Review This is Us Season 1 & 2: Dalam Sebuah Perspektif Personal

Screen Shot 2018-03-28 at 1.41.51 PM
pic from https://www.goodhousekeeping.com/life/entertainment/news/a48183/this-is-us-season-3/

Sebenarnya sudah direkomendasiin sama Kak Teppy dari setahun lalu, namun entah mengapa baru punya waktu tahun ini aja.

Daaaaaaan series ini bagus. Banget. Titik.

Setiap manusia pasti punya luka masa lalu yang akhirnya memberikan efek tersendiri di kehidupan mereka ke depannya.

Dengan premis tersebutlah series This is Us bergerak dengan begitu indah, memikat, juga meninggalkan kesedihan mendalam bagi mereka yang memiliki pengalaman yang sama seperti pemain-pemain di dalamnya.

Series ini dengan apik menggambarkan hubungan antar manusia sebagai keluarga yang tumbuh bersama-sama dengan begitu detail sampai saya sebagai penontonnya merasakan keterikatan emosi dalam perubahan nasib dan pengembangan karakter sepanjang series berjalan.

Kejeniusan sang kreator dan penulis series ini dapat dilihat lewat pembagian scene dan cerita yang tidak linear namun bertumpu pada satu titik trauma misterius yang dihadirkan maju mundur dan selalu dihindari untuk dibicarakn oleh masing-masing anak di dalam keluarga ini.

Namun seperti halnya misteri lain dalam hidup, di tiap episodenya pedih dan misteri yang bercongkol terus mendesak untuk diselesaikan atau akan menghancurkan semua yang ada di ‘present moment’.

Dan itulah kekuatan dari series ini. Saya bisa nangis ambyar se-ambyarnya macam selang air setiap menyelesaikan episode-episode di series ini.

Kalau kamu-kamu tipe yang suka disakitin dengan cerita-cerita tear jerky, series ini cocok banget buat kamu.

Screen Shot 2018-03-28 at 1.45.18 PM
pic from https://www.nbcnews.com/better/health/6-important-relationship-lessons-we-can-all-learn-us-ncna802341

Topik besar dari series ini adalah gambaran dua karakter utamanya yaitu Jack dan Rebecca dalam membangun keluarga kecil mereka dari nol sampai anaknya tumbuh sebagai manusia dewasa.

Dan namanya juga hidup ya, pasti ada saja masalah-masalah di dalamnya. Namun serius, menonton series ini saya seperti sedang dalam sesi self healing. Karena isu-isu yang dihadirkan di series ini adalah sesuatu yang kebanyakan orang alami sebagai seorang anak maupun manusia secara keseluruhan. Dan selama satu jam saya dihadapkan dengan begitu larut lewat memori-memori usang yang telah lama ditekan, dilupakan, dan kini mendesak untuk didamaikan.

Fiuh, nonton series tidak pernah seberat ini.

Ketidaksempurnaan adalah Kesempurnaan

Jack sebagai seorang Ayah dan Suami dalam series ini terlihat sebagai manusia super sempurna di mata keluarga kecilnya.

Dan sebenarnya memang Jack seberusaha itu untuk menjadi sosok sempurna tersebut. Kita sebagai penonton akan dibuat terharu ketika melihat perjuangan Jack saat harus memutar otaknya untuk menyelesaikan masalah ‘papan’ keluarganya. Karena pada awalnya saat Rebecca hamil dia memperkirakan anaknya hanya akan ada satu. Tapi setelah beberapa bulan ia terkejut mendapati fakta bahwa ia akan memiliki TRIPLET. Bayangkan, sudahlah DP rumah awal hangus karena sudah pasti rumahnya saat lahiran enggak bakal muat, ditambah dia masih harus mencari uang tambahan untuk beli rumah baru lagi.

Namun Jack berusaha untuk melakukan apa pun demi memberikan kenyamanan terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Meskipun ia harus drop his pride and ego untuk minta ke Ayahnya yang dia benci sekali.

Apa yang Jack lakukan adalah gambaran kebanyakan peran seorang Ayah dalam kehidupan keluarga kebanyakan.

Dia akan berkorban dan bekerja paling keras untuk mendapatkan uang demi kelangsungan kehidupan keluarganya.

Saya mau berbagi cerita tentang sosok ‘Jack’ versi saya lewat pengalaman hidup dan sudut pandang saya.

Secara pribadi sebagai anak yang tumbuh dan berkembang di keluarga Indonesia kelas pekerja kebanyakan. Tipe hubungan anak dan Ayah di negara ini dan yang saya punya secara khusus bukanlah bentuk paling ideal yang bisa diceritakan.

Ayah saya adalah si pendiam yang selalu pulang ke rumah dengan fisik dan mental kelelahan dan hanya bisa saya temui seminggu sekali. Itu pun lebih banyak saya mendapatinya tidur seharian di kamar.

Waktu yang saya punya dengan beliau hanya saat makan bersama. Namun sejak saya dan adik saya tumbuh besar dan membutuhkan ruang lebih luas di rumah kami yang kecil, saya harus merelakan tidak punya meja makan dan kehilangan ritual makan bersama-sama. Yang artinya saya akan kehilangan waktu berdua dengan Ayah saya. Maka keintiman itu akan terlewat meskipun hanya berputar tentang pertanyaan basa basi soal perkembangan di sekolah saja.

Entah apa beliau tahu bahwa hobi saya sebenarnya adalah membaca dan menulis bukan bermain sepak bola seperti kebanyakan anak-anak laki-laki di kampung saya.

Entah apa beliau tahu bahwa sepeda saya sering rusak karena dikerjai oleh anak-anak iseng karena mereka membenci saya atas fisik saya yang hitam dan kemayu. Yang mana merupakan gambaran paling jelek dalam kriteria anak laki-laki.

Entah apa beliau sadar bahwa saya selalu absen dari kelas mengaji setiap malam karena saya tidak nyaman membahas ajaran agama yang begitu dangkal dan anak-anaknya yang sering mem-bully saya.

Juga, entah apakah terbesit perasaan malu pada diri beliau dengan memiliki anak seperti saya?

Sepanjang hidup saya mempertanyakan itu semua di kepala saya.

Apakah Ayah saya menekan semua emosinya dan menjadikan dirinya sebagai martir dalam keluarga karena asas kewajiban atau karena memang dia mau melakukannya secara sukarela dan tulus karena kasih sayang?

Dude, tinggal di keluarga pinggiran Cibinong secara sadar saya sudah mengikhlaskan untuk mengeliminasi konsep ‘kasih sayang’ seperti yang hadir di televisi atau iklan-iklan. Saat sang Ayah memeluk anak-anaknya dan mengatakan, “I love you, Nak. Papah bangga sama kamu!”.

Hell, No. Itu hanya untuk para rich kids, and I’m not. Dari kecil saya sudah tahu diri untuk hal itu.

Komunikasi dan tendesi kulit bertemu kulit adalah sebuah konsep yang tidak pernah muncul dalam kepala orang tua macam Ayah saya. Entah karena risih atau memang orang tua beliau sebelumnya pun tidak melakukan hal tersebut.

Maka bisa dibayangkan sepanjang saya hidup saya akan sangat risih saat ada teman saya merangkul dan memeluk saya. Dulu saya bisa begitu aneh dengan hal tersebut, bahkan cenderung menghindar.

Karena ya tadi, kode kasih sayang tadi tidak terintegrasi dalam diri saya.

Juga, saya pun bisa menghitung berapa kali saya pernah mengobrol dengan beliau secara decent sebagai sesama manusia. Dan membayangkan saya dan dan beliau mengobrol as men to men adalah sesuatu yang aneh sekali.

Karena memang pada dasarnya seingat saya kami tidak pernah memiliki bonding moment seperti itu. Ide akan seorang Ayah di kepala saya adalah seorang kepala keluarga yang kelelahan mencari uang yang bahkan saya tidak tahu kapan ulang tahun dirinya.

Dulu saya akan membawa kebetean itu dan menyalahkan dunia akan hal tersebut.

Kenapa sih saya harus tumbuh seorang diri tanpa orang tua saya? Terlebih tanpa sosok Ayah. Saya bahkan pernah menyalahkan beliau atas ketidak cocokan diri saya atas ekspektasi society, karena gugurnya figur Ayah dalam diri saya.

Saya tidak pernah diajarkan olahraga oleh beliau, tapi secara mendadak saya disuruh mencintai sepak bola seolah itu sesuatu yang wajar. Wong saya lebih suka tidur atau baca buku dibanding berkeringat.

Ayah saya tidak pernah mengajarkan saya menyukur kumis dan janggut saat saya beranjak puber. Mana saya tahu bagaimana berdandan saat acara-acara resmi, terlebih dengan jas dan pakaian lainnya.

Atau hal-hal kecil lainnya yang menjadi common sense di keluarga teman-teman saya. Sedang di saya? No way hose. Tidak ada.

Tentu saja sebagai remaja saya akan iri hati dengan teman-teman saya yang bisa begitu dekat Ayah mereka. They can throw jokes to each other. They share knowledges and everything.

Saya? Harus tertatih-tatih mengetahui itu sendiri setelah banyak kegagalan.

Lalu saya kuliah dan benar-benar tumbuh secara mandiri. Dan makna orang tua pun semakin mengecil dan menghilang. Keinginan untuk dekat dan mengetahui sosok Ayah pun lepas di tengah jalan.

Kemudian seiring berjalannya waktu, saya lulus kuliah dan langsung bekerja full time. Lama saya jalani saya pun tersadar bahwa bekerja sangat melelahkan hati dan badan.

Gaji pertama yang saya dapat langsung saya berikan ke orang tua saya. Sedikit sih, cuma sejuta setengah kala itu, tapi saya bisa mendengar isak tangis dari kamar orang tua saya. Melihat anaknya kini sudah fully grown.

Saya membayangkan apa yang Ayah saya lalui seumur hidupnya dengan terus-terusan bekerja dan mengorbankan mimpi-mimpinya sendiri demi bisa memberikan saya kehidupan yang layak adalah sebuah ide yang mengoyak batin.

Hati yang beku ini pun perlahan luluh juga. Saya merasa berdosa sekali dengan segala buruk sangka dan kekecewaan yang saya bawa setiap hari saat dulu.

Ayah saya mungkin bukan orang tua paling kaya yang bisa memanjakan anaknya, tapi ia berusaha untuk memastikan anaknya tidak kelaparan dan bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya.

Ayah saya mungkin tidak menanyakan hobi saya apa dan seterusnya, tapi seumur hidup saya, dia tidak pernah melarang saya untuk melakukan apa pun. Mulai dari sekolah yang saya mau sampai pekerjaan yang saya ambil sampai sekarang. Ia selalu mendukung dengan caranya sendiri.

Dan Ayah saya tidak pernah sekalipun marah besar dengan memukul saya. Tidak sekalipun saya pernah disakiti oleh tangannya.

Ia hanya akan diam dan itu membuat saya merasa lebih bersalah.

Seperti halnya Jack, orang tua saya bertambah tua, dan suatu saat akan pergi untuk selama-lamanya.

Yang ingin saya lakukan sekarang adalah mengingatnya sebagai sosok yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia. Sebagai seorang Ayah yang belajar untuk pertama kali. Sebagai seorang manusia yang juga memiliki ketakutan untuk tidak merusak apa yang ia miliki, keluarganya, anak-anaknya.

Dan lewat series ini, saya dapat memahami itu.

Saya dan Ayah saya adalah dua orang yang sama-sama belajar untuk membahagiakan satu sama lain dengan cara masing-masing. Dan pengorbanan itu berarti lebih dari apa pun di hidup saya. Karena dari sana saya pun sadar, bahwa di dunia ini ada satu orang yang akan selalu menganggap saya begitu berharga hingga ia mau mengorbankan apa pun dalam hidupnya.

Sesuatu yang terkadang saya lupakan.

Advertisements

Ages Just a Number, Don’t They?

Setiap tahunnya gue selalu iseng ngebuat satu tulisan buat kado ulang tahun gue sendiri. Semacam refleksi atau cuma omong kosong sentimentil belaka.

Tahun ini gue dua puluh delapan tahun aja dong. Mayan ya. Mayan TUAAAAAA.

Di umur yang segini tuh banyak teman-teman gue yang sudah masuk ke stage ‘dewasa’. Mereka tunangan, menikah, nyebokin pantat bayi, dll.

Sedangkan di dunia gue, prioritas gue masih tentang harapan untuk bisa makan daging-dagingan dan sushi-sushian pas gajian nanti *itu juga kalau duitnya nyisa* *pointed to AB STEAK dengan penuh ancaman*

Screen Shot 2018-04-15 at 11.05.32 PM
LIHAT KAN? BETAPA SEKSI, BETAPA MENGGODA!

Tapi, ya memang seperti itu adanya. Dan gue menyukainya.

Kalau dihitung-hitung gue baru lima tahun juga jadi manusia dewasa yang akhirnya bekerja, menjadi bagian dari kelas menengah ngehek yang selalu mengeluh tentang pekerjaan dan gaji di media sosial, dan akhirnya dalam beberapa tahun terakhir gue seperti kembali terkoneksi dengan diri gue sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang gue curiga mereka menyadari keberadaan gue pun tidak.

Akhirnya gue kenal lagi nih sama si Nurzaman yang ternyata ada beberapa mimpi dia yang belum kesampaian. Ternyata apa yang membentuk gue saat ini adalah apa yang terjadi di masa lalu. Dan…. harus gue akui ada beberapa luka masa lalu yang mau gue selesaikan. Ya itu tentang si R dan D. Diri gue yang versi tersakiti beberapa tahun lalu itu ternyata masih ada di sana, menuntut untuk diselesaikan.

Haha sad ya, masih aja. (Ketika hari ini pun mereka enggak inget ini hari ulang tahun gue haha).

Tapi, gue juga baru engeh sih. Enggak usah deh si “someone that I cannot have”, temen-temen yang gue consider deket juga terkadang cuek sama ulang tahun gue. Padahal kalau mereka ulang tahun gue excited dan ikutan nyumbang kado loh (lah jadi pamrih).

Kalau tahun-tahun yang lalu gue bisa drama tiga babak banget soal itu. Muka udah pasti ditekuk dan bete seharian deh. Haha.

Tapi setelah setahun terakhir ini gue merasakan keacuhan itu tumbuh malah dari dalam diri gue sendiri. Gue berasa jadi ignorant dan lebih ke yaudah aja gitu.

Gue masih sih ambisius ke beberapa hal yang sifatnya memang penting untuk hajat orang banyak macem kerja buat keluarga gue. Tapi, yang sifatnya personal gitu gue jadi, yaudahlah ya say…. Ada yaudah enggak ada juga yaudah.

Karena mungkin setahun ini tanpa gue sadari adalah tahun yang berat buat gue. Gue kehilangan sahabat paling deket gue. Namanya Dita. Dia meninggal Februari lalu. Sampai sekarang gue masih enggak percaya dia udah enggak ada.

Nyokap masih suka ngoreksi gue kalau gue nyebut nama Dita enggak pake kata ‘almarhum’.

Ya gimana, gue masih ngerasa ini cuma momen di mana kita lagi ga ketemu aja. Dan kayak tahun-tahun sebelumnya, pasti ada satu kesempatan di mana kita ketemu lagi. Tapi ternyata ini beda. Dita bener-bener udah engga ada. Dan gue engga bisa berbuat apa-apa lagi.

Jadi sejak dari situ, gue jadi ngehargain waktu lebih maksimal sih. Gue fokus ke sesuatu yang emang bener-bener matter ke gue dan mereka nganggep gue matter juga.

Seperti keluarga, buku-buku yang harus gue baca, film-film dan series yang harus gue tonton, dan beberapa teman gue yang emang beneran investasiin waktu buat gue. Emang jadinya sedikit sih orang yang ada di hidup gue.

Tapi, semua itu adalah sesuatu yang mungkin layak untuk gue terima. Ini hasil dari benih perbuatan gue selama ini. Dan yang gue dapat ya itu. I can’t complain.

I mean, gue enjoy kok sama hidup gue yang sekarang. Meskipun kadang sepi itu datang dan sesekali gue bodo amat dengan cry sendirian sampe ketiduran. Tapi yaudah, gue engga bisa buat apa-apa lagi. Kali ini tuh gue benaran ngerasain sepi yang sampe ngerong-rong di ulu hati gitu.

Beberapa kali gue bisa halau itu semua sih dengan makan-makanan enak. Ya jadi happy sih emang, tapi nyesek pas bayarnya. Haha. Lama-lama gue kelilit hutang kartu kredit jadinya gegara si sushi dan daging-daging all you can eat itu.

Terus ya balik lagi ke soal R dan D yang gue ubek lagi selama dua bulan terakhir ini. Sebenarnya gue enggak minta apa-apa sih selain ketemu dan mengutarakan yang emang gue pengen bilang ke mereka. Terus abis itu yaudah bye bye.

Toh memang selama empat tahun terakhir masing-masing dari kita udah ga kontak lagi. Jadi seharusnya ini bukan hal yang besar. Tapi ya gitu mereka masih jadi pihak yang males ketemu dan bohong banget kalau gue enggak ngerasa di treat jadi sampah lagi kaya dulu.

Tapi, ya udahlah. Umur gue udah 28 tahun sekarang dan gue ga tau berapa waktu yang tersisa buat gue. Dan gue cuma mau hidup dengan damai dan jadi orang baik aja yang ga jahat sama orang.

Dan tadi malam, tepat jam 12 gue merayakan ulang tahun gue sendirian di pojokan Mcd di Pasfest (deket dari kosan). Sambil menyesap beberapa batang rokok gue merasakan kesepian itu mulai menjalar ke dada gue. Namun kali ini mereka lebih bersahabat.

Seolah mereka mau bilang, yang gue punya sekarang adalah cuma diri gue sendiri dan gue harus mulai terbiasa dengan itu. Anehnya, gue merasa itu semua sudah cukup.

IMG_8606
Ini aku abisin sendiri dong…

Jadi, gue mau ngucapin terima kasih buat kamu-kamu yang masih ingat hari ini adalah hari ulang tahun gue dan dengan tulus mendoakan gue. Gue terharu banget dan sangat menghargai itu.

Semoga doa-doa baik kalian didengar dan berbalik ke kalian ya.

Selamat ulang tahun, Nurzaman! 🙂

Cerita Tentang Kehidupan Sosial Media

1_YH5NTrbpgIwSKiOznqcOww
Photo credit: Lance Hossein Tagestani, Nadine Klingen, Lode Woltersom, Dionne Cats, Suleiman Alaoui, Wies Hundling, Elsemieke Uijen and Chiara Aerts.

Sebagai netizen ranting retweet dan repost meme-meme tidak berfaedah juga garing namun ku suka, ada beberapa hal yang membuat gue lama-lama khawatir dengan aktivitas internet akhir-akhir ini.

Dengan Facebook membeli Instagram dan akhirnya merubah alogaritma feed Instagram menjadi seperti Facebook, lama kelamaan gue merasa melihat diri gue seperti hidup dalam bubble yang dipilih oleh orang lain untuk gue jalani tiap harinya.

Apa yang gue lihat dan baca setiap kali buka sosial media adalah sesuatu yang sudah terfilter dengan sendirinya oleh satu mesin yang merasa beberapa hal yang gue cuma sekali dua kali ‘like’ dan ‘komentar’ adalah sesuatu yang menjadi interest gue luar dalam. Data-data behavior internet gue terekam dan mesin itu akan memberikan referensi konten-konten yang ‘mereka pikir’ adalah gue banget.

Padahal faktanya yang namanya sesekali bukan berarti itu yang mau gue lihat tiap hari juga kali bung!

Sekarang setiap buka Facebook dan Instagram gue jadi jarang ngeliat orang-orang yang memang dekat sama gue, alih-alih malah orang-orang asing dan beberapa teman yang ga begitu dekat namun karena asas gue pernah like satu dua kali mungkin foto bayi atau suatu aktivitas sosial media mereka dulu banget. Berakibat gue terpaksa jadi tau banget update paling mikroskopik akan hidup mereka. Padahal enggak perlu-perlu amat loh.

Dan impactnya? Gue kehilangan momen dan kabar dari orang-orang yang memang dulu jadi alasan utama gue untuk bikin Facebook. Inner circle gue. Semua itu terkikis karena beberapa dari mereka jarang update sosmed, dan platform-platform macam Facebook dan Twitter berpikir mereka enggak relatable buat gue. Hello…. gue malah penasaran sama yang itu dibanding si xxxxx yang suka pamer bayinya yang baru bisa cebok sendiri.

Terkadang gue pun jadi merasa asing dengan kehidupan sosial media gue.

Tanpa sadar gue mengizinkan hal ini terjadi dalam hidup gue karena gue pun tidak punya kuasa atas akun gue sendiri. Salahnya juga adalah gue yang sudah terlanjur ketergantungan dengan sosial media ini merasa apa yang beredar di dalamnya adalah sesuatu yang lebih penting ketimbang apa yang terjadi di dunia nyata. Gue berperan di dalamnya.

Gue masih inget banget ketika dulu Twitter masih begitu booming dan berpengaruhnya di tahun 2008-2011, gue dan teman-teman kampus yang rajin ngetwit dan rumpi di sosial media pasti akan merasa risih ketika hal yang kita bahas di Twitter kebawa pada ranah dunia nyata dan sehari-hari.

Kita akan geli sendiri ketika ada yang bahas hashtag atau jokes yang kita sering pakai di Twitter. Apa yang terjadi di twitter, stay di twitter kali ah.

Namun setelah enam tahun berlalu, batas antara dunia nyata dan dunia di sosial media jadi sesuatu yang bias.

Bahkan dulu ada anekdot bahwa setiap orang harus punya dua nama, nama asli dan nama akun twitter. Kini persona itu berubah menjadi satu tubuh. Avatar pun menjadi nyata. Internet benar-benar telah menjadikan kita semua warganya mau tidak mau. Secara kasual kita menjadikan internet bagian hidup terpenting dan terprivat yang tak terpisahkan.

Kita bisa lebih ekspresif, berani, bahkan bodoh di sosial media.

Masalah yang bersinggungan di sosial media kini bisa berujung panjang dan pahit di dunia nyata. Meski kadang ada yang berbuah manis, namun di bubble gue sekarang sepanjang apa pun yang gue lihat adalah pertarungan kata-kata kasar dan argumen-argumen yang membuat polusi pikiran. Bikin eneg.

Tiap-tiap orang merasa suara dan pendapatnya adalah yang paling penting dan wajib untuk semua orang tahu. Padahal yang namanya lapisan sosial bakal ada aja gesekan, pasti ada perbedaan. Karena tiap orang memiliki standar mereka sendiri, taste mereka sendiri, it doesn’t mean ketika satu opini elo ditentang oleh sebagian orang itu artinya mereka adalah haters atau ngajak berantem.

Ya mungkin simply karena mereka hidup dengan definisi yang berbeda yang kebetulan aja sekarang berbagi ruang yang sama di internet sama elo. Jadi jangan sewot dan merasa ini rumah aing terserah aing. Karena masalahnya tiap orang yang pakai internet bisa punya akses buat lihat jejak digital elo.

Kejadian yang paling menjengkelkan tentu saja kalau melihat ada orang yang mulai bawa isu SARA dengan ucapan kasar dan merendahkannya itu. Gue yang labil dan drama ini tentu saja kepancing untuk komentar. Ujungnya? Ya, perang bacot.

Percaya deh, di awal-awal pasti sangat sulit untuk menghindari dorongan untuk tidak berkomentar. Pasti gemas ngeliat kebodohan-kebodohan yang berseliweran. Tapi akhirnya gue sadar bahwa meladeni itu semua hanya buang-buang waktu, energi, dan kuota.

Untungnya kini di Facebook sudah ada fitur unfollow namun tetap bisa berteman demi asas masa lalu dia orang yang baik namun kini dia berubah jadi orang yang layak untuk dihindari.

Selain ketiadaan sopan santun di internet yang meresehakan lagi adalah fenomena orang-orang yang terobsesi dengan angka-angka like, followers, dan komentar. Metriks-metriks itu yang akhirnya membuat alogaritma bekerja dan menentukan bahwa hal-hal tertentu menjadi penting dan viral. Terlepas penting tidak pentingnya postingan tersebut.

Padahal secara konten apa yang sebenarnya jadi advokasinya?

Akhirnya, yang menyedihkan adalah semua angka itu kini jadi yang paling matter dalam sebuah kesuksesan seseorang di internet. Mereduksi hal besar menjadi pertanyaan, berapa nanti yang ngelike? Berapa followersnya? Berapa yang bakal reach kontennya?

Angka-angka dan kepopuleran semu itu akhirnya mencungkil sesuatu yang paling penting. Untuk apa konten itu dibuat dan akan berpengaruh seperti apa nantinya? Akankah merubah sesuatu?

Sudah banyak sekali contoh nyata beberapa orang yang melacurkan dirinya demi genapnya kenaikan jumlah angka-angka like dan followers di sosial media mereka. Kita semua diperbudak oleh itu semua.

Kapan terakhir kali bisa ngobrol tanpa semenit dua menit enggak ngeliatin gadget? Kapan terkahir kali bisa makan tanpa harus pusingin nanti make filter foto apa dan pake quotes sok pinter dan nginggris yang mana lagi? Kapan terkahir kali jalan-jalan santai tanpa harus mikirin ganti-ganti baju demi ootd dan benar-benar nikmatin suasana, manusia, dan lingkungan yang disekitar?

Gue tau sosial media juga penting, hence ironisnya gue bahkan dapet duit dan kerja di bidang sosial media. Namun gue sadar, kini sosial media berubah jadi monster yang pelan-pelan makan kewarasan dan kepedulian kita sebagai manusia. Bukan lagi jadi sarana silaturahmi dan cerita-cerita sharing bermakna lagi.

Maka dari itu, lewat gegap gempita dunia internet juag sosial media yang sangat bising akhir-akhir ini. Terkadang gue berfikir, obsesi mencintai diri sendiri yang berlebihan, bibit-bibit fitnah dan kebencian yang sudah terlanjur menggunung dan ditelan mentah-mentah oleh banyak orang, akan seperti apa ya ujungnya nanti?

Apakah ini semua berakhir seperti di salah satu episode epik Black Mirror? Ketika teknologi, internet, dan sosial media menjadi pisau tajam yang tak lagi membantu namun hanya menjadi alat destruktif yang melukai dan menghabisi apa pun  yang tidak seirama dengan tujuannya.

Akankah itu terjadi dalam waktu dekat? Atau yang menakutkan adalah sebenarnya itu semua sudah terjadi dan gue terlambat untuk menyadarinya.

Maka, menulislah

Benar adanya ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa menjadi penulis adalah pekerjaan paling sunyi di dunia. Ia bergerak dalam diam dan hanya berisi keriuhan isi kepala yang tak seorang pun dapat melihatnya. Terlebih jika kamu hanya seorang penulis mingguan yang hanya menulis di blog jika sedang tidak bisa tidur, dan sepanjang empat tahun telah berganti-ganti outline novel yang tak kunjung-kunjung selesai. Tak ada jejak, tak ada karya, suara-suara itu masih berteriak mengganggumu.

Dapat aku pastikan hidup tersebut sangatlah tidak menyenangkan.

Hidup tak lagi hanya berisi kesunyian saja, namun juga kekalahan. Karena bising di kepala cuma akan berakhir menjadi bunyi yang tak berkesudahan dan tak ada ujung.

Dan satu-satunya cara untuk membunuhnya hanya satu: MENULISLAH atau MATI.

Tentang Satu Orang Asing di Kereta

Kala itu saya pernah berfikir bahwa manusia bergerak tiap harinya karena rasa takut.

Karena dengan rasa takut, seseorang ‘dipaksa’ untuk berusaha sebaik mungkin agar tidak tereliminasi dalam suatu sistem. Pekerjaan, komitmen, atau bahkan kehidupan.

Sehingga setiap harinya, manusia ditekan baik secara sadar maupun tidak untuk berkompetisi dengan yang lain.

Namun yang baru saya sadari, lambat laun karena semakin beratnya kompetisi itu, rasa takut tersebut kian lama menjelma menjadi sebuah ketakutan.

Perlu digaris bawahi bahwa rasa takut dan ketakutan adalah dua hal yang berbeda. Rasa takut pada dasarnya cenderung membuat orang menjadi lebih kreatif dan berfikir untuk membuat solusi. Sedangkan ketakutan, hanya akan menjadikan seseorang paranoid. Begitu jelas bahwa ketakutan dibangun berdasarkan ketidakpercayaan diri dan asumsi kosong belaka.

Itu yang menurut saya sangat berbahaya.

Blue Monday is a name given to a day in January (typically the third Monday of the month) reported to be the most depressing day of the year and January the worst month for suicides, it’s always good to talk but even better to listen. – @mssechan

 

Setiap harinya, percaya atau tidak, saya berangkat bekerja dengan perasaan ‘ketakutan’ itu. Bahwa saya tidak cukup baik dalam bekerja, bahwa saya tidak cukup pintar, bahwa saya selalu membuat kesalahan. Kemudian ditambah dengan pikiran, ‘kalau dipecat nanti cicilan bagaiamana’, ‘aduh, hutang kartu kredit belum lunas’, ‘nanti bayar internet bagaimana’. Semua pikiran negatif bergumul menjadi satu dan akhirnya menuntun saya pada suatu depresi yang bahkan saya tidak sadari sebelumnya.

Kebanyakan orang di Indonesia masih belum menyadari bahwa diri mereka sedang dilanda depresi. Yang mereka tahu, apa pun yang terjadi selama badan masih bisa bangun, mereka harus menyeret badan mereka menuju sistem yang bahkan dari awal mereka tahu mereka akan kalah. But they are keep doing it.

Termasuk saya.

Tiap harinya saya seperti orang tersesat yang kehilangan semangat dalam melakukan apa pun. Saya seperti hanya ingin tenggelam dalam kubangan perasaan kalah dan tidak ingin bangun lagi.

Berbulan-bulan saya menekan perasaan itu, dan keadaan tidak menjadi lebih baik.

Apa yang salah?

Depresi bukan sebatas rasa malas atau muram durja kesedihan yang seperti digampangkan orang-orang. Depresi layaknya penyakit lainnya. Ia menyerang seseorang dan membuat penderitanya lumpuh. Mungkin tidak terlalu kentara pada fisiknya. Namun jiwa kosong dan berbagai ketakutan itu menjadi bola salju yang mereka gopong tiap hari.

Dan satu senyuman dan ucapan terima kasih dari satu orang asing di kereta, terkadang membebaskan. Meskipun sebentar. Meskipun samar-samar. Namun kehangatannya tetap menempal sama.