Like, Crazy (2011)

hero_EB20111102REVIEWS111109994AR

Manusia boleh berencana, namun jarak juga yang menentukan.

Mungkin seperti itu cerita film Like, Crazy (2011) dikisahkan. Dua orang yang berkenalan di semester kuliah akhir, jatuh cinta, kemudian mendapati kenyataan pahit bahwa salah satu dari mereka harus pergi karena terbatasnya masa berlaku visa pelajar.

Si perempuan harus kembali ke Inggris. Sedih. Mereka berdua sedang cinta-cintanya. Sedang masa honeymoon. Namun tidak ada yang mau mengalah untuk sebuah kesepakatan. Ya sudah, si Mbaknya pun terpaksa benar-benar pulang kampung sendiri tanpa si Masnya.

Berat.

Sisa waktu mereka berdua sebelum keberangkatan si Mbaknya pun terancam hambar. Rencana island hoping dengan perahu sewaan pun terasa mengejek. Kemewahan itu tidak memberikan kebahagian. Yang mereka berdua mau hanyalah besok bertemu lagi, lagi dan lagi. Cinta masih begitu membara bagi dua orang ini.

Setelah beberapa kali adegan ngambek dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti; lalu kamu maunya aku bagaimana? Ngibulin orang imigrasi?

Dari cuma ocehan asal, tetiba ide tersebut terasa masuk akal. Entah asumsi dari mana mereka berfikir bisa mengelabui imigrasi Amerika yang begitu ketat. Namun toh akhirnya mereka tetap melakukannya juga.

Aku kamu vs the world, betapa romantisnya. Mereka berdua pun menghabiskan musim panas penuh cinta bersama, yang ada hanya bercinta dan bercinta. Tahik kucing lah soal kasus visa pelajar yang jadi sumber masalah.

Cinta mereka semakin kuat, mereka seperti menginspirasi satu sama lain. Mereka merencanakan banyak hal berdua. Indah, namun kelewat indah untuk jadi nyata. Karena hidup tidak selalu merah muda, pihak imigrasi pada akhirnya tetap harus mendeportasi si perempuan. Mereka berdua berpisah secara sepihak. Tanpa diragukan lagi semesta Mbak dan Masnya jadi berantakan.

Zona waktu begitu menyebalkan, ketika di sana baru pulang kerja eh di sini sudah tengah malam buta.

Banyak pesan tak berbalas, telfon yang tidak sempat terangkat, dan akhirnya perasaan mutual yang dulu pernah ada menjadi sebuah pertanyaan mendongkol sendiri.

Seperti, benarkah yang ada di antara mereka berdua ini benar-benar nyata atau hanya summer fling semata dan ya sudah lupakan saja, lalu kembali meneruskan rutinitas hidup; kerja, nongkrong di bar, dan bertemu orang baru.

Dan ide besar dari film Like, Crazy pun akhirnya diperlihatkan atas dasar pertanyaan itu. Diteruskan atau kandas saja?

Si Mas Mbaknya ragu, si orang tua Mbakanya pengennya mereka nikah saja. Lebih murah dan punya ketahanan hukum.

Waktu berlalu. Mereka saling berkunjung satu sama lain. Namun namanya juga hidup, pasti ada saja yang bikin kesel. Lama-lama jarak dan komunikasi makin nyebelin. Kerjaan makin ribet dan rindu pun makin menyiksa.

Mereka berdua malah jadi tidak jujur satu sama lain, saling meneror, saling curiga, saling tuduh soal siapa tidur sama siapa.

Letih dengan itu semua, mereka pun mengajukan ide untuk masing-masing melakukan open relationship di saat mereka berpisah. Namun jika mereka berdua bertemu, mereka akan saling memiliki.

Tahik ya? Kesian amat yang jadi side kick si Mas dan Mbaknya pas mereka pisah. Lagian maunya jatuh cinta yang enak-enaknya saja, enggak mau tumbuh dan berjuang. Segitu baru jarak, gimana kalau beda marga sama enggak direstuin mertua.

Cinta mereka menjelma jadi egois untuk saling menguasai satu sama lain, bukan lagi karena hasrat untuk saling melengkapi. Dan meskipun mereka berdua di penghujung film akhirnya bersatu, tetapi pertanyaan besar itu tetap menggantung dalam benak masing-masing.

Layakkah semua ini?

Cinta si Mas dan Mbaknya di film ini seperti orang yang ngotot menyimpan celana jeans bekas yang sudah kekecilan, tapi sebenarnya dia tau celana itu enggak akan pernah muat dia pakai.

Pada akhirnya celana jeans tersebut bukan lagi menjadi sebuah motivasi tetapi menjelma menjadi sesuatu yang menyesakkan dan mengancam.

14a611ae1c65cf3c727d547bd6dc9fad--like-crazy-film-anton-yelchin

Tapi filmnya manis dan seru kok. Cuma aftermathnya bikin sebel aja. Nonton deh.

Advertisements

Cerita di Akhir Bulan

Belanja bulanan adalah satu dari banyak aktivitas rutin yang dilakukan untuk mengisi ulang persediaan makanan, kebutuhan kamar mandi, atau terkadang masa lalu yang tak sengaja terbeli.

“Menurutmu sudah berapa banyak mie instan ya yang aku beli sepanjang hidupku?”

Aku mencoba menghitung, I mean, dengan serius. Membuka kalkulator lalu menghitung ada berapa minggu dalam dua puluh delapan tahun. Kemudian aku kalikan dua (karena sejak kecil aku diharuskan hanya boleh makan mie instan di akhir pekan saja). Hasilnya dua ribu sembilan ratus dua puluh. Jika dikarduskan, aku sudah mengonsumsi tujuh puluh tiga karton mie instan.

“Lalu, sudah berapa tahun, bulan, minggu, hari, menit, dan detik sejak kita memutuskan untuk tidak bertemu satu sama lain dan sepakat untuk memutus semua dorongan yang membuat kita berada dalam kondisi seperti ini? Berada dalam satu ruangan, berbagi udara dan oksigen yang sama, dan akhirnya berbicara juga melemparkan pertanyaan satu sama lain?”

Dan kamu menggelengkan kepalamu sembari menyembunyikan tawa kecil dari mukamu. Aku tidak kuat untuk tidak ikut tertawa denganmu.

“Apa yang lucu?” tanyamu bingung.

“Karena kamu ketawa duluan.”

“Kamu pasti sangat merindukanku,” godamu.

“Pede. Aku sudah punya pacar tau.”

Bohong. Kamu tau kan aku hanya tidak ingin membuatmu merasa terlalu menang dengan segala yang terjadi di antara kita berdua.

Kamu yang menikah dan aku yang masih single. Tentu saja kamu merasa kamu yang jadi pemenang di antara kita berdua. You wish!

Terkadang aku mempertanyakan alasan mengapa kita bertemu lagi seperti sekarang. Di waktu yang sebenarnya tidak terlalu tepat untuk masing-masing di antara kita.

Kamu yang sudah bersama istrimu dan aku dengan kehidupanku yang masih belum bisa melupakanmu dan memori-memori di dalamnya. Yeah, I know aku yang kalah.

Tapi bukan berarti dengan semena-mena semesta berhak memberikanku pemandangan bahagia milikmu ini.

Dengan senyum paling lebar yang pernah aku lihat dari wajahmu, kamu begitu tergila-gila dengan perempuan ini. Perempuan kecil botak yang berlari ke arahmu. Lalu kamu pun melemparkan tatapan teduh dari kedua mata coklatmu yang dulu pernah menjadi hal yang bisa membuat hatiku berdegub tak karuan.

Perempuan kecil botak itu memanggilmu papah dan memeluk kakimu erat-erat.

Kamu mengangkat tubuhnya dengan riang, menciuminya tiada henti dan memeluknya dalam-dalam seakan tidak boleh ada siapa pun yang menyakitinya. Seolah angin pun dapat membuatnya terluka.

Semua gerakan itu seperti sebuah gerakan lambat dimataku. Begitu bahagia, begitu asing, and honestly it hurts me a lil bit.

Sialnya aku berada di tengah-tengah semuanya.

Umur putrimu hampir tiga tahun dan dia sudah bisa calistung. Kamu ucapkan itu semua dengan penuh cinta dan bangga khas seorang Ayah.

Rasa-rasanya itu wajar, duniamu berputar begitu sempurna. Kamu menikah, memiliki anak, dan kamu berbelanja bulanan seperti aktivitas manusia normal lainnya.

Sedang duniaku, entahlah. Aku sepertinya sudah tidak mengenal duniaku lagi. Aku hanya meneruskan hidup dan menunda kematian datang.

“Ini Tante Mel, teman Papa waktu kuliah dulu.”

I supposed to be your mother I guess, secara teknis jika kami masih berpacaran dan tidak ada satu perempuan gila yang terlalu terobsesi dengan masa depan, which is perempuan gila itu adalah aku, mungkin aku yang akan melahirkan anak untuknya. Mungkin, yeah mungkin.

Perempuan kecil botak itu tersenyum padaku, kemudian menempelkan jari-jari basahnya di rambutku yang telah lurus sempurna karena perawatan sepuluh step yang dianjurkan penata rambut langgananku. Lalu DIBASAHI BEGITU SAJA DENGAN LUDAH YANG CUMA TUHAN YANG TAU ANAK BOTAK ITU MAKAN APA SAJA.

Lalu aku hanya balik tersenyum, membuat suasana untuk tetap cair dan semoga saja kita akan tetap berbincang seperti ini.

“Di mana ibunya?”

Itu loh… perempuan jahat yang telah merebutmu dariku dan terakhir aku cek di Facebook, yang mana empat jam lalu, bahwa dia hanya perempuan biasa-biasa saja yang tidak pernah menonton Game of Thrones dan tidak mendengarkan Beatles sama sekali. Oh please.. siapa yang tidak suka Beatles?

“Dia sedang berbelanja daging dan ikan untuk pesta ulang tahun Mamah.”

“Oh iya hari ini adalah ulang tahun Mamahmu. Titipkan salam dariku. Aku merindukan sambal kentang goreng ati buatannya.”

“Ia masih menanyakanmu sesekali.”

“Ya sudah lama sekali. Lama sekali.”

“Terakhir puasa tahun dua ribu dua belas bukan? Saat kamu membantu Mamah membuat kue-kue lebaran yang entah dari mana kamu begitu jago. Kamu masih suka masak?”

“Kadang-kadang, jika lapar dan tidak punya cukup uang untuk makan di restoran.”

Kamu kembali tertawa, kini dengan tulus. Seperti dua orang yang dulu pernah dekat kemudian terpisah karena ada perang padri panjang dan akhirnya bertemu lagi di sebuah toko swalayan.

“Kamu mau menggendongnya sebentar? Makin lama ia makin berat.”

Entah kenapa aku patuh dan begitu saja langsung menggendongnya.

“Siapa namamu?”

“Melaney. Mel.. Melaney. Mel..” jawabnya berulang-ulang dengan suara kecil seraknya.

Aku menatapmu buru-buru dengan perasaan tidak karuan.

“You named your daughter by my name?” tanyaku tergugup-gugup.

Kamu tidak menjawabku. Kamu hanya diam dan menatapku begitu dalam dengan kedua mata coklatmu. Persis seperti pertemuan terakhir kita.

Tiga tahun lalu kamu menyempatkan mengirim pesan pribadi padaku, menanyakan kabar, meminta bertemu. Kamu ingin bercerita.

Sayangnya pesan itu terlalu menyesakkan, aku tak kuat bertemu denganmu. Aku memilih diam tidak menggubrisnya.

Siapa pula yang mau mendengar rencana menikah mantan kekasih yang diam-diam masih kamu cintai.

Namun kamu terus memaksa dan kita pun bertemu. Kamu begitu berubah, begitu asing, namun ciumanmu tidak. Masih dengan basah dan gerakan yang aku hafal betul.

Kamu mendorongku, meraba seluruh tubuhku, mengacak-ngacak rambutku. Kamu jilati seluruh tubuhku seakan aku es krim yang hampir hancur meleleh, tidak boleh ada satu senti pun yang lepas dari jeratanmu.

Aku mendesah nikmat, tidak ada satu pun di antara kita yang meminta ini berhenti. Dan itulah bagaimana aku mengingat bagaimana kita bertemu terakhir kali.

“Dari mana saja sih kalian berdua, Mamah cari-cari dari tadi.”

Layaknya sinetron murah di televisi, semua pertemuan spekta ini pun ditutup dengan kedatangan istrimu yang berjilbab dan begitu cantik. Perempuan yang dulu pernah terfikir untuk aku santet dan teluh lewat penyakit kulit.

“Kok digendong bukan sama Papah sih, Mel.”

Sambil tersenyum aku menyerahkan anak kalian pada perempuan itu.

Memori memang bukan kawan yang baik. Ia tidak membantu untuk meredakan dahaga, malahan membuatnya semakin subur. Dan kehadiranmu lengkap dengan semua kehidupanmu yang begitu nyata membuat dahaga itu menjadi racun yang menghentak terlalu keras.

Aku tidak sanggup. Aku harus pergi.

Detik kemudian aku hanya tersenyum sambil lalu dan menjauh tanpa mengucapkan apa pun. Meninggalkan keluarga bahagia itu. Meninggalkanmu sekali lagi.

Aku kembali pada troli belanjaanku, mengambil satu dua botol bir yang aku rasa perlu untuk malam ini. Menyerobot beberapa antrian Ibu-Ibu yang hanya meninggalkan troli penuhnya dan masih berkeliaran dibeberapa diskonan yang hanya berbeda seratus dua ratus rupiah saja.

Kamu sudah tampak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya aku akan berdiri saja mengantri di kasir yang paling penuh seperti manusia normal lainnya di tempat ini lalu pulang sambil menangis dan mabuk. Agar esok pagi tidak ada penyeselan yang tertimbun rapat pada sebuah kesepian seperti manusia normal lainnya yang baru saja bertemu mantan kekasihnya yang ternyata menamai anaknya seperti namamu.

Betapa klise hidup ini.

https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTYfrom: https://unsplash.com/photos/SvhXD3kPSTY

Black Mirror S04 Dalam Sebuah Review

black-mirorr

Yang terbaik dari serial Black Mirror adalah ia dapat memberikan gambaran teknologi masa depan yang terintegrasi dengan canggih dalam kehidupan sehari-hari manusia namun tetap menyimpan twist yang sialnya malah berbalik menghancurkan manusia itu sendiri.

Season 01 sampai 03 Black Mirror berisi alat-alat yang bisa menjadi kritik sosial dari betapa manusia bisa terobsesi dan diperbudak dengan teknologi tersebut.

Dan juga Black Mirror bisa menjadi pengadilan moral yang membuat kita melihat bahwa satu orang biasa yang tadinya hidupnya baik-baik saja bisa terjebak dalam agony hidup hanya karena satu kesalahan fatal belaka. Bola salju itu bisa mengoyak sendi rahasia terkelam manusia tersebut dan pahitnya, membunuhnya.

Oleh karena itu Black Mirror begitu memikat karena ia bisa meramalkan kepongahan teknologi dan menghidupkan khayalan paling pahit dan najis dari seorang manusia yang memiliki nafsu dan amarah di tiap-tiap episodenya. (Yang sepertinya di dunia nyata kini sedang menuju ke arah sana. Seperti Trump menjadi seorang Presiden, bukankah itu khayalan paling pekat dari dunia Black Mirror?).

Maka di season 04 pertanyaannya adalah apakah Black Mirror masih memiliki magicnya?

Jawabannya adalah…

Menurut gue Black Mirror season 4 sepertinya bermain aman dan malah terjebak pada dikotomi baik dan jahat yang terlalu preaching. Yang mana di season-season sebelumnya mereka malah berhasil mengaburkannya dan itulah yang jadi poin memikat dari serial ini.

  1. USS Callister

landscape-1508343510-screen-shot-2017-10-18-at-171757

Seperti episode pertama USS Callister, teknologi yang dihadirkan seperti serupa yang ada di episode White Christmas. Sebuah games yang membuat orang memiliki semesta sendiri dalam pikirannya. Mengopi subtil kesadaran manusia.

Namun di episode ini motivasi si Kapten Robert yang menjadi peran antagonis di sini terlalu banal. Masa hanya karena sekadar sebal dengan orang kantor? Sudah? Begitu saja?

Tidak ada rahasia-rahasia memalukan dan tersembunyi dari kolega-koleganya? Foto sexy? That’s it? Tidak ada twist seperti pedofil dari seorang anak yang terlihat baik-baik di luar?

Terlalu sepele dan tidak Black Mirror banget. Ending konfliknya pun berakhir anti klimaks. Durasi episode terlalu banyak dihabiskan pada kebingungan Nanette Cole yang bertanya-tanya mengapa ia ada di permainan tersebut. Padahal kan dia bekerja di perusahan game tersebut.

2. Arkangel

black-mirror-arkangel

Ini episode yang paling apa banget deh. Gue udah siap-siap untuk melihat perubahan si anak kecil manis ini menjadi seorang psikopat atau apalah. Taunya ceritanya cuma soal si Ibu yang posesif dan nyebelin yang enggak bisa ngeliat anaknya tumbuh. Bahkan gue mengharapkan si Ibu jadi orang yang malah berbuat hal-hal yang menghancurkan dirinya dan anaknya. Tapi enggak, mereka cuma berantem, mati pun tidak dan kisah berakhir. Another anti-klimaks episode.

3. Crocodile

blackmirror_s4_crocodile_00309_v23

Judul dan cerita yang membuat gue berfikir apa kolerasi dan metaforanya. Enggak nemu sih gue irisannya apa. Buayanya di mana juga gue engga tau.

Tapi di antara semua teknologi yang ada di season 04, episode ini paling keren. Karena bisa memvisualkan memori masa lampau. Tapi kesan Black Mirrornya masih kurang kental, karena fitur teknologinya cuma sebatas trigger, bukan sebab-akibat dan menjadi awal masalah. Hanya sebatas transisi aja pada banality devil di karakter Mia.

Jatohnya ini jadi cerita kriminal biasa dan engga seberkesan seperti episode Hated in Nation yang juga padahal cerita crime namun bisa dibungkus dengan lebih futuristik dan ironis.

4. Hang the DJ

lead_960

Padahal episode ini berpotensi seperti episode San Junipero, tapi sayangnya cerita terlalu lama berputar pada jalinan tanpa ujung dari “the System”. Seperti tinder namun sudah mengharuskan pasangannya mengiyakan pilihan dari sistem tersebut dan pahitnya harus terjebak selama masa expired yang ditentukan sistem tersebut.

Tidak ada romansa sehangat San Junipero dan tidak ada percikan emosi yang mendalam dari kedua karakter utama. Kesamaan mereka berdua hanya karena mereka dua orang yang sama-sama suka melontarkan jokes belaka dan merasa bosan dengan pilihan pasangan yang disuguhkan si sistem.

Selebihnya tidak ada yang menarik dari episode ini.

5. Metalhead

metal-head

Gue sih suka ya sama episode yang ini, semacam pasca kiamat gitu dan hanya menyisakan manusia yang melawan robot anjing yang bisa mengeluarkan senjata dari tubuhnya. Misi robot sialan itu cuma satu: Membasmi manusia.

Dengan kemasan hitam putih emosi yang ditunjukkan Bella, si manusia yang berjudi dengan maut, bisa terekam dengan sempurna. Bagaimana ia menggerakan seluruh gesture dan melihat ia benar-benar sendirian dan terluka.

Kita dapat melihat betapa capek dan mencekam hidupnya si Bella dalam berjuang melawan dan menghindar dari robot anjing tersebut. Pilihan yang tersisa untuknya hanyalah membunuh atau menyerah dan mati.

6. Black Museum

Penutup yang ok! Semua hal di episode ini baru berasa Black Mirror banget. Twist-twist di akhir yang enggak kebayang dan teknologi-teknologi yang niatnya membantu malah menghancurkan dihadirkan di sini.

Kritik sosial pun diargumentasikan juga dengan baik. Membuat gue sebagai penonton ikut tersenyum dan tertawa girang saat layar laptop menjadi gelap dan melihat misi si karakter utama berhasil dilaksanakan.

BlackMirror_S4_Museum_00239_V1.0

Meskipun tidak sesuai ekspektasi karena tingginya pencapaian estetik, cerita, dan emosi di season-season Black Mirror sebelumnya. Season 04 ini masih layak lah untuk ditonton di episode 5 dan 6.

Gue sih masih nunggu buat nonton Black Mirror di season tahun berikutnya.

Apakah kritik-kritik satir itu tetap ada dan menghantui para penontonnya yang begitu dekat dengan teknologi yang pada akhirnya malah mengaburkan makna teknologi itu sendiri.

Apakah mereka ada untuk membantu atau malah menghancurkan?

10+1 Film Indonesia Terbaik dan Terfavorit 2017

Menurut versi saya yang saya saksikan di bisokop sepanjang tahun 2017 ini.

2017 patut dirayakan karena tahun ini banyak sineas-sineas yang melahirkan film-film Indonesia berkualitas secara teknis dengan cerita yang menarik dan dibarengi dengan animo penontonnya yang masif.

Nyatanya film indie yang selalu dikaitkan dengan penonton festival ternyata di tahun ini bisa disaksikan oleh banyak masyarakat umum (seperti para pekerja kantoran biasa seperti saya, mahasiswa yang iseng sambil menunggu jam kuliah, atau bapak dan ibu saya yang jarang nonton film ke bioskop) di teater mainstream pula yang hasilnya ternyata berhasil dinikmati oleh mereka semua.

Juga film populer dengan penonton terbanyak bukan lagi didonimasi oleh film-film cacat logika dengan tema basi yang itu-itu saja dengan penyutradaraan sinetron yang dipaksakan hadir di layar lebar (bukan berarti sinetron itu jelek, namun kembali lagi ke konteks orang membayar untuk menonton sebuah film, mereka mengharapkan penggarapan yang bukan bisa mereka dapatkan secara gratis di televisi, you know what I mean right?).

Jadi mari saya berikan sepuluh list film Indonesia yang mewarnai bioskop tanah air dan menjadi topik pembahasan menarik di sosial media dan grup whatsapp untuk nobar sepanjang tahun 2017 ini.

  1. Pengabdi Setan (Joko Anawar)

cover-film-pengabdi-setan_20171015_120935

Ibu datang lagi.

Tiba-tiba di bulan Oktober 2017 kata-kata itu menjadi sesuatu yang menyeramkan terlebih diiringi bunyi lonceng dengan permintaan menyisirkan rambut.

Yang sudah menonton film Pengabdi Setan pasti mengerti hal-hal yang saya sebutkan barusan. Karena film Pengabdi Setan remakenya Joko Anwar tidak hanya menakuti hampir seluruh negara Indonesia di tahun 2017 ini, namun juga mendorong geliat para penonton film Indonesia untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, berteriak bersama, dan setelahnya membahas film ini tanpa henti baik di dunia nyata maupun di internet. Saya pun ikut mereviewnya di sini.

Gegap gempita Pengabdi Setan berhasil melahirkan ribuan meme-meme lucu yang bertebaran di media sosial. Tak pelak menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris dan fenomenal tahun ini.

2. Posesif (Edwin)

poster-posesif

Posesif mengangkat isu kekerasan domestik dalam berpacaran ke permukaan dengan eksekusi yang jempolan. Visual, musik, cerita juga akting para pemainnya memberikan kekuatan yang membuat film ini lebih dari sekadar nyata, namun juga menghantui. Edwin dan Puteri sangat pantas memenangkan kategori Sutradara dan Aktris Utama Terbaik di FFI 2017 lalu.

Yang terbaik dari film ini tidak hanya menjadikan film Posesif sebagai film remaja yang bernas namun juga penting. Saya membuat review lengkapnya di sini.

3. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo)

turah

Turah adalah gambaran terdekat dari realitas masyarakat kecil dalam kelas sosial pinggiran Indonesia. Film ini bertutur dengan narasi yang akrab lewat penggunaan bahasa Tegal di sepanjang film, sekumpulan aktor-aktor lokal, dan isu yang diangkat pun adalah sesuatu yang memang menjadi masalah paling ril dalam lingkup sosial tersebut; kemiskinan dan jerat penguasa.

Film ini menyimpan lapisan masalah yang lebih kompleks dalam argumentasi dan narasi mendalam lewat karakter Jadag yang peka akan dominasi relasi kekuasaan sang bos juga politik premanisasi para anteknya di kampung Tirang yang ia tinggali.

Ia menggugat itu dan Turah berada di tengah-tengahnya dengan kondisi yang dilematis. Di antara ingin meluruskan atau melupakan. Konflik berjalan dari sana dengan akhir adegan yang mencekam juga tragis.

Menonton film Turah buat saya seperti membaca cerita-cerita karya Mas Eka Kurniawan yang memiliki ketajaman kritik sosial dibalut dengan visual kekumuhan yang solid, membekas dan menusuk di akhir.

Pada resolusi penghujung film saya sebagai penonton seolah dibawa untuk menyaksikan gambaran kulit asli manusia. Mereka yang lebih memilih keamanan dirinya sendiri dibanding konsep-konsep besar akan kesetaraan sosial yang ideal.

Film Turah memiliki eksekusi luar biasa hingga tanpa sadar saya melupakan fakta bahwa ini hanyalah film fiksi, namun pemaparannya terasa seperti dokumentasi paling nyata yang pernah ada di Indonesia.

4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Mouly Surya)

Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725

Awalnya saya melihat film Marlina sebagai sesuatu yang anti klimaks dalam segi cerita. Tidak ada yang meragukan kekuatan sinematografi dan akting di dalamnya. Namun untuk penceritaan tiap babaknya film ini seolah tidak mendeliver kisah yang semencekam para reviewer luar negeri tulis yang saya baca di internet.

Namun setelah diskusi panjang dan tentu juga ngotot dengan teman saya, akhirnya saya sadar bahwa penceritaan Marlina sesuatu yang bersifat simbolis dari sudut pandang perempuan. Atau jika lebih sempit lagi, Perempuan Sumba secara khusus.

Ada kesunyian yang mencakar lewat keteguhan dan kelembutan tindakan Marlina yang tidak terburu-buru dan non eksploit, pasti hasilnya akan berbeda jika Marlina adalah seorang laki-laki.

Banyak adegan-adegan yang menonjol di film ini, seperti Marlina yang menenteng-nenteng kepala tawanannya, adegan buang air kecil Marlina dan Novi, adegan kebebalan polisi dalam menanggapi kasus Marlina, dan yang paling membekas buat saya pribadi adalah saat Novi melawan suaminya yang menuduhnya main serong dengan laki-laki lain.

Akting Dea begitu prima. Dan membahas Marlina tidak hanya akan berhenti pada gambaran indah Sumba, namun juga ketidakadilan dalam dunia perempuan yang entah sampai kapan akan selesai.

Dan Mouly Surya di film ini menegaskan bahwa suara dalam filmnya akan semakin nyaring dan kuat. Mouly masuk dalam sutradara terbaik di Indonesia yang saya selalu tunggu kehadiran filmnya. Review lengkap Marlina saya tulis di sini.

5. Night Bus (Emil Heradi)

Night-Bus-BookMyShow-5-e1491466474614

Night Bus muncul sebagai film terbaik FFI 2017 dan sebagai penonton awam sayangnya saya melewatkan kehadirannya di bioskop April lalu. Untungnya film ini diputar ulang setelah kemenangannya di FFI kemarin.

Dan setelah menonton filmnya saya setuju dengan pemilihan Night Bus sebagai film terbaik tahun ini, kekuatan filmnya tidak hanya datang dari cerita mencekam perjalanan para penumpang menuju Sampar, namun juga sentuhan-sentuhan kekerasan yang mengguncang kesadaran politik para penontonnya.

Review lengkapnya saya tulis di sini.

6. Ziarah (B.W. Purba Negara)

ziarah

Yang terbaik dari 2017 adalah keanekaragaman tema cerita film yang diangkat, di Ziarah tak hanya ceritanya saja yang unik namun juga pemain utamanya Ponco Sutiyem yang telah berusia 95 tahun.

Mbah Ponco berakting dengan sangat prima di film ini. Kegetirannya, pengharapannya, dan perjuangannya mengalir dengan indah dan menyentuh tiap-tiap yang menontonnya.

Kisah Mbah Ponco begitu satir dan masam di akhir, sesuatu yang menjadikannya begitu istimewa.

7. Susah Sinyal (Ernest Prakasa)

poster-susah-sinyal.jpg

Setelah kesuksesan film Cek Toko Sebelah Ernest Praksa mengangkat tema keluarga yang lebih kosmopolitan. Jurang antara kesibukan seorang working mom dan puteri milenialnya.

Meskipun inti cerita sempat goyang di seperempat akhir film dan mengaburkan konflik relasi antar anak dan sang ibu yang kurang dalam. Dan Ernest masih terjebak dengan jokes-jokes seksual yang sebenarnya tanpa hal tersebut jalinan cerita Ernest masih mengalir enak. Untungnya di penghujung film ini pada akhirnya berhasil menyatukan puzzle-puzzle di awal film dengan hangat dan jenaka.

Beruntung sekali Ernest memiliki Adinia Wirasti dan segenap pemeran pendukung komedian lainnya yang tidak hanya menghidupkan film Susah Sinyal, namun juga menjadikan Susah Sinyal memiliki komedi timing yang lebih rapi dibanding film-film dia sebelumnya.

Secara personal film Susah Sinyal menjadi film komedi favorit saya tahun ini. Karena kapan lagi saya bisa membawa satu keluarga saya menonton film yang tidak perlu saya jelaskan jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Film Ernest dapat dinikmati sebagai hiburan semata yang bisa masuk ke segala aspek kelas dan umur.

Saya sangat menunggu kisah-kisah keluarga komedi ala Ernest di tahun-tahun berikutnya.

8. Istirahatlah Kata-Kata (Yosep Anggi)

Istirahatlah Kata-Kata

Kontroversi film Istirahatlah Kata-Kata muncul di postingan teman-teman saya yang aktivis dan pemerhati sastra. Bagi saya yang mengenal Widji Tukul hanya sepotong-sepotong, tentu saja berbahagia dapat melihatnya di layar lebar. Cerita pengasingan Widji Tukul menjadi fokus dari sang sutradara. Debat terjadi di sana, karena mereka-mereka yang mengenal Widji Tukul lewat kobaran perjuangan dan kedekatannya dengan rakyat kecil tidak terwakilkan dalam film ini. Bahkan terasa sangat jauh dimulai dari pemutaran film ini yang hanya ada di bioskop-bioskop mahal ibu kota.

Saya melihat film ini sebagai tontonan yang indah dan mengugah. Akting yang kuat pun dideliver dengan sangat apik oleh Gunawan Maryanto dan Marissa Anita.

Karena secara pribadi lewat film ini saya dapat melihat fragmen Widji Tukul yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Memang tidak adil rasanya hanya melihat sosok penting itu dalam satu film saja. Namun terlepas dari kontroversi serta kontranya, sejujurnya saya menghargai semangat kreatornya yang berani mengangkat kisah sang pejuang kata-kata di masa rezim orde baru ini.

9. Banda (Jay Subiakto)

banda

Mendengar tiga maestro visual Indonesia bekerjasama dalam proyek film yang mengangkat kisah dan sejarah pulau Banda tentu saja menjadikan film ini masuk dalam daftar wajib nonton saya.

Jay Subiakto, Oscar Motuloh, dan Davi Linggar membuat film dokumenter panjang ini dengan gambar yang memberikan orgasme visual paling mantap yang pernah ada.

Permainan cahaya, komposisi objek, warna, dan animasi grafis di dalamnya membuat film ini begitu kaya dalam segi konten dan narasi.

Sangat disayangkan tidak banyak yang mengetahui film ini, karena ada sejarah menarik yang juga kelam terjadi di Pulau Banda. Pulau yang menjadi saksi bagaimana Indonesia menjadi seperti sekarang ini.

10. My Generation (Upi)

Film My Generation 2017

Milenial dan sosial media adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Fenomena generasi head down diangkat oleh Upi sebagai cerita film teranyarnya yaitu My Generation. Fashion, pemain-pemain baru yang fresh, juga set yang vibrant dan energetik menjadikan film ini terasa sangat muda dan menangkap problem di eranya saat ini.

Kisah dysfunctional orang tua vs anak menjadi isu besar dalam film ini. Namun bukan Upi namanya jika tidak mampu mengemasnya menjadi tontonan yang lucu, engaging, dan pop banget.

Saat menonton film ini saya sebagai penonton serasa menyelami dunia anak-anak milenial dengan sangat dekat dan intim.

Salah satu film favorit saya dari Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta. Saya membuat review lengkapnya di sini.

Plus 1

Bukaan Delapan (Angga Dwimas Sasongko)

img_20170227_133322

Entah kenapa tidak banyak yang membahas film ini, bahkan masuk nominasi FFI pun sepertinya tidak. Padahal film Bukaan Delapan adalah film Angga yang bisa saya nikmati secara tulus dan nyaman tanpa harus terganggu dengan dialog aneh dan pemaksaan pemunculan karakter-karakter seperti di film Filosofi Kopi 1-2.

Film Bukaan Delapan terasa sangat personal dan dekat dengan penontonnya. Bahkan akting Chico Jeriko yang nyebelin pun bisa jadi lovable banget. Perjuangannya untuk membuktikan dirinya pada istri dan keluarganya adalah cerita paling romantis dan sentimentil di tahun 2017 ini.

Jokes-jokes di dalam film ini pun terasa pas pada tempatnya. Sarah Sechan tentu saja yang paling lucu sebagai seorang Ambu yang posesif dan sok.

Terlepas dari keabsenan festival-festival yang melihat film ini sebagai sebuah film cinta dan film yang decent secara keseluruhan pembuatannya di 2017 ini, buat saya pribadi film Bukaan Delapan memiliki tempat spesial sendiri yang berkesan di list saya ini.

Enggak sabar untuk menyaksikan film-film Indonesia keren lainnya di tahun 2018 nanti. Terima kasih juga untuk para kreator-kreator film Indonesia yang telah mencurahkan sepenuh hati, tenaga, dan waktunya untuk membuat film-film yang tidak hanya bagus namun juga mencerahkan bagi para penontonnya.

Mari dukung film-film Indonesia dengan menonton di bioskop di minggu-minggu pertama! (soalnya takutnya diturunin sama bioskop)

p.s: Dan film-film yang bagus aja sih sebenarnya hehe

Dan akhir kata selamat tahun baru 2018 ya buat teman-teman semua.