Referensi Film Valentine; Cinta Enggak Selalu Berakhir Bersama Kan? [SPOILER] PART 1

Dalam hidup yang hanya 24 jam dalam sehari ini harus diakui bahwa sayangnya tidak semua individu yang bernafas dan bernyawa memiliki kisah cinta semanis Habibi-Ainun atau sefancy Raisa-Hamish dengan ending live happily ever after. (mukanya cakep-cakep pula).

Mungkin ada beberapa orang yang kisah cintanya lebih seperti karakter Kajool dalam film Kuch Kuch Hota Hai yang harus ikhlas berada dalam demografis “in love with someone you can never be with” tanpa ada akhir cerita di mana bisa bertemu anak si gebetan dari masa lalu dan luckily berakhir menikah bersama.

Sebagian lagi mungkin tiduk cukup berani untuk menyuarakan perasaannya dan mau tak mau harus bisa menerima melihat sang pujaan hati dari kejauhan yang sudah bahagia dengan orang lain dan berkata; It’s over I should move on.

Namun diam-diam tetap mantengin page social media si gebetan sampai tangan ledes dan kuota habis. Tindakan preventif yang di mana kalau-kalau ada celah untuk mengambil perhatian si gebetan kembali. *pelakor detected*

Jahatnya friendzone, pahitnya perbedaan suku/agama (yang mana di Indonesia ini matters banget), kerasnya persaingan para singlewan/singelwati (Hello, Tinder!), dan terburuknya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan merupakan faktor penyebab banyaknya korban dari kisah cinta sendiri ini. (meminjam lirik dari lagu Kahitna).

Lalu scene bergerak ke sebuah sudut sebuah cafe di Jakarta, beberapa pekerja yang baru pulang bekerja, saling berhadapan sambil menyesap kopi, membakar batang rokok yang ke dua menandai dimulainya sesi curhat percintaan mereka.

Di Jakarta, dapat dengan mudah kita mendapati para single dengan kompleksitas kehidupan mereka. Terkadang, beberapa dari mereka ada yang membawa kesedihan ‘romantisme’ tiap harinya dan menyadari bahwa memiliki satu sama lain dengan si dia bukanlah opsi yang mereka punya.

Sampah betul orang yang bilang, kisah cinta terbaik terkadang tidak selamanya saling memiliki.

Kalau cuma suka dan enggak bisa memiliki itu namanya penyewaan, Kak. Macam rent a car atau rent a house di Airbnb. Kalau tau endingnya seperti itu, harusnya jangan dibuat jatuh cinta dari awal. (ngomel sama hati nurani sendiri)

Bilang ke Dilan, yang berat tuh bukan nahan rindu ke Milea, tapi jatuh cinta sendirian. Perih itu, Jenderal!

Ada teman saya yang menyalurkan ‘kesendiriannya’ dengan berlari di GBK sambil mendengarkan lagu-lagu EDM terbaru sambil berteriak-teriak.  Namun, untuk saya pribadi, ‘lari’ yang paling pas untuk saya adalah dengan menonton film.

Karena tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menonton film yang bisa membuat saya menangis tersedu-sedu setelahnya.

Bisa dibilang itu adalah salah satu terapi paling murah untuk merasa bahagia. Dan juga karena malas olahraga aja.

Film romantis comedy selalu sukses menghadirkan dunia yang dapat merefleksikan kehidupan percintaan dengan mengocok isi perut tanpa harus kita melaluinya terlebih dahulu.

Dan setelah layar studio berganti gelap, beberapa film tersebut ada yang mampu meninggalkan kekosongan mendalam di dada yang tidak bisa diisi oleh apa pun. Entah karena kemiripan ceritanya, akting yang kelewat memukau, atau sesederhana musik maupun lokasi yang dapat mengingatkan pada si doi.

Well, karena dari awal saya sudah menceritakan tentang bagaimana jomblo-jomblo di Jakarta bertahan dengan hebatnya.

Berikut saya buat daftar film yang mengapresiasi beberapa orang dengan demografis percintaan love someone that you cannot have.

Yang kuat ya nontonnya, kak.

Hari Untuk Amanda (2010)

Screen Shot 2018-02-15 at 1.05.10 AM

Kadang film-film romcom Indonesia masih terjebak untuk memberikan gambar-gambar bagus namun minim makna. Apalagi yang cuma mengandalkan aktor dan aktris yang cuma modal tampang saja.

Namun, film Hari Untuk Amanda bukan film yang seperti itu. Film ini berisi kepahitan yang hanya bisa dibayangkan pasangan CBK (Cinta Belum Kelar).

Dikisahkan bawah Amanda ingin memberikan undangan pernikahannya untuk sang mantan, Hari. Tujuannya untuk menyelesaikan unfinished business di antara mereka berdua yang dulu sempat berpacaran lama sejak masa SMA.

Namun, niat awal itu pun malah berubah menjadi napak tilas kisah cinta lama mereka berdua yang membuat Amanda mempertanyakan kembali untuk siapa perasaannya ini berlabuh.

Kebimbangan Amanda pun diselesaikan setelah melewati satu hari penuh turbulensi yang membawanya kembali ke masa lalu saat bersama Hari. Amanda menikmatinya, bahkan sempat ia ingin memilih Hari. Namun ketika Amanda memilih Hari dan apa yang Hari lakukan adalah lebih memilih liburan ke Lombok dibanding bertemu dengan orang tua Amanda.

Amanda tahu bahwa ia dan Hari berpisah karena satu alasan. Dan mungkin itu yang terbaik yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

Amanda pun pulang dan memilih tunangannya.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Kisah cinta yang dibangun sejak SMA adalah sesuatu yang terjadi pada banyak orang. Terlebih jika hubungan tersebut gagal ditengah jalan. Pertanyaan paling sering hadir adalah; undang mantan apa engga ya?

Menonton film ini kamu akan menemukan jawabannya. YAITU ENGGAK! HAHAHA

Dan juga di film ini kamu akan dibawa ke tempat-tempat romantis Jakarta khas anak SMA selatan.

Dialog-dialog bangsat yang begitu profound di film ini bisa sangat relatable untuk siapa pun. Dan bersiap-siaplah dikoyak masa lalu dengan begitu keji oleh Hari untuk Amanda.

Adegan Paling Ngehek:

Saat Hari ikut fitting untuk baju nikahan suaminya Amanda.

Pahit… itu pahit banget.

Jahat banget deh si Amanda. Dia enggak tau apa ya ngedenger mantan yang masih disayang nikah lewat invitationnya Facebook aja rasanya udah perih banget. Kek luka yang udah kering dikopek lagi.

Lah ini malah dibuat uji nyali banget buat pura-pura ngepasin baju yang bakal dipakai pasangannya (which is ORANG LAEN) pas di hari pernikahan nanti.

Enggak ada otaknya tuh perempuan!

hari untuk amanda*Sabar ya, Mas*

Quotes Ter-Anjink

Kamu itu kayak Jakarta Har, gampang banget berubahnya. Kayak yang kamu pernah bilang ke aku, berubah tapi sebenernya gak berubah – Amanda

Celeste and Jesse Forever (2012)

080312-rashida-jones

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Setelah sekian lama bersama dan kamu baru menyadari bahwa pasangan yang selama ini berada di samping kamu adalah orang yang berbeda. Bahwa kesamaan yang selama ini ada hanyalah hasil kompromi semata. Dan pada akhirnya malah menimbun bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Film ini bertutur tentang dua pasangan suami-istri yang begitu melengkapi satu sama lain namun harus mengakhiri kisah cinta mereka karena satu prinsip yang ternyata membuka jurang paling gelap dalam hubungan mereka.

Jesse sudah melupakan Celeste, namun tidak untuk Celeste.

Segala upaya dilakukan Celeste untuk membuat Jesse kembali, namun yang ia dapat hanyalah ketiadaan. Cinta mereka telah mati. Tidak ada yang dapat dipaksakan, meski cinta itu adalah cinta yang dulu membuat mereka berjanji untuk tidak pernah berpisah satu sama lain.

Adegan Paling Ngehek:

Saya sengaja buat dua, karena memang dua adegan ini yang paling ANJEEENG!

Satu, saat Celeste ketemu dengan Jesse di pernikahan teman satu circle mereka yang dulu selalu double date bareng mereka.

Saat pesta usai, Celeste berjalan keluar, berjarak dengan banyak orang dan menyadari bahwa hidup bisa berubah dengan begitu cepat. Yang kini hanya menyisakan dirinya sendiri. Tanpa siapa pun di sampingnya.

I mean, SIAPA SIH YANG ENGGAK PERNAH KETEMU MANTAN DI KAWINAN? TERUS YOU MAU APA KALAU KETEMU? NYAPA? NGOBROL BASA-BASI?

YA ENGGAK LAH! APALAGI KALAU DIA SUDAH BAWA PASANGAN BARUNYA! YA BYE BYE DEH!

caleste and jesse forever

Dua, ini adegan sakit sih! Momen di mana Celeste *mengemis* cintanya yang usang pada Jesse. Karena sebelumnya mereka masih ketemu karena asas jatah mantan.  Tapi si Celeste baper, she wants more. Sayangnya, Jesse enggak bisa ngasih itu.

Quotes Ter-Anjink

Why you don’t change for me?

YES! WHY? WHY??????

The Lunch Box (2014)

Bittersweet adalah kunci dari semua daftar film ini. Di awal begitu manis dan diakhiri dengan kepahitan yang menyesakkan. Begitupun dengan film India satu ini.

Berawal dari kesalahan bekal makan siang yang tertukar, seorang duda paruh baya dan perempuan muda yang baru menikah akhirnya menjalin hubungan janggal yang mengasikkan.

Mereka bertukar surat di dalam bekal makan siang yang terus menerus tertukar. Mulai dari berbagi resep makanan hingga curhat masalah personal mereka masing-masing.

Cinta itu tumbuh dengan malu-malu sampai mereka memutuskan untuk kopi darat. Sayangnya saat si perempuan sudah hadir di tempat mereka janjian, sang duda paruh baya itu malu sendiri lalu memutuskan mundur dan pergi meninggalkan perempuan itu sendiri dengan penuh pertanyaan.

Dan seperti kisah kopi darat lainnya, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain. Namun cinta dan perasaan mereka pun akan selalu terkenang manis pada sebuah kotak makan siang.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

I mean, siapa sih yang enggak pernah cinta dengan orang asing yang dikenal dengan super random. I did sih. Transformasi dari orang yang dulu kita bahkan enggak tahu nama belakangnya apa, musik favoritnya apa, dll malah berubah menjadi satu orang paling penting dalam hidup kita. Dan pahitnya adalah ketika saat semuanya tidak bisa bersatu dan orang itu menjadi sosok yang asing kembali namun kini penuh dengan kenangan. Satu hal yang sayangnya tidak bisa kita hindari.

Adegan Paling Ngehek:

Tentu saja saat mereka saling bertukar pesan. Seru dan engaging banget untuk tahu nasib masing-masing karakter sampai akhir.

lunch box

lunchbox2

Quotes Ter-Anjink

Sometimes the wrong train takes you to the right destination.

Call Me By Your Name (2017)

Satu musim panas yang merubah semuanya. Saya tidak bisa menggambarkan lebih banyak lagi. Film Call me by your name adalah jenis film yang hanya perlu kita tonton dan hayati. Karena dengan itu kita dapat menikmati keindahannya yang menyesakkan.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Katanya setiap orang dalam hidupnya akan mengalami fase tiga kali jatuh cinta. 1) Jatuh cinta pertama kali, 2) Jatuh cinta yang toxic dan menyakitkan, 3) Jatuh cinta yang mendewasakan.

Khusus untuk Elio sepertinya adalah jatuh cinta untuk pertama kali, namun yang akan membekas dalam pada hidupnya.

CMBYN

Adegan Paling Ngehek:

Saat di akhir film Elio menerima telefon dari Oliver dan memberitahukannya bahwa ia akan menikah. Saat telefon ditutup, Elio bergegas menuju meja makan dan berakhir menatap sedih pada perapian. Seakan dari kesedihan Elio, kita dapat merasakan betapa sakit saat seseorang yang dulu begitu penting dan berharga pergi dari hidup kita. Saksikan scene tersebut dan saya yakin kamu akan tercabik setelahnya.

call-me-by-your-name

Quotes Ter-Anjenk

What you two had, had everything and nothing to do with intelligence. He was good, and you were both lucky to have found each other, because… you too are good.

Fallen Angels (1995)

Wong Kar Wai adalah salah satu Sutradara yang karyanya begitu romantis dan meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Fallen Angels adalah karya terbaik dia.

Vibe Hongkong di tahun 90an sangat terasa lewat warna, musik, fashion dan apa pun yang ada di dalamnya. Dikisahkan tiga tokoh sentral yang mencari aktualisasi romantisme mereka dalam seseorang yang tidak bisa mereka miliki.

Mengapa Film Ini Begitu Relatable:

Siapa yang tidak pernah menjadi helpless romantic dan mencintai seseorang sebatas satu dua hal yang kita tahu? Dan film ini menggambarkan itu semua dengan begitu cantik. Akan keputus-asaan dan ironi bahwa masing-masing dari yang mengharap tidak akan mendapatkan apa pun selain rasa kehilangan.

Screen Shot 2017-11-14 at 6.06.24 PM

Adegan Paling Ngehek:

Saat si agent pembunuh bayaran itu masuk ke dalam kamarnya, menggunakan seluruh peralatan pribadinya dan merasakan sensasi bahwa benda-benda yang ia pegang adalah yang pernah pembunuh bayaran itu sentuh. Ia ingin menghadirkan sosok tersebut tanpa pernah benar-benar ada secara nyata. Platonic tingkat dewa.

Screen Shot 2017-11-14 at 6.02.36 PM

Quotes Ter-Anjenk

Most people fall in love for the first time as teenagers. I guess I’m a late bloomer. Maybe I’m too picky. On May 30, 1995, I finally fell in love for the first time. It was raining that night. When I looked at her, I suddenly felt like I was a store. And she was me. Without any warning, she suddenly enters the store. I don’t know how long she’ll stay. The longer the better, of course.

 

Panjang ya… pegel pemirsa ngetiknya. Dilanjutkan di PART 2 dan PART 3 ya.

 

Advertisements

Senin Kelabu

Namanya juga single, pasti ada masa-masa ingin ditemani, ingin dicintai, ingin ada yang mendengarkan.

Seperti hari ini.

Kok hati rasanya murung sekali. Mungkin karena efek kurang tidur semalam, mungkin juga karena hari ini adalah Senin.

Entahlah, rasanya kok moodku hari ini kelabu sekali.

Lalu satu email datang dari sebuah Bank. Aku buka, aku masukkan password, dan pantas saja hari ini aku bete setengah mati.

Ternyata aku harus bayar tagihan kartu kredit.

Huff, dasar millennials misqin!

Mau gaya tapi males bayar (mungkin itu yang ada dalam benak si Bank saat aku hanya mampu membayar setengah dari tagihan bulan lalu).

Lagipula aku harus bayar cicilan liburan untuk tengah tahun nanti. Oh, Lord, jeratan hutang tiada akhir.

Perjalanan Membaca Novel Aroma Karsa (Mungkin Spoiler Sedikit)

Sebelum menulis postingan blog ini, secara personal aku sudah meminta izin ke Mak Suri aka Dewi Lestari, duluan lho!

dee

*Sok akrab, dasar caper!*

Jadi, di suatu hari yang biasa-biasa saja saat tagihan kartu kredit masih belum lunas, juga berat badan yang enggak mau turun-turun, dan percintaan yang masih sekering sepuluh tahun yang lalu.

Tepatnya sepuluh detik setelah selesai kepoin kehidupan si doi di Instagram yang sudah happy dengan orang lain, dan setelah bergumam kasar dalam hati (panjang banget intronya, mohon maaf), aku melihat satu postingan yang membuat hatiku gemetar persis seperti nama acara deterjen saat aku kecil dulu.

DAG-DIG-DUG-DER (Enggak Pakai Daia ya, saya tim Rinso).

Repeat after me, DEWI FUCKING LESTARI MAU NERBITIN BUKU BARU!

YASZ, BITCH!

BUKU BARU!

Happy-dance

Buku baru tersebut berjudul: Aroma Karsa.

Lalu dengan kegigihan yang tinggi sama seperti saat ngepoin si doi waktu pertama kali, aku buka seluruh akses jejaring media sosial yang ada di muka bumi ini untuk mencari tahu bagaimana mendapatkan buku tersebut.

Kemudian setelah dengan khidmat membaca persyaratannya, dan beberapa jam menonton satu dua episode Orange is The New Black, ternyata baru aku sadari langkah-langkahnya bukan main ribetnya pemirsa yang budimen. Terlebih operasional websitenya masih sering down.

Yang paling bikin kejang-kejang gemes adalah, Dewi Lestari berencana menerbitkan buku terbarunya ini melalui versi digital dalam bentuk cerbung (cerita bersambung) pula.

Dalam hati aku ngebatin, APA-APAAN INI? CUKUP SUDAH DIGANTUNG SAMA SI DOI MASA IYA HARUS DIGANTUNGIN DEWI LESTARI JUGA? MANEH MASOKIS HAH?

meme-Qasidah-4

Tapi, tidak sampai lima menit berfikir aku tetap mengklik enter dan submit uang 77 ribu untuk menjadi bagian dari orang-orang pertama yang akan membaca buku Dewi Lestari ini. Bhihihik.

here-just-take

#anaknyalemah atau entah memang #masokissejati ~~~ ku sudah tidak dapat membedakannya akhir-akhir ini.

Lanjut! (kebanyakan curhat nyelipnya nih penulisnya)

Maka setelah melewati drama; kok aku mau submit ga bisa kak? kok aku ga dapet email konfirmasi? kok aku ga dimasukin grup di Facebook? kok si dia makin dingin sikapnya ke aku? kok….. dan banyak kok yang lain.

Aku resmi menjadi bagian dari Tribe Aroma Karsa di Facebook.

Screen Shot 2018-02-05 at 6.54.28 PM

HAHAHAHA MEMANG ENAK KALIAN GA IKUT GRUP KECE INI!

Happy_gif

Aku kasih tau ya kenapa ikut Tribe Aroma Karsa Dewi Lestari merupakan hal terbaik di hidupku sepanjang 2018 ini:

  • Misi Dewi Lestari untuk menghidupkan kembali greget dan nuansa bercerita lewat cerita bersambung seperti masa mudanya dulu ternyata berhasil. Saya dan enam ratus orang lainnya yang tergabung di grup Facebook tersebut jadi uring-uringan menunggu hari Senin dan Kamis. Wah, kacau deh! Di setiap part cerita, pasti Dewi Lestari motong ceritanya pas klimaks-klimaksnya dan bikin kita yang baca penasaran banget. Ibaratnya nih, ditinggalin pacar yang lagi-lagi sayangnya tanpa alasan. Bikin penasaran banget kan?

tenor (1)

*aku Aries yang sensitif, sok kuat padahal anaknya gampang cry cry*

  • Terus, ruang interaksi di grup Facebook Aroma Karsa benar-benar kemewahan tersendiri. Karena di sana saya dan teman-teman yang lain bisa ngobrol LANGSUNG dengan DEWI LESTARI. GILE, SETIAP KOMEN DIBALAS BELIAU DENGAN TULUS! Enggak terbayang harga berapa yang bisa menggambarkan pengalaman tersebut! Aku loh si sobat miskin ranting Cibinong bisa ngobrol sama penulis Idolaku dari zaman SMP dulu.

tenor

  • Orang-orang di grupnya juga seru-seru. Mereka masing-masing asik dan ngotot sendiri dengan memberikan reaksi mereka tiap kali selesai membaca part demi part yang dikirim tiap Senin dan Kamis. Topik yang paling laku adalah mengkhayal siapa saja aktor yang cocok untuk memerankan karakter-karakter di novel Aroma Karsa. Udah deh, bisa debat macem Pilkada Jakarta taun lalu. Haha.
  • Yang paling kocak lagi, setiap part cerita berkisar sekitar 50-60 halaman. Sering banget aku dan teman-teman abuse scroll ke bawah berharap akan ada halaman tambahan. Yang mana tentu saja itu enggak ada. Memang kamu pikir di hidup ini semua hal yang kamu inginkan bisa kamu miliki, Mantili?

Dan yang paling ngeselin adalah tiap kali Dewi Lestari dan suaminya teasing kami saat jeda panjang menunggu Senin dan Kamis. Mereka kode-kodean aja gitu dengan kasualnya.

Teh Dewi dan Mas Reza yang kalian lakukan itu…..

Screen Shot 2018-02-05 at 7.07.59 PM

Kalian pasti penasaran kan Aroma Karsa itu tentang apa?

Jadi in general, kisah Aroma Karsa mengenai petualangan mencari bebauan terbaik di dunia ini. Karena ceritanya masih on going, jadi belum terlihat sebenarnya gerakan narasinya mau dibawa ke mana. Tapi yang jelas, bukan Dewi Lestari namanya jika tidak melahirkan karakter-karakter yang dapat mengikat para pembacanya.

Bahkan dari paragraf pertama Aroma Karsa, Dewi Lestari menyihir para pembacanya masuk ke dalam semesta penuh misteri sebuah keluarga elit yang hanya dibagi berdasarkan misi rahasia.

Ada Jati dan Sumu yang menjadi Idola para kaum halu di Grup. Mereka tuh…. ah rahasia ah. Hahaha.

Makanya ikut PO-nya gelombang ke dua saja untuk ikut Tribe Aroma Karsa.

Screen Shot 2018-02-05 at 7.16.16 PM

Kurang lebih katanya akan ada 18 part dari Aroma Karsa ini, saat tulisan ini dinaikkan aku lagi baca part yang ke-6. Masih belum ketinggalan banyak kok!

Maka teman-teman sejawat sekalian yang sudah tergabung di grup gelombang pertama, ada baiknya kita rapatkan barisan, berpegangan tangan erat dan masing-masing saling menguatkan diri selama menjadi #PejuangSeninKamis!

DSW3bcKVQAAFNq4

Kurang lebih pengalaman seperti itu yang bisa aku ceritakan saat mengikuti Tribe Aroma Karsa. Membuat hari Senin dan Kamis aku menjadi lebih seru dan juga menjadi kecut penasaran lewat kekuatan bercerita Dewi Lestari.

Sampai berjumpa di grup Aroma Karsa!

Mari membaui cerita selanjutnya bersama-sama!

Anyway, ini Jati dan Suma versi aku:

jati suma

Review Film Dilan 1990; Untung Milea Enggak Minta Dinikahi Fahri!

Rasanya menyenangkan bisa menonton sebuah film remaja yang mengangkat kisah percintaan dengan presentasi yang proper lewat akting yang prima dan memiliki logika cerita yang solid.

Solid di sini berarti dalam sepuluh menit film berjalan kita tidak akan menemukan seorang perempuan bernasib durjana karena ditinggalkan orang tua yang sudah meninggal dan surprise-surpise, ia hanya memiliki satu saudara yang sialnya sejahat Hitler dan dia harus hidup dengan orang tersebut for the rest of her life.

3a2

Sudahlah nasib apes, perempuan tadi harus banget digambarkan begitu edgy dan berbeda dari kebanyakan orang di Jakarta. Dan cara sutradaranya memperlihatkannya adalah dengan…….

……menaiki sepeda di jalanan Jakarta untuk mengantar barang dagangan……

……kemudian bermain handphone di macetnya jalanan bilangan Hotel Indonesia…..

……dan lupa bahwa ada teknologi bernama lampu merah yang mengharuskannya berhenti dan menghindari dirinya dari tabrakan mobil.

Tapi dengan cerdiknya, perempuan itu tetap tertabrak oleh mobil yang kecepatannya bahkan tidak lebih cepat dari larinya orang yang kena asam urat. (Meskipun yang nabrak adalah cowok tajir dan ganteng, tetap saja, wei, MANEH DITABRAK MOBIL! Gegar otak siah!).

duh

Dan seperti Tuhan dan kita semua tahu bahwa jalan cerita selanjutnya adalah mereka akan jatuh cinta dan menumpas saudaranya yang jahat and live happily ever after.

Kalau di dunia nyata, percaya deh, kalau ada adegan tabrakan seperti itu, yang ada cowok itu dituntut terus beritanya masuk LINE TODAY atau Lambe Turah, terus welcome deh hujatan para netizen di akun IG cowok tersebut.

tenor

*Ekspresi Mamak Cher pas aku ceritain film remaja yang ga masuk akal itu*

Untungnya itu semua tidak ada di film Dilan. Tidak ada perempuan annoying sok edgy dan adegan-adegan yang mencederai cerebrum juga sel-sel otak lainnya karena saking tidak masuk akalnya.

Tapi demi menjaga kesehatan rohani kejombloan, perlu disadari bahwa film Dilan hanya fiktif belaka. Dan semesta ideal tersebut kemungkinan terjadinya di kehidupan nyata probability-nya sama seperti:

Secara random bos di kantor kamu nyamperin meja sambil bilang, HEI KAMU NAIK GAJI DAN KAMU HANYA PERLU MASUK KERJA 3 HARI DALAM SEMINGGU.

Paham, kan?

Ya, kan?

err……

anyone?

Anyway, Dilan sebenarnya sudah melengkapi keseluruhan formula film romantic comedy secara general; yaitu ada meet cute, adegan sebel-sebelan, mereka akhirnya masing-masing jatuh cinta tanpa sadar, ada konflik dan drama gemes khas orang baru pacaran, terus di ending mereka ciuman dan penonton happy deh.

Kecuali kalau kamu single ya macam sobat misqinque ini yang setelah film selesai enggak happy happy amat dan hanya bisa menatap nanar ke kanan kiri untuk mendapati kenyataan bahwa sembilan puluh sembilan persen yang menonton Dilan di bioskop bareng kamu ternyata bersama pasangannya masing-masing. Plus mereka masih muda belia tanpa penyakit asam urat juga rematik ditubuhnya seperti kamu. Sad.

Screen Shot 2018-02-02 at 4.25.17 PM

*Hehe. Kisah cinta aku nih!*

Film di awali dengan suara narator yang empuk banget dari Mbak Sissy Priscillia yang berada di kondisi present dan menceritakan ulang tentang pertemuan dan kisah cinta dirinya bersama Dilan. Si remaja Bandung yang anak tentara, sayang pada ibunya, dan kebetulan petinggi dari sebuah anggota geng motor.

Bagi yang sudah membaca novelnya, bisa dirasakan bahwa narasi keseluruhan cerita datang dari sudut pandang Milea yang sejujurnya menurut saya penulisannya terlalu blabbering.

Untungnya di film Dilan ini ketidaknyamanan narasi tersebut disunting dengan sangat baik oleh editornya dan akhirnya membuat narasi yang dibacakan Sissy Priscillia begitu manis. Secara keseluruhan saya dapat memastikan bahwa film Dilan dapat dinikmati baik bagi mereka yang sudah membaca maupun belum membaca novel asli Dilan.

Selain kepopuleran hikayat Dilan dan Milea di sosial media, yang menjadi kekuatan dari film ini secara keseluruhan adalah akting dari dua pemain utamanya.

dilan

Vanesha dan Iqbal memainkan peran remaja unyu yang saling jatuh cinta dengan sangat pas. Jika kita mengingat Cinta dan Rangga sebagai pasangan artsy, Tita dan Adit sebagai pasangan borju gemas, maka tidak berlebihan jika Vanesha dan Iqbal dikatakan sebagai pasangan romansa semi vintage semi milenial. (Terserah elo, man).

Vanesha, harus diakui, dengan kecantikan visualnya bisa memukau siapa pun yang melihatnya terlebih di layar selebar bioskop. Namun, jangan salah. Vanesha di film tersebut tidak tampil kering seperti kebanyakan aktris-aktris cantik muda yang bermain di jenis genre film yang sama.

Dengan karakter judes jinak-jinak merpati, sebal tapi mau itu, Vanesha memainkannya dengan sangat baik. Intonasi percakapan dialog yang natural dapat keluar dari mulutnya tanpa harus dibuat-buat lucu atau teriak-teriak engga jelas. Vanesha bermain dengan santai dan nyaman. Sebagai penonton saya dibuat percaya saat dia sedang merindukan Dilan, marah dengan Dilan, dan hampa tanpa kehadiran Dilan.

Maka dari itu menurut saya pribadi Vanesha sudah berhasil mengembodi karakter Milea. Jujur dengan kekuatan akting fresh Vanesha tersebut saya jadi tidak dapat membayangkan siapa lagi yang cocok untuk memerankan Milea.

Good job untuk Neng Vanesha.

bbec39edd85308b0ec81830b04fcb9ffe8ef2db892cd1c1a61c2be7bacbe15ab

Lalu Iqbal sebagai Dilan, meski dalam perjalanan castingnya para die hard fans Dilan sempat tidak setuju dengan pemilihan Iqbal. Tapi percaya deh, setelah menonton film Dilan, kamu akan tahu mengapa Iqbal menjadi pilihan pertama dalam film ini.

Di tahun 80-90an yang mana saat itu Lupus dan Olga digandrungi para remaja hips di masanya, pasti kamu aware dengan jokes permainan teka-teki kata yang berujung gombal. Dan sepikan gombalan-gombalan Dilan yang diucapkan Iqbal terasa menggema dengan romantis dan tidak menggelikan.

Malah kebanyakan penonton cewek di bioskop saat melihat adegan tersebut mendadak terenyuh macam dapet sms transferan THR di saat tanggal tua.

Iqbal bermain sebagus itu. Amarah yang muncul terasa begitu maskulin dan kegigihan pendekatan Dilan dalam mengejar Milea terhantar begitu gentle.

iqball-cjr

*Iqbalnya udah gede*

Maka tidak berlebihan jika segenap cewek-cewek jomblo seantero Indonesia melihat Dilan sebagai lelaki idaman baru dalam bursa khayalan mereka.

6cf55c3611f175460c8bc77c7874bbd6

Beranjak ke setting tahun 1990 yang didengungkan di judul filmnya. Berlokasi di Bandung, dalam film Dilan fragmen-fragmen tersebut ditampilkan dalam wajah Bandung yang lebih bersih, mobil-mobil jeep lama, dan fashion masing-masing cast dengan baju kedodoran dan celana panjang.

Highlightnya tentu saja jaket Dilan. Pasti sehabis ini langsung ada toko di Tokopedia atau Bukalapak yang jual produk serupa.

Namun sayangnya setting 1990 dalam film ini hanya sebatas sebagai background belaka tanpa menjadi bagian penggerak film. Latar kota Bandung tidak bercerita sebagai bagian dari cerita Dilan.

Jika dibandingkan dengan film Pengabdi Setan, ambience jadulnya lebih terasa. Environment-nya berhasil memberikan ruh tersendiri dalam film tersebut. Tapi di Dilan, semua terasa terbatas tanpa memberikan added value yang baru.

Kemudian yang paling krusial sebagai kelemahan film Dilan menurut saya pribadi adalah berada pada plotting cerita secara keseluruhan. Opening dan pertengahan cerita semua berpusat pada PDKT Dilan ke Milea, namun sehabis itu tidak ada konflik atau kejadian apa pun yang merubah nasib masing-masing karakter di dalamnya.

Jika tawuran dan perkelahian Dilan bersama teman gengnya dianggap sebagai sebuah turbulensi cerita, maka konflik film Dilan menuju resolusi cerita setelahnya bisa diandaikan hanya mendapatkan sepuluh persen bagian saja dari total keseluruhan film. Karena, ya itu, tidak ada follow up scene yang berarti setelah momen itu.

Padahal sebelumnya, penonton sudah berhasil terikat dengan dua karakter utamanya, namun dihempas begitu saja dengan ending menggantung yang hambar. Seperti jika baru keluar bioskop dan ada orang lain yang menanyakan, film Dilan tentang apa sih?

Pasti saya hanya akan menjawab; tentang PDKT anak SMA di Bandung yang ada tawurannya.

That’s it.

Tidak ada aspek sosial atau gagasan besar lainnya yang digaungkan di akhir film. Hanya dua orang yang mengikrarkan cinta mereka pada sebuah buku tulis lengkap dengan materainya.

Sederhana memang. Tetapi, secara keseluruhan sebenarnya film Dilan berhasil menjadi alternatif tontonan remaja dengan kisah cinta yang dapat meninggalkan perasaan hangat yang membekas bagi mereka yang menontonnya. Tanpa ada propaganda untuk menikah muda atau menikahi Fahri. (Jangan Milea, sekolah dulu aja sampai S2. Bagus kalau bisa dapet beasiswa LPDP belajar di luar negeri).

Jadi, yang belum nonton dan berada di usia yang banyak menanyakan, KAPAN MANEH KAWIN?

Ada baiknya menonton film Dilan sebagai pelarian dari kenyataan barang dua jam untuk kembali mengingat bahwa cinta bisa hadir dengan sederhana tanpa pretensi yang berlebih soal katering, dekor panggung, juga sewa gedung yang harganya enggak masuk akal.

Relaks dulu aja liat anak SMA jatuh cinta.

Ngomongin Dilan belum sah kalau enggak bahas quotes dari buku atau flmnya. Favorit quote saya dari film Dilan adalah:

hipwee-dilan1

Yang jika Dilan sudah menjadi buruh korporat pasti akan berganti menjadi:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.11.07 PM

Atau ketika Dilan ditagih-tagih sama CS Bank:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.47 PM

Atau ketika Dilan baru gajian dan dia harus ingat bahwa satu bulan itu adalah 30 hari dan bukan satu kali kunjungan ke restoran all you can eat:

Screen Shot 2018-02-02 at 7.10.58 PM

Akhir kata, selamat menonton. Filmnya bagus kok untuk gemas-gemas dan malu-malu sendiri. Apalagi kalau sengaja iseng ajak gebetan waktu SMA dulu dan bisa nemuin adegan-adegan yang bisa kompak ngomong:

Ih, dulu kan kamu begitu ke aku.

PRET!