Review Film Teman Tapi Menikah: Gemas-Gemas Gimana Gitu

Screen Shot 2018-04-19 at 12.06.44 AM

Apakah laki-laki dan perempuan bisa bersatu dalam ikatan pertemanan tanpa ada rasa suka pada satu sama lain?

Pertanyaan itu mungkin sering kamu dengar atau jangan-jangan sedang kamu jalani sekarang ini?

Nah buat yang sedang berada dalam dilema tersebut ada baiknya kamu menonton film manis satu ini berjudul Teman Tapi Menikah. Film yang diangkat dari novel laris dengan judul yang sama karya dari pasangan selebritas yang sedang naik daun: Ditto dan Ayu Diah Bing Slamet.

Kisah film Teman Tapi Menikah sangat sederhana, tentang Ditto yang memendam perasaannya selama 12 tahun pada Ayu dan seperti spoliler di judul filmnya: mereka berdua pun berakhir menikah bersama.

Tapi tentu saja selama dua belas tahun premis tersebut tidak dijalani dengan sesederhana itu. Pasti ada banyak naik turun yang dialami Ayu dan Ditto.

Seperti saat Ditto yang sabar melihat Ayu selalu berganti pacar dan dia hanya dijadikan senderan untuk memberikan contekan dan tukang antar jemput. Yang mana dilakukan oleh Ditto dengan ikhlas sekadar untuk bisa menemani dan melihat Ayu.

Secara pribadi saya sangat menikmati menonton film ini. Tidak ada plothole yang ganggu, tidak ada aktor-aktor dengan akting yang nyebelin, atau gangguan-gangguan teknis lain. Semuanya terasa pas pada porsinya.

Film Teman Tapi Menikah memang dikhususkan untuk mereka para penyuka film romansa yang sudah mengikuti kisah Ditto dan Ayu sebelumnya lewat bukunya atau akun media sosial mereka.

Dan bagi yang tidak mengikuti sama sekali, baik di media sosial atau membaca bukunya (seperti saya), ketika menonton film ini malah menjadi tertarik untuk mengulik kisah mereka berdua lebih dalam lagi.

Yang menjadi unggulan dalam film Teman Tapi Menikah adalah keseluruhan elemen yang ada di dalamnya. Mulai dari para aktornya, baik yang utama maupun pendukungnya, semua berakting dengan sangat baik. Dan tepuk tangan paling meriah tentu saja diberikan pada Adipati dan Vanesha yang berakting dengan sangat natural dan menggemaskan. Para penonton, setidaknya saya, dibuat percaya bahwa mereka adalah dua orang teman yang memiliki kedekatan yang asik.

Menonton film ini, saya seperti melihat entitas tersendiri, saya tidak tahu seperti apa Ditto dan Ayu Diah di kehidupan nyatanya. Jadi, saya melihat keduanya berakting dengan sangat baik sesuai karakter yang mereka bawakan.

Gambar-gambar yang diproduksi dalam film ini pun BAGUS sekali. Meski ada beberapa yang glossy dan kuningnya terlalu berlebihan, namun memang tujuannya untuk menghasilkan gambar yang clean dan penanda sebagai kilas balik ke masa lalu. Jadi, masih bisa ditoleransi lah.

Favorit saya adalah bagaimana film ini merekam Bandung dengan begitu indah dan gambaran kosmopolitas juga upper class keluarga Ibu Kota yang tidak berlebihan namun tetap memabukkan.

Yang paling saya soroti adalah adegan pembuka film ini saat Ditto mendengarkan detail-detail suara di sebuah cafe saat menunggu Ayu datang. Semua terasa enerjetik dan menular. Settingnya seperti iklan yang menarik. Namun, sayangnya detail-detail tersebut berhenti di awal saja. Padahal saya menunggu ada keterikatan filosofi perkusi dengan cerita film ini. Sayangnya tidak ada.

Selebihnya film ini begitu cerewet dengan dialog-dialog yang penuh tanpa memberikan jeda pada gambar-gambar diam yang sebenarnya bisa bercerita sendiri.

Seperti saat Ditto naik bus menuju rumahnya saat menyadari ia butuh membeli mobil untuk bisa pulang bersama Ayu. Atau saat Ayu merasa dikhianati oleh Ditto ketika ia menyatakan perasaan sukanya pada Ayu dan Ayu akhirnya berkubang pada perasaan sedihnya di kamar tidur.

Dua scene tersebut pengambilan gambarnya terlihat sangat poetic dan berpotensi untuk memberikan kedalaman pada cerita dengan dramatisasi yang memang pas untuk kegamangan dan kesedihan yang ada pada plotpoint penceritaan.

Jadi, saya merasa film ini terlalu berisik menuntun para penontonnya untuk mengetahui emosi dan perasaan masing-masing karakter lewat dialog-dialog yang terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Mungkin itu untuk kebutuhan quoting caption di media sosial kali ya. Yang sebenarnya saya rasa tidak perlu-perlu amat.

Sehingga tidak ada ruang ‘theater of mind’ para penontonnya untuk menerka-nerka ke mana jalan cerita ini seterusnya akan berjalan meskipun dengan ending yang sudah mereka tahu dari awal. Tidak masalah ketika kita sudah tahu akhir dari cerita tertentu, namun setidaknya dalam drama tentu saja penonton membutuhkan twist dan kejutan-kejutan sendiri untuk membuat tensi cerita agar tetap naik dan menarik.

Terlepas dari itu, film ini cukup berhasil untuk memberikan emosi pada penontonnya ketika adegan Ditto yang akhirnya menyatakan perasaannya pada Ayu di Cafe. Umpan-umpan di awal yang sudah ditaruh untuk siap memburai emosi penonton saat Ayu menolak Ditto berhasil dengan sempurna menarik kailnya untuk dikoyak pada flashback yang asik saat Ayu akhirnya pun menyadari betapa penting arti Ditto dalam hidupnya.

Ditambah musik-musik pengiring yang hadir dengan seru. Terutama saat muncul lagu Melupakanmu dari Endah n Rhesa juga lagu yang dibawakan Iqbaal Ramadhan. Secara keseluruhan dapat mengisi momen-momen sedih, senang dan romantis dengan manis.

Saya senang sekali bisa menonton film remaja ‘cinta-cintaan’ yang dibuat dengan proper dan akhirnya menghasilkan kesinergisan antara isi cerita dan elemen-elemen lainnya. Salut untuk para kru dan aktor di film ini!

Kembali lagi ke pertanyaan awal apakah dua orang dengan gender yang berbeda bisa berteman tanpa ada ketertarikan seksual satu sama lain? Jawabannya ya cuma kamu sendiri yang tahu. Tapi jangan lupa untuk berjuang memberitahukannya kalau-kalau kamu suka.

Anyway another observation sepanjang film ini adalah:

  1. Fashion secara keseluruhan film ini tuh sudah asik, penggambaran Ditto yang kece dan gaul dengan sempurna terwakilkan dari pemilihan style dan baju yang pas dari awal sampai akhir. Tapi KENAPA WIG DI MASA SMP GANGGU BANGET SIH?
  2. Terus tiga baju terakhir yang dipakai Ayu mulai dari baju kuning di cafe, kemudian adegan dia ngasih tau pacarnya kalau Ditto menyatakan perasaan (rambut dia berantakan ga jelas juntrungannya juga anting dan dan kalung bunganya yang segede-gede gaban itu ganggu banget). Paling epik adalah baju pas dia ke Bali. Itu baju yang dipakai labil banget. Mau bikini atau levis atau apa sih? Enggak ngerti.

Selebihnya semua masih oke untuk ditonton seru-seruan bareng pacar atau teman yang lagi kamu kode-kodein.

Selamat menonton!

 

Advertisements

Review Film Rumah dan Musim Hujan: Kisah Janggal dan Mencekam yang Membuat Decak Kagum (SPOILER)

Screen Shot 2018-03-21 at 7.45.50 PM

Sebelum memulai review filmnya, ada sebuah artikel yang akan membantu menjelaskan pergantian nama film ini yang awalnya berjudul Rumah dan Musim Hujan menjadi Hoax yang sempat beredar di bioksop kemarin.

Kebetulan saya menonton film Rumah dan Musin Hujan versi Director’s cut di Kinosaurus pekan lalu. Jadi yang saya tonton adalah yang versi original.

Bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang merayakan buka puasa bersama di rumah Bapak mereka. Film dibuka dengan adegan satu keluarga yang memainkan permainan dari Korea, bernyanyi bersama sambil mengenalkan nama masing-masing secara bergantian di meja makan.

Semua berjalan begitu riang dan menyenangkan sampai pacar si anak pertama, Raga, kalah dan harus bernyanyi. Ada jeda di sana, Ragil (anak kedua, diperankan oleh Vino G Bastian) dan Ade (anak ketiga, Tara Basro) berbagi pandangan tidak suka saat Ade berniat untuk menyalakan rokok.

Kemudian satu persatu rahasia dan kejadian janggal anak-anak si Bapak pun mulai bermunculan saat mereka pulang dari acara buka puasa. Dan yang membuat film ini asik adalah pergantian alur di film ini dibuat berjalan mundur dan selalu dimulai dari scene pulang tersebut.

Film ini pun terbagi dari tiga cerita utama, yaitu:

Pertama, dibuka dengan kisah anak ke dua bernama Ragil yang hidup dengan si Bapak yang sudah pikun juga sepuh. Sehari-hari sang Bapak harus dituntun lewat lembaran-lembaran kertas berisi petunjuk untuk melakukan apa pun di dalam rumah.

Kisah Ragil dibuat sedikit lambat dengan menunjukkan aktivitas-aktivitas kepatuhan Ragil atas pengabdian terhadap Bapaknya.

Mulai dari mengganti genteng saat hujan dan lain-lain. Namun, dibalik itu semua ada perasaan khawatir dari sang Bapak yang tidak pernah melihat Ragil mengenalkan perempuan datang ke rumah.

Sebenarnya bisa ditebak bahwa dibalik kesan konservatif Islam yang ditunjukkan Ragil dengan tidak bersalaman bersama pacar sang kakak, Raga. Penonton sudah dibentuk persepsi oleh sang sutradara bahwa there is something wrong nih sama Ragil.

Dan benar saja. Setelah melewati menit-menit kontras dengan sang Bapak yang bermain wayang sedang Ragil yang membaca Al-Qur’an. Ada satu rahasia tersembunyi yang coba Ragil utarakan ke Bapaknya namun selalu ia ulur.

Scene tersebut dengan sabar dimunculkan oleh Ifa lewat percakapan Ragil bersama seseorang di kotak Yahoo Messenger.

Ragil ternyata adalah seorang Gay. Keengganannya untuk berterus terang diwakilkan lewat mimik ketersiksaan Ragil yang selalu ia coba sembunyikan pada Bapaknya lewat senyumannya.

Lalu saat mati lampu, twist kisah Ragil pun dihidupkan dengan dimunculkannya partner Ragil di depan pintu. Dalam gelap mereka berdua pun bercumbu melawan berisiknya deras hujan di luar dan sesaknya rahasia yang menyiksa mereka berdua in the closet.

Yang menjadi pertanyaan dari cerita pertama ini adalah ketika sang Bapak meminta maaf kepada Ragil karena ia menamakannya dengan nama tersebut.

Kisah kedua, yang menjadi favorit saya, adalah tragedi yang dialami Ade yang diperankan oleh Tara Basro dengan intensitas kengerian yang menular.

Berasa sekali capeknya jadi si Ade jika dihadapkan dengan situasi yang dia alami.

Vibe bahwa kisah Ade adalah kisah mistis sudah terasa saat diperjalanan pulang Ade harus diganggu oleh suara tangisan di depannya. Yang ternyata adalah sosok laki-laki yang mendorongnya jatuh ke pelosok sawah (sampai sekarang saya masih tidak tahu apakah laki-laki itu adalah manusia atau mahluk astral. Apakah Ade diperkosa atau cuma diganggu saja? Semua masih menjadi tanda tanya)

Sambil menangis saat pulang ke rumah barunya. Sesampainya di sana Ade harus mengalami kengerian dan teka teki akan kembaran gaib sang Bunda yang mengganggunya sepanjang malam.

Sebanyak tiga kali sosok duplikasi gaib sang Bunda mengerjainya berkali-kali. Membuat Ade hampir kehilangan kewarasannya.

Kemunculan pertama saat Ade sedang mandi dan Bunda muncul dari belakang, Bunda mengepel dan meminta Ade membuka pintu rumah yang ternyata adalah….

Bunda yang baru pulang belanja membeli sikring lampu baru. Lalu ke mana Bunda yang di kamar dan meminta Ade membuka pintu?

Kemudian setelah Ade mulai percaya bahwa ini adalah Bunda yang asli, saat Ade hendak mengambil belanjaan berupa pajangan pohon pisang dalam bentuk asli. Sang Bunda yang seharusnya di kamar mandi tiba-tiba datang dari dapur membawa teh.

Ade mulai goyang. Lalu membiarkan Bunda membuatkannya teh dan Bunda pun pergi untuk solat.

Dan saat sosok ketiga Bunda sedang solat, sebuah telfon mengguncang mental Ade. Telfon tersebut berasal dari Bunda yang tidak bisa datang ke rumah.

Lalu, mana sebenarnya yang Bunda ‘asli’?

Kekuatan bagian cerita Ade ini ada di akting ke dua aktornya. Tara Basro dan Jajang C Noer. Terlebih akting Jajang C Noer yang bermain dengan begitu mencekam dan akan menghantui siapa pun yang melihat bagaimana ia mencoba untuk meminta Ade memeluknya. Kengerian itu begitu nyata keluar dari mata dan senyum palsu Jajang C Noer.

Cerita bagian kedua ini ditutup dengan statement Ade yang masih menjadi tanda tanya. Saat memukul sang Bunda Ade berkata: akhirnya aku tahu apa arti nama mas Ragil!

Yang terakhir, adalah kisah Raga yang dibawakan oleh Tora Sudiro. Dimulai dengan dongeng Raga tentang ulang tahun sang Bunda menurut tanggalan Jawa pada sang kekasih, Sukma.

Dari cerita Raga dikisahkan bahwa ketika seorang manusia berada dalam kandungan, sebenarnya mereka memiliki tiga saudara kembar. Yaitu saudara ketuban, ari-ari, dan pusar. Ketiga saudara itu menjaga sang janin dan akan muncul secara bersamaan setiap si janin ulang tahun di tanggalan Jawa.

Dari ketertarikan sana, Sukma pun diminta Raga untuk mengikuti permainan ‘kepercayaan’ saat menyetir. Mata Sukma ditutup dan harus mengikuti instruksi Raga saat menyetir. Setelah berhasil melewatinya, Sukma pun mengajak Raga untuk bercinta di dalam mobil.

Selama beberapa menit gerakan penuh kenikmatan diiringi dengan desahan panas berganti menjadi sebuah jeritan panjang. Ternyata Raga terlanjur ‘keluar’ tanpa menggunakan pelindung.

Dirundung panik, Sukma pun berfikir dia akan hamil. Berbagai cara ia cari untuk bisa menghalangi sperma Raga masuk ke dalam rahimnya.

Lama mencari, mereka menemukan sebuah artikel dalam majalah kesehatan wanita (yang anehnya ada begitu banya dikoleksi oleh Raga) bahwa yang manjur adalah lompat-lompat sambil meminum jus nanas.

Saat hendak keluar mencari jus nanas, tiba-tiba di luar rumah Raga kedatangan sang mantan. Rani.

Dari sana konflik pun terjadi. Panas karena tiba-tiba melihat sang mantan hadir di hidup Raga lagi, Sukma pun memutuskan untuk pergi dari rumah Raga. Namun, ditahan Raga. Rani berkilah bahwa kedatangannya karena alasan ia dipukuli suaminya dan butuh tempat menginap.

Permainan kecohan pun hadir di sana, apakah Rani benar-benar datang ke Raga karena meminta suaka perlindungan atau hanya mencari perhatian Raga saja?

Lalu tanpa diduga, Rani menceritakan pada Sukma bahwa Raga mandul. Dengan keterkejutan itu, Sukma meninggalkan rumah Raga dengan kesedihan dan memberikan tawa pada wajah Rani.

Film pun ditutup dengan satu keluarga si Bapak itu (minus si Bunda yang masih tidak tahu ada di mana) dengan makan bersama lagi.

Alasan mengapa film Rumah dan Musim Hujan begitu keren:

  1. Menonton film ini benar-benar memberikan pengalaman sinematik yang penuh dengan ketegangan dan teka-teki yang menyelimuti setiap cerita di dalamnya. Kejutan demi kejutan dihadirkan Ifa melalui intensitas cerita yang tadinya berjalan pelan kemudian ngegas di pertengahan sampai akhir. Semua pertanyaan yang Ifa sisipkan di bagian-bagian tertentu memberikan kekesalan sendiri buat saya. Karena apakah ini adalah sebuah plot hole yang tak terselesaikan atau memang Ifa sengaja menggoda penontonnya dengan itu semua.
  2. Adegan-adegan simbolik di film ini begitu lokal dan mengena. Seperti ketakutan seorang anak laki-laki yang mengaku sebagai Gay dimunculkan Ifa sebagai contoh awareness yang baik akan keberadaan mereka.
  3. Akting para aktor yang tenggelam pada karakter dan cerita masing-masing menghantarkan keseruan yang membawa saya sebagai penonton untuk ikut menanti apa yang akan terjadi berikutnya pada nasib mereka.

Dibalik keunggulannya tersebut, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di kepala saya atas cerita di film ini. Seperti:

  1. Apa arti nama Ragil dalam keluarga tersebut? Jika ditelusuri dalam bahasa Jawa Ragil berarti anak terakhir. Lalu apakah Ade bagian dari keluarga tersebut atau bukan? Atau paling ngerinya adalah, apakah Ade nyata atau tidak?
  2. Bagaimana nasib si Bunda. Apakah itu asli atau hanya sosok goibnya yang dibunuh oleh Ade?
  3. Apakah Raga dan Rani bersekongkol untuk menyingkirkan Sukma keluar dari rumah? Apakah permainan tersebut sesuatu yang biasa mereka lakukan untuk kesenangan semata? Dilihat dari banyaknya buku kesehatan wanita yang Raga simpan dan ucapan sang Bapak yang mengatakan bahwa hubungan Rani dan Raga sebenarnya belum selesai sedikitnya menegaskan teori tersebut. Namun, di akhir cerita tersebut saat kamera menuju wajah Raga yang tertidur. Tidak ada gambaran senyuman seperti Rani. Mana yang sebenarnya terjadi?
  4. Terakhir. Laki-laki yang ditemui Ade di jalan itu manusia atau bukan? Apakah Ade diperkosa atau hanya diganggu setan belaka?

Ingin sekali rasanya mendapatkan jawaban-jawaban itu semua dari mas Ifa.

Well, anyways, mungkin untuk di bioskop mainstream film ini sepertinya tidak akan bisa ditemukan lagi. Jika teman-teman tertarik untuk menontonnya bisa dilihat jadwal pemutaran yang siapa tahu hadir lagi di Kineforum dan Kinosaurus.

Review Film Love For Sale: Sebuah Layanan Cinta Yang Membekas

Screen Shot 2018-03-20 at 1.44.10 AM

Fenomena menjadi lajang di Indonesia di tahun 2018 ini sepertinya masih menjadi suatu momok menyedihkan bagi siapa pun dan di kelas sosial mana pun.

Seakan menjadi lajang adalah sesuatu yang hina. Semacam ada sebuah toa besar berteriak di depan muka yang mengatakan: HIDUP NGANA GAGAL, JO!

Padahal yah dibalik status lajang tersebut, jangan-jangan orang-orang yang kalian bilang gagal itu malah sudah mencapai suatu prestasi yang bahkan orang-orang yang memiliki pasangan pun belum tentu bisa raih.

Terlebih di era yang semakin modern ini, beberapa orang banyak yang memang memilih untuk tetap sendiri karena kesadaran mereka sendiri. Bukan karena takdir atau cap ‘tidak laku’ yang masyarakat kepo itu coba tempelkan secara paksa dan sepihak.

Tapi, memang ada juga para lajang yang secara sadar maupun tidak mengamini beberapa persepsi usang tersebut. Beberapa orang masih merasa belum ‘sempurna’ atau belum ‘lengkap’ karena belum menemukan ‘pasangan’ yang menjadi mitos dan legenda itu.

Rong-rongan itu pun diperparah lewat pertanyaan-pertanyaan ‘KAPAN NYUSUL?’ jahil yang muncul di setiap acara keluaga, reuni, atau pertanyaan basi-basi orang-orang ketika sudah lama tidak bertemu.

Padahal, orang-orang enggak mikir apa ya kalau nyusul menikah ataupun berpasangan enggak segampang dan semurah itu.

Enggak ada jaminan bahwa ketika seseorang berpasangan maupun menikah mereka akan menemukan kebahagiaan yang fana itu.

Dan, kawan, film Love for Sale dengan sangat baik mengargumentasikan daftar ‘kegelisan’ itu semua lewat naskah yang solid dan keseluruhan akting yang juara dari segenap para pemainnya.

Apa sih yang membuat film Love For Sale itu bagus?

  1. Akting menawan Gading dan Della sebagai Ricard dan Arini

Gading Martin sebagai Ricard di film ini tampil dengan totalitas dan keasikan yang menular. Karakter menyebalkannya sebagai bos percetakan yang strict dan dibungkus dengan kontras kesunyian hidupnya sehari-hari memberikan ruang simpati pada para penonton.

Seakan kita semua yang lajang dan sudah berumur ini bisa relate dengan apa yang Ricard rasakan sebagai seorang bujang lapuk (ditanya terus kapan membawa pacar, menikah, dll).

Background Ricard pun dimunculkan ke permukaan lewat transisi yang asik ketika Arini bertanya banyak hal tentang Ricard. Dan lewat percakapan antara Ricard dan temannya, perlahan penonton dibawa untuk mengetahui luka di masa lalu Ricard yang dibahasakan dengan dramatisasi yang mengena di hati.

Kisah Ricard yang tidak diizinkannya berpacaran oleh orang tuanya yang menjadi masalah dalam hidup Ricard pun pelan-pelan luntur lewat kehadiran Arini yang lovable. Seseorang yang masuk dengan tiba-tiba dan memberikan arti baru dan rutinitas menyenangkan dalam hidup Ricard yang terbatas.

Karakter Arini dimainkan dengan sangat menawan. Saya ulang lagi, sangat amat menawan dimainkan oleh Della Dartyan.

Arini tuh kalau di SMA, semacam cewek cantik minta ampun yang mau nyapa dan main sama siapa pun tanpa peduli kelas sosial dan politik view orang-orang. Mbak, kamu kok sempurna sekali sih?

Gerak-gerik juga pengucapan tiap-tiap dialog manjanya terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat. Sebagai seorang pendatang baru Della memberikan nafas menyegarkan juga magnet tersendiri yang tidak bisa ditolak siapa pun dalam film Love for Sale.

Chemistry yang dibangun antara Gading Martin dan Della menjadikan mereka sebagai pasangan on screen yang membuat penontonnya percaya dan ikut mabuk kasmaran.

2. Cerita segmented namun universal

Meskipun diniatkan bagi penonton berusia 21 tahun ke atas karena adanya beberapa adegan eksplisit. Sebenarnya secara general tidak membuat film ini benar-benar baru bisa dipahami bagi mereka yang harus sudah berumur saja.

Meski wajib diakui ada beberapa pengalaman yang memang akan sangat nendang bagi mereka yang sudah pernah mengalami ditinggal nikah orang tersayang sih.

Tapi, ya luka tetaplah luka, dan semua orang yang pernah merasakan ditinggalkan pasti dapat merasakan tertatih-tatihnya menyambut orang baru dalam hidup mereka dan menjadikannya sebagai rutinitas baru yang menghidupkan mereka kembali. Seperti kisah Ricard dan Arini tersebut.

Dan Love for Sale menyampaikan ide cerita tersebut dengan sentuhan yang elegan. Bagi mereka yang berada di usia dua puluhan akhir dan tiga puluh awal, pasti akan berbahagia karena pada akhirnya ada kisah cinta yang berada pada demografis mereka yang dieksekusi dengan baik.

3. Scene-scene indah dengan detail yang manis

Jika beberapa film romantis Indonesia ada yang ngegas dan langsung memberikan gambaran-gambaran eksplisit para pemainnya di kasur dengan bermandikan keringat. Atau kekonyolan lewat kemanjaan dan ketidaksengajaan bertemu yang tidak masuk akal.

Lain cerita dengan film ini. Love for Sale memunculkan keromantisan dengan wajar seperti kebanyakan pasangan nyata di luar sana.

Mulai dari adegan kekakuan awal bertemu, pendekatan yang malu-malu, sampai akhirnya kenyamanan satu sama lain yang tergambarkan dengan asik. Semua dapat ditemukan di scene-scene manis lewat pelukan santai di kursi, jalan-jalan di malam hari yang bermandikan cahaya lampu Jakarta, dan juga seks scene yang bukan sekadar jadi tempelan saja. (Itu merupakan seks pertama bagi Ricard dan Arini menuntunnya di sana.)

Semua fragmen-fragmen tersebut hadir bukan tanpa sebab melainkan memberikan makna tersendiri dalam hidup Ricard bersama Arini.

4. Musik yang menggenapi

Keindahan film ini datang dari kesederhanaan yang ada di dalamnya. Film Love for sale tidak butuh bejibun lagu khusus untuk menggambarkan ambience keresahan dan kasmarannya Ricard dan Arini.

Cukup dengan satu lagu pamungkas yang diputar di momen-momen pas, ruang visual itu pun terisi dengan tepat. Saya sebagai penonton dapat merasakan emosi-emosi yang terjalin antara Ricard dengan Arini.

Yang menariknya lagi, film Love for Sale berhasil keluar dari jebakan pakem film romansa Indonesia kebanyakan. Tidak ada happy ending, tidak ada tawa segar karakter yang akhirnya bersama.

Film ini menawarkan pilihan intepretasi pada para penontonnya untuk mereka menerka sendiri arah dari kehidupan Ricard pasca ditinggalkan Arini dan apa sebenarnya perusahaan Love Inc tersebut.

Sampai ya setelah keluar dari bioskop, semua penonton berdecak kesal dan gemas. Karena mereka setuju Ricard sangat tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Kami bersama Ricard. #TimRicard

Yang terbaiknya lagi yang saya sukai adalah film ini adalah Love for Sale memberikan ruang pada karakter Ricard untuk tumbuh dan berubah dari kondisi awalnya. Ricard akhirnya berani untuk keluar dari bubble hidupnya dan melakukan hal-hal yang dulu terlalu enggan untuk ia jalani.

Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Love for Sale menjadikan Ricard sebagai gambaran terdekat realitas terkini akan para warga lajang Jakarta yang sedang berusaha untuk memercayai kembali makna cinta dengan malu-malu di sudut-sudut jalanan Jakarta.

Pun jika kita beruntung  mungkin kita bisa seperti Ricard yang berkesempatan bertemu dengan orang baru yang siapa tahu cocok dan memberikan kenyamanan yang berbalas.

Selamat menonton di bioskop film kece yang memberikan kehangatan cerita setelahnya.

Review Film The Seen and Unseen: Kehilangan Yang Sunyi

Sekala-Niskala

Film Sekala Niskala atau lebih dikenal dengan judul The Seen and Unseen menawarkan sebuah pengalaman sinematik yang menghadirkan dua kontras penceritaan visual akan dunia yang terlihat (nyata) dan tak terlihat (gaib).

Lahir sebagai kembar pengantin, Tantra dan Tantri menjalani kehidupan mereka bersama-sama. Berbagi ruang yang bahkan tak tersentuh oleh orang tua mereka sendiri. Namun, keintiman itu tiba-tiba saja hilang di suatu siang saat Tantra dengan sengaja mengambil sebuah telur pemujaan yang ia jadikan panganan makan siang bersama Tantri.

Saat mereka berbagi putih telur untuk Tantri dan kuning telur untuk Tantra, sebuah suara jatuh yang begitu keras menarik perhatian Tantra. Ia menghampiri suara tersebut meninggalkan piringnya dan Tantri seorang diri.

Mungkin ini hanya sekadar suara kendaraan mogok belaka, pikir Tantri tidak peduli. Lama Tantri menunggu, namun hingga petang tak ada tanda-tanda Tantra kembali pulang.

Bergerak dari sana cerita kemudian berfokus pada kesunyian dan kesepian dunia Tantri. Kamera pun membawa para penonton untuk menyelami semesta Sekala Niskala dari sudut pandang seorang anak kecil perempuan yang ditinggalkan saudara kembarnya.

Dengan sangat magis film ini berhasil membungkus adegan demi adegan akan bagaimana Tantri mengatasi kesedihannya. Misteri dan imajinasi melebur indah dalam semesta Niskala yang Tantri buat.

Kehilangan Tantri pun begitu puitis tergambarkan lewat gerakan tarian yang menyayat siapa pun yang melihatnya. Membawa saya sebagai penonton merasakan spektrum kesedihan Tantri yang tak terucap.

Tak hanya itu, kedalaman luka Tantri dengan simbolik disajikan dengan cerdas lewat adegan penolakan Tantri untuk masuk ke kamar rumah sakit melihat Tantra yang terbaring tak berdaya.

Di sana terlihat Tantri masih belum mau menerima kondisi Tantra yang sekarat. Adegan tersebut meninggalkan perasaan kehilangan yang begitu sunyi. Menghentak panjang di kursi bioskop saya.

Screen Shot 2018-03-19 at 2.19.51 PM

Sepanjang film ini memang tak ada jeritan yang menusuk atau gambaran kesengsaran yang berlebihan layaknya sebuah film sedih.

Namun, di sanalah sebenarnya kekuatan film The Seen and Unseen. Kesederhanaan cerita yang begitu kaya akan emosi dan pesan-pesan tersembunyi lewat simbol-simbol gambar yang begitu indah mampu mengular pada batin penonton.

Keintensan adegan pun dibuat secara berlapis dalam film ini.

Di awal film ketegangan tercipta saat banyaknya orang berkumpul pada sebuah kamar rumah sakit membopong badan kecil Tantra. Dari kejauhan Tantri melihatnya dengan getir. Kemudian secara perlahan kamera bergerak menuju tangan Tantri yang menggenggam telur begitu erat hinggah pecah. Menghantui kecemasan yang menanti di adegan-adegan berikutnya.

Kemistisan film ini pun begitu terasa di aktivitas-aktivitas biasa seperti ketika Tantri hendak makan sebuah telur di rumah sakit, saat mengupasnya yang ia dapat hanyalah berisi putihnya saja. Ia tak dapat menemukan kuning telur di mana pun. Sebanyak apa pun ia mengulangnya.

Pesan simbolik yang menyiratkan bahwa Tantri tak akan bertautan kembali dengan Tantra.

Sepanjang film ini, dunia imajinasi-imajinasi Niskala Tantri yang berkunjung menemui Tantra seperti sedia kala menebarkan kerinduan khas anak kecil.

Tak ada pertanyaan belibet dan keingintahuan yang menganggu. Mereka bertemu untuk bersenandung bersamanya, mendongeng, dan menemani satu sama lain.

Hingga di penghujung film dengan kabar bahwa Tantra semakin kritis. Dengan menyesakkan Tantri menari dan terus menari untuk merasakan sisa-sisa kehadiran Tantra untuk terakhir kali. Namun, sayang, ia tak lagi dapat menemukan Tantra. Sekalipun di dunia Niskala.

Puncak tekanan itu pun menghancurkan pertahanan Tantri. Tantri menangis dan mengakhiri tariannya di kamar rumah sakit yang kosong.

Ia tahu ia harus melepas kepedihannya. Tantri pun merelakan Tantra pada akhirnya.

Ketabahan hati Tantri yang tiada dua tersebut menggetarkan hati dalam menuju ruang bernama keikhlasan.

Screen Shot 2018-03-19 at 2.20.13 PM

Melewati prosesi Adat, Tantri pun berkunjung ke pantai, kembali bersembahyang bersama orang tuanya, dan kemudian makan sendirian dengan telur putih kesukaannya sembari ditimpah cahaya sore Bali yang hangat. Menutup keseluruhan film The Seen and Unseen dengan begitu indah.

Film besutan karya Sutradara perempuan keren Kamila Andini ini memenangkan Grand Prize kategori Generation Kplus International Jury untuk film berdurasi panjang terbaik di ajang perhargaan Berlin International Film Festival 2018. Menjadikan film The Seen and Unseen sebagai film pertama dari Indonesia yang menerima penghargaan Grand Prix di Berlinale. Prestasi yang sungguh membanggakan di kancah perfilman Indonesia.

Kamila Andini mengisi film ini dengan simbol-simbol dan gambar-gambar indah tak biasa yang ada di Bali. Suatu kemewahan visual yang sudah jarang ditemukan dalam film Indonesia.

Di saat berada pada dunia Sekala (terlihat), gambaran terang dan kehidupan penuh warna dimaksimalkan di sana. Sawah yang hijau, langit yang biru, dan kehadiran Ibu menjadi sebuah kesatuan.

Sedang secara sendu, Kamila menciptakan semesta Niskala (tak terlihat) dengan mendebarkan dan mencekam. Gelapnya malam, riuhnya anak-anak kecil gaib, juga bulan yang terbentang jauh menghadirkan kesenjangan yang begitu kontras namun tetap indah.

Ketenangan para pemain mudanya pun patut diacungi jempol. Secara solid karakter Tantra dimainkan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena dengan apik. Terlebih ketabahan Ni Kadek Thaly Titi Kasih sebagai Tantri yang begitu mencuat kuat. Setengah dari kekuatan film ini berasal dari akting miliknya.

Kesemua elemen tersebut seperti harmonisasi musik yang mampu menyihir saya sebagai penonton untuk masuk dalam dunia kehampaan anak-anak yang mencoba menghindari kesedihan dengan menghidupkan ketiadaan melalui dunia imajinya.

Mitos dan kebudayaan Bali pun tidak sekadar hanya menjadi tempelan yang cetek. Kamila sebagai sutradara menghadirkan kedekatan isu tersebut sebagai esensi dalam film ini. Wajah sosial masyarakat kelas dua pun dengan nyata digambarkan lewat kamar rumah sakit Tantra.

Film ini begitu istimewa dan bertalian. Luka dan penolakan Tantri adalah kesedihan bagi siapa pun yang pernah ditinggalkan. Karena pada nyatanya kehilangan memang akan selalu menyakitkan.

Screen Shot 2018-03-19 at 12.38.36 PM

Note: Semua foto, poster, dan gambar merupakan hak cipta dari film The Seen and Unseen.

Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!