Tentang Satu Orang Asing di Kereta

Kala itu saya pernah berfikir bahwa manusia bergerak tiap harinya karena rasa takut.

Karena dengan rasa takut, seseorang ‘dipaksa’ untuk berusaha sebaik mungkin agar tidak tereliminasi dalam suatu sistem. Pekerjaan, komitmen, atau bahkan kehidupan.

Sehingga setiap harinya, manusia ditekan baik secara sadar maupun tidak untuk berkompetisi dengan yang lain.

Namun yang baru saya sadari, lambat laun karena semakin beratnya kompetisi itu, rasa takut tersebut kian lama menjelma menjadi sebuah ketakutan.

Perlu digaris bawahi bahwa rasa takut dan ketakutan adalah dua hal yang berbeda. Rasa takut pada dasarnya cenderung membuat orang menjadi lebih kreatif dan berfikir untuk membuat solusi. Sedangkan ketakutan, hanya akan menjadikan seseorang paranoid. Begitu jelas bahwa ketakutan dibangun berdasarkan ketidakpercayaan diri dan asumsi kosong belaka.

Itu yang menurut saya sangat berbahaya.

Blue Monday is a name given to a day in January (typically the third Monday of the month) reported to be the most depressing day of the year and January the worst month for suicides, it’s always good to talk but even better to listen. – @mssechan

 

Setiap harinya, percaya atau tidak, saya berangkat bekerja dengan perasaan ‘ketakutan’ itu. Bahwa saya tidak cukup baik dalam bekerja, bahwa saya tidak cukup pintar, bahwa saya selalu membuat kesalahan. Kemudian ditambah dengan pikiran, ‘kalau dipecat nanti cicilan bagaiamana’, ‘aduh, hutang kartu kredit belum lunas’, ‘nanti bayar internet bagaimana’. Semua pikiran negatif bergumul menjadi satu dan akhirnya menuntun saya pada suatu depresi yang bahkan saya tidak sadari sebelumnya.

Kebanyakan orang di Indonesia masih belum menyadari bahwa diri mereka sedang dilanda depresi. Yang mereka tahu, apa pun yang terjadi selama badan masih bisa bangun, mereka harus menyeret badan mereka menuju sistem yang bahkan dari awal mereka tahu mereka akan kalah. But they are keep doing it.

Termasuk saya.

Tiap harinya saya seperti orang tersesat yang kehilangan semangat dalam melakukan apa pun. Saya seperti hanya ingin tenggelam dalam kubangan perasaan kalah dan tidak ingin bangun lagi.

Berbulan-bulan saya menekan perasaan itu, dan keadaan tidak menjadi lebih baik.

Apa yang salah?

Depresi bukan sebatas rasa malas atau muram durja kesedihan yang seperti digampangkan orang-orang. Depresi layaknya penyakit lainnya. Ia menyerang seseorang dan membuat penderitanya lumpuh. Mungkin tidak terlalu kentara pada fisiknya. Namun jiwa kosong dan berbagai ketakutan itu menjadi bola salju yang mereka gopong tiap hari.

Dan satu senyuman dan ucapan terima kasih dari satu orang asing di kereta, terkadang membebaskan. Meskipun sebentar. Meskipun samar-samar. Namun kehangatannya tetap menempal sama.

Advertisements

Emotional Relation

emotion-brain-marketing-communication

A quick note sebelum pulang kerja, tadi baru saja saya dapat sharing insight data dari brandz. BrandZ is Millward Brown’s brand equity database. Doi yang biasa ngeluarin data list brand-brand kece apa aja yang ada di dunia. Termasuk Indonesia.

Dari 50 brand paling penting di Indonesia, secara garis besar perbankan masih menduduki peringkat atas, 7 perusahaan rokok masuk di dalamnya (yang kata doi, ini unik banget, karena cuma ada di Indonesia perusahan rokok bisa masuk daftar ini, dan ada 7 pula), kemudian bisnis FMCG.

Secara notabene 50 perusahaan tersebut adalah perusahaan dengan bisnis tertua yang memang sudah running sejak lama. Menarik bahwa ini mengukuhkan bahwa sebuah bisnis tidak hanya harus trending sesaat saja namun penting sekali untuk melihat sustainability-nya.

Kemudian, Brandz memaparkan learning point apa saja yang bisa didapatkan dari success story bisnis-bisnis tersebut.

Kurang lebihnya seperti ini:

1. Dalam sebuah brand penting sekali untuk memberikan meaning kepada customernya. Berikan alasan kuat mengapa orang-orang harus membeli/memakai brand tersebut dibanding yang lain.

2. A good story yang related dengan customer selalu berhasil membuat orang jatuh hati pada suatu brand. Dengan pendekatan personal yang menggugah hati akan membuat orang membeli/memakai brand tersebut.

3.  Buat sesuatu yang inovatif dan pesannya terkomunikasikan dengan baik pada customer.

4. Brand harus bisa meyakinkan customernya bahwa mereka akan memberikan banyak keuntungan pada penggunanya.

5. Bangun kepercayaan dan keamanan customer saat membeli/memakai produk dari brand.

6. Gimmick marketing yang kece dan berhasil membuat top of mind di banyak customer juga akan membuat sukses sebuah brand.

Dari situ saya berfikir bahwa kunci dari kesuksesan sebuah brand adalah bagaimana sebuah brand berhasil menggaet customer dengan emotional relation. Karena pendekatan yang dipakai tidak lagi berbasis ekonomi, tapi personal. Di mana mereka diperlakukan bukan lagi sebagai outsider yang diambil uangnya, melainkan sebagai seorang keluarga yang menjadi bagian dari brand itu sendiri.

Pelajaran penting sekali hari ini, bahwa mau secanggih apa pun brand secara teknologi. Peran komunikasi, story telling, dan customer service menjadi vital. Karena di sanalah kunci untuk membangun koneksi dan kepercayaan seseorang yang pada akhirnya akan memutuskan untuk membeli/memakai brand kita nantinya.

Penyakit Berbahaya di Kota Jakarta

1-atv9dwym3lfhvopexkjy5g

Di siang itu, saya sedang merokok sambil menyesap kopi bersama Thalia. Kami sedang meng-supervise acara kantor. Tepatnya kantor saya memakai jasa kantor Thalia (she’s working in a Radio station) untuk membuat event ke kantor-kantor. Untuk mengenalkan aplikasi kantor saya ke banyak pengguna.

Sesaat setelah acara selesai, kami duduk di pinggir kantin sambil mengipas asap dan rasa gerah yang mampir. Entah kenapa, mungkin karena lelah, atau karena memang gajian masih lama. Saya dan Thalia mulai berkontemplasi. Yang mana tidak jauh-jauh tentang masalah hati.

Thalia, yang tahun ini menginjak umur dua puluh delapan tahun sedang memikirkan nasibnya tahun depan. Sang kekasih yang sudah ia pacari selama delapan tahun mengajaknya menikah.

Siapa yang tidak ingin menikah?

Tapi masalahnya, Thalia masih tidak yakin dengan capability sang kekasih. Hubungannya yang putus-nyambung, dan percikan romansa di keduanya sudah tak lagi ia rasakan. Those things, adalah pertimbangan yang sangat ia pikirkan masak-masak. Pun, kini ia sedang sangat menikmati ke-independenannya. Baik secara finansial maupun secara jasmani.

“Perasaan nyaman itu telah lama hilang,” ucapnya pelan sambil menghebuskan asap rokok dari mulutnya.

“Tapi setidaknya, elo aman, there’s someone who wants you,” ujar saya seperti selayaknya jomblo tak berharga.

“Is it?” tanyanya tak yakin.

Kami pun kembali dengan khayalan di kepala masing-masing.

“Sebenarnya kenapa sih hidup harus banget pakai sistem normatif segala. Secara biologis, kita kan cuma diciptakan untuk; makan, tidur, dan having sex. Term having sex pun di sini untuk berkembang biak. Konsep menikah dll, yang sifatnya mengikat itu kan manusia yang buat. Enggak semua orang bisa berhasil dengan yang namanya komitmen loh. Capek banget ngikutin apa yang selalu orang lain anggep benar buat mereka. Padahal sebenarnya belum tentu berhasil untuk gue atau elo kan.”

“Dan padahal, alasan mengapa di umur segini belum berpasangan, bukan berarti kita enggak laku ya. Ya karena emang kita selektif dong ya. Nikah kan katanya sekali seumur hidup. Kalau ngasal milihnya, ya nanti bisa enggak enak setelahnya. Sudah susah milihnya, diburu-buru pula olah para netizen.”

“Lagipula, buat gue dan beberapa teman gue, di era yang sekarang kebanyakan dari perempuan sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mereka punya pekerjaan yang mampu membiayai mereka secara finansial. Mereka happy dengan teman-teman mereka. Dan kehadiran laki-laki di antaranya ya sebatas pelangkap. Bukan lagi tujuan utama. Dan sebagaimana makna komplementer, itu bukan sesuatu yang harus dikejar banget. Ya itu akan datang sendirinya, di waktu yang tepat, atau kasus di sini, dengan orang yang tepat. And we cant define kata ‘tepat’ itu dengan terburu-buru.”

Saya pun mengangguk setuju. Mengamini setiap kata yang keluar dari mulut Thalia.

“Back to my home ya, Jem. Di umur gue yang sekarang dan belum menikah, mereka dijodohin loh. Terus nikah aja gitu. Enggak nanya anaknya mau apa enggak. Untuk beberapa yang keluarganya ortodoks, melihat anaknya yang belum menikah tuh sebagai aib.”

Saya sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan Thalia.

“Enggak bisa apa ya, manusia di Indonesia ini punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri?”

Saya hanya terdiam, untuk yang ini saya tidak memiliki jawabannya. Karena pada kenyataannya, sampai manusia itu mati. Tuntutan dan segala macam peraturan masih menempel dalam diri mereka.

Jauh dalam hatinya, sebenarnya Thalia masih merindukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia meskipun itu berarti dia harus membohongi dirinya. Karena seseorang tersebut selalu muncul di saat yang selalu salah.

Sedang saya, masih takut untuk membuka hati yang sudah tertutup lama ini. Perasaan ditolak dan tak diinginkan adalah hal terakhir yang saya ingin miliki di umur seperti ini.

Seusai batang rokok terakhir kami, melihat pekerjaan yang masih menumpuk hingga akhir pekan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kontemplasi kami.

Saya pun berpamitan pulang, dan langsung naik ke dalam taxi.

Di dalam taxi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya salah dalam diri saya ataupun Thalia dalam perihal komitmen ini.

Mengapa begitu sulit bagi kami untuk bisa bertahan dalam satu hubungan?

Atau mengapa kami selalu mendapatkan orang yang salah, atau berada di waktu yang salah?

Thalia pernah bilang, seharusnya kami memiliki kebebasan. Namun, apa artinya kebebasan jika tak lagi membebaskan?

Saya terdiam di situ. Meraba-raba jawaban yang entah ada di mana.

Lima belas menit taxi yang tak bergerak. Saya melihat aplikasi Waze di handphone, dan warna merah terselip sepanjang perjalanan menuju kantor.

Well, di Jakarta yang katanya dipenuhi lebih dari jutaan orang ini. Yang selalu macet. Di kota sebesar ini, entah mengapa, saat duduk memandang keluar dari dalam taxi. Saya merasa seperti orang paling kesepian.

Saya dan Thalia, we are just two lonely people who trapped in Jakarta. Maybe this time, kami sudah membutuhkan seseorang untuk membebaskan kami dari ini semua.

The Biggest Problem of Modern People

1-djdiSQjlcc9nGIgw18aqPg.jpeg

Menurut saya akar permasalahan yang sering terjadi di dunia modern saat ini adalah gagalnya komunikasi satu sama lain.

Baik itu dalam skala personal maupun profesional. Komunikasi diganyang sebagai suatu issue yang menghambat performa seseorang maupun dalam kesatuan tim.

Dasarnya komunikasi adalah jalinan umpan balik, a conversation antara satu orang dengan yang lain dengan membawa satu pesan yang akhirnya sama-sama dipahami.

It is about how you delivere the message.

Namun terkadang, skill komunikasi seseorang terhambat pada keengganan seseorang untuk mengolah pesan terlebih dulu. Ada ego sebesar bulan yang membuat mereka merasa superior dibanding lawan bicaranya.

Alih-alih memahami, kebanyakan orang memilih berkoar paling keras seolah dia yang paling paham sabab musababnya. Parahnya lagi, paling tahu solusinya. Dan cacatnya logika pun semakin subur keluar dari mulutnya.

Skema sederhananya, mulut mereka terbuka lebih dulu sebelum otak mereka berfikir.

Menurut saya, di situlah di mana kebodohan itu hadir. Ketika tidak ada satu pun saraf dalam otak manusia tersebut berupaya untuk menghela nafas sejenak, for one or two second, kemudian membaca ulang pesan yang ia dapatkan, mencernanya then comes up dengan buah fikiran berupa pilihan respon terbaik apa yang dapat mereka utarakan.

Karena some people say, mulutmu harimaumu. Sekali berucap, you can’t take back your word, it is include your stupidity.

Saya menulis ini bukan karena saya peduli dengan skill komunikasi satu orang — I’m pointed to someone who was bumped into me with a zero skill of communication and shouted toward me like that person knows how to deal the problem. Instead solve the issue, that person just shows how stupid that person can be.

Dalam seni komunikasi pun diajarkan agar kita lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena dengan mendengar tanpa terburu-buru merespon seseorang, kita dapat mengetahui sebuah informasi baru. Di kasus ini adalah, kebodohan seseorang.

You can laughed afterwards, right on that person face or some secret chat room.

Setidaknya saya belajar sesuatu hari itu, dalam terjalinnya komunikasi ada kalanya lebih baik kita diam dan mengalah. Membiarkan imajinasi tumpul seseorang mengokoh dan menjelma menjadi stupa kebodohan yang menjeratnya dalam suatu kebiasan.

THE 7 HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE BY STEPHEN COVEY

the_7_habits_of_highly_effective_people

Bos gue sering banget share link atau video keren tentang hal yang dapat memotivasi gue sebagai karyawannya. Baik itu improving secara teknis, maupun as a person. Karena gue suka baca, I found this is very useful for me.

Kali ini dia share tentang 7 kebiasan yang akan membuat seseorang menjadi lebih efektif. I’ll share to you guys. Kalian bisa cek di sini untuk video komplitnya -> https://www.youtube.com/watch?v=ktl…

Nah, video ini ngejawab banget tindakan apa yang harus gue lakukan untuk berhasil dalam menyelesaikan suatu masalah pribadi maupun dalam pekerjaan. Dan personally buat gue, ini berhasil membuat gue untuk lebih chill jika ada masalah menghadang.

Karena harus gue akui, as a control freak. Gue bisa rese’ dan down banget ketika gue gagal dalam mengontrol hal yang gue pikir bisa gue kontrol dan selesaikan dengan baik. Masih mending jika berhasil. Lah, kalau gagal? Perasaan destruktif akan menghantui gue sampai ke mimpi.

Nah, video ini ngejawab banget tindakan apa yang harus gue lakukan misalkan gue ingin berhasil dalam menyelesaikan suatu masalah pribadi maupun dalam pekerjaan.

Pertama, Be a proactive.

Di video itu dijelaskan bahwa reaksi wajar seseorang ketika mengalami perubahan dan mengakibatkan kegagalan dalam dirinya adalah complaining. Tapi yang membuat complaining itu salah, adalah ketika kita hanya berfokus pada menyalahkan hal jelek yang terjadi dalam diri kita ke orang lain, dibanding berusaha untuk memperbaiki apa yang dapat kita lakukan dalam masalah tersebut. Fair enough dong. Daripada energi kita habis untuk mengutuki orang lain, lebih baik mencari solusi dan keluar dari masalah.

Kedua, Begin with the end of mind.

Ini penting banget menurut gue, karena ini masalah attitude dalam karakter dan kualitas seseorang. Ada jenis orang yang ia bicarakan berbeda dengan apa yang ia kerjakan. Lalu, ada juga tipe orang yang memang sinergis antara apa yang ia bicarakan dan lakukan. Dan itu memang sesuatu yang tidak mudah.

Di video tersebut dicontohkan bahwa, banyak dari kita ingin sehat, instead ke gym kita lebih memilih untuk bersantai di rumah (ini gue banget sih). Kenapa itu terjadi? Karena kegagalan diri kita untuk melihat sosok seperti apa yang ingin kia lihat dalam diri sendiri.

Ketiga, Put first thing first.

Ini penting. Karena jika kita sudah stick pada will kita, maka dalam perbuatan biasanya akan sama. Dan be consistent with it. Membuat prioritas adalah hal paling utama di sini. Thats my friend, is the hardest part. Maka ada baiknya, kita sudah tau untuk menjadi apa diri kita nantinya, dan mentransformasikan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Jika elo ingin diingat sebagai Ayah dan Suami yang baik, tindakan yang elo harus lakukan, haruslah mencermikan sikap Ayah dan Suami yang baik.

Keempat, Think win-win.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwasanya strategi dalam mencapai kesuksesan, tidak melulu tentang mengeleminasi seseorang. Dengan bersikap positif dalam kompetisi dan tetap mengedepankan kualitas diri sendiri, merupakan cara yang gentlemen untuk memenangkan pertandingan.

Ini tamparan buat gue sih, karena gue anaknya nyinyir parah. Kalau ada film atau novel bagus yang enggak satu selera sama gue, gue bakal bereaksi seperti: “Dih, apa sih isi ceritanya begitu doang. Ngabisin waktu tau enggak sih baca/nonton itu. Logika ceritaya ngaco!”

Hahaha berasa paling jago sedunia. Padahal, itu semua salah. Karena dari video tersebut, when you do good, good thing always follow.

Kelima, Seek first to understand, then to be understood.

Never complaint, no one cares with your hard work. Let your success speak louder. Period. Fokuskan pada pengembangan diri ataupun pekerjaan yang dapat memberikan value lebih ke orang lain.

Keenam, Synergize.

Basi sih, tapi kadang ini bisa ngebantu banget. Dengan melakukan bersama-sama, semua hal jadi terasa lebih mudah. Dan memang tidak bisa dilakukan dengan banyak orang. But, at least, elo tau, dengan bekerjasama dengan orang yang tepat. Elo bisa dapat lebih banyak dari yang elo mau.

Ketujuh, Sharpen the saw.

Ini langkah paling penting menurut gue dari kesemuanya. Semua hal, baik itu masalah, kemampuan, apa pun itu. Akan jadi lebih mudah dan elo bisa jadi lebih jago, jika kita terus mengasahnya bukan?

Kurang lebih pelajaran ini yang gue dapatkan dari melihat video tersebut. I haven’t read the book, yet. Tapi gue merasakan sensasi yang berbeda setelah menontonnya berulang-ulang. Gue sekarang tau bahwasanya, terkadang dalam mencapai sesuatu elo tidak hanya membutuhkan tenaga dan semangat. Namun juga strategi. Dan kadang dalam strategi tersebut elo butuh untuk mengenal diri elo sendiri dan kemampuan yang elo punya.

Karena dengan elo memiliki itu semua, elo bisa dapetin apa yang elo mau. Some people say, when you can defeat your ego, thats the day when you win something.

Hope it helps!

Just, maybe

59eb9eefe4d62e7d81b6ee84883eae53

Menjelang berumur dua puluhan akhir ternyata rasanya sama seperti parkir mobil di sebuah Mall.

Seperti, jika elo telat, elo enggak pernah dapet tempat parkir yang elo mau. Atau lo bisa tetep dapet tempat parkir, tapi mungkin akan makan waktu lama, dan SALE yang elo mau datangi udah abis, film yang elo mau tonton udah terlanjur main, atau orang yang emang elo tunggu sudah terlanjur pergi.

Now I’m twenty six years old.

Dua puluh enam tahun, bukan angka yang cukup bertoleransi untuk menunggu.

Dua puluh enam tahun seharusnya untuk mereka yang sudah tau apa yang mereka inginkan.

Dua puluh enam tahun seharusnya tentang mereka yang berhasil mendapatkan apa yang sudah mereka idamkan.

Di dua puluh enam tahun juga seharusnya semua berjalan semulus sebagaimana mereka yang telah menatanya dari tahun-tahun sebelumnya.

Dan jika di umur dua puluh enam tahun you didn’t get anything. Semua berantakan dan elo malah berjalan mundur.

Maybe,

just maybe,

i think the magic is lost.

And you have to find them.

Yeah, Cuma Mimpi Kok

dream

Dear xxxxxxxxxxxxxx,

Anggap aja gue lagi cerita sama lo ya.

Tadi pagi gue bangun dengan perasaan campur aduk. Gue bangun telat, awalnya karena sakit perut. Mungkin terlalu banyak makan sashimi semalam bareng Rei.

Gue makan di tempat resto sushi yang elo kasih tau ke gue. Yang akhirnya jadi favorit gue dan teman-teman gue.

Hebat lo, bisa bikin apa pun yang elo kasih ke gue jadi gue suka. Padahal gue picky banget anaknya.

Tapi ternyata bukan itu yang ngebuat gue kelamaan tidur.

Di mimpi tadi gue ngeliat elo bareng temen-temen elo. Bareng pacar lo yang baik itu dan ada bayi digendongan pacar lo. What happened next was you say hello to me, but you know, I was to afraid to response it.

Even simple thing like to ask ‘how are you’, i don’t even have that gut to talk to you. I don’t know why.

Masih teringat bagaimana gue cuma diem terus jalan nyelonong aja. Typical of me.

Dan gue ngeliat mimik kecewa elo, seperti wajah yang elo kasih ke gue saat terakhir kita ketemu. Wajah bingung dan sedih elo. Mungkin dalam hati elo bertanya-tanya, ‘kenapa kita harus berakhir seperti ini?’.

Tapi kenyataan di dunia nyata bahwa saat itu elo engga bisa berbuat apa-apa dan elo terlalu bingung dengan banyak hal.

Gue milih untuk pergi, karena itu kelewat painful buat gue.

Dan berakhirlah kita seperti ini, dua orang asing yang tidak sengaja bertemu, kali ini dengan memori. It was a sad moment for both of us. Even it just only fucking a dream.

I think I miss you.

Kata orang, kalau kita mimpi ketemu orang yang kita kenal, dan udah lama enggak ketemu. Artinya one of us lagi kangen, tapi enggak sadar aja di dunia nyata, karena semua perasaan itu kita tekan. Dan alam bawah sadar kitalah yang ngedeliver itu ke mimpi.

Dan gue baru sadar, kita udah engga ngobrol selama setahun ini.

Gue ngelewatin hari paling penting di hidup elo. Pernikahan elo.

Simplenya sih, ya karena gue engga diundang sama elo.

Padahal dulu itu adalah hal yang selalu kita bahas; makanan apa aja yang akan gue makan di sana, tentang dekor lo yang pengin kayak Star Wars (you such a geek), atau se-simple pertanyaan ‘gue dateng telat engga ya ke pernikahan elo?’. Dan kita selalu mengulang itu setiap harinya.

Fakta bahwa elo engga ngundang gue dan gue cuma bisa bilang, ‘selamat ya buat hari ini’ lewat LINE. Adalah titik di mana gue sadar, ini semua sudah berakhir. Engga ada lagi yang bisa diselamatkan.

Times goes by, gue bertemu dengan temen-temen baru di kantor lama gue yang gue engga nyangka bisa get along dan cocok banget. Kami semua hang out bareng, nginep bareng. Banyak deh. Hal-hal yang baru gue sadar engga pernah kita lakuin sewaktu sekantor dulu.

Oh iya, gue pindah kantor lagi. Elo tau kan gue anaknya engga suka sesuatu yang stagnan. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa gue marah banget sama elo saat itu. Ketika kita gini-gini aja. Elo lagi rajin ngediemin gue, padahal saat itu gue lagi berada di posisi yang  butuh elo banget.

Tapi kata orang-orang gue egois, karena elo juga lagi ribet sama persiapan pernikahan elo.

I see, kita sama-sama egois saat itu.

Tapi semuanya sudah lewat juga.

Setelah dua tahun, setelah mimpi itu pagi ini, hari ini gue pun dateng telat.

Bingung dengan semuanya gue pun menambah ketidakprofesional dengan menghilang dan pergi ke kamar mandi selama berjam-jam. Di sana gue cuma duduk di toilet dan berkubang dalam kesedihan ini entah kenapa.

Gue rasa gue cuma keingetan elo aja. Dan kenyataan bahwa elo bahkan engga inget ulang tahun gue kemarin semakin menguatkan gue untuk menghapus chapter tentang elo di hidup gue, sama seperti orang-orang lainnya di masa lalu gue.

Semoga elo baik-baik aja di sana. Gue harus balik kerja lagi, dan kali ini gue beruntung sedang bersama orang-orang yang emang bener-bener mau perjuangin gue di hidup mereka. Not like you who has given up on me.