5 am thought; Nothing is last forever.

good news is nothing’s last forever.

Advertisements

Dear You,

Nothing is last forever.

Whatever it is. Semakin ke sini kamu akan semakin paham bahwa enggak semua hal layak untuk dikejar. Enggak semua hal patut untuk ditunggu. Dan enggak semua yang belum selesai harus dicari jawabannya. Mungkin tidak selesainya hal tersebut adalah the only answer you’ll get. And that’s very okay.

Tapi, memang tidak mudah untuk melepaskan hasrat untuk menginginkan dan memiliki. Terlebih untuk para pemilik zodiak dengan elemen api. Jika sudah dipantik kompetitifnya. Selesai semua. Dikejar sampai didapat apa yang dimau.

Namun, cengkraman akan menginginkan sesuatu. Tuntutan akan sebuah harapan yang harus menjadi nyata semakin lama semakin menyiksa. Obsesi yang akhirnya menjerat satu persatu kesadaran sel otak atas logika yang berkarat. Lalu beracun dan membunuh di ujungnya. Begitu menyesakkan.

Sepadan kah?

Tentu saja tidak.

Maka, lepaskan. Mungkin ada alasan lain mengapa pada akhirnya kamu tidak bisa mendapatkan yang kamu mau.

Jika mau lebih normatif lagi, coba seret diri sendiri untuk perlahan menyisihkan obsesi itu. Melihat sejenak pada sekeliling. Kepada mereka yang memang benar-benar menginginkanmu. Peduli kepadamu. Menghargaimu. And if you are lucky enough, mereka yang belum menyerah atas kegilaanmu. Posesifnya dirimu. Demandingnya dirimu.

Merasa lebih baik? Karena, kasih sayang ada banyak bentuknya. Dan masih ada yang memilih kamu untuk merasakannya.

Tapi, bukan berarti kamu harus terus menjadi menyebalkan seperti itu ya. Please change your attitude too.

I understand, dalam hidup memang akan selalu ada titik di mana hidup akan membawa kamu berada dalam jurang terendah. And that’s normal.

Untungnya, good news is nothing’s last forever.

Karena ini hanya akan menjadi fase kesedihan dalam hidup kamu seperti saat R tidak ada lagi menemani kamu dalam menonton film. Atau saat D yang membuat kamu begitu patah dan malas membuat Skripsi. Atau saat si gendut membuat kamu meratap akan sebuah pertanyaan, “bisa ga sih percaya lagi sama orang? bahagia kembali? nyaman dengan diri sendiri lagi?’.

Nah, sekarang mungkin ini adalah fase terendahnya. Bisa jadi rasa sedihnya dirapel jadi satu. Karena, teman-teman kamu masih membenci dan meninggalkanmu karena orang itu.

Pahit-pahitnya, tahan-tahanin lah beberapa waktu mendatang untuk harus melihat dia setiap hari. Pasti sih kamu marah, kesal, dan juga sedih. Mungkin kamu juga akan ada sesi menangis sambil menelepon teman-teman kamu sambil berjalan panjang selama satu jam di malam hari untuk membahas dia dan dia lagi.

But, you need to stop it. Cukup sudah menyakiti diri kamu sendiri. Makna kamu lebih besar dari rasa sakitmu yang sekarang.

Kamu bisa lah.

Kamu selalu bisa melalui semuanya. Dengan tersenyum dan menyelesaikan semua tugas kamu dengan baik. Karena itu lah satu-satunya yang bisa kamu selamatkan.

Diri kamu. Dan please nikmati yang tersisa dengan banyak kebahagiaan yang bisa kamu temukan di sini-kini. You are a fighter. Show them!

Love you!

Salam sayang,

Dari diri kamu sendiri di jam lima pagi dengan optimisme yang tinggi karena berhasil menyelesaikan banyak to do list.

2019 dan Kebodohan-Kebodohan yang Seharusnya Dihilangkan

Ketika hati berkata A dan mulut berkata lain.

Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang mengulang kesalahan yang sama. Kepahitan yang berulang yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan lagi. Entah karena mereka menyukai luka yang sama terus menerus, atau memang kontrol diri mereka selemah itu.

Dan kamu adalah jagoannya. Master dari segala kebodohan tersebut.

Selama sepuluh tahun kamu terus hidup dalam rantai yang seharusnya sudah kamu putus bertahun-tahun lalu. 

Seperti cerita usang ini, ketika kamu diam-diam membohongi diri kamu bahwa sebenarnya kamu masih butuh orang itu hadir di hidup kamu.

Bahwa hari demi hari makna dia di hidup kamu menjadi besar secara tiba-tiba tanpa kamu sadari. Mungkin kamu sadar tapi tidak mau kamu akui. Karena ketika kamu mengakuinya kamu tahu hal ini tidak akan ke mana-mana. Kamu tahu ini tidak akan menjadi apa-apa. Selalu seperti itu. Kamu hanya akan jatuh cinta sendirian. Kamu hanya akan meromansa sesuatu yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat.

Saat kamu melihat dia sedang berusaha melepasmu dan jalan dengan yang lain. Sesak rasanya dan kamu ingin sekali bilang padanya bahwa: hei, kamu tidak perlu berubah untuk jadi orang lain untuk bisa terlihat menarik di mata saya.

Bodoh.

Kamu dan selalu tentang hal-hal bodoh yang seharusnya sudah musnah di tahun yang baru ini namun masih kamu jalani, karena kamu menikmatinya.

Sebenarnya kamu benar-benar menyukainya atau hanya rasa obsesimu semata? Betapa kamu hanya ingin memilikinya, mengaturnya, memamerkannya.

Bahwa sekalipun tidak pernah ada yang berbalas dari hal-hal yang kamu lakukan untuknya.

Betapa tolol ucapmu sambil menghembuskan asap rokok terakhirmu.

Karena sebenarnya kamu tahu bahwa sekarang kamu sedang menabung sakit yang akan kamu tahu akan menyiksamu begitu parah di kemudian hari.

Sudahi saja, dunia memang tidak pernah adil untuk orang sepertimu. Dan tak akan pernah.

Kadang Hidup Selucu Itu

Tapi memang akan tetap pahit untuk ditelan.

Harapan adalah akar dari segala sakit hati di muka bumi ini. Gue menyesal mengetahui hal ini agak terlambat. Setelah gue menaruh banyak harapan gue pada kotak-kotak yang gue pikir akan aman. Yang gue pikir akan membuat hidup jadi lebih menyenangkan untuk dijalani.

Nyatanya, semakin bertambah umur, semakin gue menyadari bahwa kotak-kotak tersebut semakin menyempit, mengecil, bahkan hilang.

Karena rasa takut itu, kadang gue menggenggam terlalu erat kotak tersebut hingga hancur. Hingga akhirnya gue lupa alasan mengapa harapan itu gue taruh di sana.

Sampai akhirnya gue menyerah sendiri, menangis terlalu lama, dan membuang harapan-harapan yang tersisa.

Tahun berlalu dan gue mengoleksi sesuatu yang baru; kesedihan. Sesuatu yang lebih gampang dipupuk dan ditanam. Berbuahnya pun lebih cepat. Namun, memang pahit sekali rasanya.

Tapi ya, bukan berarti hidup akan terasa sesak seperti itu terus. Ini semua akan terlewati. Pelan sekali memang. Tapi akan selesai juga sih pada akhirnya.

Hidup memang tidak akan pernah adil. Terlebih untuk orang-orang seperti gue. Bukan menyalahkan tapi ya dari pengalaman memang seperti itu. Meskipun harus diakui gue memang menyumbang cukup banyak untuk membuat semua menjadi seperti ini.

Telat memang untuk baru menyadari itu semua. Ketika semuanya sudah terlanjur berantakan dan tak ada lagi yang tersisa. Siapa yang menyangka di mana pun gue berada masalahnya akan terus seperti ini. Tuhan lucu, hidup lucu, dan sepertinya mereka mengajak gue untuk tertawa dengan segala ironi ini.

Pun akhirnya gue sadar mau apa pun isinya kotak tersebut. Mau berapa banyak yang dikoleksi. Tidak akan pernah cukup untuk menyakiti sebuah hati. Hati terlalu luas untuk hanya dikerdilkan dengan harapan dan kotak-kotak kesedihan tersebut.

Perlahan, tapi gue percaya ini akan berakhir juga. Sekali lagi, gue menambah satu kotak harapan baru. Semoga yang ini lebih kuat.

Source: https://unsplash.com/photos/LkHXBKpwhZ8

Lauh Mahfuz: Ketika Perasaan Sedekat Nafas Namun Terpisah Rasa

Seorang teman pernah berkata, tidak apa mencinta sesuatu yang tidak dapat dimiliki, karena setidaknya ia pernah berada dalam Lauh Mahfuz seseorang tersebut.

Kami tengah makan siang di suatu akhir pekan, suasana restoran yang santai membuat otak saya bekerja lebih lambat dari biasanya. Yang saya dengar keluar dari mulut teman saya adalah: LO MAMPUS. Marah dong saya. Lalu untuk memastikan, saya bertaya kembali pada teman saya tentang apa yang tadi ia katakan sebelumnya.

Secara perlahan teman saya menyebutkan Lauh Mahfuz dengan begitu khidmat. Seperti ada kerinduan dalam ucapannya. Namanya begitu cantik dan misterius. Ternyata Lauh Mahfuz memiliki arti yang begitu dalam.

Pic from: https://unsplash.com/photos/67rnodKzsRQ

Secara bebas Lauh Mahfuz adalah sebuah kitab kehidupan yang sudah ditulis Tuhan bahkan sebelum manusia itu sendiri lahir.

Dalam kitab tersebut berisi kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh siapa saja yang akan hadir sepanjang manusia itu hidup.

Teman saya meyakini bahwa kehadiran dirinya di dalam hidup seseorang yang ia cintai selama enam tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Ia ada karena sesuatu dan memiliki maknanya sendiri. Meskipun kecil. Dan baginya itu semua sudah cukup. Ia berbahagia karenanya.

Dengan mengetahui fakta tersebut membuat teman saya sedikitnya merasa lebih ikhlas ketika tidak dapat memilikinya.

Karena mungkin cinta memiliki banyak bentuknya. Mungkin cinta dengan versi yang teman saya punya adalah yang terbaik yang bisa ia dapat. Keikhlasan untuk tidak menguasai dan memiliki, namun berbahagia karenanya. Keegoisan lebur dalam kekagumannya. Sesederhana itu. 

Setelah kami menghabiskan menu terakhir kami, ada dorongan yang menyesakkan dalam diri saya untuk menghapus nomor R di handphone saya.

Karena dalam versi saya, entah bentuk cinta apa yang saya punya, pada akhirnya dalam cerita yang saya miliki yang tersisa hanya rasa sakit berkepanjangan yang membosankan.

Dan saya tidak butuh kitab apa pun untuk mengingatkan saya bahwa tidak ada siapa pun yang menginginkan saya berada dalam hidup mereka.

Mungkin ada satu bentuk cinta yang saya butuhkan untuk sekarang. Kedamaian akan rasa sendiri yang tak lagi merongrong mengejek, namun membebaskan.

Karena pada akhirnya tidak semua orang memiliki keberuntungan untuk bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Hidup tidak semudah dan seadil itu. Dan tak akan pernah.

Jika tidak dapat memiliki seseorang yang saya inginkan, setidaknya saya bisa merasa diinginkan meskipun itu hanya dengan diri saya sendiri.

When I don’t believe in anything anymore

Entah karena rasa lelah atau rutinitas yang terlalu menyesakkan. Terkadang ada momen di mana apa yang gue lakuin beberapa tahun belakangan ini hanyalah fase di mana gue hanya hidup tanpa benar-benar tahu apa yang gue kejar dan lakuin. Gue cuma bangun di usia dua puluh enam tahun dan dua tahun kemudian tiba-tiba gue sudah dua puluh delapan dan lupa dengan apa yang gue jalani dua tahun belakangan kemarin.

Apakah gue hanya menunda-nunda kematian atau sedang berusaha mendekatinya? Atau hanya bosan saja?

Entahlah. Gue bukannya lagi ada suicidal thought atau apa, tapi terkadang hidup yang flat dan begini-begini saja yang tanpa pesan motivasional menggugah hati adalah keseharian yang gue jalani tiap harinya.

Bahkan satu-satunya hal yang bisa membuat gue merasa excited, yaitu makan, malah terkesan seperti emotional eating dibanding petualangan lidah yang dulu gue niatkan untuk menjadi aktivitas memperkaya palet rasa dan mengumpulkan cerita-cerita seru di dalamnya. Sekarang semua terasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang membut gue begitu menginginkan sesuatu sehebat itu. Selain menunggu gajian.

Usaha untuk menguruskan berat badan pun hanya wacana belaka, kondisi sekarang seperti sudah menerima (atau putus asa) dengan diri sendiri. Kadang ingin terus ada di kantor, atau enggak pengen ngantor sama sekali.

Apakah ini yang dinamakan kebosanan di umur dua puluhan akhir yang selalu saja orang kaitkan dengan segera mencari pasangan hidup sebagai jawaban final?

Jika pun itu memang benar adanya, alangkah menyedihkannya hidup gue yang harus mencari kebahagian di dalam diri orang lain.

Kini bahkan untuk menuliskan satu tulisan ini saja gue harus memaksakan menyeret diri gue ke coffee shop yang lumayan jauh dari kosan, kemudian meminum kopi susu yang tidak begitu manis dan harus bengong selama dua jam tanpa berbuat apa pun.

Semalas dan sekering itu kah mental gue sekarang?

Sesekali gue merindukan semangat dan energi yang membuat gue bisa berbagi cerita ke orang lain tanpa perlu julid atau gosipin orang. Ya cuma berbagi mimpi dan rahasia-rahasia kecil yang menyenangkan. Namun, sayangnya kali ini tidak ada orang lain yang particular ingin gue bagi rahasia atau cerita-cerita. Seolah kesendirian ini adalah lifestyle yang tepat untuk gue sekarang. Yang terlalu enggan untuk berkomitmen dan memulai hubungan romansa dengan apa pun.

Tapi sepertinya memang hidup di dua puluhan akhir itu kalau bukan ngejar karir atau ngurus keluarga baru memang enggak seru kali ya. Kayak hidup gue.

Karena sekarang setiap kali ingin memulai sesuatu dan percaya pada seseorang tiba-tiba saja perasaan pantas dan layak untuk berada pada frekuensi kebahagian yang sama dengan orang tersebut seperti barang mahal yang jauh dari rengkuhan gue. Gue jadi parno sendiri kalau-kalau semuanya akan berakhir gagal. Bahwa gue akan menjadi si yang terluka dan akan selalu ditinggalkan. Sepengecut itu.

Semua orang terlihat berjalan cepat dengan mimpinya masing-masing sedang gue di sini, duduk dengan sedikit cemas, dan dari kejauhan memandangi mereka yang terus melaju dan semakin jauh.

Mungkin memang beberapa orang di muka bumi ini ditakdirkan untuk menjalani sesuatu yang biasa-biasa saja, dengan luka dan kebahagian yang biasa-biasa saja juga.

Screen Shot 2018-11-03 at 16.31.17
Photo from https://unsplash.com/photos/vWfKaO0k9pc