memberikan vibe apa pun. Tapi lebih baik kalian tetap menontonnya untuk mengetahuinya sendiri. Mungkin memang after tastenya akan berbeda di masing-masing orang.

Review Film Teman Tapi Menikah: Gemas-Gemas Gimana Gitu

Screen Shot 2018-04-19 at 12.06.44 AM

Apakah laki-laki dan perempuan bisa bersatu dalam ikatan pertemanan tanpa ada rasa suka pada satu sama lain?

Pertanyaan itu mungkin sering kamu dengar atau jangan-jangan sedang kamu jalani sekarang ini?

Nah buat yang sedang berada dalam dilema tersebut ada baiknya kamu menonton film manis satu ini berjudul Teman Tapi Menikah. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karya dari pasangan selebritas yang sedang naik daun: Ditto dan Ayu Diah Bing Slamet.

Kisah film Teman Tapi Menikah sangat sederhana, tentang Ditto yang memendam perasaannya selama 12 tahun pada Ayu dan seperti spoliler di judul filmnya: mereka berdua pun berakhir menikah bersama.

Tapi tentu saja selama dua belas tahun premis tersebut tidak dijalani dengan sesederhana itu. Pasti ada banyak naik turun yang dialami Ayu dan Ditto.

Seperti saat Ditto yang sabar melihat Ayu selalu berganti pacar dan dia hanya dijadikan senderan untuk memberikan contekan dan tukang antar jemput. Yang mana dilakukan oleh Ditto dengan ikhlas sekadar untuk bisa menemani dan melihat Ayu.

Secara pribadi saya sangat menikmati menonton film ini. Tidak ada plothole yang ganggu, tidak ada aktor-aktor dengan akting yang nyebelin, atau gangguan-gangguan teknis lain. Semuanya terasa pas pada porsinya.

Film Teman Tapi Menikah memang dikhususkan untuk mereka para penyuka film romansa yang sudah mengikuti kisah Ditto dan Ayu sebelumnya lewat bukunya atau akun media sosial mereka.

Dan bagi yang tidak mengikuti sama sekali, baik di media sosial atau membaca bukunya (seperti saya), ketika menonton film ini malah menjadi tertarik untuk mengulik kisah mereka berdua lebih dalam lagi.

Yang menjadi unggulan dalam film Teman Tapi Menikah adalah keseluruhan elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari para aktornya, baik yang utama maupun pendukungnya, semua berakting dengan sangat baik. Dan tepuk tangan paling meriah tentu saja diberikan pada Adipati dan Vanesha yang berakting dengan sangat natural dan menggemaskan. Para penonton, setidaknya saya, dibuat percaya bahwa mereka adalah dua orang teman yang memiliki kedekatan yang asik.

Menonton film ini, saya seperti melihat entitas tersendiri, saya tidak tahu seperti apa Ditto dan Ayu Diah di kehidupan nyatanya. Jadi, saya melihat keduanya berakting dengan sangat baik sesuai karakter yang mereka bawakan.

Gambar-gambar yang diproduksi dalam film ini pun BAGUS sekali. Meski ada beberapa yang glossy dan kuningnya terlalu berlebihan, namun memang tujuannya untuk menghasilkan gambar yang clean dan penanda sebagai kilas balik ke masa lalu. Jadi, masih bisa ditoleransi lah.

Favorit saya adalah bagaimana film ini merekam Bandung dengan begitu indah dan gambaran kosmopolitas juga upper class keluarga Ibu Kota yang tidak berlebihan namun tetap memabukkan.

Yang paling saya soroti adalah adegan pembuka film ini saat Ditto mendengarkan detail-detail suara di sebuah cafe saat menunggu Ayu datang. Semua terasa enerjetik dan menular. Settingnya seperti iklan yang menarik. Namun, sayangnya detail-detail tersebut berhenti di awal saja. Padahal saya menunggu ada keterikatan filosofi perkusi dengan cerita film ini. Sayangnya tidak ada.

Selebihnya film ini begitu cerewet dengan dialog-dialog yang penuh tanpa memberikan jeda pada gambar-gambar diam yang sebenarnya bisa bercerita sendiri.

Seperti saat Ditto naik bus menuju rumahnya saat menyadari ia butuh membeli mobil untuk bisa pulang bersama Ayu. Atau saat Ayu merasa dikhianati oleh Ditto ketika ia menyatakan perasaan sukanya pada Ayu dan Ayu akhirnya berkubang pada perasaan sedihnya di kamar tidur.

Dua scene tersebut pengambilan gambarnya terlihat sangat poetic dan berpotensi untuk memberikan kedalaman pada cerita dengan dramatisasi yang memang pas untuk kegamangan dan kesedihan yang ada pada plotpoint penceritaan.

Jadi, saya merasa film ini terlalu berisik menuntun para penontonnya untuk mengetahui emosi dan perasaan masing-masing karakter lewat dialog-dialog yang terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Mungkin itu untuk kebutuhan quoting caption di media sosial kali ya. Yang sebenarnya saya rasa tidak perlu-perlu amat.

Sehingga tidak ada ruang ‘theater of mind’ para penontonnya untuk menerka-nerka ke mana jalan cerita ini seterusnya akan berjalan meskipun dengan ending yang sudah mereka tahu dari awal. Tidak masalah ketika kita sudah tahu akhir dari cerita tertentu, namun setidaknya dalam drama tentu saja penonton membutuhkan twist dan kejutan-kejutan sendiri untuk membuat tensi cerita agar tetap naik dan menarik.

Terlepas dari itu, film ini cukup berhasil untuk memberikan emosi pada penontonnya ketika adegan Ditto yang akhirnya menyatakan perasaannya pada Ayu di Cafe. Umpan-umpan di awal yang sudah ditaruh untuk siap memburai emosi penonton saat Ayu menolak Ditto berhasil dengan sempurna menarik kailnya untuk dikoyak pada flashback yang asik saat Ayu akhirnya pun menyadari betapa penting arti Ditto dalam hidupnya.

Ditambah musik-musik pengiring yang hadir dengan seru. Terutama saat muncul lagu Melupakanmu dari Endah n Rhesa juga lagu yang dibawakan Iqbaal Ramadhan. Secara keseluruhan dapat mengisi momen-momen sedih, senang dan romantis dengan manis.

Saya senang sekali bisa menonton film remaja ‘cinta-cintaan’ yang dibuat dengan proper dan akhirnya menghasilkan kesinergisan antara isi cerita dan elemen-elemen lainnya. Salut untuk para kru dan aktor di film ini!

Kembali lagi ke pertanyaan awal apakah dua orang dengan gender yang berbeda bisa berteman tanpa ada ketertarikan seksual satu sama lain? Jawabannya ya cuma kamu sendiri yang tahu. Tapi jangan lupa untuk berjuang memberitahukannya kalau-kalau kamu suka.

Anyway another observation sepanjang film ini adalah:

  1. Fashion secara keseluruhan film ini tuh sudah asik, penggambaran Ditto yang kece dan gaul dengan sempurna terwakilkan dari pemilihan style dan baju yang pas dari awal sampai akhir. Tapi KENAPA WIG DI MASA SMP GANGGU BANGET SIH?
  2. Terus tiga baju terakhir yang dipakai Ayu mulai dari baju kuning di cafe, kemudian adegan dia ngasih tau pacarnya kalau Ditto menyatakan perasaan (rambut dia berantakan ga jelas juntrungannya juga anting dan dan kalung bunganya yang segede-gede gaban itu ganggu banget). Paling epik adalah baju pas dia ke Bali. Itu baju yang dipakai labil banget. Mau bikini atau levis atau apa sih? Enggak ngerti.

Selebihnya semua masih oke untuk ditonton seru-seruan bareng pacar atau teman yang lagi kamu kode-kodein.

Selamat menonton!